Adjie 'Down For Life': Album Laku, Keberuntungan atau Kerja Keras?

Record Store Day 2018 baru selesai digelar seminggu yang lalu. Euforia merayakan hari berbelanja rilisan fisik ini masih sangat terasa. Rilisan baru dari Burgerkill, Goodnight Electric, Sajama Cut, Arc Yellow dan puluhan lainnya diburu penggila musik tanah air. Dari format CD, kaset sampai vinyl. Dari yang bagus, biasa saja dan jelek juga ada menurut saya. Tapi bukan masalah, yang penting banyak album fisik dirilis dan syukur-syukur masih terjual. Meski gerutuan akan harga rilisan lama atau baru yang mendadak melambung di hari itu.

Ya, anggap saja ini adalah lebarannya para penjual rilisan fisik. Setahun sekalilah mereka juga bisa mendapatkan rejeki berlebih. Saya tidak akan bicara tentang tetek bengek polemik yang menyertai Record Store Day, selain tidak asyik dibahas juga bukan kapasitas saya. Banyak hal yang lebih menarik daripada cuma sekadar berkeluh kesah.

Album Adamantine milik Burgerkill dirilis secara nasional pada 20 April 2018. Tepat sehari sebelum Record Store Day digelar. Angka cantik 4-20, yang kerap dikaitkan dengan ritual waktu terbaik untuk 'mengisap', tapi entahlah, satu hal pasti album ini langsung diburu khayalak.

Oke, nama besar Burgerkill tidak dipungkiri adalah magnet dan jaminan akan antusias publik terhadap album ini. Tapi itu saja tidak cukup. Puluhan bahkan lebih album milik artis ternama juga masih banyak yang menumpuk di gudang. Terkenal, nama besar bukan jaminan albumnya akan laku keras. Pendatang baru yang notabene belum dikenalpun bisa menjadi fenomena besar dan sukses menjual albumnya puluhan bahkan ratusan ribu keping.

Tulus dikenal luas pertama kali melalui album Tulus (2011). Nama baru di kancah musik populer Indonesia yang langsung melejit. Mengejutkan, tiba-tiba hadir seorang penyanyi pria dengan penampilan dan warna musik serta lirik yang berbeda dengan tipikal penyanyi pria lainnya. Orisinalitas Tulus dengan segala kejujurannya menjadikannya pendatang baru yang langsung meroket di tahun itu dan sekarang menjadi salah satu penyanyi pria paling dipuja di jagat musik Indonesia.

Materi album Tulus sangat kuat, membuat namanya langsung berkibar. Lirik jujur dan berbeda daripada yang lain, dipadu dengan aransemen musik yang mudah diterima tapi tidak murahan, menjadikan album Tulus salah satu yang terlaris di tahun 2011.  Saat itu sampai bulan September, tidak ada penyanyi pria yang merilis album baru. Padahal pasarnya sangat besar.

Akhirnya album Tulus dirilis dan hasilnya luar biasa. Single dari album ini seperti “Teman Hidup”, “Sewindu”, dan “Tuan Nyonya Kesepian” merajai tangga lagu di radio-radio. Kemudian disusul dengan dua album berikutnya, yaitu Gajah (2013) dan Monokrom (2017). Keduanya juga mendapat respons positif dari kritikus musik dan laris terjual hingga ratusan ribu keping.

Adamantine, album kelima milik raksasa metal asal Bandung itu memang sudah ditunggu tidak hanya oleh Begundal, sebutan fans Burgerkill, tapi juga juga penikmat musik dan tentu saja metalheads. Penantian tujuh tahun dari album Venomous terbayar sudah. Waktu yang tepat untuk merilis album baru. Karena sampai menjelang pertengahan 2018 tidak ada rilisan album metal Indonesia yang menonjol di pasaran. Tidak ada band keras yang punya nama besar merilis album baru. Terakhir adalah Forgotten merilis album Kaliyuga tahun lalu. Materi lagu di album itu sendiri adalah faktor utama laku tidaknya sebuah album. Di album Adamantine, Burgerkill berhasil mengeksekusi musik kerasnya dengan aransemen dan sentuhan sound lebih modern. Kemasan terutama cover album juga sangat menarik.

Kebetulan saya bekerja di demajors, selaku label yang mengurusi distribusi dua album terakhir Burgerkill dan semua album Tulus, jadi tahu bagaimana antusias pasar terhadap album mereka. Peran label untuk mendistribusikan album juga sangat penting. Jaringan yang luas dan tepat sasaran adalah kunci keberhasilan pendistribusian. Pendistribusian di seluruh Indonesia membuat albumnya mudah diperoleh, yang tentunya berimbas laku tidaknya sebuah album. Meski banyak toko CD/ kaset gulung tikar, tapi jalur side stream/underground melalui distro, lapakan dan penjualan online terus berkembang sampai sekarang.

Tumbangnya media cetak musik nasional memang memaksa strategi promosi berubah. Memaksimalkan peran internet, baik media sosial maupun situs-situs musik yang tumbuh masif disana. Itu mengantikan peran media konvensional, baik tulis maupun audio juga audiovisual, bahkan dengan kemudahan untuk diakses.

Dan jangan lupa bagaimana Burgerkill menyiapkan strategi promosi yang luar biasa untuk album baru ini. Sebulan sebelum album Adamantine rilis, mereka berangkat ke Praha, Ceko melihat proses rekaman orkestra yang akan berkolaborasi untuk rilisan mereka berikutnya. Juga mengelar tur kecil di Belanda.

Dan puncaknya helatan Killchestra x Hellshow di Gedung Sabuga, Bandung, bertepatan dengan tanggal rilis album terbaru. Saya bersama Down For Fife, kebetulan bermain di Hellshow, menjadi saksi bagaimana hebatnya konser Killchestra mereka. Bekerjasama dengan korporasi besar adalah sah dan dibutuhkan dalam era industri sekarang ini. Selama idealisme tidak terganggu dan visi misi kepentingan kedua belah pihak bisa berjalan beriringan.

Burgerkill juga dikenal sebagai salah satu band metal dengan penampilan terbaik di Indonesia. Jam terbang tinggi, termasuk juga di berbagai festival di luar negeri menjadi bukti profesionalitas dan totalitas mereka.

Kemasan Tulus sebagai seorang penampil juga menjadi kekuatan tersendiri. Pesona dan totalitasnya saat di panggung sudah membuktikan. Didukung juga oleh musisi pengiring yang bagus menjadikannya satu paket yang utuh. Meski saya bukan fans berat Tulus, tapi melihat konsernya selalu menyenangkan dan menghibur. Bukankah itu esensi sebuah hiburan? Terhibur.

Dalam dua album, Tulus dan Gajah, Tulus juga berhasil mengandeng perusahaan kosmetik untuk mendukungnya. Segala gimmick dan aneka rupa kegiatan itu semakin membuat publik semakin penasaran akan album mereka dan terbukti album sangat diburu dan laku keras di pasaran.

Bicara kesuksesan Burgerkill dan Tulus adalah sejarah panjang kerja keras selama bertahun-tahun. Keberuntungan? Bukan! Kerja keras dan momentum.

Memang benar nasib baik atau keberuntungan dibutuhkan dalam hal ini. Kenapa Burgerkill dan Tulus yang lebih sukses padahal ada ratusan atau ribuan artis lainnya, termasuk band saya. Kurang beruntung? Menurut saya karena kami kurang bekerja keras dan kurang cerdas dalam banyak hal termasuk menangkap momen kesempatan yang datang.

Sebenarnya keberuntungan saja tidak cukup. Mungkin bisa saja berhasil tapi tidak akan bertahan lama. Hanya akan sekadar lewat dan dilupakan. Contohnya Kangen Band dan band sejenis. Sekarang entah bagaimana dan kemana band-band tersebut.

Burgerkill dan Tulus hanyalah sedikit contoh. Masih banyak artis dan album lainnya yang bisa dijadikan contoh. Tapi materi yang bagus, strategi yang hebat, pendistribusian yang tepat juga belum tentu menjadi jaminan album akan laku. Tapi tanpa hal-hal tersebut dan hanya mengandalkan keberuntungan kemungkinan akan berhasil akan tipis. Keberuntungan tetap dibutuhkan meski presentasenya sangat kecil.

Menurut saya, kerja keras 99,9% dan keberuntungan 0,01%. Butuh doa? Mungkin. Karena ada pepatah bijak mengatakan kerja keras tanpa doa adalah sombong dan doa tanpa kerja keras sama saja bohong. Karena kerja keras dan cerdas tidak akan berbohong apapun hasilnya. Karena saya yakin pasti banyak karya hebat di luar sana yang belum digarap, dikemas, dipromosikan dan didistribusikan dengan baik. Jadi persetan dengan dewi fortuna. Kerja keras dan cerdas. Teruslah berkarya.

*Foto: Fortune (Piccadilly Records), Instagram/burgerkillofficial (foto Burgerkill)

1 COMMENTS
  • Indonesian firm

    Down for Life juga semangat dong, banyak Ribuan Fans menanti terus ????????

Info Terkait