2020

Apa yang Menarik di Musik Keras Indonesia pada 2020?

Selamat datang di tahun 2021. 

Masih ingat dengan tulisan saya “2020 Sebenarnya Gak Buruk-Buruk Amat Untuk Metalhead”? Setelah saya baca ulang seharusnya saya juga menuliskan hal baik dan menarik di skena musik keras Indonesia, biar lengkap. Mau menulis kilas balik malah jadi semacam kaleidoskop. Jadi saya memutuskan menulis hal yang menariknya saja. 

Kalau ditanya apa konser terakhir yang saya tonton terakhir? Saya dengan bangga dan tersenyum menjawab Scorpions di Jogjarockarta Festival 2020 yang diadakan tanggal 1 Maret. Ini untuk kedua kalinya saya nonton band rock legendaris asal Jerman ini, yang pertama tahun 2015 di Prancis saat festival Hellfest. Mereka membawakan puluhan lagu dan pasti beberapa lagu rock ballad hits seperti Still Loving You dan Wind of Change yang ditunggu penonton yang mayoritas berusia matang, kata lain untuk tua. Sebelumnya tampil juga Whitesnake dengan David Coverdale nya, vokalis idola almarhum ayah saya. Meski usia tidak dapat dikatakan muda, kedua band tua ini tetap menunjukkan kualitasnya secara band kelas dunia. Tepat keesokan harinya, Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya kasus Covid-19 di Indonesia, yang kemudian disusul dengan peraturan yang melarang pertunjukan secara langsung.

Setelah konser itu praktis tidak ada festival dan konser langsung dalam skala besar. Hammersonic, festival metal terbesar di Indonesia, terpaksa juga ditunda dan kemungkinan baru terlaksana di tahun 2022. Akhirnya konser virtual menjadi solusinya meski dengan segala keterbatasan yang ada. Masalah produksi, bujet dan teknis bahkan jaringan koneksi internet yang tentu berbeda dengan yang ada di Amerika atau Eropa, tapi semangat dan kerja keras dari komunitas musik keras tanah air patut diacungi jempol. Seperti Hellprint, yang dibatalkan di tahun ini, kemudian mengemas festival secara virtual dalam beberapa episode dengan menampilkan Rosemary, Beside, Taring dan lainnya. Blackandje Records membuat “Dark Tones Alliance”, program live session dengan menampilkan 1 band manggung di studio di setiap episodenya. Siksakubur, Straight Answer, Rajasinga, Revenge, Inlander dan beberapa nama lainnya sudah tampil di acara yang dipandu seorang selebgram cantik, Loriana Amarasco. Ada beberapa konser serupa dengan berbagai tema yang menarik. Meski tidak dapat benar-benar mendapatkan esensi dari konser langsung biasanya tapi setidaknya itu cukup bisa mengobati kerinduan akan konser musik keras. 

Beberapa komunitas malah sudah membuat konser langsung atau gigs dengan kapasitas terbatas, tentu dengan protokol kesehatan meski beberapa juga menghiraukannya. Tapi yang menarik adalah maraknya konsep festival yang memadukan konser dengan kemping di alam terbuka. Bogor Brutal Fest mengawali dengan “Forest Gets Noise” di suatu daerah perkemahan di pegunungan Bogor, Sukabumi Battle Vest Assault dengan “Waking The Roots” di Sukabumi dan “Titik Temu Hardcore Camp” yang diadakan di Magelang. Konsep ini sebenarnya tidak bisa dikatakan benar-benar baru karena sebelumnya sudah ada seperti Begundal Camp Fest yang digelar tahun lalu oleh Burgerkill atau Rockadventure dari Super Adventure beberapa tahun lalu. Ini sangat menarik dengan jumlah penonton yang terbatas dan diadakan di alam terbuka sambil berkemah selama 1 sampai 2 hari di akhir pekan. 

Hal baik yang terjadi di tahun 2020 adalah lumayan banyak album keren yang dirilis. Album favorit saya adalah album “Killchestra” milik raksasa metal, Burgerkill. Dirilis pertama di bulan Juni dalam format vinyl dalam jumlah terbatas dan langsung terjual habis. Kemudian disusul dirilis dalam CD nya oleh demajors pada bulan Agustus. Album yang penggarapan orkestranya direkam di Praha Republik Ceko di tahun 2018 lalu, bisa dikatakan sangat ambisius dan prestisius. Bukan hanya bagi Burgerkill saja tapi bagi musik keras Indonesia, karena ini menjadi album band metal Indonesia pertama yang berkolaborasi dengan kelompok orkestra. Hasilnya adalah sebuah album yang luar biasa. Saya yang menonton konser “Killchestra” saat gelaran Hellshow 2018 di Bandung dibuat takjub, bagi saya itu menjadi salah satu konser terbaik band metal Indonesia yang pernah saya tonton. Mendengarkan album ini menjadi semacam berkah bagi saya. 

Dari ranah death metal, Death Vomit menghantam album “Dominion Over Creation”. Memang tidak se ngebut album mereka sebelum-sebelumnya tapi kengerian masih sama bahkan mungkin terdengar lebih jahat dengan tempo yang tidak melulu ngebut. Bentuk kematangan bermusik salah satu monster death metal terbaik tanah air. 

Berikutnya ada Fraud dengan album “Sanctuary” yang dirilis Blackandje Records pada bulan Agustus. Band dari Surabaya ini berhasil keluar dari jebakan beatdown hardcore dengan cara yang gagah. Materi lagu yang bagus dikemas dengan produksi sound yang matang plus cover album dan lay out nya juga keren, ditunjang dengan video klip “The Prophecy” yang digarap sangat serius dengan konsep film thriller, membuat album ini memang killer! Surabaya pantas bangga mempunyai Fraud sebagai penerus berkibarnya bendera Surabaya sebagai kota rock.

Album “Deathymn” milik band black metal Warkvlt juga menjadi salah satu favorit saya di tahun ini. Warkvlt menyajikan album black metal yang ngebut sesuai ciri khasnya dengan produksi sound yang keren. Selama ini di Indonesia mungkin hanya album band-band atmospheric black metal yang produksi soundnya bagus, seperti Pure Wrath dan Vallendusk. Sementara band black metal yang musiknya ngebut sering sound bisa dikatakan kurang berhasil, kalau kata gagal dianggap terlalu kasar. Tapi album “Deathymn” mendobrak stigma tersebut. Kemasan album yang dirilis Sadist Records juga menunjukkan kelas Warkvlt yang sesungguhnya sebagai salah satu band black metal terbaik di negeri ini. 

Masih ada beberapa album keren dirilis tahun ini, ada “Mantra” milik Kapital dengan memasukkan unsur tradisional Dayak yang sangat kuat, Hellcrust dengan album “Sejawat” sekaligus album perpisahan dengan vokalis Japs yang digantikan Septian ‘Asep’ Maulana, album grindcore “Worshipper” dari Busuk dan tentunya juga masih menunggu album terbaru dari Forgotten berjudul “Silalatu” yang akan dirilis pertengahan Desember ini oleh Grimloc Records. Beberapa single baru juga dirilis seperti “Impulses to Kill” milik Viscral yang seharusnya merilis album baru Desember ini tapi ditunda tahun depan. Carnivored juga sudah memperkenalkan lagu “Rintih Mengemis” sebagai pembuka album ketiga “Labirin” yang akan dirlis Januari 2021 oleh Lawless Records. Band saya, down for life juga merilis single “Apokaliptika” pada akhir Mei kemarin saat awal pandemi. Satu hal lagi yang saya syukuri dengan pandemi karena bisa menyelesaikan materi album keempat dan merekam seluruh instrumen di Dark Tones Studio Jakarta. Penggarapan album ini sempat tertunda cukup lama saat keadaan normal, selain jadwal manggung juga karena mentoknya ide di kepala kami. Mungkin di saat pandemi membuat ego semakin turun jadi bisa saling berkompromi dalam berkarya. Pandemi ternyata menjadi berkah, memanfaatkan waktu luang yang lebih banyak dan belajar hal baru dalam memanfaatkan teknologi. Kami bisa menyusun materi meski terpisah jarak Solo, Jogja dan Jakarta dengan menggunakan zoom dan google hangouts. Jadi 90% lagu di album baru nanti belum pernah dimainkan bersama baik saat latihan di studio apalagi manggung. Tunggu saja, single baru akan dirilis. Albumnya kapan? Sabar ya, pepatah mengatakan orang sabar rejekinya besar.

Perkembangan dunia digital yang pesat juga dirasakan di Indonesia. Podcast dan konten streaming lainnya sudah marak beberapa tahun terakhir, tapi ketika pandemi datang banyak pelaku musik keras yang terjun ke ranah ini. Meski banyak yang sebenarnya sudah melakukannya sebelum pandemi tapi kemudian sekarang makin aktif dan giat lagi. “High Octane Podcast” milik Seringai berhasil menyedot perhatian banyak pendengar. Karakter para personil Seringai yang seru membuat podcast ini sukses. Buluk dari Superglad dan Kausa, juga membuat konten di “Catatan Si Buluk” di YouTube dan mendapatkan respon bagus. Kata Buluk hasilnya secara finansial cukup lumayan dalam kondisi sekarang. Aca, vokalis Straight Answer, juga mempunyai program yang menarik di YouTube. Berbeda yang lain, vokalis yang doyan makan ini membuat konten “Teman Makan” yang membahas makanan dengan slogannya “Ahh..suapp!”. Extreme Moshpit yang sudah berjalan lebih dari 1 dekade juga semakin gencar di tahun 2020, Eben dari Burgerkill bersama Gebeg (Taring), Andre Vinsens (Jeruji) dan teman-temannya menjalankannya di Bandung. Dari sebuah program radio berkembang menjadi program tv dan tahun ini membuat “Extreme Moshpit Awards”. Saya juga masih tetap menjalankan program “Rock On Monday” di demajors Radio, malah selama pandemi menjadi lebih seru. Biasanya tamu harus datang dan interview di studio, sekarang bisa dari rumah masing-masing. Tidak terbatas ruang dan jarak, memanfaatkan teknologi yang ada. Meski program ini vakum dulu sejak November, namun akan ada kejutan di bulan Januari 2021 nanti. Saya bersama Blackandje membuat program “Jumat Membara” dan membuat zine khusus musik keras di Instagram bernama @blackandzine

Kalau darah segar di kancah musik keras Indonesia jujur belum ada nama baru yang benar-benar mengejutkan. Ada yang menarik perhatian seperti Vox Mortis, Hellfreezed, Amorfati, Amerta, SLFR dan yang lain. Hal ini wajar karena hampir tidak adanya panggung konser yang menjadi ajang unjuk gigi bagi para pendatang baru. Meski ada platform digital seperti Spotify, Youtube, Instagram dan lainnya tapi sepertinya panggung masih menjadi kawah candradimuka terbaik untuk band menunjukkan potensinya. 

Bagi saya pribadi, pandemi di tahun 2020 mengajari saya untuk lebih bersabar, pasrah dan ikhlas. Banyak hal baru yang saya dapat dan pelajari di tahun kemarin. Jujur saya adalah makhluk purbakala yang gagap dengan teknologi, tapi situasi memaksa saya harus mau keluar dari zona nyaman, harus berani untuk beradaptasi dan berkompromi dengan keadaan yang ada. Tahun 2020 dengan segala kebusukannya bagi saya tetap ada banyak hal yang baiknya juga. Di balik segala keburukan pasti ada kebaikan. Semoga tahun 2021 menjadi lebih baik lagi dan pandemi segera berlalu. Saya sudah pengen manggung!

Tulisan ini saya dedikasikan untuk almarhum Mas Tonny Christian Pangemanan, eks vokalis Noxa, dan semua orang yang meninggal dunia di tahun 2020. Rest in Power.

TAGS:
0 COMMENTS