Che 'Cupumanik': Ketika Musisi Lokal Buka-Bukaan Soal Groupies

  • By: Che Cupumanik
  • Selasa, 31 October 2017
  • 10143 Views
  • 3 Likes
  • 1 Shares

Membicarakan groupies dalam dunia musik, rasanya kita tak mungkin tak mengingat sebuah buku memoar yang ditulis groupie papan atas, Pamela Des Barres. Sejumlah musisi dunia papan atas dia akui pernah bersenang-senang bersama dirinya. Memoar groupie-nya berjudul I’m With The Band: Confession of a Groupie rilis pada tahun 1987. Pamela kehilangan keperawanan di usia 19 tahun, dia lalu menceritakan petualangan cinta bebasnya ini dengan jelas dan penuh kasih.

Bukunya pun dipuji dengan sangat kritis, karena narasinya berhasil menangkap peristiwa hedonisme, dibeberkan dengan sangat terang, seksi, dan sekaligus lucu. Pamela pernah menuturkan pendapatnya: “Saya adalah seorang groupie tahun 60-an dan awal 70-an, saya bahkan tak pernah mendapat penyakit menular dari bintang rock. Saya saat itu berusia di bawah umur saat pertama kali memulai memberikan segalanya pada para bintang rock. Mungkin itu akan disebut pemerkosaan menurut undang-undang, dengan cara itu kami hanya ingin menunjukkan rasa hormat dan cinta kepada para rockstar ini atas musik mereka.” 

Selain Pamela, ada ikon groupie papan atas yang juga angkat bicara seperti Connie Hamzy. Ia merupakan groupie terkenal. Buku hariannya telah diterbitkan dalam artikel untuk majalah Penthouse pada tahun 1992.

Groupies masih memiliki reputasi sebagai gantungan baju. Jadi apa yang salah dengan gadis yang bersenang-senang selama satu jam dengan seseorang yang karyanya kami dengarkan bertahun-tahun melalui headphone? Apakah mereka menyakiti seseorang? Tidak ada yang diperkosa oleh para dewa rock ini,” ujar Connie.

Groupie adalah seseorang yang mencari keintiman emosional dan fisik dengan para musisi. Kata ‘groupie’ mengacu pada kata ‘group’, dalam bahasa Indonesia ‘kelompok’ atau ‘grup musik’. Tapi jangan dikira semua musisi setuju dan menikmati semua kenikmatan ini, salah satu ikon yang menentang keras memanfaatkan groupies ini adalah Kurt Cobain, biduan Nirvana.

Dalam buku biografi Kurt Cobain berjudul Heavier Than Heaven yang ditulis oleh Charles R. Cross, di sana ada fakta yang mengungkapkan bahwa: “Di Massachussetts, pertentangan mulai muncul antara Kurt dan Jason (Gitaris kedua, saat Nirvana memiliki 4 personel), yang dipicu oleh tindakan Jason meniduri seorang penonton cewek selepas konser. Kurt dan Krist secara mengejutkan ternyata termasuk orang-orang yang konservatif dalam melihat hubungan antara pemain dan penonton. Mengambil keuntungan dari gadis-gadis groupies yang pada dasarnya selalu bersedia ditiduri oleh siapapun, adalah sesuatu hal yang mereka anggap rendah.”

[bacajuga]

Dalam tulisan ini, saya berhasil mengumpulkan pendapat personal para musisi dari lintas genre dan membuka sedikit rahasia yang mau mereka ungkap mengenai romansa mereka bersama groupies. Ya kita semua tau, mungkin membicarakan groupies merupakan isu yang sensitif, tentu mereka membukanya dengan penuh hati-hati. Tapi ada juga dari mereka yang bicara buka-bukaan.

Wawancara saya mulai dengan sudut pandang seorang jurnalis musik, Wendi Putranto. Selain seorang editor dari majalah Rolling Stone Indonesia, ia juga seorang penulis buku. Siapkan cemilan, rebahkan badan dan mari kita intip pengakuan mereka.

Wendi Putranto

“Menurut gue definisi groupies itu pasti negatif, konotasinya negatif. Beda sama fans, kalau penggemar sebatas mengemari musik atau lirik. Groupies itu menggemari figur, ingin lebih dekat secara intim, bisa juga secara seksual, bukan secara normal. Mereka lebih dari sekadar fans, hampir bisa dipastikan ada kecenderungan seksual. Itu disebabkan ketampanan personel, perilaku, dan attitude band. Nah sekarang dengan adanya media sosial, justru prakteknya lebih private, kalau dulu ketemuannya pas mau manggung, sebelum atau sesudah. Sekarang lebih banyak channel private untuk ketemu di luar jadwal manggung.

Beberapa kali pas gue liputan, gue sering menyaksikan band-band lokal pada nginep di hotel, tengah malam para groupies itu ketok kamar, bahkan bukan cuma para personel, tapi para crew termasuk manajemen merasakan kenikmatan itu, termasuk soundman (tertawa). Biasanya setelah show mereka datang ke club, pulangnya bareng, hingga sarapan bareng. Perkiraan gue, Koil atau Ungu banyak tuh groupiesnya. Kalau Noah dengan fans cewek selebritis kan itu sudah terbukti. Dulu ada Ahmad Albar, local hero yang paling legendaris, sekarang ada Andy /rif. Dengan ritual party dan lifestyle glam-nya mereka dikelilingi perempuan cantik, dan di band /rif cukup banyak personel yang tampan. Eh Ari Lasso juga banyak kayaknya groupies ceweknya, dan lo juga Che, sebagai nabi rockotor (tertawa).”

Once Mekel

“Gue rasa fenomena groupies cuma dialami band-band lama yah. Romantika groupies udah turun, karena relasi yang terjadi semakin pragmatis. Buktinya penggemar sekarang cuma download beberapa lagu yang dia suka aja. Dan karena itu, fanatisme, loyalisme orang pada musik sekarang ini nggak tinggi dan kuat. Mungkin fanatisme itu masih kuat di beberapa komunitas musik. Cewek tuh suka suara vokal, itu daya tarik tersendiri, mereka jadi groupies pemicunya secara objektif karena memang suka lagunya. Dan lirik lagu yang kita buat related dengan kehidupannya, atau suka karena lifestyle personelnya. Romantika groupies terjadi karena hal itu. Band Dewa zaman kita bujangan banyak groupiesnya, mereka ikut kita manggung dan ikut latihan ke studio. Cara mereka ngedeketin biasanya ngajakin pertemuan lagi, malu-malu ngasih hadiah, dan hadiahnya bisa ngasih yang cukup mahal.”

Cholil ‘Efek Rumah Kaca’

“Groupies itu gue pikir definisinya fans yang fanatik aja. Keberadaan groupies mungkin aja ada gunanya, karena sebagai manusia sulit bagi kita menihilkan itu dan juga manusiawi kalau kita senang saat dipuji orang lain, karena kalau dibenci orang lain tidak menyenangkan juga. Band yang memikat para groupies mungkin ngeliat personelnya ganteng, enak dilihat, bisa jadi melihat sosok bandel dari personel, tapi yang utama karena suka sama bandnya. Band yang nggak mengundang groupies, boleh jadi penyebabnya si band bukan tipe dia, bandnya ngebosenin dan pembawaannya nggak enak. Justru dibanding band pop, gue rasa band rock yang lebih memikat groupies, itu sepengetahuan gue ya. ERK nggak punya pengalaman sama groupies sih, mungkin mereka ngelihat kita sekumpulan cowok-cowok yang terlalu soleh barangkali Che.”

Erix Soekamti

“Kamu Che, nge-interview aku tentang groupies ini bikin aku besar kepala dan bangga (tertawa), karena Endank Soekamti tidak dekat dengan dunia groupies, tidak pernah dan jauh. Tapi aku rasa, para groupies itu merasa ada pride saat mereka bisa berhasil masuk ke lingkaran satu sebuah band.

Tapi hati-hati, dulu ada kejadian band temanku, yang rumah tangganya sampai bercerai ketahuan selingkuh sama groupies. Ada lagi cerita satu orang groupie disukai beberapa personel, karena bersaing akhirnya jadi masalah. Tapi godaan pasti ada, kalau kita lihat cewek yang secara fisik menarik, nggak munafik lah. Soekamti itu nggak punya groupies dan  ada rumusnya, karena kita punya filter yang bisa membentengi personel band. Filter itu dilakukan oleh crew Soekamti, jadi para crew lah yang lebih bisa menikmati para groupies (tertawa). Karena setiap yang mau masuk ring 1 harus kenalan dulu sama management, anak merchandise atau para crew, baru bisa diajak ke basecamp. Anak crew bahaya, karena mereka belum berkeluarga, lagi nakal-nakalnya.” 

Eka ‘The Brandals’

“Seorang groupies itu udah ada misi penaklukkan secara intim dan bahkan larinya ada misi ke arah seksual. Pengen kemana-mana sama band, sampai ke arah yang personal, pengen masuk ruang privasi. Dan musik gue akui bisa jadi cara untuk memikat lawan jenis. Dulu waktu kecil gue pengen jadi anak band biar dapet cewek, karena ngeliat Mick Jagger bisa menaklukkan wanita. The Brandals pernah ngalamin gangguan dari pihak luar karena perempuan. Dari satu orang berpindah ke yang lain. Tapi saat itu bisa diatasi, karena kita mau nempatin tujuan band di atas segalanya. Tapi sekarang godaan itu menurun, karena umur sudah menua. Kita bukan lagi anak band yang masuk ke dalam demografi yang diincar groupies-groupies. Sekarang malah gue demen sama tipe cewek yang dia nggak sadar kalau dia seksi. Cewek yang ngejual duluan malah kurang menantang.” 

Ariyo Wahab

“Groupies nggak selalu berkonotasi negatif, mereka melakukannya karena kecintaan pada musik dan itu bagian dari apresiasi. Mereka ada gunanya untuk inspirasi dan spirit penciptaan lagu. Buat gue kalau pas lagi manggung ada cewek kece, itu akan jadi spirit meskipun gue udah nikah. Gue berharap mereka datang ke pertunjukkan nggak lebih dari itu. Karena gue seneng kalau penonton ramai, itu penting buat gue, karena dalam hal manggung, gue seorang eksibisionis (Tertawa). Dulu zaman sebelum sama band S.O.G, pas lagi ancur-ancurnya gue mengalami godaan dari mereka. Ada yang datang ke rumah, ngasih barang macem-macem yang berhubungan dengan band, seperti ngasih merchandise resmi band, tiba-tiba banyak barang datang, terus dibeliin tiket konser. Gue nggak terlalu menggubris, sebelum gue dimanfaatkan, gue duluan yang manfaatin mereka (tertawa).”

Glenn Fredly

“Groupies itu bagian dari hubungan gue dengan musik gue sendiri, nggak bisa dipisahkan, karena cewek itu nyawa dan inspirasi. Gue memperlakukan mereka seperti berteman aja. Di sana ada relasi saling menguntungkan dalam koridor musik. Gue pikir musisi bisa memikat groupies, di sana ada faktor karisma, itu hal yang sulit dilukiskan dan publik juga mencari sosok atau bentuk yang mereka sukai. Faktor pemikat tentu balik ke karya, dari sana muncul feedback sendiri, jadi karya yang paling penting, karya itu yang jadi trigger dan media mengeksploitasinya.

Gue pernah digoda dan ngalamin ajakan yang extreme, caranya ada yang kirim botol wine, ngasih bunga bahkan berkamuflase tuh cewek jadi pengelola acara (tertawa). Godaan lain, gue sering dapet report dari admin akun sosmed gue, ada cewek yang sampe kirim foto yang sangat memancing, modus lain bisa dimulai dari ngomongin lagu gue dan paling sering mereka minta didengerin curhatnya.” 

Armand Maulana

“GIGI itu meledak album kedua, pas keluarnya single ‘Janji’, nah di era itu GIGI dimanajerin sama Dani Pete. Dia ngasih aturan ketat, kalau GIGI lagi main di sebuah kota, etos ‘Sex Drugs and Rock n Roll’ itu nggak berlaku, tapi kalau acara udah beres di luar jadwal ya terserah. Dani Pete tuh keras banget, galak banget. Cewek-cewek cantik atau seleb-seleb kece saat itu naksirnya ke si Ronald tuh, tapi tetep mereka nggak bisa ke backstage, karena ketat ada Dani Pete.

Tapi fenomena groupies sekarang nggak gue liat pas lagi manggung, GIGI pernah sepanggung sama band-band anak muda yang lagi naik daun, kalau di situ ada cewek cantik, pasti itu pacar atau istrinya, beda sama dulu. Zaman sebelum GIGI terbentuk, gue punya band namanya NEXT BAND, nge-cover lagu-lagu rock. Dari atas panggung gue ngeliat cewek yang dari tatapannya aja udah menelanjangi. Nah pas sesi satu beres, kita saat istirahat, tuh cewek nyamperin dan langsung ngasih kunci kamar, saat itu club-nya emang ada di dalam hotel. Tapi kalau GIGI emang band yang enggak punya groupies, dulu waktu kita kolaborasi sama Billy Sheehan di Los Angeles, pas rekaman untuk album GIGI ‘2x2’ dia ngatain kita: ‘Kalian itu band rock apa sih? Di studio nggak ada ceweknya, beres rekaman pada diem nggak ada yang keluar jalan-jalan’ (tertawa). Sebagai cowok, kalau ada cewek kece nonton kan kita mau kepuji, itu memicu adrenalin, itu naluriah.”

Iman J-Rocks

“Gue pikir groupies itu ada manfaatnya juga, kita jadi tau ada yang mengapresiasi J-Rocks sampe segitunya. Juga bikin semangat, jadi mau bikin karya yang lebih bagus, mereka bisa positif, bisa jadi negatif tergantung musisinya. Gue percaya dalam dunia musik, dalam berkarya selalu ada orang yang mengagumi, ada pelaku dan ada penikmat seni.

Pernah tuh dulu, J-Rocks beres manggung sekitar jam 1 subuh di hotel, gue beres mandi ada yang ketok pintu, karena ngetoknya terus-terusan nggak berenti, akhirnya gue bukain. Mereka banyak Che, nggak sendirian. Alasan awalnya mereka mau minta foto bareng, terus ada yang berani ngomong, ‘Boleh ini nggak?’, gue udah nebak tuh maksudnya. Setelah gue usir keluar, selang 1 jam ada lagi yang ketok pintu, kali ini ceweknya udah nggak sadar karena mabok, yang begini udah terang-terangan bilang, ‘Aku boleh ke situ nggak’, gue bilang, ‘Sorry gue mau tidur’ (tertawa).”

Bersambung ke halaman kedua...

[pagebreak]

Giring Nidji

“Groupies itu orang yang mengapresiasi kita, mereka suka berada di tengah-tengah kepalsuan keglamoran, ya bonusnya ketika mereka bisa tidur sama personel. Tapi hubungannya sebatas suka sama suka, nggak pake perasaan, ngaak deep, beda sama kaya kita ke bini. Dunia groupies, Nidji tuh ngalamin pas album 1 dan 2, itu gokil man, itu gila banget. Gue cuma bisa bilang gitu, pokoknya gila lah, kalau dijelasin itu terlalu pribadi man (tertawa).

 

Edwin Cokelat/Konspirasi

“Keberadaan groupies ada gunanya juga, mereka konsisten mencintai karya kita. Kalau para groupies menjauh, tandanya kita sudah tidak lagi menarik, tidak keren, karya dan kualitas star sudah luntur, itu bisa jadi tolak ukur. Kita jadi mau berusaha keras untuk selalu bagus. Seru juga tuh kalau Dian Sastro, Putri Patricia atau Jessica Mila jadi groupiesnya Cokelat atau Konspirasi (Tertawa). Berdasarkan pengalaman, gue pernah dan sering terjadi rebutan groupies, kadang gue kalah, kadang menang (tertawa), tapi namanya juga rock n roll, jadi santai aja.” 

Eno NTRL

“Gue pikir personel band yang keren dan ganteng belum tentu dia punya karisma, dan itu faktor yang menentukan dapetin groupies. Welcome banget sama fans cewek, nggak ngasih batasan. Groupies itu belum tentu suka lagu kita, bahkan mereka nggak dengerin lagu kita. Kalo mengandai-andai, asik juga tuh kalau Sophia Latjuba jadi fans garis keras NTRL, tapi nggak mungkin sih, doi kayaknya fans dari band pop (tertawa). Tapi fenomena di dunia juga udah kaya gitu, groupies sekarang juga menggilai popstar, lo liat aja tuh Justin Bieber, dan band-band hip hop di dunia.

Sekarang fenomena groupies berkurang drastis. Dulu NTRL kalau ada groupies godaannya mereka pendekatan ke crew, terus baru ke personel, ya dulu groupies bisa tiba-tiba datang ke kamar cuma pake daster doang siap pake Che (tertawa), mereka tau dan ngulik kita nginep di hotel apa. Tapi groupies akan selalu ada, mereka nggak cuma cari kepuasan tapi kebanggaan.” 

Otong Koil

“Personel band mainstream itu istrinya ya bekas penggemarnya, yang dinikahi itu fansnya, ini gue sok tau yah, gak tau juga kebenarannya, tapi sebagian besar kaya gitu. Keuntungan musisi yang nggak good looking itu, mereka untungnya punya lagu yang disukai cewek-cewek, dan si cewek nggak peduli lagi sama tampang, kalau jelek juga nggak apa-apa, mau butut mau bagus nggak masalah. Intinya mereka itu seneng begituan.  

Nah sebelum jadi anak band yang terkenal, mereka itu biasanya pada nggak berani sama cewek, begitu mereka terkenal, hal itu jadi ladang dan panen. Kalau gue sih emang buaya darat sebelum jadi anak band.

Koil nggak ada groupiesnya, lagian gue nggak seneng ada perempuan kalo lagi aktivitas ngeband. Kalau ada foto model terkenal nyariin gue, nggak akan ada yang di-follow up juga, nggak terjadi apa-apa dan bahkan nggak ketemu. Gue dan Koil nggak punya pengalaman sama groupies, kalau pun ada cerita bukan sama groupies.

Dulu Koil pernah manggung di Jogja sama Puppen. Ada cewek-cewek ngikutin kita ke hotel beres manggung. Cewek itu emang ngeliatin terus, keliatan punya ketertarikan ke gue, dan minta begituan. Pas jam 5 subuh gue anterin pulang, Leon drummer Koil dan si Black manager Koil ikut nganterin. Gue ternyata nganterin dia ke markas PRD, dan bahkan gue nggak tau apa itu PRD. Ternyata cewek itu tuh orang hilang, pas turun dari mobil mereka bilang, ‘Ini dia nih orangnya’. Gue dituduh nyulik, saat itu reaksi orang-orang buruk ke gue. Trus gue lari, kabur, kita pergi naik mobil, dan Leon muntah-muntah mabok, yang nyetir si black dan kita dikejar akhirnya lolos. Tuh cewek nggak tau Koil, nggak tau gue itu siapa, ngobrol juga nggak, cewek itu agak-agak gila kayaknya.”

Eben Burgerkill

Komunitas musik extreme gue perhatiin jarang ada groupiesnya, Metal pada umumnya bukan area untuk cewek girly, bersih, wangi dan rapih. Lagian mana ada cewek cakep angkatan gue yang ngefans sama Philip Anselmo atau Max Cavalera, ada juga ngefans sama Tommy Page (Tertawa). Tapi kayaknya kalau Pevita Pearce jadi groupies garis kerasnya Burgerkill, dia cocok tuh pake leather jacket, atau celana kulit item datang ke konser Burgerkill, bakal geger tuh (tertawa).” 

Di Makassar, kondisi waktu itu Burgerkill belum seperti sekarang, sekitar tahun 2003/2004, sebelum almarhum Ivan meninggal, kita semua nggak pernah kepikiran akan punya fans cewek yang cantik. Karena yang gue liat selama ini di gigs Burgerkill, pemandangannya banyakan cowok, kalau pun ada cewek, kategorinya bukan groupies yang seperti groupies band pop, yang wangi, bersih, tapi yang keringetan dekil gitu.

Nah temen bilang, setelah manggung ada dua cewek penggemar Burgerkill, udah ada yang nungguin di hotel, mereka nunggu di lobi hotel, pas disamperin ternyata udah nggak ada di lobi, ternyata panitia udah ngajakin ke kamar. Akhirnya kita semua kenalan, dan temen gue bilang, anak itu lo suruh ngapain aja mau karena beneran ngefans, itu sekitar jam 12 malam.  Anak itu ngotot ngajakin ketemu, akhirnya gue ajak ngobrol di lobi. Beres ngobrol tuh cewek minta dianterin pulang ke rumahnya. Begitu sampe rumahnya, trus gue anter turun dari mobil, gue kaget parah ternyata bokapnya temen gue seangkatan di SMA 82 Jakarta, dan anaknya nggak tau kalau bokapnya temen gue. Gila untung aja nggak disikat, anjiss makanya kalau udah kaya gitu lo harus hati-hati, kita minimal harus tau sedikit latar belakang keluarganya, kali aja dia keponakan lo sendiri kan? Gawat loh, untung nggak gue makan (tertawa).” 

Andy /rif

“Groupies kan cewek yang cukup gila, ya mereka mencari musisi yang gila (tertawa). Gue aja kalau ngeliat Scott Weiland vokalis Stone Temple Pilots, bisa mikir ini cowok seksi banget, gimana cewek yang ngeliat? Aksi live performancenya sangat bisa dinikmati. Faktor lain ya karisma, itu nggak bisa dibuat-buat, dari sana muncul karakter dengan sendirinya melahirkan groupies. Mereka akhirnya pengen cari klimaks, kegilaannya bisa sampe ingin memiliki.

Keberadaan groupies sangat berguna, kalau mereka nggak ada, artinya band nggak berhasil digilai dan sanggup menyihir penggemar kita. Zamannya /rif manggung di Hard Rock Café tahun 90-an, seru tuh. Gue kaget ada Karina Suwandi, Ayu Azhari, gue nggak bilang mereka itu groupies /rif yah, tapi sering datang aja. Gue kalau digoda groupies mereka ya blak-blakkan aja. Ada yang ngomong langsung dengan bilang ‘Please take me out’, dan kita tau lah dari gerakan tubuh, dari pandangan, kita bisa tau ada maunya. Atau pas lagi nongkrong di bar, ada cewek yang bayarin bill kita, trus bilang ke bartender: ‘Hei mas, aku yang bayar bill ini yah, tagihannya masukin ke kamarku 320’, itu kan dia ngasih tau kamar dia, Che (tertawa).

Selama masih ada band yang gila, ya groupies akan ada terus, kalau sekarang kan caranya lebih private, kalau dulu lebih hardcore (tertawa). Dengan bisa deket sama personil, mereka merasa keren dan bahkan ngerasa sehebat idolanya, merasa puas udah berhasil menaklukkan. Merasa jadi sekelas idolanya, dan mereka mikir, siapa lagi nih yang belum gue taklukkan ya? (tertawa).”

*Foto diambil dari berbagai sumber

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
541 views
superbuzz
986 views
superbuzz
1129 views