Aldi 'Heals': Catatan Heals Menaklukkan Laneway Festival Singapore 2018

Bagi saya, tanggal 27 Januari adalah salah satu hari penting di tahun 2018, karena di tanggal tersebut tanpa saya sangka band kecil saya diberi kesempatan untuk tampil di salah satu festival musik besar di Asia Tenggara.

Di bulan November 2017, kami dikontak diberi tawaran untuk menjadi salah satu penampil di St Jerome’s Laneway Festival 2018 Singapore bersama Slowdive, Father John Misty, Wolf Alice, Mac DeMarco, The Internet, Bonobo, dan artis/musisi keren lainnya. Menurut saya, line-up Laneway Singapore kali ini adalah salah satu yang paling memantik perhatian para anak muda di Asia Tenggara selama acara ini diadakan.

Oleh karena itu, saya merasakan euforia luar biasa saat tahu di awal 2018 saya akan bermain di festival tersebut, juga menjadi salah satu impian saya untuk bisa perform di sana.

Berikut ini saya akan menceritakan bagaimana keseharian saya melewati hari-hari di Singapura bersama band saya Heals.

Day 1 - 26 Januari 2018

Saya tidur dalam waktu satu jam saja, setelah sebelumnya berkutat pada barang-barang esensial yang saya khawatirkan akan tertinggal. Setelah tertidur dari pukul 5 sampai 6, saya pun bangun, mandi, dan berangkat ke bandara. Sampainya di bandara saya bertemu dengan beberapa rombongan keberangkatan kami yang sudah datang (ada Vando, Suryo, Marine, Anya, Fatzky, dan Deni Kochun). Ada juga beberapa kawan dari Bandung yang akan berangkat menuju Laneway dan berada dalam satu penerbangan.

Akhirnya kami lepas landas dari Bandung kurang lebih pada pukul 09:00 WIB, dan tiba pada pukul 12:00 waktu Singapore. Setibanya kami di Singapura, kali ini rasanya sedikit berbeda. Menginjakkan kaki di kota yang sama tetapi kami merasakan perbedaan yang sangat terasa, selain karena turun di terminal yang berbeda, kali ini kami datang ke Singapura untuk perhelatan yang lebih besar dari sebelumnya.

Sebelum akhirnya keluar dari Changi, seperti biasa kami harus melewati proses antrean imigrasi dan belanja di Duty Free yang menghabiskan kurang lebih satu jam. Di depan Changi sudah ada dua orang liaison yang menunggu kami dengan sign board bertuliskan Heals. Mereka sudah berada di Changi dari pukul 10 pagi, jadi mereka menunggu kami kurang lebih sekitar 3 jam (haha, sorry). Mereka mengantar kami menuju tempat kami menginap di J.W Marriott, hotel yang diberikan pihak Laneway untuk kami dan hampir setiap band yang perform.

Kami pun tiba di hotel dan langsung disambut oleh staff acara. Rombongan kami diberi empat kamar oleh pihak acara. Setelah memasuki kamar, kami langsung menerima banyak bingkisan beberapa brand yang mendukung penampilan kami di Laneway esok harinya.

Lalu tiba waktunya kami untuk menikmati fasilitas hotel, kami menikmati bathtub, menggunakan segala peralatan mandi, dan seluruh privilege yang bisa kami dapatkan di ruangan tersebut. Sampai kami (saya, Cumi, Eja) memandikan Ramdhan (gitaris Heals), maklum sampai sejauh ini, inilah fasilitas yang paling mewah yang pernah kami dapat, jadi agak kampungan.

Setelah memandikan Ramdhan, kami ke lobi dan berbincang bersama tim Fred Perry Singapore sampai mereka memutuskan untuk berkunjung ke ruangan kami hingga pukul 8 malam, setelah itu saya menghampiri teman-teman saya dan pergi ke 313 Somerset untuk menukar tiket Laneway yang sudah mereka beli dan kami pun berbincang sampai larut di daerah Chinatown dekat tempat mereka menginap.

Saya kembali ke hotel sekitar pukul 2:30 dini hari dan berdiam di luar hotel untuk merokok sebatang dua batang bersama Via, beberapa menit berselang ada dua cewek bule asal Australia yang baru pulang ke hotel, yang salah satunya datang dengan kondisi bajunya ketumpahan minuman, entah wine atau apa, saya tidak yakin karena saat itu saya lumayan mabuk, yang pasti salah satu dari mereka minta satu batang rokok ke saya dan ngobrol seru, bercerita mengenai kami yang akan perform di Laneway, dan ngalor-ngidul banyak hal. Setelah waktu menunjukan pukul 3:30 pagi saya memutuskan untuk kembali ke kamar.

Day 2 - 27 Januari 2018

It’s the day! Saya bangun pukul 6 pagi, lalu grup chat di ponsel saya sudah menyuruh bergegas ke bawah untuk menikmati breakfast. Makan pagi di hotel J.W Marriott, saya penasaran akan senikmat apa makan pagi di hotel ini. Akhirnya saya dan teman-teman kamar lain bertemu di lobi dan berjalan menuju Beach Road Kitchen dengan setengah sadar karena jiwa saya masih belum sepenuhnya bangun, kurang lebih sama seperti kita merasakan sahur.

Tiba di Beach Road Kitchen saya dipersilahkan duduk dan ditawari pilihan antara teh atau kopi, saya memilih teh, lalu hingga teh datang dan saya minum, saya masih sedikit bingung bagaimana caranya mengambil makanan yang berada di segala penjuru, apakah harus memesan atau kita bisa mengambil begitu saja. Setelah saya melihat Vando, ternyata memang seperti itu, kita dipersilakan mengambil segala makanan yang disediakan.

Ada beberapa yang kita harus tanya seperti omelette, karena mereka membuatnya secara langsung di tempat saat kita minta. Yang pertama saya ambil saat itu adalah nasi (itupun nasi biryani, nasi yang berbeda dengan nasi yang biasa saya konsumsi di Indonesia), lalu di sebelahnya ada ayam dengan bumbu kari pastinya. Itulah pasangan ideal nasi biryani di Singapura, maka saya ambil beberapa potong daging ayam itu tanpa mempedulikan jumlah.

Setelah berhasil menempuh usaha mandiri dalam mendapatkan makanan, mungkin yang tadi sebatas makanan yang semestinya, setelah ini saya harus melanjutkannya menjadi makanan yang saya mau, saya pun mengambil roasted pork, pork sausage, bacon, dan juga saus yang rasanya adalah rasa wasabi tapi bentuknya amat sangat jauh (ataukah saya yang masih benar-benar udik dengan tidak mengetahui ada bentuk lain dari saus wasabi selain warna hijau), setelah itu saya membilasnya dengan jus jeruk yang sepertinya menjadi penutup makan hari pertama karena keterbatasan volume perut yang sudah memperingatkan, tidak semuanya bisa kamu telan.

Setelah breakfast rampung kurang lebih pada pukul 7:30, saya kembali ke kamar dan memanfaatkan waktu beberapa jam untuk tidur. Setelah tidur kurang lebih satu jam, saya bergegas mandi dan bersiap untuk pergi ke venue. Sekitar pukul 9:30 saya tiba di venue untuk menghadiri meet&greet, press conference, dan juga photo session. Di presscon saya di-interview oleh beberapa media, yang di antaranya adalah dari Indonesia.

Setelah semuanya selesai saya kembali ke ruang ganti bersiap untuk setup, karena tidak diberi waktu yang banyak untuk soundcheck, kami pun segera bersiap-siap karena panggung akan dimulai setengah jam lagi, dan saya bersama teman-teman Heals akan membuka panggung Cloud Stage. Setelah Laneway dibuka oleh Alextbh di panggung Garden Stage, kami menjadi penampil kedua Laneway di Cloud Stage.

Seberes kami soundcheck, akhirnya show pun dimulai saat beberapa dari kami belum mempersiapkan beberapa hal, lalu kami melakukannya dengan buru-buru and we’re kicking off the Cloud Stage! Sebelum kami memulai set, saya bilang kepada audiens, “Wait a bit, i’m just waiting for my girlfriend to come.” Semua orang tertawa. Setelah beberapa menit kami pun memulai set, terlihat beberapa orang berdatangan mengisi barisan depan dan mereka amat sangat antusias, beberapa lagu terlewati saya baru sadar penonton sudah memenuhi area Cloud Stage, sungguh luar biasa apa yang saya rasakan saat itu. Banyak orang yang rela berjalan agak jauh mendatangi Cloud Stage untuk menonton band pembuka ini, dan mereka semua terlihat senang. Saya lihat banyak teman-teman yang saya kenal datang, ada yang datang dari Bandung, Jakarta, Bali, Malang, bahkan Melbourne.

Karena waktu manggung terbatas kami terpaksa tidak membawakan lagu “Azure” yang biasa digunakan sebagai penutup. Kami pun selesai, kembali ke Artist Room, menonton Amateur Takes Control beberapa lagu, lalu ke tengah untuk menyaksikan Rolling Blackouts Coastal Fever. Kembali ke hotel untuk menyimpan alat, tapi saya tidak ingin berlama-lama di hotel karena saya harus menyaksikan banyak band yang akan tampil, saya harus menyaksikan The Internet, Mac DeMarco, Wolf Alice, Slowdive, The War On Drugs.

Setibanya kembali di venue saya menghampiri Vindy (pacar saya) yang sedang mengantre untuk meet&greet Slowdive, dan antrian lumayan panjang, saya pun memutuskan untuk menonton The Internet sembari menunggunya. Sebelum The Internet selesai tampil, Vindy pun selesai meet&greet, lalu kami berjalan ke area Bay Stage, di sana terlihat Mac DeMarco sedang bersiap-siap, selagi di panggung sebelah The Internet masih berlangsung. Akhirnya Mac DeMarco pun memulai setnya, Vindy tak hentinya meneriaki Andy Boay yang saat itu topless. Saat Mac berlangsung saya tertidur di rerumputan di samping Vindy akibat rasa kantuk yang tak tertahankan, saat Vindy singalong pada lagu-lagu Mac. Di akhir set mereka membawakan lagu “Under The Bridge” milik Red Hot Chili Peppers.

Kami pun bergegas ke panggung sebelah untuk menonton Wolf Alice, karena saya penasaran dengan aksi live-nya, mengingat mereka pernah dinobatkan menjadi salah satu Best Live Act 2016 menurut Paste Magazine. Kemudian Wolf Alice memulai setnya yang dibuka dengan lagu “Moaning Lisa Smile”, tapi sound yang dihasilkan tidak sesuai ekspektasi, entah kenapa tapi secara keseluruhan saya menikmati penampilan mereka saat itu.

Setelah Wolf Alice, lagi-lagi saya harus beranjak ke panggung sebelah untuk menyaksikan Slowdive. Malam itu Rachel Goswell sangat cantik, lagu “Souvlaki Space Station” membuat saya merinding. Sebelum set mereka selesai, saya lumayan lelah dan memutuskan pergi ke kamar kecil untuk ganti pakaian, dari jauh terdengar “Golden Hair” berkumandang, tanda dari akhir set Slowdive telah datang. Kami memutuskan untuk beristirahat sambil berbaring di rerumputan smoking area dan menikmati makanan yang sebelumnya kami beli di booth makanan, lantas banyak teman-teman pun menghampiri.

Sementara di Garden Stage terlihat Anderson .Paak sudah bersiap memulai setnya, tapi saat Paak baru saja memulai setnya, tiba tiba sound output mati total entah kenapa, di situ saya menyimpulkan sesuatu bahwa Garden Stage memiliki penanganan sistem suara yang kurang baik. Kami harus menunggu kurang lebih 30 menit hingga akhirnya sound system kembali menyala, akhirnya Anderson .Paak pun memulai setnya lagi. Performance-nya malam itu sangat memukau, permainan drumnya sangat menakjubkan, saya menonton dari kejauhan tapi tak hentinya menganggukkan kepala dan menikmati pertunjukannya.

Setelah Anderson .Paak, ada Father John Misty lalu Bonobo, saya masih belum berpindah tempat selain hanya membeli makanan. Lalu sehabis Bonobo, akhirnya tiba di puncak acara, penampil terakhir ialah The War On Drugs. Kali ini saya mulai beranjak dan menonton penampilan mereka. Mendekati akhir set, saya berniat untuk kembali ke hotel sebelum shuttle gratis ‘hotel-festival-hotel’ habis, dan ternyata benar, shuttle yang saya naiki saat itu adalah shuttle terakhir dari venue menuju hotel. Akhirnya saya kembali ke hotel dan menikmati beberapa batang rokok sebelum tidur.

Day 3 - 28 Januari 2018

Saya bangun dan menyadari hari ini adalah breakfast terakhir di hotel, dan saya tidak boleh menyia-nyiakannya. Hari ini saya harus memakan menu yang lebih variatif, saya harus bisa memberikan ruang untuk makanan lain yang akan saya makan. Perlahan saya mengambil nasi biryani lagi, namun lebih hati-hati akan kuantitas agar saya bisa mencicipi banyak makanan kali ini, walau tidak bisa semua yang ada di Beach Road Kitchen saya makan.

Setelah itu saya mencoba lagi beef, dan segala macam pork, sereal, dessert seperti cheesecake dan tiramisu, tapi ternyata hanya cukup sampai di sini volume perut saya.

Setelah makan pagi kami berencana untuk menikmati swimming pool di hotel hanya untuk beberapa menit. Kami pun pergi ke atas, sambil melihat pemandangan kota Singapura.

Selesai berenang, saya memanfaatkan waktu untuk tidur kembali mengingat hari ini saya harus check out dari hotel pukul 12 siang dan pindah ke The Hive, sebuah hostel di daerah Lavender. Saya pun bangun pada pukul 10 lalu bersiap-siap packing dan beranjak ke bawah untuk check out. Kami pun meninggalkan segala fasilitas kemewahan yang kami rasakan dua hari ke belakang, sungguh sedihnya.

Kami menunggu sekitar satu jam di depan hotel sembari menunggu waktu check in di The Hive pada pukul 2, dan Uber pun datang untuk membawa alat kami menuju The Hive. Saya dan teman-teman sisanya menggunakan MRT untuk pergi ke The Hive. Sesampainya di The Hive hujan turun sangat deras dan memaksa kami untuk tertidur pulas, padahal kami punya rencana untuk jalan-jalan dan bertemu teman-teman di daerah Orchard, namun cuaca membuat kami tidak berdaya.

Setelah hujan beres kami segera pergi makan sebelum akhirnya kami berangkat ke Orchard pada pukul 7 malam. Akhirnya sesampainya di Orchard kami bertemu dan janjian dengan teman-teman di sana, dan nongkrong hingga malam dan setelah selesai bercengkerama kami pun berpisah, ada beberapa yang kembali ke tempat menginap, ada juga yang pergi ke launching record store bernama Choice Cuts Goods. Setelah itu saya pergi ke Mustafa Centre untuk membeli sedikit oleh-oleh dan menemukan CD Sparta album Porcelain hanya 3,5 SGD! Banyak yang saya beli saat itu selain CD, seperti cokelat, lakban, sticker sign, lalu kami makan malam di dekat penginapan dan kembali ke hostel lalu tidur.

Day 4 - 29 Januari 2018

Keesokannya kami bangun menyantap sarapan pagi dan sudah dijemput oleh shuttle Laneway yang akan mengantarkan kami ke bandara. Akhirnya kami pun sampai di bandara sekitar pukul 9 pagi dan sempat berlari-lari karena saya belanja di Duty Free, dan pesawat yang saya naiki sudah boarding. Sungguh mendebarkan. Pukul 2 siang kami tiba di Bandung.

Dalam trip ini, buat saya yang menjadi highlight adalah yang pasti bisa manggung di panggung festival besar. Menyenangkan rasanya bisa merasakan energi dari penonton yang mengapresiasi. Selain itu adalah bagian breakfast, karena sepulangnya ke Bandung saya mendapatkan banyak inspirasi memasak untuk dicoba di rumah, dasar-dasar pembuatan omelette yang ideal, membuat menu sereal yang variatif, mengombinasikan berbagai bahan makanan untuk diolah. Dan yang pasti, bisa menonton band-band bertaraf internasional secara langsung.

*Semua foto oleh R.M Suryokusumo

1 COMMENTS
  • yukeren

    Semarang juga mau ada Rock Day Oit ni