Wajah Musik Pop: Dulu dan Hari Ini

Alvin Yunata: Wajah Musik Pop, Dulu dan Hari Ini

  • By: Alvin Yunata
  • Jumat, 22 November 2019
  • 1330 Views
  • 9 Likes
  • 49 Shares

Hubungan saya dengan musik pop begitu dekat. Selama di Sekolah Dasar, tentunya saya hanya kenal dengan musik pop yang ada di radio. Di era 80-an, radio masih menjadi media primadona, rasanya keberadaannya begitu krusial, jadi tak aneh kalau era itu bintang-bintang radio yang telah hadir sejak tahun 50-an memang masih terasa penting.

Format kaset yang begitu murah dijadikan senjata industri musik Indonesia, maka kaset dan radio merupakan dua elemen penting. Vina Panduwinata, Atiek CB, Gombloh, Dian Pramana Putra, Deddy Dukun, Trio Libels, Karimata dan masih banyak lagi merajai playlist kala itu.

Tulisan ini adalah analisa gembel dari seorang pecinta musik, tidak ada niatan tertentu dalam tulisan ini. Nama-nama musisi yang saya sebut pun akan random sesuai dengan apa yang tertangkap radar pribadi dan seingat saya saja. Saya berbicara dalam lingkup industri pop mainstream yang memang sangat marak dan umum. Referensi term lainnya di luar pop saat itu masih sulit dijangkau karena pilihannya hanya ada radio, TVRI dan kompilasi video klip format VHS sewaan. Inginnya memang mendapatkan referensi lebih, sayangnya saya bukan orang berada yang dengan mudahnya mendapatkan akses eksklusif ke luar negeri.

Era ini adalah dimana para cukong label rekaman mampu meraup keuntungan jutaan copy dalam format kaset. Jadi, kala itu saya tahu persis siapa yang sedang populer dan naik daun. Akhir tahun 80-an, ketika masih duduk di bangku SMP, hubungan musik pop dengan saya menjadi agak renggang. Trend musik metal sedang bergejolak, sementara saya yang masih ABG hanya bisa ikut arus tanpa harus paham betul. Abang-abangan progressive rock juga turut mensukseskan tumbuhnya musik metal di Indonesia.

Kendati demikian bukan berarti pergerakan musik pop tidak berkutik, sebuah fenomena unik terjadi dimana Menteri Penerangan era Orde Baru, Harmoko dengan tegas melarang musik pop cengeng yang saat itu menjamur. Lagu “Gelas-Gelas Kaca” karangan Rinto Harahap dipopulerkan Nia Daniaty salah satu yang dicekal. Begitu juga dengan lagu “Hati Yang Luka” yang dipopulerkan oleh Betharia Sonatha dan juga lagu “Aku Masih Seperti Yang Dulu” yang dinyanyikan oleh Dian Pishesha. Berbeda lagi dengan era 90-an term pop kreatif dan a la Citypop yang hari ini sedang tren, sepertinya sudah mulai terdengar usang dan tidak menarik masyarakat lagi.

Kaset kompilasi pop kreatif (Sumber foto)

Sejujurnya sejak duduk di bangku SMA, hubungan saya dengan musik pop semakin jauh lagi, lingkungan saya menggiring saya ke liga lain, metalpun saya tinggalkan. Saya merapat pada liga punk dan alternative beserta turunannya. Liga pop diva saat itu masih cukup menjadi poros yang kuat, nama-nama seperti Krisdayanti, Titi DJ, Ruth Sahanaya hingga AB Three masih bertaji. Masuknya televisi swasta membawa angin segar bagi industri pop, paling tidak lahan media promosi semakin terbuka.

Saat saya bergabung ke band Harapan Jaya, keputusan ini nyatanya membawa saya kembali pada dunia “pop” akibat masuknya kami dalam keluarga besar EMI Indonesia. Jelas sekali saya melihat peta musik pop saat itu, nama-nama seperti Jingga, Humania, Bunglon, Singiku, Base Jam dan masih banyak lagi. Perlu diingat satuan kalimat “banyak lagi” di jaman itu terukur, tidak sebanyak dan separsial era sekarang.

Gelombang alternative rock serta Britpop cukup membawa harapan baru dan pengaruhnya cukup signifikan. Terlihat naiknya band-band café, dan salah satunya yang berhasil adalah /rif band asal Bandung. GIGI di awal karirnya pun menyematkan nuansa “alternative” walau secuil. Di era ini, Naif pun muncul dan mulai menancapkan benderanya (tak disangka mereka masih memikat hingga hari ini, merekalah band pop favorit saya).

Pra-millennium baru merupakan masa yang cukup menarik dalam ranah industri musik pop Indonesia, khususnya dalam format band terdengar cukup matang. Dewa 19 mampu menggebrak dengan rock-nya, nomor “Kangen” menyebar dengan cepat bak virus influenza.

Dewa 19 (Sumber foto)

Tak hanya Dewa 19, Surabaya kembali melahirkan pahlawan barunya: Padi, formula yang apik wajar bila kala itu mereka meraih banyak pujian. Penerus band-band café yang sukses dari Bandung setelah /rif adalah Peterpan (kini dikenal dengan Noah) turut meramaikan liga pop Indonesia. Yogyakarta tak kalah serunya, kawanan Sheila On 7 muncul dengan polos dan mampu memikat khalayak banyak. Sepertinya generasi inilah yang mengakhiri pencapaian penjualan rilisan hingga jutaan copy.

Harapan Jaya tak bertahan lama, saya pun pergi, membuat band baru dan bermuara di Teenage Death Star hingga tulisan ini ditulis. Hubungan saya dengan musik pop di ranah mainstream pun makin buruk, untungnya di tahun 2005 saya bergabung dengan editorial Trax Magazine (dulu MTV Trax) sebuah majalah musik skala nasional. Sebagai wartawan musik walaupun pop mainstream bukanlah area saya, setidaknya peta pop masih terpantau. CD sudah menjadi format penting seakan akan kini menjadi primadonanya, sayangnya justru era ini membuat para pembajak semakin leluasa untuk menjalankan bisnisnya.

Gerbang digital sudah mulai terbuka, perusahaan-perusahaan penjual nada dering mulai bermunculan. Di era itu, term yang paling saya ingat adalah naiknya band-band pop bernuansa Melayu. Gebrakan term ini cukup mengejutkan, banyak kalangan kontra dengan term ini karena dianggap ini adalah masa terburuk secara kualitas musik. Band skill is dead seperti Kangen Band pun merajalela, belum lagi nama-nama lainnya seperti Radja, Wali, D’Bagindaz dan masih banyak lagi.

Sematan sebutan “alay” pun menjadi sangat lazim, ditambah dukungan acara-acara musik di televisi swasta yang kian menjamur menyajikan gelombang ini semakin kuat. Paruh awal millennium term pop sempat disinggahi oleh para kugiran R&B revival yang sudan aktif sejak akhir 90-an, katakan nama-nama seperti The Groove yang lalu kemudian muncul ke permukaan juga Maliq & D'Essentials hingga trio RAN.
 
Sejak pertengahan 90-an, term musik underground muncul, ada sebuah batasan baru yang lebih tegas diciptakan untuk mengkotakkan musik pop mainstream. Hal ini terus berlanjut hingga kata “underground” tak lagi digunakan dan beralih dengan sebutan “indie”. Indie dan mainstream terus tumbuh berlawanan dalam segala hal hingga pada akhirnya dua “penanda” ini akhirnya luruh dengan sendirinya terutama di tahun-tahun 2010 dan seterusnya.

Industri musik semakin hari semakin berubah akibat kemajuan teknologi yang tak terelakkan. Format CD sudah tak banyak lagi digunakan, perpindahan format menuju digital memberikan perubahan yang signifikan. Masa-masa peralihan ini sepertinya menjadi penanda juga bagi revolusi musik pop. Demi memudahkannya, saya mengambil cerita dalam contoh kasus label musik Demajors yang juga sebagai distributor pada masa itu cukup kuat, dan membantu lahirnya pop generasi baru yang lebih berbobot.

Banyak wajah baru yang sepertinya mengacu pada bagaimana perubahan term pop pada akhirnya. Endah n’ Rhesa dan kemunculan Tulus adalah salah satu momen yang saya ingat. Pop gaya baru sedang digodok dalam era ini, kemajuan teknologi dalam segala bidang baik akses informasi maupun kemajuan perangkat lunak mendukung kemudahan bagi para musisi untuk berkarya. Di titik ini, terlihat referensi para musisi pop semakin kuat dari waktu ke waktu.

Tulus (sumber foto)

Kualitas pop berada pada titik tertentu membuahkan standarisasi baru yang cukup meyakinkan, seiring dengan itu batasan mainstream dan indie perlahan luntur, sudah tak relevan lagi. Payung Teduh naik daun, formula yang biasanya disukai oleh segelintir orang saja kini bisa disukai sejuta umat. Raisa dan Isyana Sarasvati muncul setelahnya dan menguasai pasar pop bersama Tulus.

Nama-nama yang dulu berada di liga “independen” kini mulai dikenal lebih luas. The Upstairs, The Adams, Mocca, White Shoes and The Couples Company, dan masih banyak lagi. Majalah musik banyak yang gulung tikar, lalu tumbuhlah kanal-kanal musik dengan senjata media sosial. Jujur, hari ini untuk tahu band atau musisi yang sedang berjaya saya hanya bisa melihat lewat media sosial dan nama-nama yang terpampang di papan-papan baliho festival musik.

Saya sudah tak lagi melihat nama-nama band yang saya anggap (waktu itu) “alay”. Sekarang saatnya Fourtwnty, Sisitipsi, Jason Ranti, Danilla, Barasuara, Scaller, Lightcraft, Pamungkas dan masih banyak lagi. Contoh kasus yang menarik adalah Kunto Aji muncul dengan bahan yang ringan lalu kemudian menampilkan album pop berikutnya yang di luar biasa, berbobot. Bahkan trio Tangga pun kini berubah lebih dahsyat lewat nama baru yaitu Dekat, saya hanya mampu menggelengkan kepala mengapa mereka tak menggunakan formula baru ini sejak pertama kali muncul.

Kemudahan akses referensi, baik dari pihak seniman maupun bagi penikmat mengubah esensi industri musik pop secara keseluruhan, zaman berubah semua berjalan parsial bisa jadi banyak yang tak tertangkap radar.

For the loser now. Will be later to win
 For the times they are a-changin
'.”

- Bob Dylan         

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
208 views
supernoize
432 views
superbuzz
215 views
superbuzz
192 views
superbuzz
182 views