Alfredo 'Pijar': Berani Keluar 'Kandang' Biar Didengar

  • By: J. Alfredo
  • Kamis, 15 March 2018
  • 3557 Views
  • 4 Likes
  • 4 Shares

PIJAR adalah band yang saya bentuk di tahun 2014 bareng teman-teman saya: Ican, Lizam, dan Aul di Kota Medan. Sebelum lanjut, saya akan menceritakan awal terbentuknya PIJAR itu sendiri.

PIJAR itu berisi saya J. Alfredo (vokal), Ichsan Pane (gitar), Aulia (drum), dan satu teman kami Lizam (additional bass). Sebelumnya, masing-masing personel mempunyai band yang berbeda-beda genre-nya; Ichsan memainkan British pop dengan band sebelumnya, Aulia punya band hard rock/punk, band saya memainkan psychedelic rock, dan saya adalah seorang drummer pada saat itu. Sama sekali tak terbayangkan saya akan bernyanyi untuk orang banyak.

Hingga pada suatu malam, saya dan teman saya Lizam baru saja selesai mengisi di satu acara dan kebetulan kami main bareng satu panggung bersama band masing-masing. Saya dan Lizam sudah temenan dari SMA, jadi ngobrol-ngobrol ngawur biasa terjadi di antara kami haha.

Lalu saya buka pembicaraan, “Zam, lo mau gak, bantu gue bikin band baru yang bener-bener musiknya itu bisa dinikmati sama semua orang, dari yang muda sampe yang tua, dan mempunyai dampak di era ini.” Kebetulan band kita masing-masing memang band yang musiknya acak adut gak karuan, nge-band-nya jadi cuma sekadar happy-happy doang, sementara di satu sisi saya sangat ingin happy sekaligus karya saya bisa didengarkan ke masyarakat yang lebih luas, dan berdampak positif ke orang-orang. Nah kebetulan si Lizam memang temenan lama dan pasti bantu, biar pun dia gak bisa jadi personel tetap PIJAR itu sendiri.

Berjalan dan berjalan, mencari personel yang satu visi dan misi, sampailah ke Ichsan (gitar). Ichsan itu orang yang pertama kali saya ajak di PIJAR, pada saat itu tanpa basa basi langsung ‘ketemu’ kitanya, mulai dari ngobrol musik dari  malam sampai pagi, energi kita udah mirip banget, jadinya tanpa basa-basi Ichsan pun langsung masuk ke project yang belum ada nama ini.

Lalu orang terakhir yang masuk di PIJAR adalah Aulia (drum). Aulia adalah seseorang yang sifat dan sikapnya emang se-punk itu sih kalau lo kenal dekat sama dia. Metode penyampaiannya sama sih dengan saya ngajakin anak-anak yang lain untuk masuk ke project ini. Perbedaannya adalah kali ini yang ngobrol ada saya, Ichsan dan Lizam, jadi si Aulia lebih dapetlah inti dari misi ini.

Akhirnya personel pun lengkap. Saya,Ican, Aul dan teman kami yang membantu mengisi di posisi bass, yaitu Lizam. Tapi nama band-nya belum dapat. Untuk menemukan nama PIJAR, kita hanya butuh waktu 2-3 jam mungkin ya, di salah satu cafe di Medan. Dari nama Night Fever, Iowa Noir, Moon River, bla bla bla, sampai mulai ada obrolan gimana kalau kita cari nama yang berbahasa Indonesia, artinya simpel, dan padat, tanpa basa-basi akhirnya nama PIJAR pun dipilih sebagai nama yang akan membawa/mewakili mimpi kami menyebarkan karya-karya yang kami ciptakan ke orang banyak.

Dari pertama membentuk PIJAR, kami gak pernah manggung, kami emang fokus buat workshop, mengumpulkan karya-karya yang kami ciptakan untuk dijadikan sebuah EP/Mini Album, lalu tanpa berlama-lama, tahun 2015 tepatnya 7 September kita merilis EP berjudul The Sound of Youth.

Sejauh ini yang saya tau, Kota Medan adalah salah satu kota yang besar dan salah satu kota penghasil seniman-seniman berbahaya dari dulu. Mulai dari The Rhythm Kings, The Mercy’s sampai ke era CANGIS. Namun mungkin untuk saat ini, Medan bukanlah kota yang pas untuk para pekerja seni. Medan lebih fokus dengan bisnis dan sesuatu hal yang jarang berhubungan dengan seni itu sendiri.

Di Medan juga banyak komunitas-komunitas dan media-media yang sangat peduli akan karya seni, mau itu seni lukis, tari, patung, film, ataupun musik. Namun saya berpikir, itu semua masih belum cukup, misi PIJAR masih terlalu jauh dari jangkauan.

Dari kacamata dan era saya, bermusik di Medan itu jadinya hobi sih, cuma buat iseng, seneng-seneng doang, soalnya memang gak bisa diseriusin. Rata-rata musisi yang lahir di Medan pasti merasakan hal itu. Namun bagi saya, itu semua kembali lagi ke masing-masing tujuan manusianya. Kalau memang tujuannya bermusik itu cuma sekadar hobi yang membuat happy, ya berarti hal itu udah cukup bagi mereka.

Sementara tujuan dari awal PIJAR dibentuk adalah bagaimana caranya agar karya yang PIJAR ciptakan dengan sepenuh hati, bisa berdampak besar ke seluruh orang yang ada di Indonesia. Bagaimana caranya orang yang sedang sedih, bisa menjadi bahagia. Orang yang putus asa, bisa kembali mempunyai harapan. Orang yang tidak bersemangat, bisa kembali semangat. Seluruh orang di Indonesia bisa menyanyikan lagu-lagu PIJAR! Kan sangat disayangkan kalau kami menciptakan satu karya yang mungkin akan menjadi inspirasi banyak orang kelak, tetapi tidak disebarkan.

Jadi saya dan PIJAR mulai berpikir, bagaimana caranya karya PIJAR bisa didengarkan ke seluruh INDONESIA, bukan hanya Kota MEDAN.

Caranya adalah: pindah ke Jakarta.

Kenapa Pijar Pindah ke Jakarta?

Itu dikarenakan hasil survei yang kami buat sendiri. Manusia itu kan memang butuh pancingan, dalam arti, “Bagaimana caranya agar satu desa bisa terpandang?” Ya harus ada satu orang atau satu kelompok yang bisa menembus suatu prestasi, yang membuat seluruh orang melihat ke arahnya, dan otomatis mencari tahu dari mana orang/kelompok tersebut berasal. Gitu.

Semua media yang ada di seluruh Indonesia, mengikuti perkembangan media yang ada di Jakarta, itu tidak dapat dipungkiri. Perbandingannya adalah: enam tahun berkarya di Medan, kemungkinan seluruh masyarakat di Kota Medan bakal tahu bahwasanya Medan mempunyai satu band bernama PIJAR. Sementara, enam tahun berkarya di Jakarta, kemungkinan seluruh Indonesia bakal tahu bahwa ada band bernama PIJAR di Indonesia dan berasal dari Medan, dan hal ini bisa menarik orang-orang untuk tahu lebih banyak lagi band-band yang berasal dari Medan, dan menjadi semangat baru untuk band-band yang ada di Medan.

Itulah kenapa PIJAR memutuskan untuk pindah ke Jakarta, semua agar karya-karya kami bisa didengar lebih luas lagi ke seluruh masyarakat Indonesia.

Tahun 2016 kami memutuskan untuk pindah ke Jakarta, dan di tahun itu juga merilis full album perdana kami berjudul Exposure. Lalu 2017 kami juga merilis EP berjudul Ekstase. Bagi saya pribadi, tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan ketika melihat karya yang kita ciptakan membuat orang lain senang.

Sejauh ini sih apa yang kita rencanakan dan pikirkan sesuai dengan harapan kita.

0 COMMENTS

Info Terkait