Pasukan Record

Arief 'Blingsatan': Restart Merintis Mimpi Besar di Masa Pandemi

Dalam masa pandemi ini, kata kunci bagi kita semua adala "restart" bagaimana kita memulai dari awal. Masa pandemi yang begitu membuat terpuruk industri hiburan hampir di seluruh dunia, tidak menyurutkan insan-insan industri ini untuk tetap mencari celah untuk bergerak. Kita mungkin harus percaya ada kemudahan dari setiap kesusahan yang memang harus kita cari. Ada sebuah kesempatan membangun chemistry dari terpaan yang sama menjadi semangat yang sama pula, untuk bangkit bersama-sama. Hal ini yang terjadi di dunia industri musik di tanah air, ketika kita mulai terbiasa dengan hal-hal yang terkait dengan dunia digital dan virtual menjadikan jarak bukan sebagai halangan.

Di tengah-tengah keterpurukan, ada sebuah kawanan hip-hop yang berusaha keras maju selangkah demi langkah mengubah diri dari kolektif menjadi sebuah perusahaan, di mana perusahaan ini akan siap berkontribusi memajukan kembali industri musik hip-hop di tanah air. Dari kota Surabaya, Wiesa Tamin dan saya mengembangkan Pasukan Records, label hip-hop independen pertama di Indonesia, yang kini berdiri sebagai perusahaan rekaman berskala nasional-global di bawah payung PT Partist Asia Group. Sebuah perjalanan sisi lain sebagai seorang musisi hip-hop dan punk rock dengan misi sederhana yang diemban, yaitu ingin menjadi "jalan" bagi musisi yang ditakdirkan untuk besar disertai dengan visi di mana menjadikan perusahaan yang dibangun bersama ini adalah tempat berkembang buat seniman-seniman yang besar di kolektif-kolektif untuk melangkah ke dunia industri.

Arief dan Wiesa (Foto: dokumentasi penulis)

Dimulai dari nol, tidak hanya Wiesa dan saya, tapi juga didukung teman dan saudara dengan basic profesionalnya sepakat untuk belajar dan berkerja menjalankan misi visi tersebut, di saat kita sama-sama mengalami kesulitan akibat pandemi, dengan tekad dan usaha perusahaan ini telah membangun kembali Pasukan Records sebagai bisnis utama. Hanya dalam jangka beberapa bulan kami telah merilis beberapa karya dari artist-artist kami seperti Sonjah, Flava Effect, Destino, Kanya Aldephie, Eja, Sabrina Athika dan akan menyusul artis-artis dengan project-project berikutnya. Tercatat sudah 16 artist yang kami kontrak yang siap rilis. Bahkan kami telah berkerja sama dengan deretan produser yang kami siapkan untuk project-project yang sudah direncanakan seperti Sonjah, Soundstars, Gantaz dll.

Kemudian selang waktu melangkah dengan hitungan bulan, kami mendirikan Okay Music Publisher sebagai jalur distribusi karya musik digital maupun fisik. Lalu "Dawg" sebagai radio streaming dan beberapa sub-usaha yg sedang dirancang sebagai bisnis network di bidang industri seni dan hiburan.

Di sini saya tidak memamerkan kesuksesan apalagi kenyaman. Kita belum menjadi apa-apa, bahkan berkali-kali kita hampir kehabisan napas di masa pandemi ini. Saya hanya ingin berbagi semangat untuk tetap bergerak dan saling mendukung di tengah-tengah kesulitan. Tidak mudah dan banyak yang dikorbankan dari material dan immaterial. Dua sosok musisi yang hampir sama dari beberapa perbedaan yang ada antara hip-hop dan punk. Masing-masing dari pribadi ini selain menjadi seniman, Wiesa yang mempunyai concern di hal-hal spiritual servants dan Arief concern di pergerakan sosial humanitarian, sama-sama telah lama berkecimpung di pergerakan skena dan berkarya di jalur masing-masing sejak era 90-an hingga sekarang.

Sama-sama pernah terlibat pergaulan bisnis industri distribusi musik label di awal 2000-an di era rilisan band bernama Karpet dan Perang Rap yang mana dua rilisan indie label ini mampu menembus MTV Asia pada era itu. Visi misi yang sama tentang pergerakan musik harus dimulai dengan industrinya, di mana membuat dua musisi ini: Wiesa dengan nama panggung Iprobz seorang rapper angkatan 90-an dan saya sebagai penulis lagu, bass dan vokal dari Blingsatan harus sedikit mengorbankan karier bermusiknya untuk lebih memprioritaskan regenerasi dan industri musiknya.

Sedikit cerita tentang inspirasi dari kisah-kisah berdirinya label-label rekaman besar yang diawali dengan eksistensi pecinta musik, bahkan musisinya sendiri terhadap genre tertentu, menjadi inspirasi tersendiri. Seperti kisah beberapa label di bawah ini:

1. Sun Records menaungi para musisi rock n roll dan country. Label ini berawal dari studio di Memphis, Tennessee milik Sam Phillip dan berkembang menjadi label rekaman di tahun 1952. Musisi yang diorbitkan di antaranya Elvis Presley, Roy Orbison, Johnny Cash dll. Kemudian berafiliasi dengan RCA Record menjual Elvis Presley untuk menyuntik dana di Sun Records.

2. Frank Sinatra membuat label rekaman sendiri setelah gagal membeli Verve Records dari Norman Grant. la ingin mendirikan label agar merasa lebih independen dalam kreativitasnya. Akhirnya di tahun yang sama, Frank Sinatra mendirikan label rekaman sendiri bernama "Reprise" dan merilis single "The Second Time Around" dan kebebasan berkreativitas ini disebarkan menjadi semangat baru. Frank Sinatra pun merangkul Sammy Davis Jr, Rosemary Coolney dan Dean Martin ke dalam keluarga besar Reprise.

Di tahun 1963, 2/3 saham Reprise dibeli oleh Warner, dan Frank Sinatra pun memegang kendali di komisaris Warner-Reprise, menjadi perusahaan besar dan melebarkan sayap dan banyak melahirkan musisi legendaris macam Joni Mitchell , Jimi Hendrix, Captain Beefheart, dan Neil Young di akhir tahun 60an sampai awal 70-an.

3. The Beatles mendirikan label rekamannya yang bernama Apple masih dengan alasan yang sama: kemerdekaan berkreativitas. Label ini banyak berjasa membesarkan nama musisi-musisi besar. Apple telah lebih merilis 50 single dan lebih dari 25 artis yang ditarik oleh label ini, di antaranya Mary Hopkin, Badfinger dan James Yaylor. Bahkan label ini menjadi rumah berkarya artis senior pada era itu, di antaranya Ronnie Spector dan Jackie lomax.

4. Beastie Boys mendirikan label Grand Royal di akhir 90 sampai awal 2000-an, yang memberikan warna tersendiri di dunia musik. Rilisannya di antaranya Sean Lennon, Atari Tenage Riot dsb.

5. Di ranah hip-hop ada label besar Roc-A-Fella Records milik Jay Z yang membuktikan kebesaranya karena berhasil membesarkan musisi yang dinaunginya, seperti Kanye West yang sekarang juga menjadi besar dengan label GOOD Music. Masih banyak lagi label yang lebih legendaris seperti Def Jam milik Russel Simon dan Rick Rubin, Tommy Boy dan Bad Boy Entertainment punya Puff Diddy, Death Row punya Suge Knight.

5. Sedangkan di ranah side stream yang berkembang di era 80-an ada di skena punk seperti Dischord, Epitaph dll.

Di masa sulit seperti ini, yang terpenting yang paling utama adalah semangat kolaborasi dan saling mendukung, di mana yang besar mengangkat yang kecil, yang kecil mendukung yang besar mencari titik potensi-potensi kecil yang digabungkan menjadi besar, dari beberapa bulan yang lalu pertemuan demi pertemuan, presentasi demi presentasi kita jalin, walaupun dengan cara virtual, work from home menyusun roster artis yang harus berjalan sesuai timeline dan planning-nya.

Kami tidak berhenti untuk konsisten dan tetap mengeluarkan rilisan-rilisan, dan sampai saat ini kami merencanakan kolaborasi dengan pihak-pihak yang lebih besar hingga kami akan membuat persembahan menggelar sesuatu bersama untuk yang pertama di Indonesia. Segera!

0 COMMENTS