CHE CUPUMANIK: Grunge dan Tragedi Bunuh Diri

  • By: Che Cupumanik
  • Selasa, 20 June 2017
  • 39572 Views
  • 4 Likes
  • 0 Shares

Siang itu saya sedang menemani istri berbelanja, dan muncul kabar melalui aplikasi Whatsapp, bahwa Chris Cornell meninggal. Saya langsung kaget dan penasaran mencari kebenaran berita itu melalui media sosial sambil berharap itu sebuah berita hoax. Saat banyak akun media terpercaya merilis kematian itu, barulah saya kaget dan tak percaya. Saya duduk lemas, seperti baru mendapatkan kabar duka ada kerabat sendiri yang pergi untuk selamanya. Dan selang beberapa waktu dari kematian Cornell, saya diminta SuperMusic.ID untuk menuliskan sebuah analisis, ada apa dengan para vokalis grunge yang memutuskan akhiri hidup dengan tragis?

Saya langsung memancing para followers saya di Instagram dan Facebook untuk saling berbagi pandangan. Dan saya menemukan jawaban yang nyaris sama dan mengerucut, yakni secara cepat mereka menjawab: “Kurang Iman,” “Nggak punya agama,” “Buntu hati dan pikiran,” “Gak tahan sama popularitas,” “Grunge musik orang depresi” atau “Salah sendiri pake drugs.” Saya tak ingin buru-buru mengamini jawaban mereka, karena kisah bunuh diri ini jangan memancing sikap sombong kita dengan mudah menghakimi orang lain bodoh. Kita semua saling belajar untuk menemukan inti dari daya hidup. Karena banyak orang yang menjadi dewasa setelah berkaca mengambil hikmah dari kesulitan orang lain. Bukan tak mungkin kita menjadi hebat ketika bertahan dalam derita, dan justru ada orang yang rapuh begitu bahagia. Karena sebenarnya susah atau senang bukan untuk ditolak, kita setiap saat bisa belajar agar keduanya bisa taat kepada kita, dengan begitu kita semakin yakin bahwa tidak ada keadaan yang tidak memberi kita ilmu dan kesadaran baru. Jadi mari kita mulai menyelami tema ini, kita gali akar masalahnya, sehingga akan memahami, mengapa seseorang memutuskan untuk akhiri hidupnya.

 

#nyimak & #ngobrol ✍????

A post shared by Che Cupumanik (@checupumanik) on

Chris Cornell tidak dalam keadaan tertekan pada malam dia meninggal, menurut istrinya, Vicky Cornell. Dan tidak ada tanda-tanda sama sekali bahwa dia tertekan. Vicky mencoba menghubungi Chris di kamar hotelnya pada hari Kamis pagi 18 Mei 2017, tapi dia tidak menjawab. Dia khawatir dan meminta seseorang untuk memanggil keamanan hotel. Saat itulah tubuh Chris ditemukan. Vicky mengatakan bahwa Chris menyayangi anak-anaknya, karena itu dia tidak percaya bahwa suaminya akan mengakhiri hidupnya. Dan penegak hukum mengatakan, kematian Chris adalah bunuh diri yang jelas. Pengawal pribadi menemukan Chris Cornell, tengah tergeletak di lantai kamar mandi, dengan darah mengalir dari mulutnya dan seutas tali merah mengalungi lehernya. Begitulah kabar yang silih berganti datang yang dirilis banyak media yang kita baca. 

Dr. Stanley Kutcher (Profesor Psikiatri di Universitas Dalhousie) mengatakan: "Sangat sulit memprediksi seseorang yang akan atau tidak akan mengambil nyawanya sendiri, bahkan kesulitan itu berlaku juga bagi penyedia layanan kesehatan yang sangat terlatih. Mereka yang punya kecenderungan bunuh diri, terkadang bisa mengejutkan, dan itu sebuah tantangan nyata. Bahkan para ahli seringkali tidak dapat melihat tanda-tanda, apakah seseorang berisiko melakukan tindakan nekad atau tidak.”

[bacajuga]

Dan dari berita rilis berbagai media, kita mungkin sudah membaca bahwa Chris Cornell telah bergulat dengan kecanduan di masa lalunya, dan usai konser bersama Soundgarden, ia membawa Ativan pada saat kematiannya untuk mengatasi kecemasan. Dalam percakapan terakhir dengan istrinya, Chris mengatakan bahwa dia telah minum pil ekstra malam itu. Beberapa kemungkinan efek samping untuk pemakaian Ativan adalah bisa mempengaruhi suasana hati atau perilaku, memicu kebingungan, dan muncul pikiran yang tidak lumrah untuk menyakiti diri sendiri. 

Dr. Stanley Kutcher juga mengatakan: “Orang-orang dengan gangguan mental atau riwayat penyalahgunaan zat tertentu, cenderung berisiko tinggi bunuh diri. Tapi sekali lagi, ini adalah salah satu hal yang paling rumit yang bisa terjadi pada kehidupan seseorang, kita sulit menemukan apa faktor yang menjadi penyebab utamanya. Kita bisa menduga semua yang kita perkirakan, tapi kita tidak pernah tahu. Apalagi ini terjadi pada seseorang yang sering merasa menderita dalam keheningan selama bertahun-tahun. Dan bunuh diri paling sering dikaitkan dengan gangguan seperti depresi. Tetapi keadaan dan intensitas ide bunuh diri bisa berubah sangat cepat.”

Tahun 2016, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merilis sebuah laporan yang menunjukkan bahwa tingkat bunuh diri di AS meningkat sebesar 24 persen antara tahun 1999 dan 2014. Pada periode waktu yang sama, tingkat bunuh diri di antara pria berusia 45 sampai 64 tahun melonjak 43 Persen. Fakta ini menunjukkan, bunuh diri bukan gejala mental para vokalis grunge saja, ini resiko yang bisa menjerat siapa saja. Meskipun semua orang mulai semakin meruncingkan pertanyaan, ada apa atau apa yang salah dan mengapa para vokalis grunge dunia mengakhiri hidup mereka dengan tragedi yang getir?

Kita tak bisa membantah fakta, bahwa Kurt Cobain vokalis Nirvana bunuh diri dengan senapan. Cobain menderita kecanduan heroin, depresi, dan konflik besar seputar kesuksesan superstar-nya. Ia tewas di umur 27 Tahun. Pada tanggal 8 April 1994, jenazah Cobain ditemukan di sebuah ruangan di atas garasi rumahnya di Lake Washington oleh pegawai Veca Electric bernama Gary Smith. Otopsi kemudian memperkirakan Cobain tewas pada 5 April 1994. Lalu kabar duka muncul lagi, di tanggal yang sama tahun berbeda, 5 April 2002, Layne Staley, vokalis Alice In Chains meninggal karena overdosis obat terlarang. Sebagian tubuhnya yang terdekomposisi ditemukan di dalam kondominium di Seattle, setelah masa isolasi yang panjang. Ia tewas di usia 35 tahun.

Berikutnya, 3 Desember 2015, Scott Weiland, vokalis Stone Temple Pilots ditemukan tewas dalam bis wisatanya. Weiland sedang tur dengan The Wildabouts, dan ditemukan tewas di bis setelah overdosis konsumsi obat terlarang. Ia tewas berusia 48 tahun. Dan terakhir, 18 Mei 2017: Chris Cornell, vokalis Soundgarden dan pelopor grunge, bunuh diri secara tak terduga. Cornell ditemukan tewas di kamar mandi hotel MGM Grand, dengan tali di lehernya. Dia tewas di usia 52 tahun.

Sekilas, tentu dengan mudah kita bisa melihat bahwa penyebab ini semua secara nyata karena adanya episode narkoba, juga serangan depresi yang menimpa musisi berbakat. Ini sejarah kegelapan grunge atau musisi Seattle. Padahal Pearl Jam dan Soundgarden sudah berhasil melewati masa kegelapan itu, bahkan berhasil tetap eksis dan bermain di depan generasi ‘Gen X’ yang menua. Tapi sementara Mick Jagger dan Keith Richards lebih berhasil membuktikan batas atas angka kematian, dan para ikon grunge tidak sampai ke setengah jalan. Ternyata Kurt Cobain dan Layne Staley telah memberikan tanda peringatan dini. Scott Weiland bernasib sama meski mengalami reaksi yang tertunda. Dan akhirnya Chris Cornell memolesnya. Yang tersisa masih ada Dave Grohl. Beruntung Foo Fighters-nya masih sangat berfungsi, kreatif, enerjik, dan produktif. Dan juga masih ada Eddie Vedder, bersama Pearl Jam dan mereka masih terus tur, juga produktif menulis lagu dan memproduksi album.

Lanjut ke halaman dua...

[pagebreak]

Kisah tragis bunuh diri layak diberitakan, dan ditulis seperti artikel ini, karena hidup itu begitu berharga. Pada tahun 1993, seorang gadis berusia 6 tahun yang tinggal di Florida melangkah di depan sebuah kereta. Dia meninggalkan pesan/surat yang mengatakan bahwa dia "ingin bersama ibunya" yang baru saja meninggal karena sakit parah. Inilah kekuatan pikiran manusia. Seorang gadis di Taman Kanak-Kanak memikirkan masa lalu dan membayangkan masa depan yang sangat suram, jika tidak memiliki saat-saat yang berarti tanpa kehadiran ibunya, dan memutuskan untuk mengambil nyawanya sendiri. Seorang yang berusia 6 tahun merenungkan masa depan yang cukup mengerikan untuk secara fisik melompat ke kereta yang melaju. Jika anak berusia 6 tahun memiliki kemampuan kognitif untuk bunuh diri, maka kita perlu meningkatkan usaha kita untuk memahami dan mencegahnya jangan sampai itu terjadi.

Di dunia alternative/grunge, para penggemar Nirvana khususnya pasti akrab dengan surat bunuh diri yang ditulis Kurt Cobain, simak tulisannya: 

“Aku butuh sedikit rasa untuk bisa merasakan kembali kesenangan yang kupunya ketika kecil. Aku punya seorang putri yang mengingatkanku akan diriku sendiri di masa lalu. Penuh cinta dan selalu gembira, mencium siapa saja yang dia ditemui karena menurutnya semua orang baik dan tidak akan menyakitinya. Itu membuatku ketakutan sampai-sampai aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak bisa membayangkan Frances tumbuh menjadi rocker busuk yang suka menghancurkan diri sendiri dan menyedihkan seperti aku sekarang. Aku telah mulai membenci semua orang sejak aku berumur tujuh tahun. Dari dasar perut mualku yang serasa terbakar, aku ucapkan terima kasih atas perhatian kalian selama ini. Aku hanyalah seorang anak yang angin-anginan dan plin-plan! Sudah tidak ada semangat yang tersisa dalam diriku. Jadi ingatlah, lebih baik terbakar habis, daripada memudar.

Dr. Todd B. Kashdan, seorang pembicara publik, Psikolog, dan Profesor Psikologi dan ilmuwan senior di Center for the Advancement of Well-Being di Universitas George Mason, mengatakan: “Fakta-fakta yang ditemukan pantas mendapat perhatian penuh kita. Keputusasaan, sejumlah rasa sakit, dan keyakinan bahwa kematian akan mengakhiri rasa sakit adalah tema umum dalam surat-surat bunuh diri. Secara umum, orang tidak melakukan bunuh diri karena mereka kesakitan, mereka bunuh diri karena mereka tidak percaya ada alasan untuk hidup dan dunia akan menjadi lebih baik tanpanya. Orang yang bunuh diri sering harus mengatasi tekanan emosional yang intens untuk melakukan tindakan terakhir.” 

Pendapat lain yang penting juga datang dari Julie Kathleen Campbell (Direktur eksekutif, Asosiasi Pencegahan Bunuh Diri Kanada), ia mengatakan: “Pendekatan untuk menolong siapapun yang memiliki masalah kecenderungan bunuh diri, itu bisa dimulai dengan membiarkan mereka tahu bahwa Anda ada di sana untuk mau dan bersedia diajak berbicara. Katakan bahwa kita terbuka untuk mendengar rasa sakitnya, hanya kesediaan untuk mendukung mereka dalam menemukan bantuan yang mereka butuhkan.”

Di alam pikiran lain, dalam pandangan lain yang mungkin bisa dijadikan opsi dari masalah yang terjadi, tak ada salahnya kita tengok fakta yang kini tengah bergulir, menurut Prof. Dr. Nevzat Tarhan dalam bukunya Terapi Masnawi. Di Amerika, buku-buku karya Maulana Jalaluddin Rumi masuk ke dalam salah satu daftar buku puisi bestseller, dan buku-buku tersebut rata-rata diberi judul dengan ‘Meditasi Rumi’. Merebaknya kegandrungan terhadap karya-karya Rumi dewasa ini karena masyarakat pelan-pelan menyadari betapa buruknya pola hidup materialistik yang sangat berkembang pesat di tengah masyarakat. Orang semakin membutuhkan kematangan spiritual.

Membaca karya Rumi dalam ilmu kedokteran psikiatri, ada beberapa metode yang digunakan untuk menjaga kesehatan jiwa, salah satunya adalah biblioterapi. Yakni penggunaan bahan bacaan (teks-teks khusus) untuk mengatasi penyakit dan gangguan jiwa seseorang. Dalam terapi model baru ini, akal atau pikiran manusia dapat dikontrol apabila sebelumnya sudah bisa dilatih dalam situasi krisis. Pikiran manusia ketika mengalami krisis dan berada dalam tekanan dapat menyebabkan serangan jantung dan bahkan tekanan mental. Rumi melalui Masnawi mengajari kita mengontrol energi liar di dalam diri kita. Rumi gandrung dalam peradaban barat, ketika peradaban kini tengah mendewakan sepenuhnya akal. Orang kini merindukan merasakan perjalanan hati dan spiritual.

Sosiolog terkemuka dari Amerika Rodney Stark dalam bukunya yang berjudul Masa Depan Agama, menegaskan bahwa: “Masa depan tanpa agama adalah sebuah ilusi. Rasionalitas manusia tidak menjawab semua pertanyaan, kelemahan mental pada manusia tidak mampu memberikan perlindungan dalam menghadapi peristiwa keputusasaan. Segala sesuatu yang bersifat duniawi, dalam dunia yang terjerembab dalam pesta pora keduniaan, tidak akan pernah memberikan kepuasan. Pada puncak sifat individualisme, seseorang akan menderita kesepian dan ketidakbahagiaan. Modernisme era baru akan mencari cara bagaimana mendapatkan kebahagiaan dan bersamaan dengan abad ke-21, Era Kebijaksanaan telah dimulai. Jejak-jejak dasar era kebijaksanaan menjadi pilihan dan merupakan cara kerja psikologi positif.”

Baru-baru ini saya pernah diundang untuk talkshow mengenai semangat kreatif dalam proses bermusik dan berbicara dihadapan beberapa komunitas musik, dan dalam perbincangan, seseorang menyarankan pada saya: “Che, Chris Cornell bunuh diri, jangan sampe yah Che dan para vokalis grunge lokal pada ikutan bunuh diri juga,” saya bilang dengan serius, bahwa jangan pun bunuh diri, sekarang kalau menderita sakit saja saya takut, setelah punya anak, saya takut mati, saya ingin sehat. Saya ingin terus mempertahankan hidup, bahkan semut kecil yang diremehkan manusiapun akan melawan jika hidupnya terancam.

Di ujung tulisan, saya tutup artikel ini dengan perkataan hikmah dari Maulana Jalaluddin Rumi, yang mengatakan: “Jangan bersedih, orang yang memukuli karpet dengan tongkat tidaklah bermaksud untuk menyiksa karpet tersebut, tapi membersihkannya dari debu dan kotoran. Demikian juga Allah, dengan memberimu kesulitan, Dia hendak membersihkanmu dari debu dan kotoran.” 

Selamat jalan pulang Chris Cornell, Kurt Cobain, Layne Staley, Scott Weiland. Terima kasih sudah menyumbangkan karya anggun ke dunia, dan kami masih ada merawat grunge di Nusantara, itu karena kami mulai pandai memilih, dan hanya gizinya saja yang kami ambil dari kalian.

0 COMMENTS