Alvin Yunata: Kisah Laga Panggung Musik Indonesia

  • By: Alvin Yunata
  • Senin, 25 June 2018
  • 3644 Views
  • 2 Likes
  • 17 Shares

Pertama-tama saya ingin memastikan suatu hal terlebih dahulu kalau tulisan ini adalah opini saya pribadi, dengan sedikit riset dan pemahaman dungu saya. Saya akan membuka semuanya lewat kata FANATISME.

Fanatisme dengan kadar sangat tinggi sering kali menghasilkan reaksi yang berujung merugikan. Hal paling sederhana terjadi dalam kancah olahraga, contoh yang paling umum terjadi yaitu pertikaian antara suporter sepak bola. Padahal sejatinya olah raga itu “jiwa yang sehat”, tetapi ternyata suporter sering kali ingin memperlihatkan identitas mereka, bagaimana cara mereka berkomunikasi dengan kelompoknya maupun dengan kelompok lain, merasakan solidaritas yang besar antar individu, dan sekira mereka merasa mendapat ancaman identitas sosial maka mereka siap untuk bertempur dalam kelompok.

Lalu yang menjadi permasalahan, apa itu fanatisme? Fanatisme adalah di mana seseorang atau kelompok yang menganut sebuah paham, baik politik, agama, kebudayaan, atau apapun saja dengan cara berlebihan, sehingga berakibat kurang baik, bahkan cenderung menimbulkan perseteruan atau konflik serius.

Ternyata fanatisme ini tak hanya ada di dalam konteks itu saja. Dalam dunia musik pun fanatisme ini berlaku, bahkan dalam sejarah musik Indonesia, pertikaian antara golongan penyuka musik tertentu pun pernah terjadi. Berikut contoh kasusnya:

Punk Rock VS Metal (Bandung awal era 90-an)

Ada dua kejadian yang terekam oleh saya tentang pertikaian antar golongan dalam dunia musik. Yang pertama yang pernah saya alami sendiri di saat saya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, sekitar di era awal tahun 90-an tepatnya kemungkinan di tahun 1992. Di sinilah saya mengenal tentang dunia musik underground, di mana saya yang masih menjadi bocah ingusan dikenalkan dengan semua macam dan kulturnya. Hasil perkenalan saya saat itu hanya mengenal dua genre besar: metal dan punk rock dengan masing-masing atribut, gaya, dan kulturnya masing-masing.

Di Indonesia awal 90-an, sepertinya dua genre besar tersebut yang paling dikenal dan digandrungi oleh anak-anak muda saat itu. Pertunjukan musik underground ditampilkan hampir pada setiap akhir pekan yang kala itu di Bandung sebagian besar diadakan di sebuah gelanggang olah raga bernama Saparua.

Bisa dikatakan di setiap akhir pekan, muda mudi Bandung bisa menikmati panggung bawah tanah ini dengan beragam penampil yang terdiri dari dua genre di atas (tahun ini era alternatif atau britpop belum masuk Indonesia). Saya yang notabene dengan status anak bawang hanya bisa menikmati pertunjukan di posisi duduk di atas seperti menyaksikan pertandingan bulutangkis.

Saya sendiri pada saat itu lebih menyukai genre punk rock; sangat ringan, sederhana, dan menendang pantat. Bagi fans punk rock terlalu berbahaya untuk masuk ke area moshpit karena usia saya masih sangat belia dan kemungkinan babak belur sangat tinggi. Area moshpit begitu liar, gaya tabrak dan tendang kerap menghiasi arena. Berbeda dengan para metalheads, dalam pit kebanyakan mereka hanya mengibaskan rambut gondrongnya tidak lupa disertai dengan atribut kaos hitam metal kesayangan.

Selain terlalu beresiko untuk berada di bawah panggung dalam moshpit,  mengingat saya masih terlalu kecil, saat itu kebiasaan buruk dari “mereka” yang selalu saja terjadi adalah perkelahian yang tak jarang menyangkut massa yang banyak. Walaupun tidak seheboh tawuran, tetapi cukup membuat saya malas. Biasanya terjadi di setiap jeda antar band, dalam keadaan waras biasanya pergantian band terjadi sangat normal. Band pertama semisal band metal A selesai, lalu massa mereka pun mundur, lalu arena dansa silih berganti dengan massa dari band punk rock B. Tetapi kalo sudah kumat perkelahian tak terelakkan, entah ada saja pemicunya. Yang jelas provokator yang setengah sadar berteriak mengejek atau apapun itu.

Dalam beberapa kurun waktu saya selalu mengamati ini kerap terjadi dan perpecahan genre ini sangat terlihat di kala itu, metal vs punk rock. Setiap minggu ada saja perkelahian terjadi, tak jarang melibatkan puluhan massa dan kalau sudah mulai melibatkan banyak orang perkelahian terjadi dari dalam GOR terus berimbas keluar pekarangan.

Era kegelapan tawuran musik ini terjadi tidak terlalu berlarut larut, setidaknya di pertengahan era 90-an lambat laun peradaban semakin maju, skena semakin pintar setidaknya sampai era alternatif dan britpop invasi ke Indonesia perseteruan ini sudah surut.

Tak hanya perseteruan antara punk rock dan metal di Bandung, bahkan perseteruan antar kota pun kerap terjadi, terutama Bandung dan Jakarta. Suasana seakan-akan menyerupai Bobotoh dan Jakmania. Saya tidak terlalu paham kasus perseteruan di Jakarta, tapi yang jelas sentimen antar dua kota ini cukup sempat menjadi isu bawah tanah yang santer. Disinyalir perseteruan antar band Bandung dan Jakarta berlangsung lebih lama, saya menyebutnya dengan masa kegelapan musik bawah tanah.

Rock VS Dangdut (era 70-an)

Ternyata kasus perseteruan antar genre musik ini memiliki akar dalam sejarah musik Indonesia. Kemungkinan pemicu perseteruan antar band pertama kali diawali oleh kebiasaan panggung hiburan yang kerap mengusung konsep “duel”, di mana konser yang diadakan seolah-olah adu eksistensi band antar kota.

Contohnya Panbers dan Rollies, di mana sebenarnya konsep ini semata-mata hanya untuk menarik penonton. Namun akhirnya malah menambah sentimen antar band antar kota ini yang sepertinya terus berlangsung, cikal bakalnya yang merambat hingga ke era 90-an, khususnya bagi kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Jogja, Malang, dan Surabaya.

Perkembangan skena rock di Indonesia maju sangat pesat sudah terlihat sejak akhir tahun 60-an, cikal bakal skena ini disinyalir akan menjadi primadona. Masuk ke era 70-an musik rock makin digandrungi, beberapa band mengusung konsep rock seakan-akan merepresentasikan gejolak kawula muda saat itu, musik rock mulai membahana di Indonesia.

Sementara itu nasib Orkes Melayu nampaknya mulai terasa kuno, invasi musik imperialis barat seperti rock atau funk makin menjadi idola utama anak-anak muda kala itu. Ini yang dirasakan Raden Irama, seorang anak muda yang memulai karirnya di bidang musik melalui musik pop yang kemudian menekuni kariernya di skena Orkes Melayu, walaupun dirinya pun membuka diri bagi musik rock.

Dari band Gayhand, Tornado, Varia Irama Melody lalu mulai merambah ke Orkes Melayu Purnama, di sanalah Irama belajar ketika musikalitas Orkes, bereksperimen dengan gaya dan instrumen tambahan lain. Perjalanan dari Orkes ke Orkes pun ia jalani tapi tak juga merasakan kecocokkan, sampai akhirnya ia membentuk Orkes Melayu Soneta pada tangal 13 Oktober 1970.

Suka atau tidak, Raden Irama aka Oma Irama membawa perubahan baru bagi musikalitas di skena Orkes Melayu, Oma melihat begitu besar pengaruh rock dalam dunia industri musik di Indonesia. Wabah Deep Purple, Rolling Stones hingga Led Zeppelin begitu meledak. Kalau begini caranya, genre lain akan mati terutama Orkes Melayu yang mulai terkesan kuno.

Dengan O.M Soneta akhirnya Oma memulai daya eksplorasinya, “Saya putuskan bersiasat. Orkes Melayu saya beri sentuhan hard rock. Pokoknya, saya harus bersaing dengan musisi rock! Saya memasukkan napas hard rock ke dalam komposisi lagu Melayu. Irama Melayu yang mendayu saya ganti dengan ketukan hard rock yang cepat. Saya gunakan efek vokal ala Deep Purple. Irama tabla India dengan ciri khas gendang dan suling juga saya sisipkan. Lirik lagu Melayu yang pesimistis pun saya ubah menjadi dinamis.”

“Agar ‘adonan’ musik ini sempurna hasilnya, jumlah alat musik saya modifikasi. Peralatan orkes standar tidak cukup. Saya nekat menambahkan dua gitar elektrik, bas elektrik, drum, keyboard, dan organ. Saya juga mengemas pertunjukan dengan atraksi panggung dan penyanyi latar,” papar Oma dilansir dari artikel “Balada Raja Dangdut” via Tempo.

Oma Irama dan God Bless

Disinyalir hasil eksperimen Oma sejak tahun 1971 hingga 1975 inilah yang menjadi tonggak lahirnya genre dangdut. Formula Oma meledak, Orkes Melayu telah bertransformasi ke dalam format baru yang segar. Tidak ada istilah dangdut sebelumnya hingga pada suatu saat sebuah tulisan di majalah Aktuil yang sebenarnya sebuah celaan menyebut istilah dangdut bagi musik hasil transformasi Orkes Melayu ini.

Dangdut yang awalnya identik dengan musik di kampung-kampung kini mulai merambah kota perlahan-lahan, seperti di Jakarta di sebuah gang pengap Planet Senen, tempat pelacur, pemulung, maling, dan buruh jadi satu. Bagi orang yang pro terhadap konsep antikemapanan dalam bermusik, dangdut adalah simbol pemberontakan, mirip dengan spirit rock.

Mungkin ini juga menjadi salah satu mulainya pertikaian antara rock dengan dangdut. Dangdut sell out, para puritan Orkes Melayu Deli menolak revolusi musik dangdut, sementara dangdut mulai menempati panggung-panggung di Senayan dan yang jelas massa semakin kuat. Grass root, akar semakin kuat, cukong-cukong label rekaman mencium rupiah di sana.

Salah satu contoh adalah lahirnya Dangdut Version oleh Koes Plus, Bimbo, The Mercy’s, D’Lloyd, Favorite’s Grup hingga AKA mewakili keluarga besar Remaco sangat mendominasi. Kubu rock semakin gerah dengan pergerakan dangdut ini, mulailah muncul cercaan bertubi-tubi, julukan musik kampungan pun mulai melekat.

Pada pertengahan tahun 70-an, perseteruan kian memanas kubu. Rock sempat meminta pemerintah melarang dangdut beredar. Perseteruan rock versus dangdut berlangsung bertahun-tahun. Pemandangan yang wajar melihat penggemar rock tawuran dengan fans dangdut dan memakan korban luka yang cukup banyak. Menurut cerita, di sebuah panggung Oma pernah dikencingi seorang “rocker”, Oma pun mengejarnya dengan kabel strum.

Kegilaan ini berakhir di penghujung tahun 1977 tanggal 31 Desember, konser damai digelar di Istora Senayan dengan sebutan panggung Duel Soneta dan God Bless, yang berujung aman. Panggung perayaan berikutnya dihelat delapan tahun kemudian, Soneta kembali berduel dengan God Bless pada acara Apresiasi Musik Anak Muda 85 pada tanggal 22 Desember 1985 di tempat yang sama.

Mari kita kembali ke paragraf awal, buka kembali deskripsi perihal fanatisme. Perhatikan betul-betul hingga akhirnya mengerti, dan saya amini tulisan Yampolsky (1991, 1) mengapa ini menjadi sangat penting untuk diketahui:

Di Indonesia, perbedaan antara nasional dan regional luar biasa penting: apa yang nasional—bahasa Indonesia, media massa, pemerintah, sistem pendidikan—menyatukan negeri ini, dan apa yang regional—loyalitas lokal, bahasa lokal, adat lokal, musik lokalberpotensi memecah-belahnya. (Diambil dari buku Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia. Karangan Andrew N Weintraub).

*Foto: Dokumentasi pribadi penulis

2 COMMENTS
  • rocknroel

    legend!

  • dephythreehandoko

    HIDUP MUSIK INDONESIA

Info Terkait

supernoize
901 views
superbuzz
529 views
superbuzz
506 views
supernoize
1163 views
superbuzz
220 views