Akbarry Noor: Radio Dibunuh TikTok?

Akbarry Noor: Radio Dibunuh TikTok?

  • By: Akbarry Noor
  • Jumat, 28 May 2021
  • 56 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Radio Dibunuh Tiktok? Kira-kira itulah pertanyaan yang saya taruh sebagai kata yang merepresentasi tulisan saya ini. Jawabanya adalah tergantung dari perspektif mana kita melihat. Saya akan coba berbagi pengalaman sebagai pelaku industri di radio yang mengalami era perubahan signifikan dalam beberapa kurun waktu terakhir.

Sebelum menjadi seorang penyiar radio, saya adalah orang yang sangat setia mendengarkan radio. Bagi saya radio adalah teman, radio adalah gerbang saya dalam pergaulan, radio adalah sosok kakak yang membagikan referensi musik bagus yang saya tak punya. Kira-kira itulah sosok radio yang terbesit di kepala saya ketika menulis ini. 

Sama seperti cerita kebanyakan individu di generasi saya. Kita mengenal atau dikenalkan radio sebagian besar oleh orang tua. Kalau saya sendiri ingat betul di mana radio menjadi teman perjalanan wajib orang tua saya saat berpindah tempat baik untuk urusanya atau pada saat mengantar saya bersekolah. Kebiasaan mendengarkan radio juga berlanjut di rumah, orang tua saya punya beberapa radio, dari yang ukuranya besar hingga ringan. Semua diputar pada saat kita menghabiskan waktu luang. Bahkan radio juga menjadi teman keluarga kami, di saat ekonomi keluarga kami terpuruk pasca kerusuhan tahun 1998. Saya sempat mengalami hari-hari tanpa TV di rumah. Radio lah yang menjadi sumber informasi dan hiburan kami. Sebegitu besarnya pengaruh radio pada keluarga kami. Itulah salah satu alasan mengapa saya berjuang mati-matian untuk bisa menjadi seorang yang bekerja di radio atau bahkan bisa menjadi seorang penyiar radio. Penyiar radio terdengar sebagai profesi yang mencerminkan sosok berpengetahuan luas dan juga memiliki pergaulan yang luas, paling tidak itulah pandangan yang terekam pada generasi saya. Namun, pandangan itu sama sekali berubah ketika kita dihadapkan langsung oleh generasi Z atau yang sekarang sering dibilang juga sebagai generasi TikTok. Mereka tidak memandang penyiar radio atau radio seperti individu di generasi sebelumnya. Gagasan tersebut lahir dari pengalaman saya ketika bertemu atau melakukan interview pada generasi Z.

Pandemi Mengubah Segalanya

Banyak hal yang berubah saat pandemi. Kebiasaan orang mendengarkan radio pada waktu prime time radio bergeser atau mungkin hilang karena mereka tidak lagi macet-macetan untuk berangkat atau pulang kerja. Hal ini juga yang menjadi faktor pesatnya pertumbuhan podcast. Selain itu, kita juga merasakan bahwa adanya kecenderungan kita mencoba aplikasi sosial media lain untuk menghalau kebosanan saat pandemi. Ini yang menyebabkan kenaikan jumlah pengguna di ClubHouse dan TikTok. 

Berbeda dengan ClubHouse, TikTok saat ini seolah menjadi sosial media penentu tren, yang tak terbatas pada konten guyonan, joged atau lipsync. Tiktok saat ini memiliki pengaruh besar dalam menentukan selera musik generasi sekarang. Berbeda dari generasi saya di mana radio bisa menjadi hits maker dengan mendikte pasar lagu dari artis tertentu. Berbekal jaringan music director radio di seluruh Indonesia. Maka tanpa butuh waktu lama, lagu tersebut akan menancap di kepala banyak orang. Tampaknya strategi ini kurang efektif di era sekarang mengingat banyaknya pilihan platform untuk mendengarkan musik, audience sudah tidak bisa didikte atau dicekoki lagu atau karya dari artis tertentu.

Tetapi kita bisa teracuni secara jelas oleh suara-suara atau lagu yang dikeluarkan dalam video pendek durasi 15 detik di Tiktok, yang tanpa sengaja kita dengarkan secara berulang karena dipakai menjadi suara latar oleh ribuan atau bahkan jutaan video pendek yang muncul ada linimasa For You Page (FYP) Tiktok kita. 

Akhirnya, peran radio sebagai corong untuk kita mengenal lagu atau sarana mempromosikan lagu, lambat laun akan terbunuh oleh video singkat yang lalu-lalang di Tiktok. Momen ini benar saya sangat rasakan ketika saya bergaul bersama Generasi Z. Beberapa kali, saya bertanya ketika mereka menemukan lagu baru atau lagu lama yang menjadi favorit mereka, referensi musik itu datang dari TikTok. 

Mungkin kita masih ingat dengan momen di mana seorang meluncur dengan papan skate lengkap dengan botol jus di tangan sambil menikmati alunan musik dari Fleetwood Mac berhasil memperkenalkan Generasi Z pada nikmatnya alunan lagu “Dreams”. Saya ingat betul bahwa CNBC pernah memberitakan lagu ini mencapai titik stream tertinggi hanya dalam kurun waktu seminggu, yaitu dengan kenaikan 8.47 juta streams. Pencetus tren tersebut adalah Nathan Apodaca dengan nama akun @420doggface208. Bahkan, akhirnya Nathan juga dipertemukan langsung oleh personil Fleetwood Mac dan mendapat ucapan terima kasih secara langsung. Mungkin itulah salah satu alasan kenapa banyak publisher atau record label yang bersedia mengeluarkan dana untuk lagu dari musisi naungan mereka bisa digunakan sebagai lagu latar pada video pemain Tiktok besar. Cara ini juga digunakan oleh label luar negeri yang mencoba membayar akun @TheBaileyBakery agar lagu artisnya bisa digunakan pada saat ia membuat kue. Pemilik akun tersebut, Leanne Bailey, pernah mengaku pada sebuah interview dengan RollingStone salah satu pemasukan terbesarnya adalah dari situ dan gilanya lagi, dalam waktu sehari bisa mendapat 15 tawaran lagu untuk dipromosikan. 

Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Pertanyaan ini pernah saya lontarkan pada jurnalis senior Wendi Putranto atau yang lebih dikenal dengan Wenzrawk, pada saat saya menjadi moderator di sebuah acara virtual. Sayangnya, ia menolak menjawab, karena menurutnya ia terlalu tua untuk memahami Tiktok. Berbekal kegelisahan tersebut akhirnya saya mencoba mendalami Tiktok dan ternyata semesta mendukung. Tak lama dari situ saya mendapat pekerjaan mewawancarai salah satu ikon Tiktok Indonesia, @fadlanholao. Ternyata benar adanya, ia tak peduli lagu tersebut rilisan tahun berapa, selama lagu tersebut banyak dipakai orang-orang untuk menjadi latar video. Ia akan coba mengolahnya dan secara tidak sadar otaknya merekam irama dari lagu tersebut.

Gagasan ini semakin diperkuat saat saya menghabiskan tahun baru bersama Generasi Z yang sepuluh tahun lebih muda dari saya, yaitu Adhisty Zara dan Hasyakyla. Saya dikenalkan dengan beberapa temannya yang juga memiliki jumlah pengikut besar di Tiktok, yaitu @maswahibb dan @safpram (anak politikus Djarot) yang ternyata adalah lulusan Gadis Sampul. Intinya saya anggap kumpulan tersebut merepresentasikan generasi pengguna Tiktok pada umumnya. Ternyata benar referensi musik yang mereka dapatkan sebagian besar adalah dari Tiktok. Begitu luar biasanya pengaruh Tiktok pada generasi sekarang dalam menentukan selera musik mereka.

Ternyata kesimpulan itu juga berbanding lurus dengan studi yang dilakukan oleh, Uswitch, sebuah perusahaan pembanding harga asal Inggris, menyimpulkan bahwa video viral di Tiktok menjadi suplemen kuat untuk penghasilan para musisi. Mereka mengambil contoh studi dari lagu “Adderall (Corvette)” milik Pop Hunna yang berhasil membuat pemasukan sebanyak $35,087 dalam waktu 90 hari, karena lagunya digunakan lebih dari 27 juta kali di Tiktok.

Berbeda dengan Youtube, penghasilan yang didapatkan untuk musisi bukan dari banyaknya jumlah penonton suatu video. Tetapi pada berapa banyaknya jumlah lagu tersebut dipakai sebagai suara latar. Inilah alasan mengapa banyaknya musisi berlomba-lomba membuat challenge.

Bulan lalu, saya juga menjadi pembawa acara untuk perilisan karya perdana dari musisi yang besar karena Tiktok, namanya adalah Jebung. Sebelum mendapat tawaran tersebut, saya sama sekali tidak mengenalnya. Tetapi saya bergeming ketika melihat banyaknya jumlah pengikutnya di Tiktok. Ia ternyata memiliki lebih dari enam juta pengikut, angka tersebut didapatkan dalam kurun waktu kurang dari setahun. Inilah salah satu perbedaan Tiktok dari sosial media lainnya. Ia membuka peluang untuk siapapun bisa menjadi besar. Hal ini juga dibenarkan dalam artikel yang pernah ditulis oleh NPR, mereka bilang algoritma Tiktok memungkinkan kita untuk bisa sejajar dengan Kim Kardashian.

Kenyataan ini jelas harus dihadapi dengan baik. Kita sudah tidak bisa lagi memandang Tiktok adalah hanya sebuah aplikasi untuk anak labil semata. Jadi, apakah benar radio dibunuh oleh Tiktok?

0 COMMENTS