Riki Noviana: BENCANA DATANG, MUSISI NGGAK TINGGAL DIAM. BAGAIMANA DENGAN KITA?

  • By: Riki Noviana
  • Jumat, 13 November 2015
  • 3833 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Kabut asap akibat pembakaran hutan di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan yang kerap berulang setiap tahun terus mengakibatkan banyak korban jiwa. Berkaca pada peristiwa tersebut, berbagai acara berlabel ‘charity’ dengan tema “Melawan Asap”, “Menolak Asap”, dan sejenisnya digelar hampir setiap pekan di Jakarta. Salah satunya adalah acara amal bertajuk "Burning Indonesia" yang dihelat di Foodism Kemang, Jakarta pada 21 Oktober 2015 yang menghadirkan Melanie Subono sebagai narasumber dan penampil utama. Tak hanya Melanie, acara yang digagas oleh para wartawan berbasis Jakarta tersebut juga menampilkan sejumlah band seperti Play, Red Revolver Punk, PopOut, serta DJ Stroo Roxk dan DJ Oppie.  

Acara amal di atas hanyalah sebagian kecil dari banyaknya acara sejenis yang digelar di Tanah Air demi mengurangi derita sesama. Di luar negeri, proyek semacam ini sudah ada sejak dulu. Pada 1984, Bob Geldof dan Midge Ure mendirikan sebuah supergrup Britania dan Irlandia yang bergerak di bidang amal bernama ‘Band Aid’ yang penjualan rekamannya digunakan untuk menanggulangi kelaparan di Ethiopia. Pada 13 Juli 1985 sebuah pergelaran musik rock secara kolosal bernama ‘Live Aid’ kemudian digelar dan berhasil mengumpulkan dana sebesar 150 juta pound.

Terilhami oleh Band Aid, Harry Belafonte terdorong untuk melakukan proyek sejenis di Amerika Serikat. Bersama Lionel Richie, Michael Jackson, Stevie Wonder, dan Quincy Jones, Belafonte lalu membentuk ‘USA for Africa’, kelompok artis terkenal AS yang menelorkan singel “We Are the World” pada 1985. Keuntungan dari penjualan singel tersebut kemudian diserahkan pada ‘USA for Africa Foundation’ untuk penanggulangan kelaparan dan penyakit di Afrika.

Entah latah atau terinspirasi, setelah itu lahir proyek-proyek amal semisal “Cantaré Cantarás” oleh Hermanos di Amerika Latin, “Nackt im Wind” oleh Band für Afrika di Jerman, “Ethiopie” oleh Chanteurs Sans Frontiere di Perancis, “Tears Are Not Enough” oleh Northern Lights di Kanada, “Sammen for Livet” oleh Forente Artister di Norwegia, “Stars” oleh Hear ‘n Aid (dari kumpulan musisi heavy metal internasional), “Voices That Care” (singel amal dari musisi pop, artis, dan atlet), “Tears Are Not Enough” (singel amal Kanada), “What More Can I Give” (singel amal untuk korban Serangan 11 September), “That’s What Friends Are For” (direkam untuk disumbangkan ke amfAR), dan “Stop the Madness” (lagu anti obat terlarang yang disponsori Presiden Ronald Reagan).

Jika mundur jauh ke dekade ’70-an, sebenarnya George Harrison (The Beatles), Eric Clapton, dan Leon Russel sudah pernah menggelar acara sejenis bertajuk “Concert for Bangladesh” pada 1971. Selain itu konser amal bertema “Concerts for the People of Kampuchea” juga pernah dihelat di Inggris pada 26-29 Desember 1979. Konser amal yang diprakarsai Paul McCartney bersama dengan UNICEF ini menghadirkan nama-nama besar seperti The Who, Queen, The Clash, Elvis Costello and the Attractions, Pretenders, tiga dedengkot Led Zeppelin (Jimmy Page, John Paul Jones dan Robert Plant), dan Paul McCartney And The Wings. Namun entah kenapa, dua konser amal tersebut kalah popular dibandingkan ‘Live Aid’.

[pagebreak]

Di Indonesia sendiri, proyek amal kali pertama digagas oleh James F. Sundah - pengarang lagu “Lilin-lilin Kecil” - lewat “Suara Persaudaraan” yang menghasilkan sebuah album kompilasi. Tahun 1989 album keroyokan bernama “Rock Kemanusiaan” yang menghasilkan hits “Katakan Kita Rasakan” kemudian menyusul yang dilengkapi dengan gelaran konser berjudul sama di Ancol, Jakarta. Seluruh penjualan tiket konser yang menampilkan Achmad Albar, Iwan Fals, Gito Rollies, Ikang Fawzi, Reni Jayusman, Nicky Astria, dan Anggun C. Sasmi itu disumbangkan kepada Palang Merah Indonesia (PMI). Barangkali konser inilah yang kemudian menginspirasi konser dan proyek amal lainnya di Indonesia hingga saat ini.

Kendati begitu, nggak semua musisi setuju dengan konser amal semacam ini. Musisi papan atas Dwiki Dharmawan beberapa tahun lalu pernah mengatakan di salah satu surat kabar bahwa konser amal untuk menggalang dana bagi korban bencana alam terkadang nggak efektif, karena biayanya bisa lebih besar dibandingkan dengan hasil konser. Menurutnya, ide spontan justru lebih  baik. Meskipun Dwiki punya cara yang berbeda, yang lebih penting adalah niat tulus dalam membantu sesama. Yang susah, bagaimana caranya menghilangkan sifat licik dan pemikiran nggak bermutu bangsa kita setiap kali musibah terjadi. Mata dan gendang telinga kita seringkali dijejali pertunjukkan korup tiap kali ada bencana. Beberapa pihak selalu ingin memanfaatkan kesempatan dan nggak mengindahkan nilai-nilai kemanuasiaan yang adil dan beradab.

Sebagai contoh, salah satu wartawan musik senior sekaligus mentor saya - Denny MR - pernah bercerita. Dalam sebuah acara amal bagi korban gempa Padang pada 2009 lalu, salah satu temannya menyerahkan gitar kesayangnnya untuk dilelang. Namun beberapa hari kemudian dia mendapat kabar bahwa panitia pertunjukkan amal tersebut tidak menyumbangkan semua hasil pertunjukan itu dan bahkan saat dihubungi mereka sudah mengganti semua nomor telepon genggamnya. Edan! Bencana alam di Indonesia yang seharusnya mendapatkan empati malah menjadi lahan bisnis dari sekumpulan orang-orang berotak nggak bermutu.  

Apa yang dilakukan unit pop rock pendatang baru asal Bogor, Play mungkin bisa dijadikan contoh kecil yang bermutu. Meski bukan yang pertama, membuat rekaman singel dan menyumbangkannya kepada Greenpeace untuk dijadikan salah satu penghias kegiatan organisasi lingkungan global tersebut merupakan bentuk kepedulian nyata. Meski tidak 100 persen memulihkan rasa sakit akibat bencana, namun apa yang dilakukan Iman (vokal), Shena (gitar, Kesna), Abaow (gitar, additional Kotak), Abud (gitar, Cemen Jawa), Helvi (bass, eks Khabut dan additional Seurieus), dan Satria (dram, eks Juliette) melalui lagu “Indahnya Dunia” diharapkan bisa mengingatkan manusia untuk tidak berbuat keji terhadap lingkungan sekitar. 

Kini, saatnya menyisihkan sedikit rejeki yang kita miliki untuk membantu korban bencana yang sedang mengalami kesulitan. Jika tidak bisa menyumbangkan sesuatu melalui jalur musik seperti para musisi, kita bisa melakukannya dengan cara lain. Ya, lebih baik melakukan pergerakan yang bermanfaat ketimbang menjadi banci media sosial yang kerjaannya mengutuk pemerintah yang (memang) lambat. Karena itu jauh lebih penting.

[bacajuga]

Foto: aktual.com, bbc.com, musicstack.com, blog.act.id

0 COMMENTS

Info Terkait

supergears
2933 views
superbuzz
4941 views