Alvin Yunata: Menengok Festival Musik 'Tujuhbelasan' Bersejarah, 'Summer 28'

  • By: Alvin Yunata
  • Kamis, 16 August 2018
  • 1141 Views
  • 0 Likes
  • 4 Shares

Apa yang ada di benak kamu ketika mendengar kata acara “TUJUHBELASAN”? Ada yang berpikir tentang panjat pinang, balap makan kerupuk atau balap karung. Tapi tidak buat saya. Makna TUJUHBELASAN bagi saya selalu saja membawa kembali kepada panggung musik di era 90-an. Terutama di tempat kelahiran saya di Bandung. Acara Agustusan adalah tempat dimana para penggiat musik bisa unjuk gigi, walaupun sering kali bayarannya hanya berupa nasi bungkus.

Hampir di setiap kecamatan, bahkan di setiap RT memiliki panggung musiknya masing-masing. Sering kali dilaksanakan di lapangan terbuka seperti lapangan volley, badminton atau sepak bola. Dari deretan belasan band yang meng-cover lagu The Rolling Stones dengan Jagger-nya masing-masing hingga penampilan band bawah tanah, semuanya melebur menjadi satu dalam acara ini. Yang menarik bagi saya adalah ketika band replika Rolling Stones dengan jumlah yang masif bisa bersanding dengan band punk rock, hardcore bahkan hip hop sekalipun dalam satu panggung. Saya tidak tahu pasti apakah fenomena ini terjadi di kota lain selain Bandung, tapi Agustusan kerap kali menjadi ajang bagi band-band pada saat itu untuk menunjukkan performanya selain kesempatan untuk tampil di bazaar-bazaar SMA.

Untuk kelas musik festival, tentunya belum banyak pilihan kala itu. Panggung-panggung brand menampilkan artis kaliber nasional, di samping panggung underground yang tiap minggunya menghiasi sasana olah raga Saparua. Entah darimana dana yang panitia setiap area dapatkan sehingga bisa membuat panggung musik Agustusan ini, tak jarang terpampang logo-logo sponsor pendukung pada selebaran poster promo yang ditempel di berbagai ruang publik.

Mungkin fenomena ini sudah mulai berkurang seiring dengan berjalannya waktu, terutama ketika memasuki tahun millennium. Panggung musik mulai merebak, brand-brand mulai sadar menggunakan formula ini sebagai kendaraan berpromosi. Esensi panggung Tujuhbelasan mulai luntur dan ternyata semua ini ada kaitannya dengan sejarah panggung Tujuhbelasan di Indonesia di era tahun 70-an.

Ada sebuah kisah di balik tema Agustusan ini dan memori kembali ke tahun 1973. Majalah Tempo edisi 4 Agustus 1973, terpampang foto acara press conference di restoran Oasis Jakarta untuk tema sebuah acara pesta musik kolosal bersuasana outdoor. Entah, mungkin saja ini adalah awal dari cikal bakal sebuah festival kolosal musik yang akhirnya merebak, khususnya hari ini di Indonesia, sekaligus penanda selebrasi kemerdekaan lewat apresiasi seni musik muda mudi seperti yang pernah terjadi di Bandung atau kota lainnya di era 90-an. Artikel dengan judul “Musim Panas ke-28” ini menarik, seorang sutradara film kawakan Wim Umboh yang terinspirasi oleh kultur musik festival yang tumbuh di kalangan “western hippie”, dan idenya adalah ingin menangkap momen tersebut di Indonesia. Beliau melihat ini adalah sebuah formula yang segar untuk diaplikasikan bagi para muda mudi Jakarta.

Namun sebagai filmmaker, Wim melihat bukan hanya sekadar musik festival akbar semata, tapi menurut penuturannya, sebuah perusahaan film bernama PT Intercine Studio telah menyiapkan kurang lebih 200 rol film untuk menangkap momen live festival musik tersebut, serta dijatahkan 2 rol film bagi setiap band dan disediakannya 30 buah kaset pita untuk merekam audionya. Hingga tulisan ini dibuat, perihal apakah rencana merekam film ini terwujud atau tidak masih belum terpecahkan, dan masih menjadi misteri apakah mereka sempat merekam semuanya, dan di mana semua arsip visual dan audio yang telah direkam ini tersimpan.

Festival ini dicanangkan oleh tiga serangkai: Wim Umboh dari PT Aries Raya International, A Soegianto dari PT Intercine Studio dan Nyoo Han Siang dari Bank Umum Nasional. “Di dekat Ragunan Pasar Minggu sudah ada tanah seluas 4 hektar, di bawah langit terbuka,” ujar Win. Jujur, rasa penasaran saya akan validnya kebenaran sejarah ini begitu besar. Dan benar saja, di ujung jalan raya Ragunan, tusuk sate dengan jalan Taman Margasatwa Raya terpampang plang Intercine Studio.

Namun ketika masuk ingin menanyakan kevalidan berita ini, tak terlihat kegiatan perusahaan film, malah terlihat aktivitas kantor penyalur tenaga kerja. Memasuki area kantornya begitu besar dan luas. Tak banyak informasi yang dapat digali di sana, tapi kami sempat berbincang dengan seorang staff yang terlihat sudah lumayan berumur. Spontan kami yang saat itu sedang melakukan riset menanyakan perihal ini, beliau mengamini. Dulu katanya beliau masih sangat muda dengan mengendarai Lambreta-nya dari Pancoran, yang mana jarak pada saat itu tergolong jauh menuju tempat ini. Sampai venue ternyata baginya harga tiket terlalu mahal, yaitu Rp 1000. Akhirnya beliau memanjat dinding untuk masuk ke dalam festival.

Beliau mengajak kami berkeliling untuk mengunjungi lapangan besar si saksi bisu panggung musik kolosal monumental itu. Penamaan acara yang non melayu inilah yang menarik bagi saya. SUMMER 28 adalah sebuah nama yang brillian, kependekan dari Suasana Malam Kemerdekaan yang ke-28. Acara yang diagendakan tanggal 16 Agustus 1973 rencananya akan berlangsung selama 12 jam, tetapi perayaan malam jelang hari Kemerdekaan ke-28 ini sepertinya mengalami hambatan. Akhirnya dengan alasan masalah perizinan baru dua hari kemudian acara ini terlaksana, dan kurang dari 12 jam acara ini terlaksana dengan berujung kericuhan.

Berdasarkan review tiga media: Tempo, Kompas, dan Aktuil disebutkan kalau ngaretnya acara ini sempat membuat penonton kesal, ditambah beberapa masalah teknis mengenai soundsystem yang terkadang ngadat. Dipandu oleh Bram Sonata dan Emillia Contessa sebagai MC (Master of Ceremony) yang konon kurang mampu berkomunikasi dengan baik kepada para penonton. Seperti kesaksian si bapak di atas kalau harga tiket Rp 1000 pada saat itu dianggap mahal, perbandingannya adalah harga majalah Aktuil saat itu Rp 120. Maka banyak sekali penonton yang menaiki pagar, hingga banyak juga yang menyogok petugas keamanan untuk bisa memasuki venue. Dalam press conference, Wim menyebutkan telah menyediakan 120 petugas keamanan, tapi ternyata melihat massa yang begitu banyak dengan estimasi karcis terjual 14.100 tiket dan pada kenyataannya ada 25.000 orang hadir dalam perhelatan akbar tersebut. Jelas petugas keamanan kewalahan akan jumlah penonton yang banyak ini.

Band-band besar dan band-band baru silih berganti, baik para senior maupun para pendatang baru. Koes Plus, Panbers, The Mercys, Broery Marantika Bersama The Pro’s plus pasukan Idris Sardi yang mencoba meramu musik pop dengan sentuhan orkestra. The Rollies mencoba meramu perjamuan pertemuan musik barat dan instrumen tradisional. Hadir pula penampilan dari Trio Bimbo, Singers and the Disc. Disinyalir ini adalah panggung debut dari The Gang of Harry Roesli yang baru saja  merilis album Philosophy Gang. Belum lagi tampilnya Grup 23761 asuhan Remy Silado yang kental dengan konsep teatrikal anti kemapanannya, membawa 40 hingga 50 penyanyi crooners memadati panggung.

Noor Bersaudara, Los Morenos, Freedom hingga band dari Singapura bernama Fly Baits turut memanaskan suasana. God Bless yang baru saja terbentuk pada tanggal 7 Mei 1973 ini menuai banyak pujian, dengan kostum bergaya Alice Cooper mampu menghipnotis penonton. Namun sayang ada beberapa band yang batal tampil, seperti para geng Surabaya AKA, The Gembells, Pretty Sisters. Begitu juga Bentoel dari Malang dan Terenchem asal Solo, ditambah band asal Bandung, Shark Move yang akhirnya mengundurkan diri.

Jumlah band yang gagal tampil ini memengaruhi jadwal yang akhirnya berjalan semakin cepat selesai dan banyak membuat penonton kecewa dan akhirnya memicu kerusuhan. Walaupun ada yang berasumsi, ketika diumumkan AKA batal konser adalah awal dari pecah perang botol beling dari arah penonton menuju panggung. Acara berjalan rusuh, di ujung acara semua kru tunggang langgang menyelamatkan diri dan semua alat-alat penting. Dini hari yang menegangkan di area Pasar Minggu, bis-bis yang disediakan panitia tak mampu mengakomodir jumlah penonton yang begitu membludak. Akhirnya satuan petugas keamanan mampu mengambil alih kericuhan acara musik ini.

Cerita ini adalah tonggak sejarah dan fakta bahwa SUMMER 28 lah artefak rekam jejak sejarah festival musik kolosal di alam terbuka, yang akhirnya acara serupa membanjiri Indonesia hingga kini. Tak heran dari mana asalnya ritual festival musik lapangan volley Agustusan ini, dan mengapa begitu banyak festival musik yang ada di Indonesia hari ini, karena ternyata semua ada cerita di masa lalunya.       

*Foto dan data: Arsip Irama Nusantara dari majalah Tempo, majalah Aktuil dan koran Kompas. 

0 COMMENTS

Info Terkait