Che 'Cupumanik': Layanan Music Streaming, Sang Penyelamat atau Mempercepat Kiamat?

Che 'Cupumanik': Layanan Music Streaming, Sang Penyelamat atau Mempercepat Kiamat?

  • By: Che Cupumanik
  • Senin, 10 December 2018
  • 1837 Views
  • 3 Likes
  • 1 Shares

Saya semakin merenungi, betapa kini orang semakin mengurangi hasrat kepemilikan pada musik, dari tak butuh lagi punya kaset, semakin tak ingin punya CD, juga tak merasa penting untuk mempunyai artwork cover album, tak membutuhkan rilisan yang bisa dipegang oleh tangan, hingga tak butuh lagi harus mengunduh. Mereka berpikir itu hanya akan memenuhi kapasitas hard disk.

Fenomena ini terjadi bukan karena orang-orang berhenti mengonsumsi musik. Yang terjadi hari ini karena mereka tidak memilih untuk memilikinya. Yang nyata terjadi, hasrat mendengarkan musik cukup dengan mengalirkan musik langsung melalui internet, dengan cara yang sama seperti mendengarkan radio, tetapi dengan pilihan jutaan lagu dan pilihan album yang dapat dijeda, dilewatkan, atau diputar ulang.

Adegan episode baru, cara mutakhir yang sangat gandrung itu, yakni model mendengarkan musik melalui platform music streaming services. Mahluk baru apa dia? Kisah ini nampak seperti cerita fiksi ilmiah, setiap orang kini bisa mengantongi puluhan juta lagu, yang tersimpan dalam ponsel persegi panjang kecil, dan setiap hari bebas mendengarkan dan memilih di mana saja. Bagaimana kita bisa sampai di episode ini? 

Jika kalian sedang berpikir tentang perkembangan terbesar dalam industri musik abad ke-21, sepertinya hanya ada satu kemungkinan jawaban: internet. Saat ini, layanan streaming adalah salah satu sumber pendapatan terbesar bagi musisi Australia. APRA AMCOS melaporkan pendapatan sebesar A$62 juta oleh aliran artis Australia dan Selandia Baru dari layanan seperti Spotify dan Apple Music di tahun ini saja. Ini menambah hingga sekitar 4 juta orang di Australia dan Selandia Baru.

Satu dari delapan penduduk telah menjadi pelanggan layanan streaming, dan menambah jumlah total 100 juta pelanggan berbayar di seluruh dunia. Bagaimana kita menyikapi ini? Saya akan mewawancarai 3 orang praktisi, yang layak dimintai opini mengenai hal ini.

Orang pertama yang wajib saya buru untuk ikut berkomentar tentang fenomena kehadiran medium platform music streaming services adalah David Karto. Dia menjabat sebagai managing director sekaligus pendiri indie label Demajors. Dibentuk pada 2001, Demajors merupakan label yang produktif merilis album indie hingga kini. Dan David, jauh hari sebelum muncul kehadiran Spotify atau Joox, di Indonesia dia pernah menyediakan distribusi musik digital yang dijual melalui kios-kios musik digital legal, bernama Digital Beat Store (DB Store). Saat itu kiosnya dibuka di Blitz Megaplex Grand Indonesia Jakarta dan Paris Van Java Mall Bandung.

DB Store menawarkan katalog musik dari artis-artis unsigned maupun indie label Indonesia dengan harga jual per lagunya Rp 5000. Konsep awal DB Store sebenarnya online, berhubung saat itu Indonesia masih sulit sekali untuk mengembangkan musik digital. Salah satu kendala adalah kapasitas bandwith yang kecil. Namun setidaknya David dengan DB Store telah mencoba mengawali dalam mengembangkan budaya membeli musik secara digital di Indonesia.

David Karto menguraikan pendapatnya pada saya mengenai platform music streaming services. Dia bilang, Gue rasa, dengan kehadiran layanan streaming seperti Apple Music, iTunes, Spotify, Joox, Deezer, itu semua bisa kita manfaatkan sebagai etalase digital dunia. Meskipun belum terlalu terasa hasilnya, nggak ada salahnya musisi ikutan, toh di sana kita berbagi hasil. Sejauh ini sih yang paling terasa big sale-nya justru monetize dari YouTube. Platform music streaming services yang gue sebut di atas, itu kan baru di wilayah audio doang, kalau YouTube sudah audio visual."

"Sejauh ini perolehan pendapatan dari YouTube yang paling tinggi, salah satu sebabnya mudah mengakses karena tidak berbayar, sementara digital streaming ada yang harus pake credit card. Perolehan dari YouTube bagus hasilnya, dan sebenarnya ada 21 channel monetize yang disediakan YouTube, tapi kita udah cukup bisa menikmati monetize dari tiga hal, yaitu dari ‘video lyric’, konten video klip, dan dari audio lagu kita yang dijadikan backsound dari video orang lain. Menurut gue, musisi sekelas Raisa atau Afgan mungkin yang udah ngerasain pendapatan yang bagus dari streaming services, satu lagu mereka mungkin udah di-play jutaan kali.”

David Karto (Foto: SWA)

Karena Demajors adalah label indie yang masih disiplin merilis album, juga memproduksinya dalam bentuk fisik, saya bertanya mengenai seberapa penting sebuah band merilis album fisik? David menjelaskan, “Gini deh, album Cupumanik yang baru misalnya dirilis, terus lo bikin launching di Rossi Musik Fatmawati. Dari 500 orang yang datang, gue yakin masih banyak orang akan beli CD di acara lo Che. Dan mengenai harga jual juga stabil, lo jual satu CD 35 ribu gak akan turun di manapun lo jual."

"Menurut gue rilisan fisik tetap penting sebagai penanda zaman dan legacy. Balik lagi bicara penting atau tidaknya band gabung ikutan masuk ke katalog digital streaming, itu balik lagi ke band, merasa perlu atau tidak? Kalau nggak salah album Menggugat dari Cupumanik juga belom ada di streaming kan? Kalau lo minta dan mau, ya baru kita masukin, kita tinggal duduk bareng, itu tergantung keinginan band. Tapi sekali lagi nggak ada salahnya ikutan, gabung di etalase digital dunia.”

Jumlah pengguna streaming service terus meningkat. Secara global misalnya, Spotify telah memiliki 70 juta premium subscriber, diikuti Apple Music dengan 50 juta pelanggan pada bulan Mei 2018. Lalu berdasarkan Online Music Streaming Survey 2018 oleh DailySocial kepada hampir dua ribu responden di Indonesia, 88% responden sudah mendengarkan musik melalui streaming service dan sekitar 51% di antaranya menghabiskan waktu satu sampai empat belas jam per minggu untuk memanfaatkan layanan tersebut. Music streaming services seperti Joox menjadi layanan streaming terpopuler di Indonesia dengan angka 70,37% pengguna, disusul oleh Spotify (47,70%), LangitMusik (28,51%), SoundCloud (19,75%), dan Apple Music (16,50%). Membaca data ini, saya perlu menanyakan langsung kepada Joox, dan saya berhasil menghubungi General Manager Content Joox Indonesia, yakni Girindra Okki, simak wawancara saya dengan dia di bawah ini:

[Che]: Dari sudut pandang Joox sebagai platform yang memberikan layanan music streaming, bagaimana sejauh ini kontribusi kehadiran Joox di Indonesia, apakah telah ikut menopang pertumbuhan ekonomi industri musik lokal? Boleh diuraikan berbagai catatan prestasinya?

[Okki]: Berbicara atas nama Joox, sejauh ini kontribusi kami adalah ikut menyajikan musik secara digital dan legal sehingga dengan mudah bisa dinikmati oleh para pecinta musik di seluruh pelosok Indonesia, karena jika kita lihat di masa lalu, distribusi musik fisik pastinya menghadapi kendala dan tantangan dengan keadaan negara kita yang memang sangat luas dan terdiri dari kepulauan. Dan impact ekonomi pastinya sudah dirasakan oleh pihak-pihak pemegang lisensi musik yang sudah bekerjasama dengan Joox, karena music streaming sudah menjadi salah satu sumber pendapatan untuk pemilik konten musik. Salah satu prestasi Joox adalah Best App untuk tahun 2015, 2016 di Google Play, Best Streaming Music App 2016 di e-commerce award, dan juga dianugerahi sebagai number 1 music app di beberapa survei, seperti salah satu yang dilakukan oleh E-Marketer.

[Che]: Joox sebagai platform music streaming services, sejauh ini bagaimana sistem share revenue-nya atau besaran dalam memberikan kompensasi pada label atau artis dari tiap lagu atau album yang diputar?”

[Okki]: Joox memastikan pemilik konten mendapatkan besaran yang adil di dalam business model kami.

[Che]: Kabarnya platform ini perlahan akan semakin menurunkan angka pembajakan, karena populasi orang yang memutar CD kian menurun, sekarang cara kebanyakan orang mendengarkan musik sudah berubah. Lantas jika tantangan berikutnya adalah pembajakan musik dari berbagai situs download ilegal, bagaimana strategi yang penting dilakukan?

[Okki]: Situs download tidak resmi adalah secara hukum diluar jangkauan kami, tapi kami juga pro aktif dengan melaporkan ke pihak yang terkait seperti ASIRI dan Depkominfo jika ada informasi-informasi yang sifatnya bisa membantu pihak berwenang untuk menindaklanjuti kegiatan ilegal tersebut. Strategi yang bisa kami lakukan saat ini adalah memastikan supaya platform Joox bisa berjalan terus tanpa kendala, dan bisa menkonversi pengguna produk bajakan ke music streaming dengan fitur andalan dari Joox. Strategi kami adalah selalu menambahkan fitur yang sangat disukai oleh pengguna kami, contohnya saat ini kami memiliki fitur baru yaitu karaoke di mana pengguna Joox bisa menyanyikan lagu kesukaan mereka, dan langsung bisa “narsis” dengan membagikan hasil nyanyiannya ke media sosial. Bocorannya nih ya, tahun depan akan ada fitur seru lagi yang masih kita rahasiakan, mudah-mudahan ini membuat pengguna kami semakin lengket dengan Joox.

[Che]: Menyenangkan sekali jika Joox bisa berbagi data hasil riset, apakah pelanggan atau pengguna layanan Joox di Indonesia mendengarkan rilisan baru dari musisi baru? Ini karena banyak perilaku pendengar hanya mau dan mencari musisi yang sudah lebih dulu dikenali. Pertanyaan ini mencoba melihat secara objektif, apakah artis baru berpotensi meraih pendengar lebih luas dalam platform music streaming?”

[Okki]: Pengguna Joox saat ini didominasi oleh anak-anak muda yang memang secara kebiasaan sangat terbuka dengan hal baru, dan mereka sangat menyukai musik baru. Hal ini bisa langsung dilihat di aplikasi kami di bagian playlist “Fresh Hits” di mana di sana ada “Fresh Global Indie” yang saat ini sudah mencapai angka 21 juta views. “Fresh Local” Indie 2 juta views, di mana di masa lalu musisi independen seringkali menghadapi kendala distribusi dan promosi, dan saat ini kendala itu sudah semakin berkurang dengan adanya distribusi digital yang pastinya pro musisi. 

[Che]: Siapa saja otoritas terkait yang sebenarnya sangat diharapkan bergerak agar ekosistem industri musik digital ini berjalan semakin maju, dan menguntungkan berbagai pihak ke depan? Apa saja hal yang perlu diupayakan?

[Okki]: Yang paling utama adalah perlunya tindakan yang konsisten dari pemerintah untuk secara efektif membasmi pembajakan dalam bentuk fisik atau digital. Tentunya hal itu juga harus didukung dengan perilaku pengguna musik di Indonesia untuk menggunakan platform legal untuk mendengarkan musik kesukaan mereka, sehingga ekosistemnya bisa berjalan terus dengan sehat, di mana para stakeholder industri musik bisa mendapatkan keuntungan dari sana. Untuk mengkonversi kebiasaan itu sangat diperlukan pendekatan dari sisi pemerintah dan swasta untuk dengan gencar mengenalkan music platform legal seperti Joox, di mana terdapat kemudahan untuk mendengarkan musik secara legal. Mungkin bisa dengan program-program CSR dan dengan catatan juga, hal ini harus didukung dengan perkembangan kualitas sinyal data yang stabil untuk mendukung performa produk ini. Dari satu cara ini, sinergi pemerintah dan swasta pasti bisa membantu mengurangi angka pembajakan.

Girindra Okki (Kiri. Foto: Tribun Jabar

[Che]: Siapa saja musisi di Joox yang masuk dalam daftar play tertinggi?

[Okki]: Hal tersebut bisa langsung dilihat di chart Joox, karena chart tersebut berdasarkan jumlah stream dari pengguna Joox. Secara singkat, di chart International Top Hits masih dikuasai Ariana Grande, dan di chart Indonesian Top Hits jawaranya adalah Near dengan lagunya yang lagi hits “Karna Su Sayang.” 

Selain David Karto dan Girindra Okki, sosok lain yang saya incar untuk ikut berbagi pandangan adalah Irfan Aulia Irsal, gitaris dan penulis lagu dari Samsons dan co-founder dari Massive Music Entertainment. Opininya mengenai platform music streaming services dari sudut pandang bisnis sangat logis. Saya mulai pertanyaan dengan hal yang dasar kepadanya, Irfan menjawab dengan penjelasan yang runut dan panjang. 

[Che]: Platform layanan musik streaming ini, apakah betul menopang pendapatan musisi dan akan bisa diandalkan, menyehatkan, juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi industri musik nasional?

[Irfan]: Sekarang era yang bagus sebenarnya, karena orang menikmati musik sudah kembali pada kebiasaan membeli musik. Platform music streaming services ini kan sebenarnya yang dijual adalah aksesnya, sudah bukan download lagunya. Platform ini masuk ke Indonesia sejak 2016. Dan gambaran hitung-hitungan pendapatan yang diperoleh musisi dari satu platform music streaming, misalnya sebut Spotify, kita akan melihat itu melalui lima tahap, yakni Spotify monthly revenue dikali artists Spotify stream, dibagi total Spotify stream, lalu itu semua dikali 70% to master and publishing owners, terakhir dikali artists royalty rate, hasilnya adalah artist payout. Dan di Indonesia, share kepada label sebesar 60%, sementara share dari label ke artis, hitungannya sesuai kesepakatan antara mereka. 

Platform music streaming ini baru masuk tahun ke-3, sementara di luar negeri hasilnya sudah bisa menghidupi, karena revenue-nya terasa. Nah untuk band gue Samsons sendiri, kebetulan kami sign dengan label internasional Universal Music. Band kami mendapat kesempatan dikurasi secara optimal di platform digital, dan Universal melaporkan pada bulan September 2017, mereka memperoleh revenue sebesar US$200 juta per bulan di seluruh dunia. Samsons dikontrak dengan Universal dan kami merasakan international deal. Gue yakin untuk label-label lokal akan menuju ke sana, karena penetrasi pasar musik kita potensial, dengan pemilik ponsel penduduknya sudah mencapai 400 juta lebih.

[Che]: Apakah kehadiran platform music streaming betul telah menurunkan angka pembajakan?

[Irfan]: Pembajakan CD menjadi sudah tidak relevan lagi dibahas, karena orang mulai mendengarkan musik lewat ponsel. Justru sekarang yang menjadi penting dibahas adalah maraknya illegal download. Kita perlu terus mengedukasi publik untuk menikmati musik dari layanan yang legal. 

[Che]: Lalu masihkah signifikan, jika musisi memproduksi rilisan fisik, sementara sudah hadir layanan ini? 

[Irfan]: CD fisik akan menjadi collectible item, dan kategorinya masuk ke merchandising. Atau CD fisik masih akan jadi sebuah value added dari produk lain, misalnya satu gerai ayam masih menjualnya, beli ayam dapet CD. Ini asumsi gue yah. Masalah yang lain adalah, apakah generasi milenial masih punya alat pemutar CD?

[Che]: Apa yang harus diupayakan oleh otoritas atau pelaku musik terkait, agar musisi mendapatkan imbalan yang layak dan adil dari layanan ini?

[Irfan]: Stakeholders para pelaku industri musik Indonesia harus aktif ngajak orang untuk denger musik yang legal. Kampanye terus untuk ngajak orang membeli akses musik di tempat yang legal, biar ada manfaat ekonomi untuk musisi. Begitu juga untuk para legislator yang menyusun regulasi, kita berharap mereka ikut berperan untuk menyehatkan ekosistem musik Indonesia.

Kita bisa berkaca pada Music Modernization Act (MMA), sebuah lembaga di Amerika yang memodernisasi masalah terkait hak cipta untuk musik dan rekaman audio, karena telah munculnya teknologi baru seperti streaming digital. Kita contoh gerakan mereka yang melindungi hak eksploitasi lagu, mengatur tata kelola aturan, membenahi dan mengatur aspek meta data, agar royalti tepat sasaran dan terbayarkan pada pemegang lisensi lagu. Kita bisa tuh mencontoh dan meneladani apa yang mereka lakukan. Di Eropa hal yang sama dilakukan oleh EU Copyright Directive. Ini semua bagian dari transformasi musik, mau nggak mau kita harus gabung sama gelombang baru ini.

Irfan "Samsons" (Foto: Kompas)

Saya berasal dari generasi X, dan masih hidup di dua alam yang bernama “Figital”, yakni fisik digital. Dunia fisik dan virtual hidup saling tumpang tindih. Saya belum melompat dan menceburkan diri dengan dua kaki saya ke lautan digital. Karena itu saya masih merasakan esensi dari memburu, membeli dan memutar rilisan fisik, dan hingga kini masih rajin pergi ke Blok M Square Jakarta untuk mencari rilisan fisik.

Sementara karakteristik generasi “milenial” dan generasi paling anyar yakni “zoomer” telah berlari dan hidup sepenuhnya di alam virtual dan mereka penghuni jalan raya digital. Dunia digital adalah realitas mereka. Sungguh tak heran jika mereka cukup memutar rilisan album dengan ponsel mereka secara digital. Karakteristik mereka yang lain, yang tak kalah penting untuk kita ketahui adalah mereka menganut FOMO (fear of missing out), mereka sangat takut melewatkan sesuatu yang baru, mereka selalu ingin berada di barisan terdepan dalam tren dan kompetisi. Karena itu mereka khawatir jika mereka bergerak kurang cepat dan tidak menuju arah yang benar.

Dan kita perlu mencermati studi generasi dalam membahas topik ini. Generasi yang lebih baru dari “milenial” adalah generasi “zoomer” (Gen Z), Generasi Zoomer lahir pada 1995-2012, generasi ini yang tertua sudah berusia 23 tahun. Mereka bukan milenial, menurut majalah Time, 47% generasi milenial sudah menjadi orang tua, sudah memiliki rumah, menyelesaikan kuliah dan sedang meniti karier. Sementara Gen Z ini tumbuh dewasa, disertai dengan internet yang tertanam di dalam kehidupan mereka, dan menganggap internet sebagai suatu kepastian.

Generasi baru ini secara spesifik dibesarkan dengan internet sosial. Mereka berteman, mengikuti tren, membuat dan membagikan konten semenjak mereka masih kanak-kanak. Dunia digital telah membentuk mereka sebagai sebuah generasi. Mereka adalah generasi terbaru dari penduduk digital, mereka bukan hanya fasih menggunakan alat-alat digital, lebih dari itu mereka mengerti betul bahwa teknologi ponsel di tangan mereka itu betapa nyamannya mereka gunakan, mereka betul-betul generasi yang sudah melompat ke dalam lautan digital dengan kedua kaki mereka.

Ketergantungan pada digital sudah sedemikian mengakar, dan dunia sudah semakin terhubung. Yang akan berhasil adalah mereka yang memilih untuk fasih dalam teknologi sosial. Itu merupakan sudut pandang optimis menyikapi era digital. Kita yang tak mau ikut gelombang, seperti sedang memaksakan berlari dengan langkah yang gelisah, bukan langkah yang membantu kita untuk maju. Dan kita dipaksa untuk beradaptasi, melihat dunia dari mata generasi “milenial” dan “zoomer.” Disadari atau tidak, kita kini sedang berada di titik revolusioner dalam sejarah dengan perubahan-perubahan besar. Dan revolusi ini telah dianut oleh kedua generasi itu. Merekalah yang sedang mengambil alih sejarah. Ini bukanlah kalimat ancaman hiperbola, melainkan kenyataan sederhana yang berakar pada realitas. 

Saya rasa, melek informasi mengenai platform music streaming services kian penting jika beritanya tersebar, itu berguna agar musisi menyadari potensi apa yang bisa diadaptasi, minimal menyadari gambaran masa depan industri musik dunia yang sedang bergulir. Inovasi cara baru orang mendengarkan music streaming telah menjadi bagian dari industri. Sambil kita berharap, regulasi dan ekosistem musik lokal, dirancang regulasinya untuk menjadi lebih baik. Karena tak ada pilihan, dunia digital telah menguasai dan bagaikan udara untuk bernafas. 

Pada akhirnya harapan saya, semoga platform music streaming services jangan sekadar berfungsi untuk membantu musisi agar terhubung dengan cepat kepada audiens yang lebih besar. Jangan sekedar etalase raksasa, yang dihuni oleh puluhan juta katalog dalam perpustakaan musiknya. Yang menjadi harapan besar musisi adalah, seniman mendapatkan kesepakatan yang saling menguntungkan dan musisi dibayar dengan imbalan yang adil untuk konten mereka.

0 COMMENTS

Info Terkait

supernoize
1027 views
supernoize
1359 views
superbuzz
307 views