Cerita-Cerita di Balik Ilustrasi Unik Merchandise Band Indonesia

Cerita-Cerita di Balik Ilustrasi Unik Merchandise Band Indonesia

Bagi fans musik, mengoleksi rilisan fisik, menonton konser dan memakai t-shirt band atau artis favoritnya adalah sebuah kebanggaan. Bahkan bisa dikatakan menjadi identitas. Memakai kaos Iron Maiden dengan bangga berarti sekaligus menunjukan dirinya sebagai Trooper, sebutan bagi fanatik band heavy metal punggawa pesawat Ed Force 1.

Meski, kadang merchandise ini sekedar digunakan karena tren tanpa mengerti kaus yang dipakainya. Seperti saat Kendall Jenner, yang kemungkinan besar tidak tahu musik Slayer, memakai kaus band thrash metal yang akan pensiun ini. Sontak aksi itu dibalas gitaris Gary Holt yang memakai t-shirt bertuliskan 'Kill The Kadarshians' di panggung.

Ilustrasi t-shirt juga menjadi media amplifikasi pesan. Seperti saat pemilihan presiden di Amerika Serikat tahun 2016, band thrash metal asal Richmond Virginia, Municipal Waste dan unit grind bertopeng Brujeria merilis kaus menentang menentang Donald Trump.

Tidak bisa dipungkiri, kaus band menjadi salah satu merchandise yang sangat diburu dan sumber pendapatan bagi artis/band. Di Indonesia dan di belahan bumi lain, merchandise band rock/metal lebih menjual daripada band genre lain. Kita sering melihat kaus Deadsquad, Seringai, Burgerkill, Jasad, dan band cadas lain dipakai di seluruh penjuru negeri.

Dari ratusan, bahkan mungkin ribuan merchandise band yang beredar di pasaran, ada beberapa yang memiliki jenis dan desain unik. Di luar kebiasaan yang berlaku. Seringkali, malah menembus angka penjualan fantastis. Berikut ini beberapa merchandise band musik keras Indonesia yang cukup nyeleneh:

1. Seringai - Seringai x Raisa

Bicara musik rock/metal di Indonesia tidak bisa lepas dari Seringai. Kuartet asal Jakarta ini sukses menancapkan kuku di industri musik tanah air. Fans mereka, Serigala Militia, tersebar merata dari Sabang sampai Merauke. Tidak heran album, konser dan merchandise mereka selalu diserbu.

Arian13, vokalis Seringai, dikenal sebagai ilustrator handal yang sering mengerjakan ilustrasi untuk bandnya dan juga band lain. Beberapa ilustrator handal seperti Anggareza Adhitya, Jahlo Gomes dan lainnya sering mengerjakan ilustrasi Seringai. Di satu sisi, ‘Lencana’ adalah salah satu merchandise band yang paling fenomenal. Namun, ternyata merchandise Seringai yang paling laris dan terjual hampir 10.000 helai adalah kaus Seringai x Raisa.

Sebuah angka yang luar biasa dalam sejarah penjualan merchandise band independen di Indonesia. Saya menelpon Arian untuk sedikit mengupas cerita di balik kaus kolaborasi ini. Kata Arian, kolaborasi ini sama sekali tidak direncanakan dan terjadi spontan begitu saja. Foto Raisa yang ada di kaus itu adalah karta fotografer Ardianto saat dia diajak Seringai menyanyikan “Indonesia Raya” sebagai pembuka konser Metallica di Jakarta, 2013. Kemudian foto itu diunggah dari akun Twitter gitaris Ricky Siahaan, dan Raisa membalasnya dengan bercanda, “Support band papa”, tulis Raisa.

Namun entah mengapa, malah gosip Raisa adalah anak Arian justru semakin liar, hahaha. Berselang hampir dua tahun kemudian, Seringai terpikir untuk merilis foto itu menjadi t-shirt kolaborasi. Setelah sepakat dengan Boim, manajer Raisa, akhirnya t-shirt Seringai x Raisa dirilis dan meledak di pasaran sampai sekarang. Band metal yang gahar berpadu diva pop yang cantik; hasilnya joss!

2. Koil - Negara Bodoh Yang Sangat Aku Bela

Kaus ini dirilis tahun 2009 dan menjadi merchandise best seller Koil. Band goth-industrial asal Bandung ini dikenal dengan merch ilustrasi bergaya cult. Hampir sebagian besar desainnya dibikin gitaris Donnijantoro, termasuk ilustrasi yang diambil dari penggalan lirik lagu “Sistem Kepemilikan” ini.

Saya menghubungi Doni di sela rekaman album baru Koil. Menurut Doni, ide kaus ini terlintas begitu, terinspirasi dari pengalaman masa kecilnya saat pelajaran menggambar. Sebagian besar dari kalian tentu pernah menggambar pemandangan dengan dua gunung lengkap dan matahari, sawah serta rumah.

Doni sempat mencari tahu, ternyata gaya menggambar itu masih ada di era ini. Kemudian dia mereka ulang prosesnya dengan photoshop dan meminta Al, anak J.A. Verdiantoro/Otong vokalis Koil, untuk menulis seperti di buku pelajaran tulis menulis. Kemudian Doni memindai gambar itu, sehingga termasuk logo perusahaan buku tulis di sisi belakang ilustrasinya.

Awalnya Doni sempat terpikir untuk menggunakan desain belakang dengan tulisan hukuman anak sekolah di papan tulis. Namun, ia merasa desain ini akan susah diaplikasikan ke kaus. Doni sempat ragu dengan desain ini karena sangat keluar jalur Koil, tapi personil lain malah bersemangat merilisnya.

Saat ditelaah lebih dalam, sebenarnya ilustrasi ini sangat sesuai “Sistem Kepemilikan” dari Blacklight Shines On (2007). Doktrin ini yang sudah mendarah daging sampai sekarang, tanpa disadari kita pun setuju. Merchandise ini sampai sekarang terjual lebih dari 8000 kaus, mengalahkan penjualan kaus Megaloblast yang lebih dulu laku di pasaran. Bahkan, Koil seringkali menghentikan cetak ulang kaus ini agar edisi yang lain laku. Selamat rekaman Koil, album baru kalian ditunggu dengan penuh harap.

3. Rajasinga - Kokang Batang

Trio grindcore ugal-ugalan asal Bandung, Rajasinga, memang dikenal dengan artwork keren, di album maupun merchandise. Dua personil Rajasinga, Indra Wirawan ‘Morgg’ dan Revan Bramadika adalah ilustrator handal bagi banyak band dan Rajasinga. Beberapa kali mereka berkolaborasi mengajak ilustrator lain untuk mengarap merchandise bandnya. T-shirt ‘Nevergrind’ garapan Riandy Karuniawan, adalah plesetan cover album legendaris Nirvana.

Selain itu, artwork Rajasinga yang unik dan keren adalah ‘Kokang Batang’. Single album Rajagnaruk (2011) ini bercerita tentang (maaf) onani, sementara aransemen dan liriknya dibikin hanya dalam waktu 5 menit oleh gitaris Biman Amirysyano. Saat diwawancara Terlaknat Zine, Rajasinga mengaku single adalah lagu yang murni, tanpa neko-neko dan jujur sekali komposisinya.

Saya kemudian menghubungi Revan untuk memperoleh cerita lebih lanjut. Menurutnya, saat Rajasinga ingin mengangkat lagu ini menjadi ilustrasi langsung terlintas satu nama: Mufti ‘Amenkcoy’ Priyanka. Menurutnya, Amenkcoy adalah illustrator yang paling tepat untuk memvisualisasikan “Kokang Batang”. Ilustrator handal ini juga sahabat karib mereka, jadi proses diskusinya tidak terlalu susah.

Entah kebetulan atau tidak, saat Revan menghubunginya, Amenk sedang mendengarkan album Kampungan (1991) Slank, yang tersemat lirik ‘onani, klop! Di sini pula muncul ide menempatkan logo Slank lawas di artwork ‘Kokang Batang’. Sementara, karakter di ilustrasi itu bernama Ujang Emo, yang sedang dikembangkan Amenk untuk merespon fenomena musik emo. Ilustrasi ini kemudian dicetak dalam format kaus yang langsung laris manis di pasaran. Sampai sekarang, kaus ‘Kokang Batang’ sudah dicetak beberapa kali, terjual sekitar 750 helai dan masih banyak dicari.

4. Down For Life - Doraemon

Waktunya saya bahas band sendiri, hehe. Down For Life sering merilis merchandise dengan ilustrasi seram, meski kadang ada sedikit sarkasme soal problematika sosial. Contohnya, ‘Paralelkan KeTuhanan’ (atau juga dikenal dengan judul ‘Haram’ ) karya Jahlo Gomes dan ‘Kafir’, ilustrasi karya Akmal Abdurrahman. Ada juga yang berbau sepakbola, seperti ‘Pasoepati Babi Neraka’ dan jersey ‘Down For Life FC’.

Hampir semua ilustrasi terinspirasi dari lagu Down For Life, kecuali kaus edisi ‘Doraemon’ yang terinspirasi merchandise parodi Asterix dari t-shirt band grindcore favorit saya, Noxa. Saya berpikir keras, karakter apa yang ilustrasinya bisa diparodikan dan sesuai karakter Down For Life. Kebetulan, film Doraemon Stand By Me dirilis tahun 2014 dan disambut hangat oleh kami yang tumbuh besar bersama karakter robot kucing Fujiko Fujio ini.

Saya sangat suka karakter Doraemon; dari baca komik, nonton filmnya sampai koleksi action figurenya. Ini dia! Maka ide saya untuk memparodikan Doraemon harus segera terwujud. Saya menghubungi Akmal Abdurrahman, ilustrator Yogyakarta yang sering mengerjakan ilustrasi Down For Life, Five Finger Death Punch, Beside, Revenge The Fate, juga festival Hammersonic, Rock in Solo dan Sonicfair.

Ide besarnya adalah plesetan karakter film Doraemon Stand By Me.  Down For Life dengan font Doraemon dan Stand By Me menjadi Satan By Me, sekaligus perubahan karakter Doraemon dan kawan-kawannya menjadi monster. T-shirt pertama dicetak 200 helai dan langsung habis. Sampai sekarang, t-shirt ini sudah beberapa kali dicetak dan terjual sekitar 800 helai, bahkan sempat menjadi merchandise terlaris Down For Life. Setelah itu, kami pernah merilis kaus parodi karakter Pokemon saat game-nya booming, tapi penjualannya masih kalah dari edisi Doraemon.

5. Terapi Urine - Pang Tentrem

Kalian pasti pernah melihat kaus atau merchandise band asal Bogor yang selalu lucu, unik dan nyeleneh ini. Norak, kalo kata Andry ‘Joe’ Novaliano, personil Terapi Urine. Memang konsep mereka dari awal selalu ingin membuat ilustrasi yang berbeda dengan band grindcore/punk lain. Ini sesuai dengan lirik mereka yang menyinggung masalah sosial dengan kocak. Beberapa kaus mereka yang cukup dikenal dan laris diserbu, salah satunya adalah ‘Pang Tentrem’.

Ilustrasi ini dibuat oleh teman mereka, Meidy Dwieputra. Awalnya iseng saja, untuk merespon fenomena maraknya patch dan vest di kalangan penggemar musik keras. Penggambaran Meidy adalah, meski menggemari musik keras (mungkin) sejatinya hatinya tetap lembut meleleh saat mendengarkan lagu-lagu slow tentang cinta.

Gambar awal hanya bagian belakang vest dengan tulisan “Raisa, Apalah Ati Menunggu.” Terapi Urine tertarik dengan gambar ini karena dirasa sesuai dengan konsep musik mereka. Meidy kemudian diminta untuk membuat ilustrasi bagian depan dan merilisnya dalam bentuk kaus ilustrasi yang menarik dan norak. Sekali lagi, ini menurut Terapi Urine sendiri lho, kaus ini ternyata terjual kurang lebih 400 helai.

Merchandise mereka yang juga terjual laris adalah t-shirt ‘Harta Yang Paling Berharga Adalah Metallica’. Kaus ini dibuat dalam rangka donasi untuk Limunas, sebuah program konser musik independen garapan Omuniuum.

6. Bvrtan - Batik Bvrtan

Band black metal agraris ini memang sangat unik, bahkan terbilang ajaib. Lirik mereka berbeda dengan tipikal band black metal lainnya, identitas para personilnya pun sampai sekarang masih misterius. Band yang mengaku berasal dari Desa Svkatani ini memang menyimpan banyak misteri.

Bahkan konferensi pers album terbaru mereka Gagak PancaKhrisna (2018) di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, para personil berada di balik layar seperti pertunjukan wayang kulit. Gelaran yang digarap Blackandje Records, label rekaman album ini, dibikin dengan konsep unik seperti acara rapat RT atau kelompok tani di kampung. Saya cukup kesulitan menghubungi personil Bvrtan, baik Pak Kades, Kvli Arit ataupun Penjaga Mvsholla, jadi akhirnya saya menghubungi Mitra Rizki Nanda pemilik Blackandje Records.

Menurut Mitra, merchandise kemeja batik Bvrtan ini dirilis untuk menyambut peluncuran Gagak PancaKhrisna yang dikemas dalam format box set. Kemeja batik berwarna coklat ini dilengkapi font Bvrtan dan pohon beringin terbalik sebagai logo. Box set langsung ludes dalam waktu singkat, dan bahkan kemeja batik ini dirilis terpisah karena besarnya. Kemeja batik Bvrtan ini mungkin menjadi kemeja batik band pertama di Indonesia. Sebuah ide orisinil dan sangat sesuai dengan konsep Bvrtan. Nan666is! Nesvvvv!

Itu sebagian cerita saja, masih banyak merchandise atau ilustrasi unik lainnya yang dirilis oleh artis atau band Indonesia. Jangan lupa beli merchandise band orisinal, jangan yang bajakan!

1 COMMENTS
  • dephythreehandoko

    Raisa X SERINGAI