Che ‘Cupumanik’: Majalah Musik Berguguran, Kita Kehilangan Apa?

  • By: Che Cupumanik
  • Minggu, 20 May 2018
  • 2182 Views
  • 3 Likes
  • 11 Shares

Majalah musik tentu bagian dari media massa, yang memiliki kemampuan membujuk pembaca melalui rekomendasi dan penilaian redaksi. Itu dimuat dalam rubrik seperti ulasan band baru, artikel opini, liputan konser, review album. Sebagai contoh, pernahkah kamu begitu penasaran pada sebuah band? itu penyebabnya karena media melulu memberitakannya, karena media meliput acara konsernya, dan sementara kamu tidak ada di sana. Peliputan adalah sebuah mediasi, sebuah peristiwa yang dimediasi oleh reporter kepada kalian yang diasumsikan tak berada di lokasi konser.

Setelah kita membaca liputan, persepsi dan pandangan kita menjadi jelas. Pikiran kita merekonstruksi dan mencerna peristiwa dari laporan konser yang ditulis reporter, dan pembaca diasumsikan sedang membaca kenyataan bahkan mungkin kebenaran. Dari sana penasaran itu tercipta.

Nah begitu juga saat kita membaca review sebuah rilisan album baru, bayangkan jika ada sebuah band di-review bagus oleh penulis yang dikenal berpengaruh, itu akan jadi rekomendasi yang amat sukses. Publik bisa langsung percaya dan bahkan segera ingin memburu rilisan albumnya. Kenapa itu bisa terjadi? Padahal pembaca sama sekali belum mendengar audio musiknya? Padahal sebuah review sekadar pengamatan redaksi dan hanya eksis melalui kata-kata, dan pembaca hanya bergantung pada review yang sepenuhnya sekadar bahasa.

Itulah salah satu pengaruh canggih dan kekuatan media, informasi jurnalistik yang penggunaannya melalui sarana kata-kata, menyajikan berbagai subjek, orang, peristiwa dan fenomena terpilih kepada para pembaca dan memengaruhi sikap pembaca. Akrobat kata yang enak dibaca, penulis yang memiliki reputasi bagus, editor yang memiliki pengaruh dan wartawan yang punya banyak followers/penggemar, akan memungkinkan pembaca merespons dengan baik sebuah citra atau informasi tentang fenomena, yang disajikan oleh media.

Karena itu jangan heran, jika media melulu memuji sebuah band, pembaca setia akan mudah mengamini, jika media memberi gelar predikat ‘cool’ pada sosok musisi, seketika itu juga media punya kekuatan melegitimasi gelar ‘keren’ itu dan tinggal menunggu waktu predikat itu menjadi pandangan dominan.

Saya masih ingat, satu-satunya majalah yang berpengaruh saat saya remaja adalah majalah Hai, dan saat sekolah SMP kelas 3 awal tahun 1994, saat itu saya sedang memuja band Nirvana juga Pearl Jam. Lantas di tahun itu majalah Hai merilis edisi khusus bernama HAI Klip. Ini adalah edisi khusus yang hanya terbit sebulan sekali, mengulas profil musisi secara lengkap dan panjang, mereka juga memberikan poster besar, juga bonus lirik lagu dengan kord gitarnya. Majalah Hai saat itu merilis Hai Klip edisi ‘History Of Grunge’.

Sumber foto

Sejujurnya dari majalah itu saya baru tau ada band bernama Soundgarden, band grunge avant garde yang saya gemari hingga hari ini, itu berkat rekomendasi media.

Budaya media telah hadir, di mana citra dan teks membantu membentuk pandangan-pandangan saya, membentuk selera musik saya, memoles sikap musikal saya, bahkan menjadi bahan membangun identitas diri. Media memberikan definisi apa yang dianggap layak dengar dan layak simak, merekomendasikan apa yang dianggap keren atau jelek, media memainkan emosi, perasaan dan gagasan. Jadi jika satu-persatu majalah musik berguguran, sejauh penjelasan saya di atas, bisakah kalian bayangkan apa saja yang hilang, dari yang biasa kita dapatkan manfaatnya atas kehadiran majalah musik lokal?

Budaya media membidik khalayak luas, sehingga media harus berputar pada tema-tema kekinian, menyampaikan informasi yang sedang digemari atau bahkan menciptakan tren, media juga bisa merekomendasikan musik atau band yang keren tapi belum banyak orang yang tau.

Dulu saat saya kuliah di Bandung, sekitar tahun 1999 terbit majalah independen bernama Ripple, majalah ini merekomendasikan band-band yang bukan dari arus utama. Dan sejak tahun 2004, saya menjadi pemimpin redaksi dari majalah musik dan fashion bernama Jeune Magazine, juga ikut menyampaikan informasi band-band non-mainstream yang layak disimak.

Sumber foto

Media turut serta mendidik kita untuk mengetahui bagaimana kita bertingkah laku, apa yang perlu kita pikirkan, kita rasakan, kita yakini dan kita inginkan. Ciri budaya media memang menyediakan bentuk-bentuk dominasi ideologis dan selera. Meski tergolong baru dalam petualangan manusia, tetapi orang menghabiskan banyak waktu mendengarkan radio, menonton televisi, pergi nonton bioskop, mendengarkan musik dan membaca majalah hingga koran.

Budaya media akhirnya mendominasi kehidupan sehari-hari. Sudah terbukti media adalah kekuatan pengendalian sosial yang amat kuat. Dan sekali lagi, ketika majalah musik cetak berguguran, sadar atau tidak, kita sedikit banyak telah kehilangan itu semua, meski wujud majalah musik masih ada harapan, karena kehadiran portal majalah musik online.

Setiap mendengar kabar ada majalah musik yang tewas, saya memikirkannya lalu bertanya dalam hati, “Lantas kita kehilangan apa dengan kenyataan ini?” Tetapi, saat ada yang hilang artinya sesuatu yang baru akan datang. Sejarah sering kali punya cara memetakan masa kini, dan lalu bergeser menuju masa depan. Dan pandangan-pandangan akan masa depan berperan menerangi masa kini.

Kita bagian dari masyarakat informasi dan media yang berkembang cepat dalam era tekno informasi. Meski majalah musik cetak berguguran, kita masih menjadi masyarakat konsumen dan media. Berbagai jenis komputer baru, alat komunikasi baru, teknologi ponsel terbaru, media sosial dan ragam aplikasi, membentuk identitas kita. Bahkan kenyataan zaman yang sepenuhnya baru ini pada akhirnya menciptakan cara baru. Bagaimana kita sebagai musisi bisa bertahan mempromosikan band, mengenalkan karya dan memproduksi  citra indentitas?

Kini kita bisa menyaksikan band-band baru dan band lama yang tetap bisa mencuri perhatian meski majalah musik berguguran. Itu semua bisa kita ukur dari keaktifan mereka memanfaatkan kanal-kanal digital di media sosial. Salah satunya di Instagram, akun personel band dan akun band-nya sama-sama aktif mempromosikan karya lagu baru mereka. Dalam masa promo rilis single atau album, mereka melakukan sesi foto band dengan konsep fotografi yang serius, bahkan ikut dipamerkan proses behind the scene-nya demi memiliki konten-konten baru untuk bahan postingan di Instagram mereka.

Setelah sesi foto selesai, mereka kini memiliki citra visual foto baru yang layak untuk mendukung rilisan karya baru. Dan saya mengamati, ada beberapa band yang memang punya divisi artwork yang bertugas melakukan editing foto, mendesain foto, bahkan divisi videografer yang bertugas menyiapkan bahan video dengan durasi 1 menit untuk kebutuhan konten unggahan di Instagram.

Meskipun fotografi adalah medium visual, di Instagram foto-foto itu sudah tidak murni lagi sekadar visual, dalam kepentingan promosi, kita jarang melihat foto band yang di-posting tanpa disertai oleh tulisan penjelas atau caption. Kalimat penjelas dari foto atau video itu bukan sebatas keterangan singkat. Ada band yang sanggup menulis caption yang memikat bahkan seolah tulisannya mirip gaya editor media. Ini akan jadi tantangan baru, band kini harus bisa mencuri perhatian melalui teks, band yang setiap tulisannya mengandung deskripsi verbal yang memikat, itu akan memicu perhatian publik.

Sudah waktunya, para seniman kini memikirkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini: “Bagaimana cara terbaik memperkenalkan karya?” atau “Bagaimana agar aku dapat perhatian dan diperhatikan?” Musisi juga sudah harus merenungkan pertanyaan ini: “Bagaimana cara terbaik kini agar band-ku mendapatkan audiensi?” 

Di era digital yang memberangus media musik cetak, itu menantang kita dengan satu pertanyaan: “Apa strategimu?” 

Berkarya sebagus mungkin sudah pasti telah diupayakan, tapi tugas berikutnya adalah, bagaimana karya bagus itu agar tak diabaikan? Agar mudah ditemukan, kita harus mudah ditemukan, caranya dengan membuat konten-konten menarik yang bisa di-posting di media sosial. Menurut Ziauddin Sardar dalam buku Membongkar Kuasa Media, Rata-rata manusia menghabiskan lebih dari 15 tahun dalam kehidupan mereka untuk menonton televisi, film, video, membaca surat kabar, membaca majalah, mendengarkan radio dan berselancar di internet. Artinya manusia akan menghabiskan sepertiga hidupnya dengan membenamkan diri dalam media.

Kemampuan kita berbicara, berpikir, berhubungan dengan orang lain, bahkan mimpi dan kesadaran akan identitas kita sendiri dibentuk oleh media. Anak band yang melek media, anak band yang sedikit demi sedikit belajar studi media, saya yakin akan punya cara dan strategi mencuri perhatian. Karena memelajari media adalah memelajari diri kita sendiri sebagai makhluk sosial.

Saat majalah musik berjatuhan dan gulung tikar, ada fenomena menarik belakangan ini yang saya amati, yakni munculnya konten acara talkshow musik, program acara bincang-bincang yang digagas oleh sebuah band atau musisi yang mereka produksi sendiri lalu mereka posting serial videonya tiap bulan di kanal YouTube.

Ini sungguh menarik, tidak ada wartawan yang meliput, maka mereka sendiri yang menjadi wartawan, tidak ada awak media televisi yang mewawancara, mereka sendiri yang membuat televisi, tak pernah ada kesempatan diwawancara program tv, mereka bikin program talkshow sendiri, ini keren. internet memberi ruang pada etos mandiri yang radikal. Dan sepertinya beberapa kalangan musisi kini sudah sadar betul, bahwa internet bukan semata-mata mengenai teknologi, lebih dari itu, internet adalah mengenai hubungan antar manusia. Hadirnya web dan media sosial telah menghubungkan manusia satu sama lain.

Ini fenomena yang sedang terjadi, mereka merekam aktivitas band dan mengkampanyekan pikiran mereka, gagasan musik mereka menggunakan sarana media sosial yang menjangkau banyak orang dan bersifat tahan lama. Dan dengan terobosan itu, mereka belajar bagaimana memenangkan hati penggemar dan pasar yang mereka bidik.

Aktivitas pemasaran mereka merupakan bentuk keterlibatan dan ikatan dengan penggemar, bukan lagi tentang memaksakan berjualan produk musik yang mereka tawarkan. Ini merupakan fenomena yang mengevaluasi aturan lama, mengubah cara lama dan menjembatani aturan baru serta cara yang baru dalam praktik pemasaran mereka.

Ini keputusan dan strategi yang tepat, karena kini kita berada di era kaya pesan, sebuah dunia yang digerakkan oleh internet. Jika ingin mendapatkan atensi bagus, kita harus melipatgandakan kanal-kanal media dan forum baru untuk mengkampanyekan informasi tentang band, produk musik, merchandise dan penampilang pertunjukkan live band kepada pasar.

Internet telah melipatgandakan sarana-sarana baru untuk menjangkau secara langsung audiens yang ingin dituju. Pemanfaatan secara cerdas dan aktif berbagai macam perangkat online, semuanya ditujukan untuk membuat band dikenal dan menjadi perbincangan dari mulut-ke mulut.

Kita berada pada titik perubahan kritis, jika kita tidak mulai melakukan sesuatu secara berbeda dan aktif sekarang juga, sudah pasti kita akan tertinggal. Saya akan kembali bertanya, majalah musik berguguran, tewas bergantian, datang lalu pergi, Beberapa hal yang telah hilang sudah saya jelaskan panjang lebar di awal pembahasan artikel ini, lalu setelah kehilangan lantas apa yang datang? itu adalah kesempatan kita semua, untuk berani otonom bermedia. 

0 COMMENTS