Antara Merchandise Official, Bootleg dan Bajakan

Daniel Mardhany: Antara Merchandise Resmi, Bootleg dan Bajakan

Negara kita sudah terbiasa dengan barang musik bajakan. Di luar negeri, bootleg biasanya diproduksi dengan kuantitas terbatas dan biasanya, dibuat fans untuk fans karena kesulitan mendapatkan merchandise band. Mungkin juga karena desainnya sudah tidak dicetak dan menjadi barang langka berharga mahal.

Biasanya, produsen bootleg lebih “niat” membuat/memilih artwork untuk merchandise tersebut, misalnya t-shirt Fugazi. Mereka memang cuma satu kali mengeluarkan t-shirt official dengan tulisan "This is Not A Fugazi Shirt" dan hanya dijual saat mereka tampil. Maka, fans membuat t-shirt itu sebagai apresiasi dan tidak dijual untuk pasar luas, tapi untuk sesama fans Fugazi.

Musik Indonesia tumbuh dengan rilisan fisik bajakan era 80-an, khususnya kaset. Akhirnya, Bob Geldof (Boomtown Rats) mengetahui bahwa hanya di Indonesia ada kaset konser Live Aid. Saat dia datang dan menemukan fakta bahwa negeri ini kaya akan rilisan bajakan. Di titik inilah, regulasi hukum mulai berubah dan industri rekaman mulai melisensi dengan rilisan fisik yangg beredar di pasar lokal. Namun, kaset dan CD bajakan tetap saja melimpah di pasar kita.

Menurut saya, masalahnya bukan hanya soal daya beli, tapi juga soal apresiasi. Terlihat dari kacamata saya, penikmat musik pasti akan cuma menikmati musik atau audio saja, tapi juga estetika sampul album dan juga biasanya membaca detail lirik sampai credit title dan thank list di sampul suatu album.

Namun, di era digital ini pembajakan musik fisik sudah drastis berkurang. “Benda” yang dikonsumsi sekarang pada umumnya adalah file, yang notabenenya tidak memiliki bentuk fisik dan sangat mudah didapatkan di internet.

Pembajakan di era sekarang lebih gencar dan buas di ranah merchandise, seperti kaos, topi, bandana, hoodie, dan lain-lain. Di indonesia, pembajakan dilakukan dengan gamblang. Mulai dari di pasar, pusat perbelanjaan sampai di lapak event music skala besar sampai gigs skala kecil.

Contohnya seperti Bulungan atau Rossi. Di Bulungan misalnya, tidak sedikit lapak yang menjual merchandise bajakan dari band penampil. Sepertinya ini sudah lumrah, tapi membuat risih dan geli saat melihat kaos bajakan band saya atau band teman dengan desain ajaib dan tidak ada korelasinya. Misalnya, seperti t-shirt Deadsquad hardcore, hahaha.

Contoh t-shirt bajakan Deadsquad (Foto: dokumentasi penulis)

Lucu, di era intenet yangg sudah lumayan cepat dan mudah diakses, pembajak membuat desain yang sungguh tidak nyambung dengan band tersebut. Bahkan mereka tampaknya tidak tahu genre band yang disablon tanpa izin dengan desain asal comot. Saya juga bingung apakah para pembelinya memang mengetahui bandnya atau hanya sekedar membeli untuk dipakai.

Di barang bajakan itu, ada desain gore sedikit porno ala Cannibal Corpse atau Lividity. Saya sebagai vokalis dan penulis lirik tidak pernah sekalipun menyentuh teritori tema gore/porn dalam puluhan lirik Deadsquad. Mungkin ini yang ada di pikiran si pembajak, "Wah gambarnya serem nih, cocok untuk band metal dan laku di pasaran.”

Kadang saya suka ketawa geli tapi sedih melihat desain t-shirt bajakan. Merchandise tidak dibuat oleh fans, karena mereka pasti mengerti dan paham image band kesukaannya. T-shirt itu dicetak massal mungkin lebih banyak kuantitasnya dari merchandise official. Harganya pun biasanya lebih murah tapi beberapa dibanderol hampir serupa merchandise resmi. Pembelinya mungkin minim pengetahuan soal merch resmi dan bajakan.

Selain merch bajakan merugikan pihak band dan menurunkan penjualan, image band tersebut terlihat jelek karena jeleknya desain dan terkesan ngasal. Saya sendiri sangat peduli dengan desain t-shirt, karena hal ini saling berkorelasi dengan lirik, tema dan image band.

Banyak orang beridiom jika suatu band/brand sudah dibajak secara masif adalah salah satu bentuk kesuksesan. Mungkin ada benarnya, tapi memproduksi sesuatu tanpa izin atau kontrak akhirnya merugikan pihak kedua (band). Pihak pertama (pembajak) hanya memikirkan profit semata dan tidak memberikan keuntungan apapun ke pihak band.

Alasan promosi tidak tepat, karena band produk official-nya yang dibajak banyak beredar di pasaran dan relatif mudah didapatkan. Di beberapa negara lain, kultur bootleg biasanya lebih pada apresiasi fanantisme terhadap suatu band. Umumnya, merch atau album mereka memang sulit didapatkan atau harganya sudah terlalu mahal.

Biasanya, ada deskripsi produk kalau memang unofficial dan tidak dicetak massal seperti t-shirt resmi umumnya. Produsen produk bootleg pun biasanya meminta izin ke band secara personal atau melalui manajemen, karena banyak yang memang manajemennya dipegang oleh para personelnya.

Mengingat Deadsquad, beberapa tahun lalu Pasukan Mati beberapa daerah ingin mebuat t-shirt chapter mereka. Misalnya, satu orang perwakilan Pasukan Mati Surabaya mengontak saya dan meminta izin, serta meminta arahan desain. Saya meminta agar ada desain dari kota mereka, lalu dipadukan dengan image Deadsquad.

Setelah beberapa kali approval desain, jadilah t-shirt Pasukan Mati Surabaya bergambar hiu dan buaya. Mereka juga memberikan laporan tentang jumlah t-shirt dan saya hanya meminta untuk arsip pribadi. Saya lebih senang dengan bentuk apresiasi seperti ini, biasanya disebut official bootleg.

Berbagai cara mengurangi pembelian produk bajakan sudah dilakukan beberapa band indonesia. Misalnya seperti Seringai dalam vlog mereka: personel Seringai mendatangi langsung lapak penjual t-shirt Seringai unofficial dan menjelaskan bahwa kaos ini adalah bajakan, dicetak tanpa izin. Penonton vlog pun paham mana produk resmi dan tidak resmi.

Di era ini, fans band menjadi lebih peka soal merch band favorit mereka. Tidak sedikit Pasukan Mati yang bertanya saat Deadsquad merilis merch terbaru dengan lisensi pada pihak ketiga seperti Rock Nation, Brutal Mind, Savior dan lainnya. Mereka langsung bertanya "Bang/Mas Nil apakah ini official?” Saya pasti mengonfirmasi bahwa produk itu mendapat lisensi resmi dan sah untuk dibeli/koleksi.

Pembajakan merch tidak akan pernah mati, dari negara dunia ketiga sampai negara adidaya akan selalu ada. Bagaimana kita sebagai penggemar band lebih cermat sebelum membeli. Saya sendiri sempat hampir terkecoh membeli sepatu Queens of the Stone Age dan Nine Inch Nails di Amazon. Sebelum memesan barang tersebut, saya mencari informasi soal produk itu dan ternyata dibuat tanpa izin band atau unofficial. Ini mirip seperti banyak penjual ­t-shirt band internasional yang berterbaran di Instagram yang dengan pede beriklan (sponsored, terlintas di timeline kita).

Bagi saya, perilaku itu memalukan karena penggemar musik dan band yang pasti menghargai dengan membeli produk berlisensi/official. Mungkin ini terdengar sedikir sinis, tapi itulah yang saya rasakan dan gelisahkan sebagai "pemusik"-penikmat musik. Inilah beberapa hal yang mengusik saya selama ini, dan akhirnya sedikit saya tumpahkan dalam tulisan ini.

*Feature photo: sumber

1 COMMENTS
  • cimoloriginal@gmail.com

    Kerennn

Info Terkait

superbuzz
1308 views
supershow
1656 views
supernoize
2160 views
superbuzz
1021 views
Supporting Stage
486 views