Che Cupumanik: BAND LO DIANGGAP ENGGAK PENTING? DI ERA KEPO, LO HARUS POSTING

  • By: Che Cupumanik
  • Rabu, 6 January 2016
  • 37855 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Masih inget banget, gue pernah bikin acara grunge dan saat meeting terakhir dengan pihak sponsor, mereka mengungkapkan keraguan setelah ngeliat daftar band yang gue ajukan untuk meramaikan acara. Diam-diam mereka mengamati semua daftar band yang akan tampil, salah satu pihak sponsor melempar pertanyaan: Che, ini dari 20 band yang lo ajukan, ada sekitar 10 band kita enggak tau, ini band apa? Nyari video klip-nya di Youtube enggak ada, trus Fan page-nya di Facebook juga enggak ada, ada beberapa band cuma ada profilnya di Twitter, dan jumlah follower-nya baru 50 orang kurang, ini gimana Che, yakin lo band ini bisa datengin massa?.

Biasanya gue sanggup ngejawab semua pertanyaan pihak sponsor, bahkan bisa meyakinkan mereka untuk menggelar acara, dan sanggup menjelaskan apa saja keuntungan yang bisa didapatkan pihak sponsor dalam beberapa kali meeting, tapi saat mereka mempertanyakan hal itu dan membeberkan data hasil pengamatan mereka, gue bungkam.

Padahal band-band grunge lokal yang gue ajak itu adalah band grunge generasi awal yang masih eksis dan rata-rata udah punya album. Tetapi gue ngerti, dari sudut pandang sponsor itu bukan ukuran pertimbangan yang menguntungkan mereka. Yang mereka mau secara data, band yang akan meramaikan acara punya massa dan catatan fanbase-nya bisa mereka liat melalui sosial media.

Di luar pertimbangan itu mereka ragu. Lalu muncul pertanyaan, apa hubungannya pengalaman cerita di atas dengan judul yang gue tulis? Secara gamblang semua jadi jelas, di mata sponsor, band lo enggak penting, kalau band lo sulit dicari di sosial media. Pengalaman itu menohok buat gue, sekaligus jadi pelajaran berharga, emang terdengar kejam sih. Ternyata di era digital, kalau band lo enggak bisa ditemui secara online, lo atau band lo akan dianggap enggak ada, dianggap enggak eksis dan lebih parah muncul kesan enggak penting.

Tapi kita harus mengakui, di era ketika semua orang sibuk dengan rutinitasnya, mereka tak punya waktu nonton semua hal secara real time (langsung), era digital telah menciptakan kultur searching. Dan saat terjadi gunjing hangat, atau isu heboh, banyak orang tak sempat menyaksikan TV, pasti segera membuka Google atau Youtube untuk mengamati kejadian.

Begitu juga saat penasaran ingin tau informasi sebuah band, bayangkan kalo kita sangat minim jarang mem-posting apapun di dunia maya, orang tak akan menemukan apapun, band lo selesai kalau karya lo, video klip lo, video live show lo enggak muncul di Youtube, lagu lo enggak ada di Reverbnation, atau Soundcloud. Karena itu bagi band yang sadar peran besar internet, mereka selalu menyiapkan content (bahan) untuk bisa di-posting mengenai band-nya, mereka sadar bahwa mereka harus mudah dicari dan lebih dari itu selalu menawarkan sesuatu yang baru sekaligus menarik di internet.

Bagi seorang musisi, salah satu rintangan besar yang harus diatasi, pasti seputar atensi. Bagaimana caranya band gue dapet perhatian konsumen?; bagaimana caranya karya gue enggak dicuekin penggemar?; berkarya sebagus mungkin demi tak diabaikan media. Di era digital, internet adalah tempat virtual dan jalan raya maya yang dihuni banyak orang, internet menawarkan segunung atensi publik.

Kalau kita cukup aktif, udah banyak musisi yang ngerasain manfaat besarnya, menjalin keakraban dengan penggemar, membangun hubungan dengan EO atau wartawan musik, mendapat inspirasi dari musisi lain, saling mengamati karya, saling mencuri ide, membangun percakapan di sosial media, mengabarkan aktivitas band, semua itu dapat merawat perhatian, upaya itu memanjakan penggemar untuk selalu terhubung. Sosial media tempat sempurna bagi kebutuhan itu.

Sejujurnya itu yang sudah dan akan terus gue lakuin setiap hari. Di Facebook gue cukup aktif mengemukakan opini gue tentang banyak isu hangat di masyarakat, lalu mengabarkan aktivitas band, membangun percakapan, bertanya dan berbagi cerita dengan penggemar. Di Path gue menjalin pertemanan dengan musisi, wartawan, eo dan teman-teman dekat. Sesuatu yang lebih personal sering gue posting, seperti foto liburan gue sama istri dan anak, membocorkan karya baru meski dalam proses, berbagi informasi sumber inspirasi, cerita sumber pengaruh, berbagi musik apa yang lagi didengerin. Di Instagram gue sering berjualan merchandise band, dan bahkan gue rajin posting ulang foto berbagai penggemar yang pamer memakai kaos band Cupumanik. Di Twitter lebih banyak posting jadwal manggung. Di Youtube unggah video konser Cupumanik atau Konspirasi.

Pertanyaannya, dapatkah perhatian dari sana? Jawabannya dapet banget. Itu bisa diukur dari: jumlah friends request yang ketuk pintu ingin berteman, jumlah followers yang menguntit. Terbangun interaksi intim yang terjalin, kesan yang tertanam di benak publik, jumlah viewers di Youtube yang meluas, tawaran manggung dan transaksi penjualan merchandise terjadi di sana. Sosial media pada intinya adalah catatan harian, untuk mengemukakan pikiran dan membiarkan orang lain mengemukakan tanggapan, tempat yang besar gunanya kalau kita ingin mendapatkan reaksi, respon, komentar atau kritik terhadap karya kita.

Seperti yang dikatakan Wayne White: ‘Sekali-kali kita perlu tahu pandangan orang tentang kita, tentang karya kita, agar potensi muncul’. Bikin beberapa akun di sosial media, dan punya banyak bahan untuk diposting, bisa dibilang itu sudah jadi investasi besar, lo bisa berekspresi dan berbagi karya. Sosial media bisa dikontrol, akun tak bisa diambil alih orang lain, dan di atas segalanya, kalau lo sering posting, semua warga digital di dunia, dapat selalu nemuin band lo. Gue dulu memperlakukan sosial media sebagai alat promosi band, tapi setelah tau manfaatnya, sosial media adalah mesin penemuan diri bukan hanya promosi diri.

[pagebreak]

Mari kita bicara dunia kepo, dunia para tukang ngintip, dunia tempat orang doyan cerita, dunia orang ingin tau berbagai hal. Rasanya kita semua perlu bertanya pada diri sendiri, ‘kita termasuk orang yang kepo enggak?’, jawabannya ya, itu terbukti karena gue juga nge-follow orang media, mengamati timeline para penulis, para pakar, para dosen dan sastrawan di Twitter, gue mengajukan pertemanan dengan musisi di Path, Facebook atau Instagram.

Gue adalah si kepo yang ngintipin idola. Gue curi ide dari mereka, gue pengen tau apa yang mereka rasa, apa yang mereka pikir, gue mengamati dan mencermati saat musisi idola bercerita dan berbagi pengalaman hidup atau mengajarkan ilmu dari keahliannya. Terbukti benar apa yang dikatakan Blake Butler: ‘Jika ingin punya penggemar, kita harus meresapi jadi penggemar idola kita, bila ingin diperhatikan, kamu harus memperhatikan’. Gue rasa kalimat itu wajib tinggal lama dikepala gue.

Melalui tulisan ini, sebenarnya gue lebih suka bicara sesuatu yang nyata terjadi. Daripada melulu menjejali teori. Gue ingin cerita beberapa hal yang mengejutkan terjadi, sejak gue punya akun di internet, sejak gue sering posting sesuatu di  sosial media, gue sering mengalami respon yang tak terduga. Gue pernah sedang nyetir mobil, dan istri melakukan selfie, dia bilang: ‘Beyb, kamu jangan liat kamera yah, bahaya kamu nyetir aja, aku mau foto’, setelah ambil gambar dia posting di Instagram-nya, dalam hitungan detik dia dapet respon dari follower-nya, dan berkomentar: ‘Hallo mba, mau kemana nih?, eh mba itu Che kalungnya udah ganti lagi?’.

Dia disapa penggemar Cupumanik, yang juga menguntit istri, dan bahkan gue enggak sadar kalau sedang pake kalung baru. Ini bukti mereka ingin tau segalanya. Dalam kisah yang lain, ada personil band besar di Indonesia, gue enggak pernah tatap muka, enggak pernah jabat tangan, enggak pernah ketemu di dunia nyata sebelumnya, akhirnya berteman di Path, dan yang mengejutkan dia sering pijit tombol love di status yang gue tulis. Begitu bertemu dia sangat ramah dan bahkan bilang akan ngajak gue suatu saat untuk kolaborasi.

Cerita yang lain, gue berteman di Path dengan salah satu solois cewek dan juga salah satu diva besar di Indonesia. Dan di dunia nyata gue enggak pernah berkenalan, bersalaman apalagi ngobrol langsung. Di suatu momen, band gue ‘Cupumanik’ sedang merekam, mengumpulkan dan mem-posting banyak video ucapan atas rilisnya album ‘Menggugat’. Dia salah satu yang gue minta memberi ucapan, dan yang mengejutkan, dengan inisiatifnya sendiri, dia bukan cuma mengirimkan video ucapan dirinya, dia mengumpulkan tiga video lain, merekam public figure teman-temannya dan ikut memberi ucapan atas rilisnya album.

[bacajuga]

Buat gue ini sesuatu yang mengejutkan, ini keajaiban yang diberikan sosial media. Dan gue rasa mungkin karena di sosial media gue sering membangun narasi, membangun percakapan, sering mencurahkan bunyi perasaan. Begitupun sebaliknya, gue masih nge-follow para penulis yang gue suka di Twitter, karena mereka terbuka, berbagi cerita, menulis kenyataan, menyampaikan hal yang jujur, bercerita dengan wibawa dan penuh penghargaan pada pembacanya, tidak membual dan menyampaikan fakta. Kadar rasa percaya gue muncul, simpati dan respect juga hadir, karena terpengaruh oleh status yang mereka sampaikan. Gue jadi merasa lebih dekat, karena mereka mengizinkan gue masuk ke alam pikiran dan perasaan mereka.

Terakhir, gue akan berbagi pengalaman, gue pernah ditanya begini sama teman: Che gimana sih cara biar deket sama wartawan musik dan membangun relasi di sosial media sama mereka? Che kan dulu orang media dan juga musisi’. Gue cuma bilang, semua balik lagi pada karya yang bagus, gue kenal sama banyak wartawan musik, ya awalnya karena dipicu rilisan album dan mereka memberi apresiasi, dari sana gue kenal mereka dan menjaga hubungan melalui sosial media.

Mengenai hal ini rasanya gue perlu mengutip pernyataan bagus dari Steve Albini, produser keren yang memproduseri album In Utero Nirvana, dia bilang: Koneksi tidak ada artinya, banyak orang lebih banyak membuang waktu dan energi untuk menjalin relasi ketimbang berkarya sebaik mungkin, padahal berprestasi adalah satu-satunya cara memperoleh relasi dan koneksi. Hidup ini memang menyangkut siapa kenalanmu, tapi itu sangat tergantung pada siapa diri kita’.

Gue 100% setuju dengan kalimat itu, intinya berkaryalah dulu yang bagus, bergunalah dulu, bermanfaatlah dulu buat orang lain dari semua yang lo posting, karena kalau sekedar bikin akun dan posting sih mudah dan prosesnya cepat, tapi menjadi musisi yang lebih menarik, jadi orang yang pandai bercerita, sehingga orang mau berteman dan follow kita, itu hal yang selalu gue asah.

OK, selamat tahun baru ya, salam gemilang. Tulisan ini gue tutup dengan pernyataan dari William Burroughs, biar band kita bukan sekedar penting tapi interesting: ‘Bangun nama baik, usahakan tetap bersih, jangan berkompromi, jangan melulu membicarakan uang, utamakan berkarya yang bagus, jika sudah bisa membangun nama baik dan karya yang bagus, uang akan menyusul’.

Foto: dok. Radio Show TV One, thrillist.com, mashable.com, telegraph.co.uk, digilive.co.id, rudolfdethu.com, stereogum.com

5 COMMENTS
  • imafathia_bymankind

    kereeeen

  • imadzuhdi

    Go go go

  • abi

    keren bro

  • ajikawan

    Salam kenal bro

  • Mipox

    Semangat bang che terus tunjukan karya-karya terbaikmu http://mipox.heck.in/freak.xhtml

Info Terkait