AKBARRY NOOR

AKBARRY NOOR: Industri Radio Mau ke Mana?

  • By: Akbarry Noor
  • Selasa, 15 December 2020
  • 812 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Tulisan ini akan dibuka dengan pertanyaan, Kapan terakhir lo denger radio?. Mungkin, akan ada beberapa jawaban yang terlintas. Bisa jadi saat, di perjalanan, entah di mobil pribadi atau mungkin di taksi online, bisa juga pada saat ke minimarket atau mungkin lewat handphone pada saat ada sesi interview dari bintang tamu favorit lo di sebuah radio. Ini mungkin adalah jawaban umum yang akan kita terima dari beberapa kerabat yang tinggal di kota besar saat kita coba tanya dengan pertanyaan pendek tersebut.

Memang, yang namanya perubahan zaman tidak akan ada yang pernah tau kapan akan terjadi. Entah kita sudah persiapkan dengan matang, atau tergerus oleh inovasi yang katanya membuat hidup lebih baik, namun menyulitkan segelintir hidup orang. 

Sebagai penyiar radio, saya Akbarry, sering kali mendapati pertanyaan, "Emangnya masih banyak ya yang dengerin radio?", kira-kira begitulah basa-basi yang dikeluarkan oleh orang baru yang saya temui ketika mereka mengetahui profesi utama saya adalah sebagai penyiar radio dengan profesi utama. Tak lupa juga disusul dengan pertanyaan yang mempertanyakan apakah profesi saya ini menghidupi atau tidak. Memang rasanya terdengar sedikit offensive atau menyepelekan, tak sedikit dari mereka yang langsung bertanya, "Berapa sih gaji penyiar?". Biasanya saya, akan menggambarkan benefitnya bukan dari sudut pandang yang mereka mau. Saya gambarkan benefit yang mungkin membuat mereka sedikit iri. Misalnya, bertemu musisi favorit atau pergi ke konser gratis.

Saya ingat betul perasaan menjadi yang terdepan dalam pergaulan di Sekolah Dasar, hanya karena pengetahuan musik yang saya dapatkan dari mendengarkan radio. Dulu saya selalu berandai bagaimana rasanya menjadi penyiar malam yang menemani ribuan orang dalam kesepian, lembur, ataupun mereka yang sulit tidur. Beruntungnya, impian tersebut terjawab di tahun 2019, saya mendapatkan kesempatan siaran malam setiap hari dari jam 8 malam hingga jam 12 tengah malam. Meskipun sudah mendapatkan hal yang saya impikan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, saya merasakan apa yang disuarakan oleh rapper, Laze, pada album teranyarnya, "Puncak Janggal", saya merasakan banyak kekosongan dan berbagai hal yang tidak seperti ekspektasi terdahulu. Entah ingin menyalahkan zaman atau ekspektasi diri sendiri.

Dulu saya beranggapan dengan menjadi penyiar radio, saya bisa berkontribusi pada musisi yang sedang merintis. Tetapi ternyata tidak, radio yang dulu berani mengusung "Hits Maker", berani memutarkan lagu musisi-musisi baru. Industri radio yang ada saat ini cenderung main aman dengan menjadi "Hits Player". Itulah yang justru membuat segelintir orang yang memang mencari hal-hal yang baru tidak mendapat kepuasan. Hal ini, juga menjadi pembunuh salah satu kekuatan radio yang katanya mengedepankan "element of surprise". Ini terbukti dengan adanya kejenuhan atau mudahnya ditebak playlist lagu yang diputar oleh radio tertentu. Strategi ini digunakan hampir di seluruh radio anak muda saat ini. Mereka menerapkan hal tersebut karena tunduk pada angka-angka yang disodorkan oleh lembaga riset Nielsen, yang katanya menjadi senjata utama untuk para brand tertarik untuk beriklan.

Dampak Pandemi

Teringat momen waktu saya hendak memutuskan untuk pindah dari radio streaming ke radio berfrekuensi. Saat itu, saya sempat mampir meminta saran pada penyiar senior, Ryo Wicaksono. "Jalanan kalo udah ga macet, bisa-bisa ga ada yang dengerin radio", begitu ucapnya. Saat itu, saya bertanya dalam hati apa mungkin datang momen seperti itu akan terjadi. Selang beberapa tahun dari momen tersebut. Tibalah kita pada momen pandemi ini di mana kita diharuskan untuk melakukan kegiatan dari rumah. Kebiasaan mereka yang mendengarkan radio di mobil pun berkurang dan tergantikan dengan media alternatif yang lain. 

Hal ini, mempengaruhi behavior pendengar, berkurang sudah pasti, hilang sama sekali, tentu tidak. Masih banyak mereka yang mendengarkan via aplikasi, streaming via laptop sambil mengerjakan tugas ataupun di rumah menggunakan radio konvensional.

Jika melihat dari sisi program radio, hal ini juga ada sedikit perubahan. Kalau biasanya musisi melakukan promo karyanya dengan interview berkunjung ke radio, di era pandemi, yang terjadi adalah melakukanya via Instagram Live. Hal ini, bisa jadi akan adanya perbedaan value dari biasanya. Pertama, akan tidak terasa bedanya dengan media lain ataupun akun Instagram lain yang melakukan hal serupa. Kedua, jika angka followers musisi lebih banyak dibandingkan akun radionya, ini akan jadi pertanyaan, siapa yang sebenarnya sedang dipromosikan.

Fenomena menarik juga saya temukan pada cara label mempromosikan artist yang baru merilis karya. Beberapa kali label besar menghubungi saya untuk meminta musisinya di-interview di podcast saya, #Tertanduk. Kala itu, mereka menyampaikan bahwa musisinya capek dengan slot bicara yang terbatas dan pertanyaan yang itu-itu saja kalau interview di radio. 

Podcast Membunuh Radio

Seringkali banyak yang beropini bahwa Podcast akan membunuh radio. Jawaban yang tepat adalah belum tentu. Karena adanya perbedaan format, gaya bahasa dan regulasi yang ada. Penulis akan mencoba membedah beberapa komponen di atas secara singkat. 

  1. Perbedaan Format

    Podcast sendiri lahir dari kata "POD" dan "CAST". Pod adalah merupakan singkatan dari Playable on Demand dan Cast berasal dari kata broadcast. Dari penjelasan maknanya kita juga sudah tahu kalau podcast memiliki lifespan program yang lebih panjang dan fleksibel dibandingkan program yang ada di radio.

    Selain itu, jika bicara tentang format waktu bicara, di radio cenderung terbatas. Hanya, satu menit hingga 3.5 menit per talkset. Karena adanya insert, spot, adlibs dan ragam iklan yang harus ditayangkan. Berbeda dengan podcast yang memungkinkan untuk bicara berdurasi lama sesuka hati.

  2. Gaya Bahasa dan Regulasi 

    Jelas gaya bahasa yang ditampilkan di podcast dapat terasa vulgar atau kasar. Karena memang berbeda dengan radio yang harus memenuhi regulasi tertentu. Namun, radio memiliki keunggulan pada berita atau opini yang lebih bisa dipertanggungjawabkan dibanding apa yang terdapat pada podcast pada umumnya.

    Sebenarnya ada beberapa faktor lainnya yang mungkin bisa menjadi bahasan antara podcast dan radio. Saya akan membahasnya pada artikel lanjutan. Tapi yang jelas, podcast juga turut merangsang generasi yang tak terbiasa mengkonsumsi media audio untuk lebih terbiasa mendengarkan media berbentuk seperti itu. Hal ini, menjadi poin tambahan untuk industri radio mendapatkan pasar baru.

Seperti apa di Negara Lain

Tiap negara pastinya memiliki kultur dan kebudayaan yang berbeda. Hal tersebut juga mempengaruhi mereka dalam mengkonsumsi radio. Ada negara yang cukup fenomenal dalam membunuh radio berfrekuensi, yaitu, Norwegia. Dilansir dari BBC News, tahun 2017 lalu, Norwegia menjadi negara pertama yang menghentikan radio FM dan beralih ke DAB (Digital Audio Broadcasting). Sistem baru ini dinilai lebih efisien dengan kualitas audio yang lebih jernih dan jangkauan lebih luas, tapi dengan biaya operasional yang lebih murah dibandingkan radio FM.

Perubahan ini tentu menjadi hal yang kontroversi. Sebuah lembaga riset, bernama, Dagbladet, menemukan bahwa 75% warga Norwegia menganggap kebijakan ini terkesan terburu-buru di tahun 2017 lalu. Tapi jika kita berkaca pada hari ini, mungkin kebijakan ini akan terasa masuk akal.

Tidak menutup kemungkinan kebijakan ini juga akan diadaptasi oleh pemerintah Indonesia. Cepat atau lambat kita akan melihat. 

Adanya berbagai perubahan yang terjadi sebenarnya memang akan selalu seperti yang Efek Rumah Kaca pernah bilang bahwa, "Pasar Bisa Diciptakan". Saya pernah merasakan apresiasi luar biasa dari pendengar radio. Mulai dari dibawakan makanan dan minuman kesukaan setiap hari, dibawakan pakaian adat dari mereka yang datang beda pulau, sampai mereka yang rela mampir ke studio dan pulang tengah malam hanya untuk mendengarkan saya siaran dari studio secara langsung. Momen tersebut tidak akan saya lupa sampai saya nanti. Terlebih mereka yang menangis dan bersedih saat suatu program radio dibubarkan. 

Intimasi dan kedekatan seperti itulah yang selayaknya dijaga oleh radio saat ini. Emotional value yang dibangun akan meningkatkan value dari produk itu sendiri. 

Lalu, bagaimana radio di zaman anak kita nanti?

oleh Akbarry noor

0 COMMENTS