BAHAYA LATEN IDOLA: Saat Sosok Musik Menginspirasi Che CUPUMANIK

  • By: Che Cupumanik
  • Kamis, 10 November 2016
  • 5739 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Memilih para musisi yang paling berpengaruh, yang sanggup memprovokasi saya jadi anak band dan dengan rela menjadi musisi hingga sekarang sebagai panggilan hidup, mungkin akan menjadi pekerjaan yang sulit. Tentu yang menyulitkan itu membuat kriteria, memilihnya dengan ukuran yang tepat dan mau tak mau wajib mengingat kembali, keunikan apa yang mereka miliki hingga karyanya seperti sebuah iklan pemasaran mutakhir yang punya daya magnit dan memuaskan selera. Mendorong untuk membeli dan mengunyah semua albumnya dan yang paling gila, tiba-tiba punya hasrat besar ingin seperti mereka.

Tapi saya punya teori sendiri, entah kenapa kadang setiap mendengar karya musik yang memikat, itu bukan semata kerja aktif kita dalam mencari referensi. Saya meyakini justru karya-karya itu yang aktif mendatangi saya. Artinya sebuah karya hebat, sebuah lagu racun, mereka memiliki sayap, mampu terbang tinggi dan dianugerahi kekuatan untuk menemui kuping-kuping yang menjadi jodohnya. Ya dan itu terjadi, misteri pertemuan itu datang melalui radio yang kita dengarkan dengan pilihan saluran yang acak, saat mendengarkan saya seperti ditampar berkali-kali biar bisa fokus menyimak. Mereka datang melalui video klip yang tanpa sengaja kita tonton lalu menghentikan jantung, menahan nafas dan terkesima. Mereka ketuk pintu melalui rekomendasi teman dan merasa haus untuk mengikuti semua beritanya. Stimulus yang hadir melalui kaos band dengan artwork yang unik yang dipakai orang tak dikenal, lalu merasa heran karena mereka memakainya dengan bangga, dan berbagai kesempatan lain yang tidak kita duga. Saya yakin pertemuan saya dengan idola itu sebuah perjodohan yang memang seharusnya dipertemukan.

Jika bicara perjodohan, artinya di sana terjadi kecocokan. Karya mereka memuaskan selera, lalu naksir tanpa paksaan. Bicara musik memang tak bisa berhenti mengupasnya hanya di wilayah musik. Karya para idola yang sudah kita pilih sebagai si jodoh, pasti masuk ke wilayah psikologis, mereka begitu mempengaruhi kehidupan keseharian mulai dari yang remeh hingga yang berarti sangat dalam. Baiklah ini contoh dampak ringan yang nyata saya alami: mereka menjadi soundtrack bagi hidup, memicu semangat, mendengar karya mereka cara yang tepat memulai hari, membuat selalu bergairah dan muda, teman tumbuh dewasa. Lalu ini adalah daftar dampak psikologis yang berat: Membuat pikiran terbuka dan mau menerima berbagai pandangan, inspirasi untuk menemukan jati diri dan menjadi diri sendiri, inspirasi untuk menjadi konsisten, sumber inspirasi dalam mencipta, memberi sumbangan kontribusi artistik, penanda zaman, lirik dan musiknya sanggup memeluk jiwa-jiwa yang sakit, sanggup meredakan perasaan yang pilu, mereka musisi yang membuat hidup saya berubah, merasa menemukan sudut pandang yang sama, menemukan pikiran yang segar. Lirik-lirik mereka datang seperti membela kita. Menjaga akal sehat dan kewarasan.

Musik bagi saya sebuah kekuatan yang mampu menawarkan medium pencerahan-nya sendiri. Karena itu saya masih betah menghidupi musik dan hidup dari musik, karena wilayah ini tak mendangkalkan apalagi meresahkan, justru sebaliknya. Lewat bicara musik akhirnya saya menemukan wilayah non-musik yang justru menjadi elemen yang tak kalah pentingnya. Seperti apa wilayah non-musik yang memikat itu?. Begitu banyak tema dalam lirik yang diangkat, saat sebuah lagu bercerita tentang sebuah peristiwa penting, saya jadi ingin menelusuri literasi sejarah. Musik membuat saya menjadi kutu buku, menjadi seorang pembaca secara serius. Pemantik yang efektif menabung kekayaan bacaan. Lirik lagu yang mengandung muatan aktivisme misalnya, ia mampu menularkan misi revolusinya. Tidak main-main, musik mampu menggiring saya ke wilayah literer juga ke wilayah aktivisme. Amunisi non-musik ini bukan sekedar tambahan, justru jadi elemen penting dalam musik.

Baiklah, lalu siapa mereka itu? Apakah mereka hanya wujud ide atau gagasan? Mereka sudah saya pilih sebagai inspirasi besar saya di musik.

Lima musisi idola saya daftarnya adalah: Iwan Fals, Nirvana, Pearl Jam, Soundgarden dan Alice in Chains. Mereka adalah para provokator bersahaja, yang menawarkan musik penyembuh, musisi yang akan selalu direkomendasikan dari mulut orang sepanjang zaman. Musisi yang piawai, memiliki kecakapan menuturkan narasi cerita, para virtuoso story telling, setiap dari kita punya kisah, punya kenangan pahit manis yang ceritanya tersimpan di relung hati, karya mereka seperti sedang menceritakan kisah kita. Mereka meneruskan tradisi yang keren dari nenek moyang idola mereka, tanpa cacat bahkan melahirkan terobosan yang baru. Eksistensi mereka membuka sumbat bagi lahir membanjirnya band-band bagus nan cerdas. Percayalah mereka tak mudah hilang dan tenggelam bersama trend yang numpang lewat. Mereka contoh bagaimana seharusnya musik berfungsi. Terdengar selalu kekinian, modern, abadi.  Mereka pelajaran dan arsip bahan contekan dan menciptakan musik dalam bentuknya yang paling asli, otentik dan berbahaya.

Seperti Alice in Chains, jika hidupmu tak pernah ambruk, tragis, jatuh dan pilu, mungkin kamu tak akan bisa menikmati musik mereka. Mereka bunyi terapi diri yang merawat keresahan, dari dunia yang tak baik-baik. Soundgarden, adalah guru yang mengajarkan membuat komposisi anggun, yang diramu secara pro, hampir tak ada komposisi yang lemah. Di tangan mereka, komposisi sulit tetap akan bisa dikunyah dengan rasa catchy. Pearl Jam, saya belajar mengenai ekspresi marah raksasa yang tersalurkan dengan semestinya, melalui vokalisnya Eddie Vedder. Pearl Jam adalah pelajaran ekspresi liar yang begitu otentik, guru tehnik vokal penting yang menjadi suri tauladan saya. Nirvana, band ini adalah gold standard, acuan penilaian jika kamu ingin membuat band grunge yang asli, band paling ternama dari gerakan grunge dunia, Nirvana adalah manifestasi terbaik dari gerakan grunge. Mereka memberi sabda raw energy, punk energy.

 

Dari dalam negeri, Iwan Fals, musisi lokal tanah air ini seperti memasok oksigen pada paru-paru, menyegarkan pernapasan, dari polusi musik lokal yang muncul kodian sesuai pesanan pasar dan trend. Dia sangat berbeda, pelajaran militan pertama saya akan musik yang memberontak, memprovokasi kesadaran, memproduksi gagasan. Terutama wilayah kecakapannya dalam penulisan lirik, merenungi dan memaknai rajutan kalimat yang ia tulis, saya mendapat pelajaran bahwa: ‘Klise dalam menulis syair merupakan dosa dan kegagalan bagi penyair’. Dari Iwan saya menemukan band Swami dan Kantata Takwa, menelusuri karya sastra WS Rendra. Di atas segalanya karya Iwan adalah obat saya menjaga akal sehat biar gak masuk jurang saat masa-masa minggat dari rumah kelas 1 SMA, ketika orang tua saya bercerai. Lagunya adalah sekumpulan nasihat, soundtrack hidup saat saya tinggal di rumah petak-petak di belakang pabrik susu bendera Pasar Rebo Jakarta. 12 Agustus 2016, hari yang bersejarah untuk saya, hari itu saya bertemu dengan idola, provokator ulung yang membuat saya ingin menjadi musisi dan bermain musik. Bertemu dan ngobrol panjang mengenai banyak hal, face to face tatap mata dengan jarak 1 meter di kediamannya. Dan saya memberi album Cupumanik dan Konspirasi padanya, serta menuliskan coretan di cover album dengan kalimat: ‘Dari karyamu, semua album ini lahir’.

Terima kasih idola, telah memberi sumbangan terbesar bagi mimpi menjadi musisi, juga telah memberi alasan kuat menapaki diri menjalani takdir sebagai musisi. Terima kasih sudah menebar teladan untuk melakukan ekplorasi besar dalam berkarya, keluar dari jebakan berpuas diri. Membantu mencari batas tertinggi dalam berkarya yang bisa dicapai. 5 musisi yang saya sematkan dalam artikel ini, membawa alasan primer, kenapa mereka pantas menjadi pahlawan. Bukan sekedar alasan sekunder, seperti berambut gondrong, narkoba, ugal-ugalan, cari sensasi, bermulut besar dan sesumbar atau gimmick perseteruan. Memilih mereka bukan pilihan teledor, gegabah atau sekenanya. Tidak akan ada Cupumanik atau Konspirasi tanpa kehadiran mereka, tak akan ada Che sebagai vokalis, tak akan pernah ada di dalam rumah musik Indonesia.

Rasanya saya perlu menutup artikel ini, dengan dialog saya dengan Iwan Fals di rumahnya, saya bertanya: ‘Bang, pernahkan mundur atau merasa ragu dan ambigu menjadi musisi?’, dia menjawab: ‘Gak pernah, ini semua, rumah saya, baju yang saya pake, teman-teman musisi, teman-teman OI, ini semua masjid-mesjid saya juga. Saya mensyukuri ini. Ada 3 prinsip yang saya pegang. Jangan merusak diri sendiri, kita wajib menjaga hubungan silaturahmi dengan lingkungan sosial dan terakhir menyayangi alam. Itu semua gak perlu pake teori lagi, udah kebukti kok. Coba aja lo rusak diri lo sendiri, lo akan sakit, lo gak jaga hubungan baik sama orang sekitar, kita gak bisa hidup berdampingan, ngerusak alam, dan alam akan marah. Selama bermusik bisa menjaga prinsip itu, saya yakin akan terus main musik’. Dalam obrolan seru, kadang ia minta pamit sebentar, tak bilang mau melakukan apa, lalu saat rehat dari ngobrol, saya menuju ke mushola di rumah Iwan, tanpa sengaja saya melihat Iwan tengah sholat, sesaat setelah mengucap salam, dia melakukan push up di tempat ia sujud. Pemandangan yang unik. Saya bersyukur mengidolai Iwan, pada awalnya mengenal sebagai musisi bengal, pemberontak, dan saat ini menyaksikan sendiri citra intelek religiusnya. Iwan Fals dan band-band pujaan hati yang saya tulis adalah figur yang menantang untuk dilampaui.

1 COMMENTS
  • baleo

    Uyeay