Sejarah Rock n Roll Indonesia

Alvin Yunata: Dilarang Rock and Roll Di Sini

  • By: Alvin Yunata
  • Senin, 25 May 2020
  • 13508 Views
  • 1 Likes
  • 5 Shares

Perang dunia II baru saja usai seiring dengan Indonesia yang juga baru menyatakan kemerdekaannya. Bayangkan bagaimana cara sebuah negara yang baru saja merdeka ini menyerap budaya populer yang datang dari Barat dengan bebas. Kegagapan budaya hadir di Indonesia di era awal tahun 1950-an, apapun yang sedang menjadi tren di dunia, masuk ke radar negeri ini.

Berbicara tentang budaya populer maka kita bicara muda mudi yang baru saja merasakan bebasnya bernegara kala itu dengan daya serap tinggi. Tawaran identitas dan cara berekspresi tentunya menjadi sesuatu yang sangat menarik dan tentunya sebuah hal yang baru dan bergairah. Bayangkan demam rock and roll sedang hangat di dunia, film musikal Rock Around The Clock yang tayang di tahun 1956 merupakan salah satu pemantiknya. Di samping tambahan akses lainnya seperti masuknya alat-alat musik elektrik, rekaman musik, siaran radio, majalah gaya hidup hingga mode berpakaian yang dianggap sebagai solusi bagi muda-mudi untuk menyikapi pencarian identitas di negara yang merdeka ini.

Bibit penyerapan budaya barat di Indonesia ini tentunya sudah merupakan hal yang biasa, baik sejak era penjajahan Portugis hingga Belanda. Contohnya terbukti dari munculnya gaya musik Keroncong hasil serapan musik Portugis yaitu moresko, prounga dan kafrinyu berkembang biak pesat sedemikian rupa, berevolusi ke beberapa fase dan bentuk di berbagai daerah di Indonesia. Maka proses imitasi yang dilakukan Indonesia memang kerap berlangsung tentunya dengan tambahan sentuhan lokal agar lebih bernyawa dan terikat dengan gaya nusantara. Memang sejak dari awal banyak sekali pengaruh musik-musik Amerika Latin, Amerika Utara dan juga Eropa di Indonesia yang sudah ada sejak jaman pra-kemerdekaan, maka musik-musik macam cha cha, jazz, pop dan juga rock and roll tentunya sangat digemari.

Bill Haley lewat film Rock Around The Clock memang nyatanya telah berhasil menyihir sebagian besar muda mudi Indonesia kala itu. Menyusul selain Bill Haley and His Comets sederetan idola-idola baru seperti Bing Crosby, Doris Day, Andrew Sisters, Jo Stafford, Frankie Laine hingga Elvis Presley. Ditandai mulai maraknya kelompok-kelompok anak muda yang membuat format band (dahulu sering disebut band tiga akord).

Bill Haley and His Comets (sumber)

Perlu disepakati terlebih dahulu kepada para pembaca bahwa singkirkan dahulu stigma musik rock and roll yang super keras dan bertempo cepat karena kategori sendu ala Elvis Presley pun masuk dalam muatan rock and roll era awal di tahun 50-an. Irama Records selaku label rekaman swasta pertama yang didirikan Sujoso Karsono pada tahun 1951 memiliki andil yang cukup besar pada saat itu, banyak biduan, biduanita serta para musisi tergabung di sana. Berkat wabah rock and roll muncullah kegemaran anak muda dalam membentuk band, bahkan konsep festival band mulai muncul tercatat bermula pada tahun 1958 ketika semua anak muda antar daerah berlomba untuk unjuk gigi. Menyaingi pamor acara pencarian bakat biduan dan biduanita Bintang Radio yang telah diinisiasi oleh Radio Republik Indonesia sejak tahun 1951.

Pemerintah orde lama melihat hadirnya hingar bingar budaya populer barat ini menjadi sebuah ancaman, khususnya bagi kedaulatan bangsa Indonesia. Budaya populer barat ini dilihat sebagai upaya bangsa-bangsa barat dalam merusak moral muda mudi dan merupakan ancaman kembalinya imperialisme di Indonesia. Pada awalnya peran Radio Republik Indonesia (RRI) sangat besar dalam turut mempopulerkan lagu-lagu barat, salah satu alasannya adalah kurang banyaknya materi album lokal daerah pada saat itu. Maka lewat keputusan Kementrian Penerangan dibentuklah perusahaan rekaman negara bernama Lokananta pada tahun 1955 yang diinisiasi oleh R Maladi selaku Direktur Jenderal RRI, guna mengakomodir pengumpulan materi lokal yang sifatnya lebih kedaerahan lebih banyak lagi.

Keprihatinan pemerintah orde lama pada situasi ini semakin membuncah, akhirnya pada perayaan kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1959, presiden Soekarno dalam pidatonya mengkritik gaya hidup anak muda Indonesia yang mengikuti tren rock and roll, berdansa cha cha cha dan musik ngak ngik ngok (istilah bagi musik barat). Serta mengajak seluruh jajaran pemerintah dan lapisan masyarakat khususnya anak muda untuk mengembalikan integrasi budaya di dalam negeri, pidato ini dikenal dengan judul “Penemuan Kembali Revolusi Kita” atau Manifesto Politik Republik Indonesia (Manipol). Musik pada saat itu masuk dalam kategori anak emas maka segala hal bentuk berkesenian diatur dalam proses pembentukan budaya nasional oleh pemerintah orde lama.

Setelah pemerintah resmi dengan pernyataan Manipol-nya sejak Oktober 1959 seluruh stasiun Radio Republik Indonesia di berbagai daerah tidak lagi memutarkan lagu-lagu yang berasal dari Amerika maupun Inggris, seperti lagu-lagu berirama rock and roll, begitu pula lagu-lagu yang berasal dari latin termasuk lagu-lagu berirama cha cha cha, mambo dan rumba.

Negara baru saja merdeka, muda mudi baru saja mencoba untuk menikmati akses sebagai warga negara yang bebas, magnet rock and roll terlalu kuat dan membius. Segelintir muda mudi terus mencari celah dan cara untuk berekspresi, merespon nyawa rock and roll secara utuh. Ketatnya peraturan pemerintah dalam ranah kebudayaan khususnya bermusik tidak dijadikan alasan bagi muda-mudi untuk diam. Musik masih dijadikan anak emas dalam berekspresi, sebelum Lokananta hadir peran Irama Records memiliki andil yang penting.

Terpecahkanlah sebuah formula akulturasi budaya yang mumpuni. Oslan Husein bersama band pengiring Orkes Irama Cubana Teruna Ria menggubah karya Gesang, “Bengawan Solo” ke dalam gaya rock and roll, cara bernyanyi Oslan mereplika Elvis dengan sempurna. Disinyalir “Bengawan Solo” versi ini merupakan rilisan pertama rock and roll yang direkam dalam format shellac pada tahun 1958 dibawah label Irama Records. Setelah itu semakin banyak para musisi yang mengadopsi formula serupa dengan berbagai macam cara, baik menggubah ulang lagu-lagu daerah hingga mencoba menciptakan lagu baru lewat muatan lirik yang “aman” disesuaikan dengan kepribadian bangsa.

Oslan Husein (sumber)

Kendati demikian sepertinya ini belumlah cukup bagi pemerintah Orde Lama, diberitakan oleh majalah Selecta terbitan 30 Oktober 1963 bahwa menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu, Prijono, menyatakan bahwa budaya barat, dalam hal ini musik rock and roll bisa hadir dalam berbagai bentuk, tidak hanya iramanya saja namun juga dalam segi penulisan lirik serta cara bernyanyi yang meniru budaya populer barat. Maka seiring dengan pernyataan tersebut tahun 1963 RRI mulai memfiltrasi dan memboikot lagu-lagu yang dianggap identik dan meniru gaya budaya populer barat. Muncul beberapa nama yang dianggap melanggar seperti Diah Iskandar yang dianggap meniru Connie Francis lengkap dengan gaya twist-nya, Koes Bersaudara yang dianggap meniru The Beatles dan The Everly Brothers, Rachmat Kartolo yang dianggap meniru Cliff Richard dan masih banyak lagi.Tidaklah heran mengapa pada akhirnya terjadi drama penangkapan Koes Bersaudara dan Dara Puspita di sebuah pesta rumahan milik seorang perwira pada tanggal 29 Juni 1965 akibat bermain rock and roll.

Namun semua represi pemerintah Orde Lama tidak menyurutkan semangat ekspresi muda mudi kala itu, banyak diantaranya yang berhasil merespon rock and roll secara paripurna walaupun penuh dengan keterbatasan. Nama-nama Zaenal Combo, Eka Sapta, Orkes Simanalagi, Eka Djaja Combo, Combo Ria, Arulan, Gumarang dan masih banyak lagi.  Bahkan sebagian dari karya mereka dianggap sebagai harta karun dengan sound yang dianggap alien diburu oleh para kolektor piringan hitam mancanegara di kemudian hari. Atas segala keterbatasan alat yang ada ditambah balutan konten kearifan lokal malah menambah sound rock and roll ala Orde Lama ini terdengar eksotis dan menarik.

Koes Bersaudara (sumber)

Rock and roll tak pernah luput dari cengkeraman anak muda di Indonesia dan akan tetap hadir dari zaman ke zaman. Berikut saya lampirkan beberapa nomor (hanya sebagian kecil) rock and roll ala Orde Lama agar siapapun yang membaca tulisan ringan ini akan terasa lebih afdol dengan suguhan tembang konten kedaerahan yang beragam, selamat menikmati.

1.     Oslan Husein bersama Orkes Irama Cubana Teruna Ria - Bengawan Solo (dengarkan di sini

2.     Lies Embarsari bersama Zaenal Combo - Burung Kaka Tua (dengarkan di sini

3.     Nuskan Sjarif bersama Orkes Kumbang Tjari - Mak Tatji (dengarkan di sini

4.     Nien bersama Orkes dbp Jack Lemmers - Betjak (dengarkan di sini

5.     Zaenal Combo - Ampar Ampar Pisang (dengarkan di sini

6.     Ivo Nilakreshna bersama Orke Simanalagi - Kebile Bile (dengarkan di sini

7.     Band Nada Kentjana - Djaleuleudja (dengarkan di sini

8.     Juul & Rene bersama Orkes Pratama - Ole Ole Bandung (dengarkan di sini

9.     Eka Sapta - Tirtonadi (dengarkan di sini

10.  Eka Djaja Combo - Kembang Rampai (dengarkan di sini

0 COMMENTS