Alvin Yunata: DNA Musik Keras di Dalam Aliran Darah Panbers

  • By: Alvin Yunata
  • Rabu, 30 August 2017
  • 4988 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

Dua tahun yang lalu seorang teman mantan kantor terdahulu menghubungi saya, dia menanyakan perihal yayasan yang sedang saya dan teman-teman lainnya jajaki, yaitu Irama Nusantara. Dirinya berbicara tentang band rock pendatang baru bernama Kelompok Penerbang Roket. Intinya ternyata mereka akan membuat sebuah tribute album bersama Sinjitos Records, dan mereka berniat untuk mengaransemen ulang beberapa nomor tembang lawas.

Akhirnya saya segera memanggil David Tarigan, teman sejawat di yayasan Irama Nusantara, dan obrolan seputar hak cipta yang memang carut marut di eranya ini bergulir, belum lagi beberapa nama musisi yang berada dalam list sudah entah ke mana rimbanya. Pendek cerita, akhirnya berlabuhlah pada konsep lagu-lagu dari Panbers. Alasannya kuat, pertama tentunya hanya menghubungi satu band saja yang tentunya jauh lebih mudah untuk mengurusnya, dan kedua dilihat dari repertoire. Sejarah musik Panbers yang memiliki beberapa kumpulan DNA musik keras bisa dibilang banyak pilihan, dan yang ketiga jelas arahnya cocok dengan karakter Kelompok Penerbang Roket.

[bacajuga]

Cerita di atas adalah alasan kuat bagi saya untuk membahas mengapa nama Pandjaitan Bersaudara begitu seksi untuk diulas kali ini. Perkenalan saya dengan Panbers pun tentunya di jalan Surabaya satu dekade ke belakang via piringan hitam. Awalnya saya tak pernah terkesan dengan nama besar Panbers. Lagu seperti “Gereja Tua” atau “Achir Tjinta” yang membawa nama besar mereka sama sekali tidak menarik bagi saya. Sampai pada akhirnya saya mendapatkan piringan hitam debut album mereka bertajuk Sound 1: Kami Tjinta Perdamaian dengan foto keempat personel Panbers bertelanjang dada mengacungkan peace sign tertera pada sampul albumnya.

Rilis di bawah perusahaan rekaman ternama pada eranya milik Dick Tamimi bernama Mesra Records. Album perdana Panbers ini kemungkinan besar rilis di rentang waktu akhir tahun 1971 hingga awal tahun 1972. Tiap kali memutarnya, saya tertegun teringat pertama kali mendengarkan track “Djakarta City Sounds”, sangat gila. Vokal Benny mengingatkan saya akan Perry Farrell dari Jane’s Addiction, belum lagi mereka menyematkan suasana riuh klakson mobil dan irama ondel ondel trippy dan surreal.

Satu track yang paling fenomenal pastinya “HAAI”, sebuah track yang tentu saja dicomot dan disimpan sebagai track pembuka pada kompilasi Those Shocking Shaking Days (Indonesian Hard, Psychedelic, Progressive Rock And Funk: 1970-1978) rilisan Now-Again Records asal Amerika Serikat. Ada rasa sitar seadanya yang wajib dimaklumi dan sengatan sungai asam psikedelia persembahan negara dunia ketiga di tahun 70-an adalah sebuah keistimewaan.

Track “HAAI” ini memang sangat luar biasa. Belum lagi lirik sekaligus statement “Like Beatles song, I love Rolling Stones, I love Led Zeppelin but also The Panbers I love” wajib diacungi jempol. Pernah mendapatkan kesempatan bertemu Benny dan menanyakan perihal lagu “HAAI” ini apakah kata yang dimaksud adalah high dalam pengaruh substansi tertentu, namun Benny hanya tersenyum dan tidak menjawab.

Jangan salah, masih ada tiga lagu lagi yang harus di-highlight dalam album ini: “Bye Bye”, “Colour of Your Heart”, dan “Let Us Dance Together”. Bayangkan lima dari sepuluh lagu yang tersuguhkan semuanya memiliki DNA rock. Sangat jarang pada zamannya album seberani ini, rata-rata biasanya dalam satu album hanya satu lagu yang bisa dikatakan idealis, sisanya adalah permintaan cukong rekaman.

Adalah kakak beradik Benny Mimbar Porbenget Mual Hamonangan Pandjaitan (Benny), Asido Pandjaitan (Sido), Domu Pangidoan Pandjaitan (Doan), dan kakak tertua yang berbadan kecil Portahan Bonetua Marangin Sotarduga Pandjaitan (Hans). Seperti petikan wawancara Evyh Saeffudin dalam majalah Aktuil, saat itu mereka masih menyelesaikan sekolah sambil mengembangkan hobi bermain musik dan resmi bergabung di kuartal akhir tahun 60-an.

Benny awalnya bermain gitar melodi dan vokal utama, walaupun pada akhirnya ia banyak bermain organ. Sido bertanggung jawab dalam kompartemen drum, Doan menjadi tandem Sido memegang instrumen bass, dan kakak tertua yaitu Hans ada di belakang gitar rhythm. Terkadang mereka masih dibantu oleh personel tambahan, adik bungsu perempuan mereka Natashia yang berperan sebagai pemain organ. Namun Natashia tidak mendapatkan restu orang tua karena masih terlalu kecil, masih duduk di bangku SMP kala itu.

Keempat bersaudara kerap mengisi panggung di beberapa tempat seperti di Miraca Sky Club lantai 14 Gedung Sarinah, Wisma Nusantara, Wisma Warta, Hotel Duta Indonesia dan masih banyak lagi. Tak jarang pula mereka bertindak sebagai band pengiring para biduan dan biduanita ternama, seperti di antaranya Vivi Sumanti, Ida Royani, Bob Tutupoly, Broery Pesolima dan masih banyak lagi.

Sepak terjang Panbers makin meluas. Dari band pengiring dan cover lagu-lagu band barat, Panbers mulai memberanikan diri untuk menciptakan karya sendiri. Tepatnya di pertengahan tahun ‘70, Panbers menelurkan lagu “Achir Tjinta”. Lagu tersebut digunakan dalam film layar lebar Matahari Hampir Terbenam, sebelum akhirnya direkam ulang dalam album perdana mereka, Sound 1: Kami Tjinta Perdamaian. Tidak tahu persis kapan sematan Club Band yang kadang disingkat C.B terukir di akhir nama Panbers, sepertinya media mulai mencatat nama tersebut sejak paruh awal era ‘70 menjadi Panbers Club Band.

13 Oktober 1971 adalah tanggal bersejarah bagi Panbers, di mana mereka mulai mengawali proses rekaman di bawah bendera Dimita atau Mesra Records asuhan Dick Tamimi. Awalnya putra dari Dick Tamimi menyaksikan show Panbers di TV pada tanggal 17 Juli 1971. Setelah diberi referensi oleh sang anak, Dick Tamimi akhirnya menyaksikan show kedua Panbers di TV, dan Mesra Records (DIMITA) langsung membuat perjanjian rekaman pada keesokan harinya.

Hari-hari pertama rekaman tidaklah lancar. Hadangan orang tak dikenal yang menyuruh para anggota Panbers untuk kembali melalui jalan kota, ditambah padam lampu di studio konon menurut penuturan kru Dimita adalah sebuah sabotase yang biasa terjadi dalam industri rekaman kala itu. Namun pihak Panbers pun tidak tahu pasti atas kebenaran kejadian tersebut.

Lagi-lagi proses rekaman harus terhenti akibat suara jangkrik yang mengganggu. Selama menunggu gangguan, para anggota Panbers disuguhkan hasil rekaman senior mereka Koes Plus Volume 3 yang akan naik cetak ke piringan hitam segera. Tidak banyak band yang beruntung bisa masuk dapur rekaman, lantaran lebih besar porsi bagi para penyanyi solo dibandingkan format band kala itu.

Rilisnya debut album Panbers bertepatan dengan rilisnya album Koes Plus Volume 4. Album debut Pandjaitan Bersaudara bagaikan angin segar, bahkan majalah musik Aktuil menyebut “mereka berhasil memasukkan unsur underground music.

Semakin banyak jam terbang, gaya panggung Panbers C.B pun semakin meriah dari kostum hingga aksi panggung para personel yang kian eksentrik, terutama Sido yang sering melakukan atraksi menendang simbal dengan kakinya. Album Sound 2: Mengapa Begini? segera direkam di paruh awal tahun 1972. Sampulnya sangar, Benny sedang bermain sitar. Kontan ingin rasanya segera mendapatkan piringan hitamnya waktu itu. Namun setelah mendapatkannya ternyata tidak sesuai harapan, hanya ada satu lagu berunsur sitar rock psychedelic yang sesuai dengan sampulnya, yaitu “Rock and The Sea” karangan Benny.

Nama Panbers kian besar dan album mereka pun semakin banyak. Pergerakan rekamannya kurang lebih serupa dengan sang kakak, Koes Plus, dari era Dimita berpindah menuju Remaco dan terus berlanjut ke era Irama Tara. Jujur saya selalu senang dengan sepak terjang nomor-nomor eksentrik Panbers yang tertimbun di balik kumpulan lagu-lagu permintaan pasar. Panbers selalu mampu memberikan kejutan-kejutan di setiap zamannya.

Saya kira kumpulan musik eksentrik Panbers dari zaman ke zaman sepertinya wajib dikompilasikan dalam sebuah album, layaknya kumpulan lagu-lagu AKA yang pernah dirilis oleh Strawberry Rain, (lagi-lagi) label asal Paman Sam dalam kompilasi bertajuk Hard Beat pada tahun 2011 silam. Semoga untuk cetakan ulang Panbers nanti tak perlu lagi adanya campur tangan pihak asing.

Di bawah ini saya persembahkan playlist Panbers secara acak mewakili keeksentrikannya. Tidak semua tetapi cukup mewakili dan sisanya masih banyak lagi. Silakan untuk digali lebih jauh lagi. Selamat mendengarkan!

  1. HAAI (http://iramanusantara.org/#/record/detail/888)
  2. Djakarta City Sounds (http://iramanusantara.org/#/record/detail/888)
  3. Let Us Dance Together (http://iramanusantara.org/#/record/detail/888)
  4. Mr Blo’on (http://iramanusantara.org/#/record/detail/251)
  5. Hujan Badai (http://iramanusantara.org/#/record/detail/510)
  6. Si Kera (http://iramanusantara.org/#/record/detail/510)
  7. Rock And The Sea (http://iramanusantara.org/#/record/detail/589)
  8. Antik (http://iramanusantara.org/#/record/detail/90)
  9. Bimbang Dan Ragu (http://iramanusantara.org/#/record/detail/90)

Sumber lagu: www.iramanusantara.org

Foto oleh Majalah Aktuil (arsip Irama Nusantara)

*Artikel ini merupakan rangkaian tulisan tentang musik rock Indonesia dekade 70-an, era di mana musik rock mulai marak dimainkan anak muda Indonesia dan bermunculan nama-nama yang kini jadi legenda.

Simak pula:

0 COMMENTS

Info Terkait

supernoize
1182 views
supernoize
1974 views
supernoize
5373 views
supernoize
3927 views
superbuzz
12301 views