Che 'Cupumanik': Kenali Najis Internet, Biar Produktif

  • By: Che Cupumanik
  • Kamis, 25 January 2018
  • 1854 Views
  • 10 Likes
  • 27 Shares

Saya pernah dalam suasana deadline harus segera menyelesaikan lirik lagu atau menyelesaikan tulisan artikel. Dan pada akhirnya, dua tugas itu gagal total diselesaikan sesuai waktu. Penyebabnya adalah karena ulah saya sendiri. Saya ingat hari itu sejak pagi, saya mulai menuliskan status dengan tema cukup serius dan berhasil mendapat banjir respons dari followers. Status dengan tema yang sama, kalimat yang sama, saya tulis di dua aplikasi media sosial, yakni di Facebook dan di Instagram.

Nyaris seharian penuh saya membalas komentar yang masuk satu-persatu, sambil menyelesaikan tugas bikin lirik dan artikel. Serbuan notifikasi terus berdatangan dari status itu, ditambah notifikasi yang muncul di layar ponsel saya, yang berasal dari sembilan group Whatsapp. Saat itu saya belum menyadari betul, apa yang menjadi penyebab lambannya kinerja saya dalam menyelesaikan tugas? 

Saya mulai menyadari, penyebabnya karena kebiasaan buruk kesurupan internet, terutama mabuk media sosial, dan itu sangat menguras energi. Saya jadi terbiasa menjalani kegiatan sehari-hari di luar dari apa yang saya harapkan. Dalam kondisi kebingungan saat itu timbul pertanyaan: “Apakah saya sudah sangat terlambat untuk mengevaluasi diri? Khususnya dalam mengelola waktu?”

Kondisi tak menyadari adanya gangguan, mirip dengan apa yang diungkapkan oleh Scott Belsky, “Kita hampir tak menyadari masalah-masalah yang ada di depan mata, karena gangguan-gangguan masa kini jauh lebih membahayakan, yakni berupa hal-hal kecil dalam keseharian kita, dan parahnya itu mencegah kita, mengganggu kita untuk melakukan hal-hal besar.”

Saya sangat setuju dengan opini Scott Belsky, seolah-olah notifikasi itu mendesak, padahal sebenarnya itu karena kita tidak bisa menahan diri dan sudah kecanduan. Hari ini orang bukan lagi diganggu oleh e-mail yang masuk, atau oleh notifikasi dari aplikasi media sosial, saat ini adiksi kecanduan itu ditambah lagi dengan kehadiran aplikasi game online yang menguras waktu dan konsentrasi. Sementara tuntutan hidup kita semakin tinggi melampaui kapasitas waktu yang kita punya, dan kapasitas itu adalah bahan bakar yang membuat keahlian dan bakat kita berdaya guna. Dengan kecanduan internet, sebagian besar orang telah menyia-nyiakan kapasitas mereka.

Kebiasaan buruk tak bisa mengendalikan ketagihan internet, ini mirip seperti mengambil uang di ATM tanpa pernah menabung kembali, dan tak sadar kita mulai bangkrut. Tak sadar waktu kita mulai habis dalam satu hari. Para pengedar candu ada di mana-mana, dan kecanduan internet bisa membuang waktu seharian tanpa produktif adalah menjalani hidup tanpa kemajuan.

Jauh-jauh hari ilmuwan sosial terkenal, Herbert Simon mengungkapkan pengamatannya: “Informasi dapat menyita perhatian penerimanya. Itulah sebabnya banyaknya informasi yang kita peroleh, akan membuat konsentrasi kita berkurang.” Teori ini sangat berlaku hari ini. Internet menjadi sumber pengalihan perhatian yang berbahaya. Dan banjir informasi baru, dapat tersedia kapanpun dan di mana pun berkat keberadaan ponsel pintar. Padahal perhatian kita, fokus kita adalah aset yang paling berharga di tengah arus informasi tanpa henti ini. 

Di era internet, banyak dari kita mengawali hari dengan mengecek kotak pesan. Kita dipaksa untuk merespons hal-hal terkini, membalas e-mail, SMS, twit dan sebagainya. Jika tak mau berubah, setiap hari yang terjadi adalah waktu kita yang berharga terbuang percuma, hanya demi prioritas orang lain. Sebagian besar waktu kita pun habis untuk pekerjaan reaktif. Kita hanya sibuk melayani permintaan dari orang lain, sibuk menjawab pertanyaan followers dan menanggapi komentar mereka. Akibatnya kita kehabisan waktu seharian dalam menciptakan sesuatu yang benar-benar berharga.

Mark McGuinness, pelatih para professional kreatif yang menetap di London mengatakan: “Lakukan pekerjaan kreatif dahulu, baru dilanjutkan dengan pekerjaan reaktif. Itulah satu-satunya perubahan terpenting yang bisa kita lakukan dalam rutinitas kreatif. Kita perlu mengalokasikan sebagian besar waktu untuk melaksanakan kerja kreatif demi prioritas kita sendiri, caranya dengan mematikan telepon dan menonaktifkan notifikasi atau e-mail. Bila direnungkan, seluruh keberhasilan terbesar saya berasal dari tindakan perubahan sederhana seperti itu. Terkadang hal itu membuat orang lain kecewa. Akan tetapi lebih baik mengecewakan beberapa orang karena hal-hal sepele ketimbang mengorbankan impian kita. Kita tidak harus membaca semua komentar yang masuk, pesan yang ada di inbox, jangan sampai kita mengorbankan potensi kita hanya karena ilusi profesionalisme.”

Saya kini belajar untuk bisa tegas, tak terombang-ambing daya pikat aplikasi. Karena kebiasaan mengelola waktu dengan baik merupakan faktor penting dalam mewujudkan ide. Banyak para visioner kreatif mempertahankan rutinitas harian mereka tetap produktif. Contohnya koreografer Twyla Tharp selalu bangun pagi-pagi sekali, kemudian dia pergi ke pusat kebugaran. Rutinitas seperti itu dia sebut sebagai momen pemicu. Ada lagi Pelukis Ross Bleckner pergi ke studio pada pukul delapan pagi. Aktivitas itu dia lakukan setelah sebelumnya membaca koran dan bermeditasi. Dia pergi sepagi itu agar bisa bekerja dalam suasana studio yang masih sepi. Lalu penulis Ernest Hemingway membiasakan diri untuk menulis 500 kata setiap hari.

Stephen King juga pernah mengungkapkan: “Saya menyiapkan segelas air atau secangkir teh. Biasanya saya mulai menulis dari pukul 08:00 pagi hingga 08:30 pagi. Lalu saya minum pil vitamin dan menyetel musik. Saya duduk di kursi yang sama. Saya harus melatih diri agar siap bermimpi dan berkarya.”

Penulis Haruki Murakami pernah menjelaskan pengendalian diri, dia mengatakan: “Saat saya sedang ingin menulis sebuah novel, saya bangun pada pukul 04:00 pagi. Kemudian saya bekerja selama 5 atau 6 jam. Di sore hari saya berlari sejauh 10 km atau berenang sejauh 1,5 km. Lalu saya membaca sebentar dan mendengarkan musik. Saya tidur pukul 09:00 malam. Saya menjaga rutinitas ini tanpa variasi. Repetisi ini menjadi hal penting dan menjadi salah satu hipnosis. Saya menghipnosis diri untuk dapat merenung lebih dalam. Saya memerlukan kekuatan fisik dan mental yang sangat besar untuk melakukan perulangan seperti itu dalam jangka panjang, yakni antara 6 bulan hingga setahun. Karena menulis novel panjang, seperti latihan untuk bertahan hidup. Kekuatan fisik sama pentingnya dengan aktivitas artistik.”

Latihan keberanian sementara meninggalkan ponsel, dan luangkan waktu untuk menyendiri, menjauhkan kita sementara dari akses internet, memang perlu dicoba. Simak penuturan dari Leo Babauta: “Pada tahun 1845, Hanry David Thoreau pergi ke hutan dekat Danau Walden Pond untuk menyendiri. Dia ingin merenung dan menulis di tempat itu. Dia ingin menjauh dari kesibukan dan kebisingan kota. Dia mengatakan, pergi ke hutan karena berharap dapat hidup dengan tenang, ingin memahami fakta-fakta kehidupan yang mendasar. Jika tidak bisa mengambil pelajaran dari kehidupan semacam itu, maka dia menyadari bahwa dia tidak benar-benar hidup”. Dari kisah itu semakin jelas, bahwa kita perlu mencoba meluangkan waktu menyendiri, agar kita dapat mengambil pelajaran dari kesendirian, dan dengan itu kita bisa mendengarkan suara hati. Dengan bermeditasi, menyendiri, kita dapat belajar memahami diri sendiri, dan kita akan menjadi lebih peka. 

Internet adalah paradoks yang membingungkan. Saya sering dapet tawaran job manggung dengan Cupumanik atau Konspirasi, juga tawaran jadi pembicara dalam talkshow, itu karena sering posting di media sosial dan mengungkapkan gagasan melalui status atau caption di Instagram. Tapi di satu sisi, saat mendapat banjir respons, saya sendiri kerepotan menanggapinya.

Saya yakin para karyawan mengalami hal yang sama seperti yang saya alami ini. Di satu sisi mereka dituntut untuk berfokus tanpa gangguan. Pada saat bersamaan mereka dituntut untuk selalu dapat dihubungi lewat Whatsapp, Telegram atau e-mail. Lingkaran paradoks itu menciptakan gangguan abadi terus-menerus.

Ini zaman ketika kita dituntut menolak, sekaligus menerima gangguan agar karier kita maju. Kita sedang hidup di era pertarungan antara berfokus dengan melawan gangguan. Kondisi dengan adanya ponsel di tangan dan koneksi internet di mana-mana, lingkungan kita seolah-olah dirancang untuk menggagalkan konsentrasi kita. Tak ada pilihan, kuncinya selalu tegas dan kontrol, jangan pernah melayani gangguan, jika menyerah dan membuka notifikasi yang tak penting, maka waktu terbuang percuma.

Seth Godin yang telah menulis 14 buku terlaris, mengatakan hal yang menarik: “Setiap pekerja kreatif mengetahui cara untuk menangani sifat buruk dirinya. Dia memerlukan hal itu agar bisa menyelesaikan pekerjaan. Akhirnya banyak orang berbakat yang gagal karena strategi mereka tidak tepat. Kita harus tau prioritas apa yang akan dikerjakan besok, bahkan di sepanjang hidup kita, jika kita meremehkan hal itu, sama saja kita sedang menjegal dan menyabotase diri kita sendiri.” 

Majalah WIRED pernah menulis bahwa setiap teknologi baru akan menyerang balik. Semakin canggih teknologi itu semakin besar pula kemungkinan teknologi itu disalahgunakan. Kita memang sangat terikat dengan teknologi, kita bagai para pecandu yang tersihir. Sudah tahu internet punya daya ganggu, kita malah membuat gangguan itu makin beranak pinak dengan terus saja mengunggah foto dan menulis status di berbagai media sosial, ketika sebuah pekerjaan penting harus diselesaikan.

Permasalahan yang sesungguhnya ada di diri kita. Kita bisa saja mengambinghitamkan teknologi atau membelanya mati-matian, tetapi kita harus lebih peka dalam menciptakan kebiasaan yang produktif.

Lori Deschene mengatakan tentang daya pikat aplikasi media sosial: “Media sosial mampu menarik perhatian berbagai kalangan. Sebab media tersebut memenuhi sebagian besar kebutuhan mendasar kita, termasuk rasa memiliki dan harga diri. Dengan media sosial kita merasa yakin bahwa apa yang kita lakukan itu berharga. Media sosial membantu kita untuk terhubung dan memperluas dunia kita dibandingkan sebelumnya. Kita harus berhati-hati menggunakannya demi kebaikan kita. Jangan sampai media sosial merusak kita. Saat kita sedang merasa marah, kesal, frustasi, kita cenderung mencari saluran untuk melepaskan diri dari perasaan-perasaan tersebut. Dan dari sana kita sebenarnya memperoleh sedikit aliran endorfin, saat menerima pesan baru. Endorfin merupakan hormon otak yang juga kita dapatkan setelah kita berolahraga secara intensif. Karena mengekspresikan dan membicarakan tentang diri kita sendiri, juga akan memicu pusat imbalan di otak. Hal inilah yang menyebabkan kita tertarik untuk menceritakan kegiatan sehari-hari kita di media sosial.”

Saat menyusun tulisan ini, saya sudah mengira bahwa mereka yang merancang aplikasi yang canggih pasti sekumpulan manusia visioner. Saya menemukan fakta menarik, menurut Nir Eyal dalam buku HOOKED“79% pemilik ponsel mengecek telepon genggam mereka dalam 15 menit pertama sesudah bangun tidur di pagi hari, dan sepertiga dari seluruh koresponden Amerika mengaku, lebih memilih tak berhubungan seks ketimbang kehilangan telepon genggam. Penelitian suatu universitas tahun 2011 menyatakan, masyarakat mengecek telepon genggam sebanyak 34 kali setiap hari. Namun para pelaku bisnis percaya bahwa angka yang sebenarnya lebih mengejutkan, yaitu 150 kali per hari. Dorongan yang mungkin kita rasakan sepanjang hari, tetapi tak kita sadari. Produk dan jasa yang terbiasa kita gunakan, mengubah perilaku sehari-hari, sebagaimana dimaksudkan perancangnya. Tindakan kita telah direkayasa sedemikian rupa. Bagi para perancang aplikasi, membentuk kebiasaan pengguna adalah salah satu syarat untuk bertahan. Mengingat ada banyak pesaing untuk menangkap perhatian kita. Aplikasi yang canggih terus berinovasi dan belajar menguasai taktik terbaik, untuk tetap berada di dalam pikiran pengguna. Dan kini mengumpulkan jutaan pengguna tidak lagi cukup. Perusahaan dan perancang aplikasi mulai memahami, bahwa nilai ekonomi mereka tergantung kepada kuat tidaknya kebiasaan yang mereka ciptakan.”

Journal Of Public Policy & Marketing juga menyatakan: “Ketimbang mengandalkan upaya pemasaran yang mahal, perusahaan aplikasi menggunakan metode pembentuk kebiasaan, dengan itu mereka berhasil menghubungkan jasa mereka dengan rutinitas sehari-hari dan kondisi emosi pengguna. Kebiasaan terpicu ketika pengguna bosan di tengah jam kerja dan otomatis membuka Twitter. Ketika terbesit rasa sepi dan sebelum pikiran rasional mengambil alih, mereka sudah tergoda untuk membuka halaman Facebook. Ketika suatu pertanyaan muncul di kepala dan sebelum mencari jawaban di kepala masing-masing, mereka sudah terbiasa bertanya pada Google. Mereka para perancang berlomba-lomba, bahwa solusi yang pertama muncul dalam pikiranlah yang menang.” 

Masih dari buku HOOKED karya Nir Eyal, ia menjelaskan, kekuatan dari aplikasi adalah mereka menyediakan imbalan. Imbalan bervariasi adalah salah satu alat terkuat yang perusahaan gunakan untuk menggaet pengguna. Menambah fitur dan variasi akan melipatgandakan efeknya, mengaktifkan bagian otak yang terhubung dengan keinginan dan hasrat. Jika aplikasi itu memberi banyak imbalan, pengguna mulai mengundang teman untuk bergabung, secara otomatis para pengguna membangun aset virtualnya sendiri. Imbalan semakin menarik, itu akan semakin mengikat.

Investor terkenal Silicon Valley, Paul Graham mengatakan: “Dunia akan semakin membuat ketagihan dalam 40 tahun mendatang, ketimbang yang pernah kita alami dalam 40 tahun belakang. Akses internet ada di mana-mana, yang mengirimkan data pribadi dalam jumlah yang besar dengan kecepatan yang lebih tinggi, itu telah menciptakan dunia yang lebih berpotensi membuat kecanduan. Kita belum punya waktu untuk mengembangkan antibodi terhadap hal baru yang adiktif ini. Setiap orang meletakkan tanggung jawab tersebut di bahu pengguna.”

Dari sudut pikiran yang lain, muncul pendapat dari Chris Nodder, penulis buku Evil by Design, dia mengatakan: “Tidak apa-apa menipu orang, sepanjang itu demi kebaikan mereka, atau mereka memberikan persetujuan tersirat untuk ditipu sebagai bagian strategi persuasif. Sepanjang produk bisa membantu pengguna meningkatkan mutu kehidupan mereka secara material.” 

Namun beberapa orang dalam industri apps telah mengusulkan untuk menciptakan kode etik, bagi pengguna yang melampaui pembentukan kebiasaan dan malah menjadi pecandu. Masalah kecanduan teknologi ini kian nyata. Sebenarnya perusahaan memiliki kewajiban moral dan mungkin kelak kewajiban hukum untuk memberi tahu dan melindungi pengguna, yang membentuk ketergantungan tidak sehat terhadap produk mereka. Sejauh ini yang terjadi kebanyakan orang memang belajar dan berlatih sendiri, agar memiliki kemampuan untuk mengatur perilaku mereka sendiri.

Tanpa terasa, dalam era internet mutakhir ini kita sudah berada di gelombang ketiga. Steve Case, pendiri America Online (AOL) dalam buku The Third Wave mengatakan: “Gelombang ketiga internet mulai 2016 sampai akan datang, momen ketika internet berubah dari sesuatu yang berinteraksi dengan kita, menjadi sesuatu yang berinteraksi dengan segala hal di sekitar kita. Ini berarti kebangkitan ‘Internet of Everything’, di mana segala yang kita lakukan akan dimungkinkan oleh koneksi internet, sama seperti kebanyakan hal yang bisa dijalankan oleh listrik. Internet of Everything akan berdampak di setiap aspek dalam hidup kita, dengan berbagai cara yang semakin mudah. Gelombang ketiga akan terjadi baik secara revolusioner maupun evolusioner, lebih lambat dari yang kita harapkan, tapi dengan dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.”

Di ujung tulisan, rasanya saya perlu menampilkan pendapat John Naisbitt, peramal sosial paling berpengaruh, dalam bukunya yang berjudul High Tech High Touch. Dia mengungkapkan: “Teknologi merasuki simpul-simpul kesenangan kita, baik kesenangan lahir maupun batin, tetapi kemabukan ini pun telah memeras habis jiwa kemanusiaan kita, keadaan ini seharusnya memperhebat pencarian kita akan makna. Teknologi menawarkan kenyamanan dalam kehidupan kita, dibuat terpesona oleh pernak-pernik permesinannya, dibuat tergantung karena teknologi setia menamani kita, dibuat ketagihan oleh sajian hiburannya yang tak kenal henti, dibuai oleh harapan yang dijanjikannya, dibuat terkagum-kagum oleh kekuatan kecepatannya, kitapun tengah dimabuk teknologi.”

Saat menulis artikel ini, saya juga merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres, tetapi saya pun kadang tak bisa menunjukkan dengan jelas apa sesungguhnya yang salah. John Naisbitt menambahkan, “Zona kesurupan teknologi adalah kehampaan spiritual yang mengecewakan dan berbahaya, serta mustahil keluar dari dalamnya. Di satu pihak teknologi memang mendukung dan memperbaiki kehidupan manusia, akan tetapi, mereka juga memperingatkan bahwa di pihak lain, teknologi bisa mengucilkan, mengaburkan dan menghancurkan. Perlu dibangun hubungan yang wajar dengannya, dengan cara mewaspadainya, dengan itu kita dapat mengevaluasi secara jernih relevansi teknologi yang ada sekarang. Dengan antisipasi, kita tak perlu mencemaskan masa depan. Karena kita memang harus mencintai kemajuan, merasa gembira menjadi bagian dari kemajuan dan tidak takut menghadapinya. Dengan mencintai kemajuan itulah akan muncul berbagai keterampilan yang diperlukan.”

Gagasan pemikiran John Naisbitt, menurut saya sebuah upaya merangkul teknologi sekaligus memelihara kemanusiaan kita dan menolak teknologi yang merusak kemanusiaan kita. Naisbitt menambahkan, “Perlu kita akui bahwa teknologi adalah bagian integral dari evolusi kebudayaan, sebuah produk kreatif dari imajinasi kita, akan tetapi, kita tetap mengakui bahwa seni, cerita, permainan, agama, alam dan waktu adalah mitra yang setara dalam evolusi teknologi, karena semuanya memberi santapan pada jiwa.” 

Baiklah, semoga artikel ini tak mengajak kamu menjadi paranoia pada teknologi (teknofobia), juga tak menggiring kalian untuk memuja secara membabibuta pada teknologi (teknofilia). Tulisan ini sebenarnya mengingatkan saya sendiri, untuk bisa membuat relasi yang wajar dengan internet. Jangan sampai internet mengganggu proses berkarya.

Artikel ini saya tutup dengan kutipan mencerahkan dari filsuf nyentrik Friederich Nietzsche: “Bentuk kebodohan manusia yang paling mendasar adalah melupakan tujuan yang hendak mereka capai.”

*Foto: Dokumentasi Che, New Statesman, Vice

2 COMMENTS
  • yukeren

    Bener sih biar lbh fokus!

  • Ryantambunan666

    (y)

Info Terkait

supernoize
519 views

Aldi 'Heals': Catatan Heals Menaklukkan Laneway Festival Singapore 2018

Bagi saya, tanggal 27 Januari adalah salah satu hari penting di tahun 2018, karena di tanggal...

Baca Selengkapnya
supernoize
385 views

Fadhi Perdana ‘GHO$$’: Membangun ‘Ambience’ dalam Proses Rekaman

Proses produksi rekaman adalah hal dasar yang dilakukan oleh seorang musisi ataupun sebuah band...

Baca Selengkapnya
supernoize
1029 views

Diegoshefa 'GHO$$': Benang Merah Musik dan Fashion

Sebagai seorang musisi, saya selalu percaya kalo bermusik yang baik itu harus mencakupi tiga aspek...

Baca Selengkapnya
supernoize
689 views

Reney 'Scaller': Those Early Days (Part 2)

Lanjutan dari bagian pertama ... Perlahan saya berusaha memotivasi diri untuk kembali lagi rutin...

Baca Selengkapnya
supernoize
1103 views

Reney 'Scaller': Those Early Days (Part 1)

Usia saya 14 tahun ketika ibu saya menanyakan, “Reney, kalau sudah lulus sekolah nanti mau...

Baca Selengkapnya
supernoize
1008 views

Japs Shadiq 'Indische Party': Rekam Jejak Analog Tour

Bulan Oktober 2017 lalu, Indische Party baru saja selesai menjalankan Analog Tour ke Malaysia,...

Baca Selengkapnya