Analogi Seni Peran Dalam Bermusik

Analogi Seni Peran Dalam Bermusik

Membagi otak untuk tiap band/projek musikal hal yang susah-susah gampang. Apa lagi kalo genre musiknya berbeda-beda. Artikel ini adalah pandangan sebuah subjektif melalui pengalaman saya di berbagai band yang saya punya, jalani atau pernah saya bentuk dan hinggapi dalam artian band tersebut sudah bubar atau masuk fave hibernasi/vakum.

Setiap band punya image yang berbeda, personil yang berbeda dan jenis musik yang berbeda juga. Mayoritas saya mempunyai kewajiban mutlak menulis lirik, menentukan tema dan memikirkan estetika, menyangkut artwork untuk album dan juga merchandise yang sesuai dengan band-band/proyek tersebut.

Tidak sedikit musisi di lokal maupun luar negeri yang memiliki lebih dari 1 band. Contohnya Dave Grohl (Foo Fighters), Damon Albarn (Blur), Phil Anselmo (Pantera), shane embury (napalm death), tomas linberg (at the gates), justin broadrick (godflesh) dengan bejibun projek/band yang mereka jalani. Masing-masing punya formula kreativitas sendiri-sendiri dan punya cara membagi waktu mereka untuk proses kreatif sampai mengatur jadwal manggung. Contoh yang saya ambil dari skena lokal ga usah jauh-jauh , saya mengambil contoh teman saya sendiri “coki Bollemeyer, adalah salah 1 sosok musisi yang saya kagumi. Sewaktu doi masih menjadi bagian Deadsquad, dia punya band utama NTRL dan dia juga membuat solo projek “The Sunyotok dengan genre fusion jazz dan pada saat itu dia terlibat juga dengan unit punk Black teeth. Semua genrenya berbeda, dari death metal, pop rock, jazz, punk dia sikat. Coki salah 1 sosok yang barometer saya sebagai musisi dengan genre heterogen di skena yang berbeda-beda juga.

Setiap musisi punya tips n trick nya masing-masing dalam proses kreatif. Di era yang makin digital dan di tengah badai pandemi memaksa saya mengurangi frekuensi berjumpa dengan teman-teman band saya. Tapi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi itu bukan halangan untuk rekaman, walaupun rasanya memang kurang organik, karena kebanyakan komunikasi dilakukan tanpa bertemu langsung dan mayoritas texting/via telepon. Tapi itu yang memang harus dilakukan jika ingin tetap survive dan menjaga semangat bermusik biar tidak padam walaupun panggung offline sedang dalam keadaan koma untuk sementara waktu.

Tahun 2019 saya bersama januaryo ( pure wrath, Perverted Dexterity ) & yogi (viscral) membentuk proyek oldskool brutal death metal bernama "Bloodriven". Band antar kota antar provinsi dengan personil berdomisili di cikarang,bekasi, pamulang ini mengeluarkan single berjudul "otnamus" di tahun yang sama dan merekam Mini Album pada penghujung tahun 2020 dengan formula yang belum pernah saya coba. Karena jarak domisili yang berjauhan maka dalam proses pembuatan lagu kami hanya briefing & brainstorming via group whatsapp.Kami hanya sharing tema dan lirik lagu, kiblat band beserta albumnya sebagai acuan musik yang akan dibuat. Dari single perdana dirilis dalam format CD dan rekaman mini album direkam kami belum pernah berkumpul di studio, panggung perdana pun hanya latian pas sound check dan hasilnya lumayan lah.lirik bloodriven juga berbeda dengan deadsquad. Disini saya mencoba untuk pertama kalinya menulis lagu bertema gore berdasarkan kejadian berdarah, pembunuhan keji yang nyata pernah terjadi di negeri ini. Karakter vokal pun lebih ke gutural growl dengan artikulasi yang kurang jelas sesuai kebutuhan musik. Bloodriven wadah romantisme saya dan teman-teman band saya untuk Brutal Death Metal 90an akhir-2000an awal. Bloodriven memang sudah dikonsepkan “semi primitif “ dan tidak akan pernah menjadi modern dari segi sound, komposisi dan estetika.

Untuk deadsquad tugas saya adalah membuat susunan/pattern vokal yang catchy sebagai antitesis untuk mengimbangi musik technical death metal berkecepatan tinggi nan kompleks.Sejak era Horror Vision saya banyak "mengambil" pola vokal band rock dan pop easy listening menurut standar saya, Jika di perhatikan dengan seksama banyak pattern vokal dan lirik yang terinspirasi dari band-band seperti smashing pumpkins, nine inch nails, David Bowie, tool, deftones, Red Hot Chili Peppers, the smiths, radiohead, the specials sampai band lokal dengan genre yg jauh berbeda seperti album-album awal dari sore, rumahsakit, pure saturday . Selain referensi dari band-band extreme metal referensi dari genre berseberangan adalah formula saya meracik lirik dan pattern vokal untuk deadsquad. Saat ini DS sedang dalam tahap penulisan materi album ke 4 yang akan saya baptis dengan nama " Omegalitikum", rencananya album ini akan dirilis pertengahan tahun 2021.Di Deadsquad saya menulis lirik lebih umum, bercerita tentang kecemasan saya pribadi dan juga fenomena sosio kultur dan politik yang mengusik saya. Ada pesan yang saya sampaikan dalam lirik DS walaupun pendengar bebas menginterpretasikan Kembali apa yang telah saya tulis. Tidak sedikit skripsi dan tugas akhir yang memakai lirik saya di Deadsquad dan bagi saya hal tersebut merupakan suatu apresiasi lebih. Sebelumnya saya tidak pernah membayangkan lirik gelap yang saya gurat dibalut suara growl dan scream dengan artikulasi yang bagi saya cukup jelas bisa menjadi bahan untuk keperluan akademis.

Untuk projek solo saya bisinggama proses kreatif nya sangat berbeda. Waktu album pertama Vol 6 yang dirilis tahun 2018 saya merekam semuanya seorang diri, karena konsepnya memang 1 man band, saya mempunyai hak “veto” dalam menulis musik, lirik sampai foto untuk sampul album. Lalu saya meneruskan projek ini di tahun 2020 dengan cara yang berbeda.Untuk materi album Vol 2 saya dibantu oleh teman saya, nugraha andiman sebagai co-producer dan dibantu beberapa teman lainya untuk mengisi instrumen yang tidak bisa saya mainkan hahaha . Materi terbaru bisinggama berbeda dengan album pertama. Bisa kalian simak di berbagai platform musik digital dan juga dicetak dalam format fisik. Jika album pertama musiknya terbilang abstrak sangat experimental, penggabungan drone, noise dan sedikit unsur shoegaze. Single yang saya lepas di pertengahan 2020 dengan judul "sleep dream ripEAT" kental dengan unsur dreampop,shoegaze, porsi noise dikurangi cukup drastis dan untuk pertama kalinya dalam karir bermusik saya mencoba merekam vokal yang lebih "bernyanyi".nuansa musiknya kata yang udah denger sih cukup chill dan cheerful tapi lirik yang saya tulis sebenarnya nihilis, banyak terinspirasi oleh eyehategod.komentar- komentar video yang saya unggah di kanal youtube juga demikian. Musiknya cerah tapi liriknya gelap. Disini saya mencoba mencurahkan perasaan pribadi saya karena imbas pandemi covid19. Disini saya lebih ngomongin hal-hal yang simpel dan terjadi dalam keseharian saya semasa pandemi.

Oh iya saya juga punya project bernama kala yang analogi musiknya seperti anak haram perkawinan black metal dan chaotic. Lirik di album perdana ber baptis " litany of dissonant souls" semua dalam bahasa sumeria yang saya colong dari buka nekronomikon milik HP lovecraft. Pattern vokal dan karakter vokal di kala lebih dominan scream dengan reverb yang tebal. Saya banyak terinspirasi dari band dreampop/shoegaze "cocteau twins" yang vokal,layer dan pattern vokalnya pada akhirnya menjadi bagian dari musik, dengan porsi yang sama dengan instrumen, untuk menguatkan atmosfer lagu. Lirik disini bukan hal yang penting dan ketiadaan pesan adalah pesan dari lirik kala dalam EP dan full album pertama yang dirilis via resting hell & alaium records.

Dalam setiap band saya punya cara yang berbeda untuk proses kreatifnya yang sesuai dengan kebutuhan musik dan citra band tersebut. Analoginya layaknya aktor dalam lakon yang berbeda di tiap filmnya. Saya menjalani peran saya di band sebagai sutradara dari skrip yang saya tulis untuk band saya dan saya berusaha skrip itu cocok dengan musik & image band tersebut. Cara promosinya pun berbeda-beda, ada yang menggunakan sosial media sebagai ujung tombak komunikasi dan promosi layaknya kebanyakan band pada umumnya hari ini, ada yang tidak punya akun sosial media untuk saat ini contohnya seperti bisinggama & bloodriven. Saya memilih menjadi musisi dengan genre heterogen karena passion saya akan genre musik yang saya suka dan setidaknya dapat saya mainkan, uang dan respon bagus saya anggap sebagai bonus dari kesenangan yang saya lakukan dengan ikhlas. Selain itu setiap band sudah mempunyai koridornya masing-masing, saya tidak akan memaksakan ego saya dalam tiap band saya, bagi saya lebih baik membuat project/band baru dibandingkan memaksakan sesuatu yang menurut saya tidak cocok pada tempatnya. Saya perlu wadah yang berbeda-beda untuk penyaluran Hasrat akan musik yang berbeda-beda pula. Bagi saya musisi yang keren itu musisi yang tau tempat dimana dan dengan siapa dia bisa mengekspresikan hasrat musikalnya. Bagi saya ngeband lebih dari satu band itu rasanya seperti berpetualangan dengan kendaraan dengan spesifikasi yang berbeda dengan tujuan yang berbeda-beda pula. Konon hidup cuma 1 kali maka dari itu minimal saya harus memainkan 50% genre musik yang saya suka. Tidak menutup kemungkinan di usia senja jika kemampuan saya memadai saya akan memainkan musik akustik layaknya bob Dylan/johnny cash atau free jazz ala John Zorn.

0 COMMENTS