Alvin Yunata: Di Antara Pita, Kepingan, dan Musik

  • By: Alvin Yunata
  • Minggu, 5 November 2017
  • 7249 Views
  • 7 Likes
  • 4 Shares

Format digital memang paling praktis, semua serba mudah hanya sekali unduh. Pilihan apps portal musik semisal Joox atau Spotify dan semua lagu favorit sudah otomatis berada di ponselmu. Dengarkan sesukamu tanpa harus repot, paling mentok adalah registrasi dengan bayar bulanan, hanya itu saja.

Entah kenapa saya selalu menyukai sesuatu yang berbentuk fisik. Memang merepotkan, tapi selalu saja rindu akan hal tersebut. Entah itu kaset, CD maupun piringan hitam sepertinya format-format tersebut begitu seksi dengan segala tetek bengeknya.

[bacajuga]

Awal dari perkenalan saya terhadap rilisan fisik adalah kaset. Saat itu saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama di Kota Bandung. Saya dan teman sebangku memiliki ritual berjalan kaki sambil menikmati es krim ke toko kaset sepulang sekolah, ritual dwi mingguan. Kami sangat menikmati ritual tersebut, melihat tumpukan kaset tanpa adanya informasi yang detail di era itu.

Maklum di pembuka awal tahun 90-an kami belum mengenal internet. Justru kebingungan itu yang selalu kami rindukan hingga saat ini, menilai album dari gambar sampul kasetnya. Beruntung apabila kaset tersebut tidak disegel sehingga kami bisa melanjutkan ritual bagian kedua, yaitu membuka lipatan sampul kaset dan membaca lirik lagu hingga halaman ucapan terima kasih dari sang artis berharap ada beberapa nama artis lain yang kami kenal sehingga kami bisa memutuskan kalau musik artis tersebut adalah setidaknya pilihan yang tepat, walaupun tak jarang gagal.

Arus informasi sangatlah minim apalagi masalah musik. Bisa dibilang satu-satunya majalah lokal yang sangat membantu di zaman itu hanyalah majalah HAI (yang sekarang versi cetaknya sudah tutup usia), sisanya harus meminjam majalah luar negeri dari teman-teman yang nasibnya lebih beruntung secara finansial. Atau meminjam kaset teman lalu merekamnya di kaset kosong, budaya mixtape atau kompilasi buatan sendiri menjadi permainan kami, bahkan terkadang kami merekam beberapa lagu dari siaran radio-radio kesayangan.

Format kaset menguasai Indonesia cukup lama, terhitung sejak dari pertengahan tahun 70-an, banyak alasannya tapi yang paling terpenting adalah murah! Naik ke jenjang SMA, kaset masih menjadi primadona, bahkan makin menggila. Bagi yang suka music, kami berbondong-bondong pergi ke toko kaset untuk melihat artis siapa yang rilis di minggu ini. Artis-artis mancanegara pun makin semarak arus grunge dan britpop mulai menjajah telinga kami via toko-toko kaset yang hadir era itu.

Keterbatasan informasi bukanlah menjadi penghalang kami bagi para penggila musik yang tetap terus mencari celah. Satu majalah musik atau skateboard luar negeri milik seorang teman bisa berpindah pindah tangan, mencari referensi dengan mencatat nama-nama band yang sepertinya super cool. Melihat foto artis favorit menggunakan kaos band bahkan di halaman belakang tempat iklan-iklan toko kaos dan aksesoris musik hingga iklan-iklan acara dengan nama-nama sejumlah band penampil.

Ya, seringkali kami gagal dengan menilai sampul kaset ternyata setelah dibeli musiknya tidak sesuai dengan ekspektasi, maklum tidak semua kaset bisa kami coba terlebih dahulu kala itu. Namun bermain dengan orang-orang yang tepat dan memiliki kesukaan yang serupa adalah hal yang sangat penting. Kami berkumpul dengan beberapa teman dengan hobi yang serupa dan nyatanya sangat membantu, kami tidak tahu dengan istilah komunitas kala itu.

Ada dua tempat yang sangat menginspirasi saya saat itu selain toko-toko kaset konvensional, yang pertama adalah toko kecil bernama Reverse. Di sanalah khazanah musik saya terbuka banyak sekali, band-band yang belum saya dengar sebelumnya dan rata-rata mereka mampu membuat saya berdecak kagum. Mereka menjual kaus, kaset, CD, piringan hitam hingga poster musik.

Yang kedua adalah toko spesialis skateboard bernama Hobbies Skate Shop, di mana ada segelintir CD-CD. Memang jumlahnya tidak banyak, tapi cukup membuat penasaran teronggok di antara aksesoris skateboard. Belum lagi sang empunya, Charlie, selalu bercerita mengenai tiap rilisan yang ia jual.

Setelah saya menginjakkan kaki di bangku perguruan tinggi, ternyata antusias bermusik malah semakin menggebu. Yang tadinya hanya sebagai pengumpul kaset mulai lebih sering ditambah aktivitas band. Saat itu di pertengahan tahun 90-an, kaset masih menjadi format idola walaupun sudah terlihat beberapa arus referensi baru mulai menggeliat. Beberapa CD impor mulai terlihat di beberapa sudut namun tetap saja harga masih terbilang mahal. Namun lucunya beberapa lapak pinggir jalan menjajakan kaset-kaset dengan artis-artis atau rilisan yang justru terbilang langka, setelah ditelusuri banyak di antaranya adalah rekaman-rekaman bajakan dari CD impor.

Memasuki era milenium, ternyata format kaset masih menjadi format utama dalam industri music. Tahun 2000 adalah tahun di mana band saya terdahulu, Harapan Jaya, resmi dirilis label internasional EMI Musik Indonesia. Pada debut tersebut jelas format utama rilisan adalah kaset, tapi saat itu EMI pun merilis CD kami dengan harga yang cukup mahal. Kalau tidak salah mencapai harga Rp 125 ribu, untuk rilisan lokal tahun 2000 tentunya itu sangat mahal. Dengan alasan alat duplikasi dan pencetak master CD saat itu masih terbilang mahal dan langka.

Namun sepertinya fenomena CD ini menemui titik terang berselang kurang dari lima tahun setelahnya. Perlu diakui, format CD tidak kalah menarik kala itu dengan ukuran sampul yang lebih besar dari kaset membuat kepingan CD akhirnya menjadi alternatif bagi para musisi. Lambat laun Walkman sudah tidak jadi primadona lagi tergantikan oleh Discman. Masuknya tren CD ke Indonesia membuat harga kaset saat itu makin menurun dan nyaris tak tersentuh karena disinyalir sudah dianggap tidak up to date lagi.

Lambat laun harga CD pun semakin terjangkau seiring dengan jatuhnya era kaset yang makin ditinggalkan oleh para penggemar musik. Rupanya CD pun menemui mimpi buruknya sendiri akibat dari teknologi yang begitu semua terasa praktis. Nyatanya kian lama ancaman CD bajakan tak terelakkan. Para pembajak ini adalah musuh utama para label dan musisi sehingga CD menemui masa sekaratnya. Kasus klise ini berlangsung menahun berbagai macam upaya pelaku industri musik bahkan bantuan dari pemerintah berusaha keras mengentaskan masalah tersebut. Era digital mulai merasuki industri musik. Mungkin gongnya ketika RBT menjadi salah satu pemasukan besar bagi sebagian musisi dan pelaku bisnis musik. Saya tidak mau cerita banyak tentang RBT ini yang ternyata memang umurnya tidak panjang akibat keberadaannya di zona abu-abu wilayah hukum Indonesia.

Memang setelah itu cerita penjualan (format kaset) satu juta copy sudah menjadi cerita legenda dari masa lalu. Label major mulai gulung tikar dengan dalih merger satu sama lain, toko-toko kaset dan CD pun satu persatu mulai pupus. Itu semua tidak hanya terjadi di Indonesia, wabah penyakit musik ini terjadi di seluruh belahan dunia, mungkin ini pertanda era digital mulai menguasai industri musik.

Bersambung ke halaman kedua...

[pagebreak]

Hijrah ke Jakarta mungkin juga salah satu titik balik saya dalam mengoleksi rilisan fisik. Kala itu tahun 2005 dan saya menduduki jabatan editor dalam sebuah majalah musik. Saat itu saya sudah tidak lagi membeli kaset, bisa dibilang berhenti di paruh awal millennium. Saya beralih mengonsumsi CD. Di era ini adalah momen terbaik saya dalam hal mengoleksi karena saya menemukan format lain yang akhirnya membuat saya semakin gila. Sementara saya membabi buta dalam membeli CD di saat itu pun hadir sosok yang sebenarnya sudah lama ditinggal banyak penggemarnya namun pesonanya menawan luar biasa, piringan hitam.

Kebetulan kantor di mana saya bekerja dulu berjarak cukup dekat dengan pasar antik jalan Surabaya. Di sanalah semua akhirnya tertumpu pada format paling seksi ini. Sampul sangat besar, sangat menggugah hanya teronggok berdebu tanpa ada yang menyentuh. Di situlah referensi musik malah semakin bertambah dan meluas, bertemu dengan teman-teman baru yang sangat hebat dari dalam dan luar negeri.

Kala itu hanya ada beberapa teman lokal saja yang intens bertemu setiap harinya di kios milik Lian. David Tarigan, Fadli Aat, Wahyu ‘Acum’ Nugroho dan Merdi Pradikto. Bisa dikatakan kami sangat aktif sekali dahulu, hampir setiap hari bergumul dengan debu untuk mencari lagu-lagu baru dari masa lalu. Akhirnya kami mencarinya kemana-mana tak hanya di jalan Surabaya, dari bekas pub, bekas stasiun radio hingga rumah para pensiunan. Lintas daerah bahkan lintas negara, saya selalu menyempatkan singgah ke toko-toko piringan hitam dimana pun saya sedang ditugaskan.

Ternyata kejadian serupa pun mulai tumbuh di negara lain seperti di Amerika dan Eropa, kejenuhan akan masuknya era digital justru menumbuhkan kembali hasrat dalam mengoleksi rilisan fisik khususnya piringan hitam. Kurang lebih tujuh tahun lalu, tagline piringan hitam menyelamatkan penjualan rilisan fisik di Amerika dan Eropa. Dan menyusul di Indonesia, budaya membeli piringan hitam muncul bergeliat satu per satu. Toko-toko musik independen lahir seiring dengan tutupnya toko-toko musik konvensional. Sebuah fenomena yang luar biasa dan cukup pesat sehingga saya melihat akhirnya piringan hitam menjadi sebuah tren, sebuah trend positif yang hebat, walaupun sisi buruknya secara harga saya tak lagi bisa menikmati harga beli yang murah.

Toko-toko independen muncul di online maupun secara offline, band-band lokal mulai mencoba untuk merilis albumnya dengan format piringan hitam. Memang hasilnya lebih menawan dengan sampul desain yang begitu besar, belum lagi beberapa dari band-band tersebut membuat piringan-piringan beraneka ragam warna yang rasanya sangat ingin dikoleksi. Semua band-band baru di seluruh dunia kini mencetak format piringan hitam seakan kembali kepada indentitas fitrahnya sebagai lambang format musik. Pemutar piringan hitam yang sering disebut turntable pun kini lebih mudah didapatkan dari produk terbaru dengan berbagai macam tipe sesuai kocek dan kebutuhan.

Tahun 2007, beberapa penggiat dan pemilik toko rilisan musik mengadakan sebuah acara tahunan yang diselenggarakan di setiap bulan April. Niatnya adalah perayaan mengumpulkan para fans pencinta rilisan fisik berkumpul di toko-toko rilisan fisik. Inisiatif ini lahir di Amerika yang kemudian menyusul di seluruh negara lainnya. Acara ini dinamai Record Store Day, di mana di hari spesial ini beberapa industri musik dan musisi pun turut terlibat, banyak di antara mereka merilis ulang album legendanya, merilis single baru dengan berbagai macam gimmick dan format.

Akhirnya acara tahunan ini lahir pula di Indonesia, di mulai pada tahun 2012. Banyak dari para fans musik  bergabung dalam acara perhelatan ini, berbagai artis lokal mengisi konten dengan merilis single-single terbaru mereka. Momen yang dimanfaatkan sebagai ajang berkumpul para pencinta musik, pedagang musik, label rekaman dan juga artisnya. Kini acara Record Store Day sudah menyebar di berbagai kota di Indonesia di mana semua pencinta musik bisa merayakannya bersama, di mana rilisan fisik bisa dinikmati bersama, bertemu dan berbagi cerita.

Tahun datang silih berganti, boleh jadi piringan hitam kini sudah tak lagi menjadi primadona. Malah siklus sepertinya menunjukkan apabila pendulum menunjukkan jangkarnya kembali kepada format kaset. Beberapa band sidestream mulai banyak memproduksi karyanya kembali lewat kaset pada acara Records Store Day tahun ini. Sederhana saja, karena pabrik penggandaan kaset masih banyak aktif di Indonesia dengan ongkos produksi yang relatif terjangkau dibandingkan produksi piringan hitam. Bahkan bisnis penggandaan kaset pun diaktifkan kembali oleh perusahaan negara Lokananta yang menerima pesanan dari pihak manapun, baik label maupun perorangan. Perayaan Cassette Store Day pun kini mulai membanjiri pelosok bisnis musik di Indonesia.

Apapun formatnya dalam bentuk fisik, sebagaimana halnya musik secara fitrahnya, diciptakan untuk berbagi dan dimiliki selamanya. 

*Semua foto diambil dari berbagai sumber di internet

2 COMMENTS
  • dephythreehandoko

    legend

  • juangpratama

    Sangat klasik...

Info Terkait

superbuzz
211 views
superbuzz
354 views
superbuzz
14184 views
superbuzz
296 views
superbuzz
709 views