Agung ‘Hellfrog’: Membedah Album Fenomenal Ghost

  • By: Agung Hellfrog
  • Minggu, 25 February 2018
  • 3996 Views
  • 8 Likes
  • 8 Shares

First Sight

Saat pertama kali menemukan band ini di majalah Metal Hammer, saya pribadi langsung penasaran tentang musik yang disuguhkan oleh band ini, karena saat itu Ghost memang lagi ramai dibahas di media-media musik di luar sana atas rilisan album terbarunya yang berjudul Infestissumam.

Kesan awal ketika mengapresiasi karya dari kelompok musik asal Swedia ini, saya yakin bahwa nantinya akan menjadi embrio lahirnya style baru di industri musik heavy metal. Karya unik dengan karakter sangat kuat secara musikal merupakan manifestasi dari sinkretisme beberapa subgenre metal yang kemudian menjadi sebuah formula baru. Setiap komposisi yang terdapat di album Infestissumam berhasil menghipnotis saya, seolah membawa saya ke dimensi lain.

Terlepas dari berbagai opini negatif bahwa album ini terasa lebih “nge-pop” dan melankolis dibandingkan album sebelumnya, Opus Eponymous yang lebih dark dan heavy. Namun patut kita apresiasi bahwa album ini termasuk salah satu album brilian yang sarat dengan konsep dan ide segar dalam setiap karyanya.

Tentang Album Infestissumam

Selintas memang terdengar biasa, mungkin karena faktor sound yang terkesan tua (vintage), aransemen musik yang terkesan ringan, serta karakter vokal yang kurang lantang. Terlepas dari itu semua, ketika saya mencoba lebih terbuka dan mengapresiasi secara detail sebuah album yang diproduseri oleh Nick Raskulinecz ini, produksi sound yang sengaja dibuat vintage menjadi letak kekuatan dari Ghost ini, terdengar segar di tengah rilisan musik metal di tahun 2013 yang banyak mengedepankan sound secara modern.

Berikut ulasan per lagu:

1. Infestissumam

Seperti pada album sebelumnya, tracklist diawali dengan nuansa dari style musik Gregorian chant, dengan lirik repetitif seperti prelude yang seolah-olah dibuat sebagai pengantar untuk menikmati album ini.

2. Per Asfera Ad Inferi

Karya ini diawali dengan riff gitar yang tegas dan cenderung kasar, balutan distorsi yang sangat ringan sangat mendukung style yang mungkin terdengar mirip Celtic Frost. Pemilihan riff gitar yang tepat serta hentakan drum dengan pola pukulan snare di bagian reffrain seolah-olah seperti musik penyemangat untuk prajurit yang akan pergi berperang.

3. Secular Haze

Single pertama di album Infestissumam ini dimulai dengan intro suara organ yang 'menyeramkan', kemudian diikuti instrumen gitar, bass, dan vokal yang mengayun. Saya rasa ini komposisi yang brilian, karena dapat menciptakan musik metal yang terkesan gelap, seram, dengan birama waltz 3/4 yang biasanya digunakan untuk mengiringi tarian dansa.

4. Jigolo Har Meggido

"I'm the one who comes richly endowed/ Harvesting fields that others have ploughed ...”

Petikan lirik lagu ini membawa langkah positif yang lebih bersemangat untuk didengarkan. Nada gitar dengan sentuhan style Mikko Lindström (HIM) yang diiringi beat drum 4/4 ditambah alunan vokal gaya Peter Gabriel (Genesis) memberi kesan nuansa musik progressive rock baru dengan style yang sangat kaya.

5. Ghuleh/Zombie Queen

Lagu berdurasi 7 menit lebih ini mengingatkan saya dengan lagu “Stairway to Heaven” milik Led Zeppelin. Lagu yang penuh kejutan dari mulai sentuhan ballad dengan intro piano bergaya Spartan, tambahan nuansa David Bowie dari divisi vokal yang diikuti nada-nada gitar dengan nuansa dari band instrumental dari Inggris bernama The Shadows, dan diakhiri dengan beat yang cepat. Piano, organ, dan keyboard pada komposisi ini mempunyai porsi lebih karena memberikan ornamen dengan banyak nuansa dengan paduan nada yang harmonis.

6. Year Zero

Sedikit berbeda dengan komposisi sebelumnya, Lagu ini lebih terdengar catchy dari segi musik dan vokal. Diawali dengan demon-chanting yang disajikan dengan beat disko kemudian dipadukan dengan nuansa kental dari musik doom. Sepertinya ini adalah salah satu lagu terbaik yang pernah mereka ciptakan.

7. Body and Blood

Ini adalah lagu pertama yang paling saya suka di album ini. Beat soft rock yang santai, melodi vokal yang memorable, dan interlude gitar terdengar menyatu, sangat menarik untuk didengar. Jika dicermati dari segi teknis, baik dari pola strumming gitar maupun pemilihan progresi akor dapat dibilang mempunyai kompleksitas yang cukup tinggi, tetapi karena porsi dari masing-masing instrumen terdengar seimbang, maka lagu ini sangat ringan untuk didengar.

8. Idolatrine

Pilihan nada-nada yang manis dan cenderung dinyanyikan seperti musik popular, yang dipadukan dengan karakter drum glam rock dengan tempo yang relatif cepat menjadikan lagu ini sedikit berbeda. Pengisian vokal yang agak lembut dibandingkan pengisian vokal di lagu yang lain tidak lantas mengurangi kadar heavy metal-nya, karena kekuatan lirik yang cenderung gelap tetap dipertahankan. Gabungan dua style antara bernyanyi dengan gaya pop dengan lirik yang sangat gelap secara konsep merupakan inovasi yang cukup jeli.

9. Depth of Satan’s Eyes

Secara komposisi, saya rasa lagu ini adalah yang paling sederhana di album ini. Bagian di menit ke-02:03 sampai 02:30 adalah part riff gitar favorit saya. Penggunaan interlude dengan oktaf interval diiringi oleh female backing vokal adalah paduan yang cerdik.

10 Monstrance Clock

"Come together, together as a one, Come together for Lucifer’s son..."

Penggalan lirik tersebut merupakan salah satu bagian penting di lagu ini. Pilihan melodi yang sangat pas akan membuat siapapun setuju kalau part itulah yang paling mudah untuk diingat, dan akan dinyanyikan oleh semua fans dari band ini ketika mereka perform.

Menurut cerita dari partner bermusik saya, Eben @burgerkill666 yang sudah pernah melihat mereka perform secara langsung di Soundwave Festival 2013, lagu ini dijadikan lagu terakhir dalam pertunjukannya, dan di bagian penggalan lirik itulah ribuan orang menyanyikan bagian itu secara bersama-sama. Di bagian akhir lagu tersebut hanya disajikan audio sampling diiringi oleh ribuan orang yang masih menyanyikan part tersebut secara bersama-sama, sementara para personel Ghost satu persatu turun dari atas panggung.

Conclusion

Menurut saya Infestissumam ataupun Opus Eponymous adalah album yang mempunyai karakter, tema, dan warna berbeda. Namun terlepas dari itu semua, album Infestissumam memang layak untuk kita apresiasi, terutama dalam hal aransemen, pemilihan nada komposisi, dan produksi sound. Sudah selayaknya kita tidak menilai sebuah karya musik hanya dari kulit luarnya saja, melainkan seluruh elemen pendukung karya tersebut, termasuk alasan dan latar belakang mereka dalam membuat karya.

So, enjoy your GHOST!!

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
807 views

10 Album Indonesia Terbaik

supergears
897 views
supergears
363 views
superbuzz
275 views
superbuzz
494 views