Cerita lama dilematik label rekaman

  • By: Satria N.B
  • Senin, 31 August 2015
  • 7232 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Persoalan pilihan masuk jalur indie label atau major label saat ini sudah bukan lagi hal yang tidak perlu dibahas lebih mendalam, pertanyaan-pertanyaan yang terlintas tentang mana saja keuntungan yang akan lebih banyak didapat dari pilihan label mayor atau independen... apakah memang benar jika saya masuk label mayor saya akan mendapatkan fasilitas promosi dan penjualan kelas V.I.P ? Pada kenyataannya mungkin benefit bagi band setelah tanda tangan kontrak dengan label apapun saat ini bisa dibilang samafasilitas dan kapasitas nya. Industri musik di indonesia sudah semakin plural, kekuatan nya sudah bisa dibilang terbagi rata.Pendengar musik Indonesia pun sudah sendirinya bisa dibilang ‘terdidik’ oleh arus informasi musik jaman sekarang.

Sebut saja The S.I.G.I.T yang sejak dari awal karir nya konsisten hanya memainkan lagu ciptaan mereka berbahasa Inggris, yang pada saat itu padahal tren lagu dengan bahasa Indonesia adalah lagu yang dapat 'diterima' oleh publik , yang pada akhirnya semua fans nya begitu fanatik dengan lirik dan lagu The S.I.G.I.T. dan setiap panggung mereka di Indonesia hampir tidak pernah sepi oleh lautan manusia.

Dan The S.I.G.I.T memilih jalur Independen sejak awal.

Mereka yang leluasa, mereka yang mendapat penghargaan lebih dari penggemar-penggemarnya.

Saat ini kita nampaknya sudah semakin jarang menemui lagu-lagu melayu atau istilahnya ‘gampang dicerna’di televisi, ring back tone, atau di radio. Masa-masa kemarin, rutinitas sajian musik yang menghantui telinga di setiap media hampir kita tidak bisa luput dari kehadirannya.

Mungkin juga saat ini sebagian label rekaman saat ini meminimalisir membuang-buang budget promosi untuk band yang kurang ‘pas’untuk para generasi muda jaman sekarang.

Anak muda saat ini bisa dibilang massa yang paling potensial di industri musik, mereka rela datang ke konser, rela mengikuti timeline para idolanya, rela menyisihkan uang untuk membeli kaos dan CD, rela menyiapkan tenaga untuk menyaksikan band idolanya. “Sebarkan satu tema yang dapat memompa adrenalin mereka, dan mereka akan datang berbondong-bondong memberi dukungan dan selebrasi”.

Lantas kenapa mereka bisa begitu loyal dan seolah-olah begitu patuh pada setiap movement yang dibuat oleh band atau idola-idolanya? Sihir apa yang di gunakan oleh para panutannya? 

Musisi-musisi independen begitu bebas mengekspresikan setiap pergerakan dan mewujudkan ide-ide gila mereka, pergerakan visual grafis, video, aransemen musik serta sosial media, mereka seolah tidak mempunyai limit untuk menumpahkan itu semua. Mereka tidak perlu berhadapan dengan banyak pihak untuk memutuskan suatu gagasan, mereka tidak perlu menunggu lama untuk meng-eksekusi sebuah pergerakan. Inilah yang ditunggu oleh setiap penggemarnya, band yang produktif, yang kaya akan gagasan dan pergerakan, yang kaya akan inovasi musik dan fashion. Saat ini kekuatan sebuah band di sosial media bisa dibilang dapat mengimbangi sebuah rencana propaganda modal besar yang biasa dibuat oleh sebuah label.

Setiap langkah pergerakan sebuah band adalah proses psikologis yang dibangun di mata dan memori para penggemarnya, pergerakan-pergerakan yang menggugah dan menyita perhatian batin dan pikiran menjadikan para penggemarnya menjadi loyal dan tertanam paten.

Teka teki dan strategi propaganda sebuah band

Mungkin tidak semua band dapat membuat propaganda yang jitu atau mengena kepada publik, setiap personil band pasti mempunyai keterbatasan dan kelebihan masing-masing selain urusan musik, tapi persoalan menggali terus potensi dan interest dari sebuah band adalah tujuan yang tidak pernah berakhir . Membangun karir band juga adalah membangun 'standar selera' dari satu band tersebut, dimana 'Do and Don'ts' nya akan tercatat dengan sendirinya sebagai standarisasi keputusan untuk pergerakan-pergerakan sebuah band.

Beberapa contoh aksi propaganda yang bisa diterapkan dari sebuah band dan di sajikan secara intens :

a. Tim redaksional ; dimana kadang kita tidak harus selalu mengandalkan wartawan untuk membuat suatu berita atau kisah dari suatu kisah pengalaman maupun pemikiran dari suatu band. Tidak perlu mengandalkan personil band jika memang kurang mahir dalam masalah tulis-menulis, bisa saja menggaet seorang penulis lepas untuk mengisi blog, website atau malah mewujudkan sebuah buku.

b. tim visual ; memanjakan mata para penggemar adalah suplemen yang dibutuhkan para penggemar disela-sela mereka tidak menggunakan telinga mereka untuk menikmati karya-karya sebuah band, mungkin saat ini sudah satu kewajiban sebuah band untuk mempunyai tim visual video ataupun grafis. Visual bukan sekedar hiburan mata, bobot besarnya adalah pembentukan karakter 'image' sebuah band.

Mungkin banyak band-band yang memang tidak terlihat eksis di televisi atau media, tapi diluar sana mereka masih berkarya dan tetap mandiri dan asyik memecahkan solusi perjalanan karirnya... dan mereka bangga menjadi band-band yang besar dan belajar dijalan tanpa harus disuapi, dan bebas dari kebiri penghasilan.

 

Foto : www.brak.co

1 COMMENTS
  • Surata

    Jangan padam musik rock

Info Terkait

supernoize
824 views
supernoize
824 views
supernoize
824 views
supernoize
824 views
supernoize
824 views
supernoize
3069 views

Saat Venue Musik Gugur Perlahan