Arief Blingsatan Kolaborasi

Arief 'Blingsatan': Kreativitas Musisi Punk Rock Melawan Pandemi

Mau tidak mau ketika wabah virus corona mendunia, negara kita pun tidak luput menjadi sasarannya, yang mengakibatkan semua industri harus "take down." Di mana garda depan korban pertama di antaranya adalah industri pariwisata yang di dalamnya ada industri musik komersial. Dari hiburan kecil sekelas gigs, hiburan live music di café-café hingga konser besar terpaksa harus dibatalkan demi kebaikan bersama.

Belum lagi dari dampak ekonomi yang turun drastis di mana aktivitas industri harus diliburkan mengakibatkan daya beli  masyarakat menurun yang berdampak pada menurunya minat beli varian musik lainya seperti alat musik, merchandise, rilisan fisik dsb. Bahkan kabar dari teman-teman pebisnis studio musik, kepanikan akibat penyebaran virus corona ini membuat lengang studio musik, baik itu recording, latihan maupun kelas-kelas kursus musik. Jika kita mau berhitung berapa banyak kerugian dan berapa banyak orang kehilangan pekerjaan dan pendapatan, dari crew panggung hingga artis dari dari tukang kebersihan hingga vendor sound system dan vendor-vendor sejenisnya sampai event organizer sebagai penyelenggara acara, tidak terhitung jika masing-masing dari mereka adalah tulang punggung keluarga yang menanggung hidup anggota keluarganya.

Keadaan ini tidak akan ada solusi kalau hanya dihadapi dengan hanya sekadar mengeluh dan merasa pesimis. Harus kita sadari bahwa kita tidak sendiri. Bencana ini menimpa sebagian penduduk dunia, hanya yang membedakan jika kita mendapat banyak dari industri ini maka kita akan kehilangan banyak pula, demikian sebaliknya. Hal ini juga berlaku dengan seberapa besar industri musik dan hiburan memberikan kontribusi terhadap kehidupan sosial di sebuah daerah, tentunya berbeda yang dialami industri kota besar dan kota kecil, termasuk problema pelaku bisnis di dalam industri ini sendiri.

Secara garis besar kondisi ini mengakibatkan kondisi ekonomi para musisi akan menurun drastis akibat sumber pendapatan dari manggung hingga varian bisnisnya berkaitan dengan menurunnya daya beli.

***

Musisi adalah seorang seniman yang pada umumnya mempunyai dua karakteristik psikologis yang berbeda. Sebagai seniman, musisi cenderung "emosional" karena sisi sensitifitasnya dan musisi juga punya kadar "kreativitas" yang dominan di mana musisi terbiasa dengan meng-create sesuatu tentunya yang berhubungan dengan musik. Dari hal tersebut mungkin kreativitas yang dipunyai musisi bisa dikonsentrasikan pada sebuah bisnis ataupun peluang mencari pendapatan alternatif, bagi yang terbiasa dengan menggunakan kreativitasnya untuk berbisnis hal ini mungkin sudah biasa , tapi mungkin hal ini perlu untuk mereka yang tidak terbiasa menggunakan sisi kreatifnya untuk berbisnis , kali ini mau gak mau musisi harus percaya diri bisa menggunakan sisi kreativitasnya untuk mencari sumber pemasukan alternatif untuk sekedar bertahan paska epidemik , "keluar dari zona gengsi" mencari peluang dimana musisi cenderung mempunyai banyak teman bahkan relasi dan mungkin terbiasa dengan  menggunakan teknologi media sosial.

Penulis di sini bukan seorang ahli ekonomi ataupun psikologi, penulis yang juga musisi dan pebisnis kecil ini juga menghadapi hal yang sama mencoba untuk mengembalikan kesadaran bersama bahwa tidak semua musisi ada pada tingkat kelas sosial dengan kondisi ekonomi yang mapan, sehingga mampu bertahan dengan situasi seperti ini. Ada mereka di antara kita yang harus berjuang lebih keras melalui masa-masa kritis ini

Ada tempat sisi "emosional" di diri seorang seniman ketika emosional itu hanya digunakan untuk meratapi diri, maka rasa pesimis yang akan didapatkan, tetapi berbeda jika emosional diaplikasikan sebagai  kepekaan terhadap kondisi sosial yang mana musik tidak selalu berorientasi dengan seputar uang dan keuntungan saja, sudah seperti banyak musisi lakukan pada saat awal pandemi corona ini menimpa bangsa kita, dari mereka yang berusaha untuk menghibur ataupun sekadar menjaga hubungan emosional dengan fansnya, konser streaming digelar dari yang berbayar hingga gratis, banyak dari musisi juga mengampanyekan sebuah gerakan bersama untuk tetap menjaga jarak dan tetap di rumah lewat media musik sebagai tanggung jawab moral. Beragam yang mereka lakukan untuk bangsa ini atas dasar empati sebagai reaksi emosional dari para musisi.

Mungkin apapun yang menimpa kita bersama akan ada hal positif yang bisa kita petik, ketika nanti keadaan mulai membaik dan jika kita dipertemukan dalam keadan industri musik yang sangat tidak baikpun, mungkin ini akan menjadi momen yang indah di mana kita memulai membangun industri musik ini dari nol secara bersama dari daerah hingga kota besar, hal ini menjadi spirit kita bersama untuk bersiap-siap bangkit dalam keadaan apapun.

Sampai pada sebuah kesimpulan bagaimana kita menempatkan kreativitas dan emosional kita dalam menghadapi masa-masa kritis ini, kreativitas dibutuhkan untuk bagaimana kita bisa bertahan dan emosional diletakan pada kepekaan dan kepedulian sosial sehingga menimbulkan nilai kebersamaan.

Buat kita semua yang dipisahkan oleh keadaan, ada satu langkah awal harapan ke depan. Kita berjuang dan berharap semoga badai ini cepat berlalu dan kita akan dipertemukan kembali, seperti apa yang disampaikan 5 musisi ini: "SAMPAI KITA BERJUMPA LAGI: 5 musisi punk rock Indonesia dari 5 kota bersatu dalam lagu."

Di tengah suasana ini, berbagai macam kegiatan bermusik di dunia maya justru cenderung aktif, baik dari para musisi profesional maupun para penghobi. Dari jam session hingga meng-cover bahkan sekadar lip sync yang bertujuan untuk mengisi waktu ataupun menghibur para netizen.

Ada yang lain yang dibuat oleh 5 musisi ini, siapa saja mereka: 

1. Lakiluks alias Buluk: dedengkot skena indie dan underground Jakarta era awal 90-an. Vokalis sekaligus pendiri Kausa dan Superglad.

2. Eka Rock: bassis dari band punk rock fenomenal asal Bali yang banyak meng-influence banyak band di Indonesia, Superman Is Dead.

3. Buux: gitaris band punk/hardcore senior Bandung yg tetap berjaya di jalurnya dan telah melanglang buana di berbagai negara, Turtles JR.

4. Ozomz: drummer dari Topi Jerami, band pop punk asal Bogor yang mempunyai pengaruh dan nama besar di kotanya.

5. Saya sendiri, bassist dan vokalis band melodic punk Blingsatan, seorang penggiat skena musik Surabaya, passion dan gerakan sosial.

5 punk rocker Indonesia berkumpul di dunia maya dari 5 kota bersatu dalam satu project spontan untuk memberi semangat kita semua untuk "stay strong."

Diawali ketika saya mencoba membuat challenge jam session berkarya bersama membuat sebuah lagu dalam 1 menit untuk konten Instagram. Untuk pertama kalinya saya mencoba men-trail challenge ini , kemudian saya meminta Lakiluk membuatkan riff gitar yang nantinya nada vokal dan liriknya dibuat oleh saya. Disambut dengan antusias oleh Lakiluk, yang kemudian Buux bergabung untuk mengisi melodi dan Lakiluk mengisi rhythm. Setelah diisi vokal dan lirik, antusias makin menjadi ketika Ozomz ikut mengisi part drum, dan mereka kemudian mulai berpikir mencari bassis. Eka bergabung di saat Lakiluk membuat interview live di IG-nya bersama Eka, yang tiba-tiba saja Eka juga antusias bergabung. Mereka ini semua adalah teman di skena punk rock Indonesia yang lama tidak berjumpa.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Tadinya buat ngisi waktu .. mau bikin #challenge #jamming bikin lagu durasi 1 menitan , nyobain dulu nyari temen deket yg jauh .. akhirnya I call @laki_luks aku minta bikin riff gitar akustik ntr aku yg isi nada vocal dan liriknya... eh cuman dlm waktu 3 hari tau2 udah jadi band ???? dasar punk main hajar aja ???? ... ada brader2 @ekarock , @buuxfrederiksen , sm @ozomz .. matur thankyou so much banget lah pokoknya ????❤???? . lagu ini aku kasih judul " Sampai kita berjumpa lagi " ... sebuah harapan bersama yg membuat kita berfikir "positif" yakin badai ini pasti akan berlalu dan kita akan berkumpul bersama kembali ... . #Staysafe , #stayhealth , #stayhome , ...pesan dari kami .... Ada pesan dikit nih kl ada rejeki sempatkan gunakan jasa atau sekedar membeli dagangan mereka2 yang masih mencari nafkah di jalanan.. . #Sampaikitaberjumpalagi #fightcovid #punk #rockers #indonesiakuat

A post shared by arief (@arief_blingsatan) on

Namanya juga punk rocker semua dihajar dengan ala kadarnya di rumah masing-masing, cepat dan sporadis dalam waktu 4 hari mereka berkarya bersama menciptakan lagu. Walaupun lagu ini tidak sempurna karena hanya berdurasi 1 menit, tanpa disangka lagu ini mempunyai pengaruh positif bagi netizen dari feedback yang kami terima, lagu ini cukup meredam suasana di mana di media sosial masyarakat terlalu banyak menerima info tentang pandemi corona beserta hoax-nya dan berbagai berita yang mungkin hanya membuat keadaan masyarakat semakin panik.

Mereka disatukan dengan visi yang sama, sama-sama ingin memberikan energi positif lewat lagu di tengah-tengah keterpurukan yang datang seketika akibat pandemi corona, membangkitkan spirit kekuatan mental melawan pandemi corona ini dengan "berpikir positif." Di lagu ini mereka memberikan stimuli untuk bertahan dan meyakini bahwa badai ini pasti akan berlalu dan kita pun akan bertemu dan bersama kembali. Begitulah pesan dari lagu yang berjudul "Sampai Kita Berjumpa Lagi."

Setelah ini apakah lagu ini akan direkam menjadi lagu yang utuh, atau justru mereka malah membuat project band kemudian meluncurkan karya-karya berikutnya, tunggu saja!

0 COMMENTS