Alvin Yunata: Musik, Anak Muda, dan Perlawanannya

  • By: Alvin Yunata
  • Senin, 8 October 2018
  • 165 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Dahulu di era 90-an di mana saya besar dan tumbuh sebagai anak ingusan, saya melihat punk rock adalah media yang ideal untuk memenuhi hasrat perlawanan. Walaupun dahulu untuk saya pribadi tidak terlalu jelas motif dari perlawanan apa yang sedang saya jalani, tapi bagi sebagian anak muda lainnya pastinya sangat jelas dengan tujuan perlawanannya.

Musik alternative adalah media yang ideal saat itu untuk mewakili hasrat perlawanan yang begitu menggebu di kebanyakan anak muda. Saya akui generasi 90-an adalah generasi yang sangat terpengaruhi oleh tren-tren pendulum musik dunia antara Amerika dan Inggris. Pilihan musik hip hop, metal, punk rock, grunge, britpop dan segala turunannya begitu mendominasi pilihan kami. Mungkin di era itu adalah gerbangnya, hingga sampai saat ini akhirnya semua turunan genre musik alternative dan tetek bengeknya tumbuh subur di negara ini. Sebelum semuanya berkembang pesat seperti sekarang ini dahulu kesemuanya masih tergolong sidestream.

Bagi masyarakat lebih luas nama-nama seperti Iwan Fals dan Kantata Takwa misalnya, jelas sekali mengusung musik perlawanan yang mampu membawa massa begitu masifnya lewat jenis musik yang lebih "konservatif" dan "merakyat.

Mari kita bedah sedikit definisi perlawanan menurut para ahli. Perlawanan akan dilakukan oleh kelompok masyarakat atau individu yang merasa tertindas, frustrasi, dan hadirnya situasi ketidakadilan di tengah-tengah mereka (Zubir, 2002). Jika situasi ketidakadilan dan rasa frustasi ini mencapai puncaknya, akan menimbulkan (apa yang disebut sebagai) gerakan sosial atau social movement, yang akan mengakibatkan terjadinya perubahan kondisi sosial, politik, dan ekonomi menjadi kondisi yang berbeda dengan sebelumnya (Tarrow, 1994).

Anak muda dan perlawanan memang sebuah padu padan yang sangat erat, dan lewat media musik sepertinya menjadi satu kesatuan yang makin solid, mengingat musik adalah sebuah kendaraan yang paling kasual dan sederhana. Di belahan dunia manapun ini adalah sebuah formula yang sangat efektif, hampir semua gerakan perlawanan lewat musik rata-rata diinisiasi oleh para anak muda, siapapun dari Bob Dylan, Sex Pistols, Iwan Fals hingga pergerakan Tropicalia di Brazil.

Berbicara tentang musik dan sejarahnya di Indonesia, tentunya peran anak muda juga sangatlah krusial, kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat lewat musik akhirnya menjadi hal yang sangat lumrah. Peran musik di Indonesia pun sudah diplot menjadi sesuatu yang seharusnya besar dan maju. Presiden Soekarno resmi mendirikan perusahaan rekaman negara pada tanggal 29 Oktober 1956 bernama Lokananta. Bayangkan berapa banyak negara yang memiliki perusahaan rekaman? Tidak banyak atau tidak ada? Atau hanya di Indonesia?

Di era 50-an lahir lagi beberapa perusahaan rekaman swasta, salah satunya Irama Records milik seorang Laksamana Suyoso Karsono yang biasa dikenal dengan sebutan Mas Yos. Jelas peran dan kontribusi musik sangat penting di kala itu sebagai medium propaganda dan anak muda sebagai motor penggeraknya.

Pada perayaan kemerdekaan tahun 1959 dalam pidatonya, Bung Karno berkata:

"Dan engkau, hai pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi, engkau yang tentunya anti imperialisme ekonomi dan menentang imperialisme ekonomi, engkau yang menentang imperialisme politik, kenapa dikalangan engkau banyak yang tidak menentang imperialisme kebudayaan? Kenapa dikalangan engkau banyak yang masih rock-‘n-roll-rock-‘n-rollan, dansa-dansian á la cha-cha-cha, musik-musikan á la ngak-ngik-ngèkgila-gilaan, dan lain-lain sebagainya lagi? Kenapa dikalangan engkau banyak yang gemar membaca tulisan-tulisan dari luaran, yang nyata itu adalah imperialisme kebudayaan?Pemerintah akan melindungi kebudajaan Nasional, dan akan membantu berkembangnya kebudayaan Nasional, tetapi engkau pemuda-pemudi pun harus aktif ikut menentang imperialisme kebudayaan, dan melindungi serta memperkembangkan kebudayaan Nasional!"

Orde lama menutup akses tren barat, bayangkan bagaimana anak muda saat itu begitu resah dan gelisah, sesuatu yang mereka puja bahkan diharamkan di negerinya, tetapi belum ada yang berulah dalam jangka waktu dekat.

Demam rock n roll membuncah kala itu. Anak muda saat itu gundah, peraturan pemerintah mengekang tapi hasrat rock n roll tak terbantahkan. Sebagian besar dari mereka mencari solusi menghibrida musik rock n roll lewat lagu-lagu daerah atau tema nasionalisme. Terasa perlawanannya tetapi tidak melewati norma yang telah dibuat oleh pemerintah saat itu.

Beberapa anak muda yang tergabung dalam band pengiring asal Bandung Nada Kentjana misalnya, mereka menginfus nafas rock and roll kedalam hembusan lagu-lagu priangan. Eka Sapta menembangkan nomor-nomor lagu daerah dengan alunan surf rock ala The Ventures. Keduanya mampu melahirkan nada-nada alien yang mempesona, apalagi bagi kolektor piringan hitam dunia saat ini.

Hingga momen tak terlupakan di sebuah rumah dalam pesta seorang perwira pada tanggal 29 Juni 1965. Koes Bersaudara dan Dara Puspita berbagi panggung membawakan beberapa nomor dari The Beatles yang saat itu diyakini oleh Bung Karno sebagai penyakit mental bagi anak muda Indonesia. Penangkapan pun berlangsung. Koeswoyo bersaudara masuk ke dalam bui, sementara para Dara hanya terkena wajib lapor. Memang pada saat itu ada keistimewaan bagi  para musisi perempuan.   

Di sinilah sejarah mulai mencatat adanya perlawanan lewat musik di Indonesia. Setelah kejadian tersebut setelah Koes melewati masa tahanannya, mereka merilis album To The So Called "The Guilties" pada tahun 1967. Terdapat tiga buah lagu perlawanan di dalamnya, seperti "To The So Called The Guilties", "Di dalam Bui", dan "Poor Clown".

Begitu juga dengan para Dara yang saat itu terkena wajib lapor dalam setiap kedatangannya, mereka diharuskan menghibur para aparat dengan menyuguhkan beberapa lagu dan ternyata para aparat tak menyadari dan tidak mengerti kalau para Dara menyematkan lagu-lagu The Rolling Stones ke dalam repertoirnya. Dari momen tersebutlah mengapa pada lagu “Mari Mari” dari debut album Jang Pertama yang rilis pada tahun 1966, para Dara menyematkan intro lagu “Satisfaction” milik The Rolling Stones dengan tujuan mengejek momen tersebut.

Orde lama pun tumbang, hadirnya orde baru di bawah rezim Soeharto alih-alih membuka arus informasi dari barat. Sebuah momen yang dinantikan oleh banyak muda mudi Indonesia saat itu. Informasi datang begitu derasnya, bahkan orde baru menciptakan sebuah formula yaitu menunggangi musik ala barat sebagai alat propaganda kepada rakyatnya. Namun kesempurnaan daya serap muda mudi begitu mumpuni, sekejap mereka mengetahui segala hal hingga akhirnya mulai muncul pertanyaan-pertanyaan yang melahirkan perlawanan pada akhirnya.

Tak lebih dari satu tahun, represi muncul lagi. Larangan rambut gondrong dan sweeping dengan bantuan tentara menyebar di jalanan, para pemuda berambut gondrong dirazia secara mendadak. Bahkan Titiek Puspa pun menyuarakan aspirasinya lewat lagu "Rambut Gondrong" yang terdapat pada album Si Kumbang yang rilis pada tahun 1968. Sama halnya dengan Usman Bersaudara berteriak melawan momen tersebut lewat judul serupa dalam album Hard Beat Vol 1. Orde baru tak banyak memberi kesempatan para rakyat untuk guyub dan menyuarakan aspirasinya.

Sejak pemerintahan orde baru di paruh akhir era 60-an hingga pembuka tahun 70-an, aspirasi perlawanan muncul di kampus-kampus, sebuah strategi yang diinisiasi anak muda untuk menyulut api perlawanan. Masuknya dan maraknya budaya barat seperti hippie banyak disuarakan oleh para muda mudi, salah satunya dari para penggiat seni pertunjukan (teater). Yang paling populer saat itu adalah di Bandung, kota yang sarat akan perkembangan tren, dan gurunya adalah Remy Sylado yang memiliki nama asli Yapi Panda Abdiel Tambayong. Pada saat itu beliau duduk sebagai dewan redaktur majalah musik dan kultur ternama bernama Aktuil. Pada saat itu beliau mempopulerkan sebuah organisasi maya yang melegenda bernama Orexas, akronim dari Organisasi Seks Bebas, dimana Orexas menyerap segala kultur hippie kala itu dan efeknya sangat dahsyat, begitu populer di kalangan muda mudi.

Harry Roesli adalah salah satu anak muda di Bandung yang terpengaruh akan pergerakan Remy Sylado saat itu. Harry tampil istimewa tidak seperti musisi kebanyakan, Harry yang sering disebut sebagai Frank Zappa-nya Indonesia mampu menampilkan karya-karya yang lebih kontemporer baik dalam penulisan lagu, lirik maupun desain sampul albumnya. Philosophy Gang dari Gang of Harry Roesli rilis di tahun 1973, secara utuh merefleksikan perlawanan dari tiap baitnya dan segala halnya. Rupanya korelasi teater, para mahasiswa dan musik memuat sebuah ekosistem perlawanan saat itu.

Demonstrasi mahasiswa di dalam kampus sering kali digelar, para penampil seni pertunjukan dan musik menjadi satu dalam orasi. Salah satunya adalah sosok menarik yang tak muncul ke atas permukaan, yaitu Dede Harris. Alunan perlawanan Dede nyaris senyap berjalan di bawah radar, bahkan Iwan Fals muda pun berguru padanya. Tak sebesar nama Fals, tapi nama Dede Harris begitu harum di mata para aktivis 70-an hingga 80-an. Sayang Dede tutup usia sangat cepat. Albumnya dirilis dengan judul In Memoriam Dede Harris 16 Agustus 1956 - 28 Februari 1999, sebuah kompilasi kumpulan lagu ini resmi dijual setelah beliau tutup usia.

Ini adalah gerbang pembuka bagi para musisi untuk menyuarakan kebebasan berekspresi hingga saat ini. Nyatanya musik adalah kendaraan perlawanan yang cukup mumpuni, tidak telak melukai tetapi semangatnya selalu membara sampai kapanpun. Dari zaman ke zaman, anak muda yang kritis selalu melakukan perlawanan dengan gaya dan caranya masing-masing. Talking about youth is all about rebellion, freedom and wilderness. When youth in revolt forever!

0 COMMENTS

Info Terkait

supernoize
3122 views
supernoize
4641 views
supernoize
3661 views
superbuzz
4803 views
superbuzz
4803 views
superbuzz
4803 views