Eka Annash

Bakatmu Adalah Komoditas!

  • By: Eka Annash
  • Rabu, 30 October 2019
  • 291 Views
  • 2 Likes
  • 3 Shares

Berapa banyak pembaca yang saat ini terjebak pekerjaan kantor harian yang menyebalkan? Pekerjaan yang menyita sebagian waktu dalam sehari (minimal 8 jam) dan bertolak belakang dengan apa yang ingin kamu lakukan? Pasti tidak terhitung jumlahnya.

Berapa banyak dari kalian yang sampai sekarang cuma bermimpi untuk menghabiskan waktu untuk melakukan hal yang kamu cintai, dan berharap dapat menggantungkan penghasilan utama dari kegiatan itu?

Jujur, pertanyaan-pertanyaan tadi sudah membuntuti saya sejak sepuluh tahun belakangan. Di umur yang menginjak kepala empat, dorongan independensi untuk mencari opsi lain penghasilan utama semakin memuncak. Apresiasi dunia korporat terhadap nilai kontribusi seorang pekerja biasanya mempunyai batas kadaluwarsa.

Tidak banyak yang bisa bertahan menjadi pegawai melebihi rentang usia 40 tahun. Pilihannya antara terus bekerja meningkatkan performa yang dituntut perusahaan atau berpindah tempat kerja yang lebih kondusif: sesuai ritme produktivitas kita.

Bila kita beruntung, mungkin masih ada ekstra 10-15 tahun lagi untuk mendaki tangga karier, sebelumnya akhirnya dianggap melewati usia produktif dan diberhentikan atau dipensiunkan.

Kalau kamu bukan anak keluarga konglomerat atau dengan latar belakang kelas atas, maka kemungkinan besar kamu akan terperangkap dalam pola rutinitas kutukan kelas pekerja, tanpa ada kesempatan untuk mengetahui kesempatan untuk menggali potensi diri.

Saya memulai karier di bidang periklanan di tahun 2002, dimulai sebagai desainer grafis junior dan terus menanjaki tangga karir di departemen kreatif. Sekarang, akhirnya saya bisa menduduki posisi level eksekutif/lead. Saya juga melewati pergantian beberapa era teknologi digital dengan cepat mengambil alih peran disemua lini kehidupan.

Dimulai dari online chat room (Y!M dan MSN), fenomena pertama sosial media (Friendster dan MySpace), file-sharing, ledakan dot com, sampai merakyatnya smartphone dan berbagai aplikasi yang memudahkan kehidupan kita.

Pararel terjadinya pergantian peran digital di dunia maya, terjadi juga pergerakan cepat tercipta nya perangkat lunak untuk memudahkan proses kerja di segala bidang. Mayoritas kerja saya berkutat di bidang visual, perkembangan perangkat lunak di bidang grafis (Photoshop, Illustrator, dll), penyuntingan video (Final Cut Pro, Premiere), dan animasi, membuat pintu-pintu kemungkinan yang tadinya dianggap mustahil menjadi begitu mudah dieksekusi hanya dalam hitungan menit.

Begitu juga dunia produksi musik. Perangkat lunak komputer untuk proses rekaman makin mempermudah penggunanya. Keterbatasan teknis yang tadinya menjadi tembok pemisah antara musisi dengan musik runtuh sudah. Terbuka jalan selebar-lebarnya untuk berkreasi musik tidak hanya di studio, tapi bisa portable dengan piranti laptop.

Semua kemudahan fasilitas ini sudah tersedia dan bisa di akses oleh siapa saja. Semua bergantung kepada penggunanya untuk mendorong kemungkinan tadi ke titik terjauh. Progresi teknologi digital menempatkan semua orang di seluruh penjuru dunia dalam level paling demokratis. Setidaknya, di sini tidak ada lagi batasan lokasi, ekonomi, umur, ras, atau gender.

Fakta tersebut menunjukkan teknologi bisa digunakan siapa saja. Namun, yang membedakan bergantung pada penggunanya. Instrumen dan teknologinya sama, tapi ada elemen krusial yang dibutuhkan supaya kompetensi menggunakan tools dan medium digital agar dapat menguntungkan secara material dan finansial. Diperlukan bakat untuk bisa mentransformasikan kompetensi menjadi komoditi.

Semua orang bisa pakai gadget, tapi tidak semua orang punya bakat. Semua orang bisa berkarir di bidang kreatif, tapi yang bisa membuat pelakunya bertahan lama adalah bakat. Pastinya harus ada elemen konsistensi juga.

Apapun bakat kamu: musik, melukis, menggambar, menulis, memasak, akting, olahraga, apapun itu, akan menjadi modal utama untuk menembus tangga karier. Bukan tidak mungkin, buat kamu nanti untuk mencapai titik dalam dunia iklan kreatif yang sudah saya geluti selama hampir 17 tahun ini, bisa kamu capai hanya dalam beberapa tahun.

Fenomenanya sudah terjadi. Lima tahun belakangan, sudah banyak Creative Director (yang notabene setingkat dengan saya) dalam industri periklanan yang umur nya masih 30-an bahkan 20-an akhir. Generasi pekerja kreatif ini ngebut membalap profil pekerja tua seperti saya dalam hitungan tahun saja. Melesat melompati anak tangga karir dengan cepat dibantu informasi dan teknologi digital dengan bahan bakar bakat kreativitas. Dicampur dengan dorongan passion tinggi dan konsistensi, maka kesempatan untuk ikut bergulir dalam jalur karir tergelar dengan lebar.

Sekarang mari kita liat dalam peta industri musik dan seni. Kalau diteliti, setiap minggu, bermunculan nama musisi atau band baru menawarkan bakat yang sudah terpoles teknologi. Semuanya datang dengan tingkat bakat tinggi dibarengi semangat dan konsistensi. Semuanya bagus. Lalu terjadi letusan fenomenal yang tidak terelakkan: tiba-tiba saja menyeruak nama seperti Brian Imanuel Soewarno yang lebih dikenal dengan Rich Brian. Di awal tahun 2016 menggebrak dengan single “Dat $tick” yang terdengar slick, proper dan sangat profesional ibarat track hip-hop rilisan Def Jam.

Track ini bikin geger karena inilah karya anak umur 17 tahun asal Jakarta yang mempelajari teknik rap berbahasa Inggris dan memproduksi lagu secara otodidak hanya dari YouTube. Dari titik awal ini, kita semua tahu bagaimana perjalanan karier Rich Brian setelahnya. Berhasil menembus industri musik dunia dan bisa hidup dari musik. Saya tidak akan kaget kalau nanti akan bermunculan ‘Rich Brian’ lain yang akan meroket dengan bakat luar biasa dalam format lain juga.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

WOW. WHAT A NIGHT ???? @brianimanuel

A post shared by 88rising (@88rising) on

Jadi persepsi kalo tangga karier harus didaki melalui pintu korporasi atau kerja kantor berlatar belakang akademis sepertinya sudah berakhir. Buat kamu yang baru akan memulai langkah karier, coba kenali dulu bakat terbesar kamu. Bisa jadi, currency karier itulah yang valid, kalo kamu jalani dengan konsisten dan passionate.

Apapun bakat kamu, jika diasah tajam melalui proses dengan sabar, maka pintu karir perlahan akan terbuka. Ini juga akan menjadi komoditas yang bisa diuangkan, lalu menjadi profesi dan penghasilan utama. Saat sudah di posisi ini, kamu sendiri yang akan mengatur strategi manajemen bakat dan pengembangannya dengan berbagai inovasi.

Buat yang sudah berumur sekalipun (seperti saya), tidak ada istilah terlambat. Justru sangat jauh dari garis finish. Bakat tidak mengenal waktu. Kaitannya irelevan. Setua apapun umur seseorang, kalo ia mau beradaptasi dengan teknologi dan medium baru, ia akan punya kesempatan sama dengan siapapun atau dalam umur berapapun.

Saya baru saja memutuskan untuk resign dari posisi sebagai Creative Director di sebuah instansi periklanan multinasional, hanya karena menemui titik jenuh dan tiba-tiba tersadar belum pernah memberi kesempatan untuk mendorong potensi bakat pribadi. Saya belum mempunyai rencana konkret, tapi apapun itu, akan mencoba mendorong bakat saya sejauh dan sebaik mungkin. Kita berada di era saat bakat yang dimiliki adalah komoditas. Bakat adalah produk unik kongkrit dengan nilai currency tinggi. Di titik inilah, setiap orang punya nilai tukar yang berbeda, tergantung sejauh mana kamu berkreasi dan meningkatkan nilai tersebut.

*Semua foto diambil dari Unsplash

0 COMMENTS
  • Ricko13

    Mantabs

Info Terkait

supernoize
1217 views
supershow
683 views

Rich Brian Bakal Beraksi di Jakarta

supershow
726 views