CHE CUPUMANIK: Pujian Itu Ancaman, Minder Adalah Pembunuhan

  • By: Che Cupumanik
  • Senin, 13 March 2017
  • 8821 Views
  • 2 Likes
  • 1 Shares

Pagi hari saya membuka aplikasi BBM, ada satu pesan yang menarik untuk dijawab. Kalimatnya begini: “Che, gua ada sedikit coretan, barangkali lu mau bawain akustik kek, musikalisasi puisi kek atau lu mau simpen kek. Itupun kalo lu pengen liat sedikit karya gue.” Lalu saya membalas: “Kenapa gak dipake untuk karya kamu sendiri?” Dia menjawab dengan cepat: “Minder gue Che.” Saya balas menjawab dengan kritik: “Buat apa saya nyimpen Sesuatu karya, yang penciptanya minder gak pede dengan karyanya sendiri?” Dia menjawab dengan pasrah: “Terus gua harus gimana Che?”

Obrolan di BBM itu saya capture, tetapi foto profil dan nama akunnya saya edit disamarkan, agar tak terlihat publik. Setelah itu saya posting di Instagram @checupumanik. Saya sering melakukannya, karena dialog itu saya yakini akan banyak manfaat jika dipamerkan ke publik.

Dan di bagian caption dari foto capture postingan Instagram itu, saya tulis dengan kalimat: Rasa gak PD itu sebenarnya anugerah, gak PD itu sebenarnya melahirkan rasa cemas, dan rasa itu sebenarnya ngasih tau ke kita, kalo diri kita itu masih kurang. Rasa gak PD itu jadi semacam alarm yang ngasih tau kita, bahwa kita harus mengasah kemampuan lagi, kita harus belajar lagi. Orang yang akhirnya PD itu merasa bahwa dirinya telah cukup dengan ilmu dan kemampuan. Orang PD itu pasti sudah merasa tabungan belajarnya sudah cukup. Boleh jadi merasa PD itu terwujud dari awalnya karena rasa gak PD. Gak PD kalo dosisnya besar jadi 'MINDER', itu harus diobati. Teramat PD kalo dosisnya besar jadi 'KEPEDEAN', ini juga harus diobati. Yang minder bisa menderita rendah diri, yang kepedean bisa menderita angkuh. Waktu-waktu bersyukur itu emang perlu dan tapi cukup jangan berkepanjangan. Setelah itu perlu mengobati kebodohan dan ketidakbisaan dengan ilmu. Bahkan boleh jadi, praktek bergerak untuk belajar itu bagian nyata dari bersyukur, karena memanfaatkan modal pemberian Tuhan, dikasih fisik sehat dipraktekin untuk belajar. Saya percaya bahwa obat keimanan'itu memperbaiki kualitas ibadah, dan saya percaya obat kebodohan itu kualitas ilmu.” 

Ternyata, divisi editorial dari SuperMusic ID ikut membaca postingan itu. Mereka meminta saya untuk menuliskan lebih panjang lebar mengenai upaya memerangi rasa minder dalam berkarya bagi musisi pemula. Tulisannya sedang kalian intip sekarang ini. Saya mengangguk setuju saat diminta menguraikan lebih panjang mengenai topik ini. Karena boleh jadi, memerangi rasa minder merupakan kurikulum yang hilang, pelajaran dalam mewujudkan percaya diri mungkin bukan mata pelajaran semua orang di sekolah. Tulisan ini semoga bisa jadi sumbangan wawasan praktis siap aksi atau cara-cara mudah dalam mengembalikan kepercayaan diri.

Dan kalau kebetulan kamu si orang minder itu, jangan buru-buru merasa rendah diri dan malu, karena penulis artikel ini juga sama, sering dihinggapi rasa tak percaya diri setiap kali harus melakukan sesuatu tanpa kesiapan. Kita sama-sama berharap, dengan uraian ini semoga kita bisa segera menyiapkan tempat sampah untuk membuang sifat tak yakin pada potensi diri, atau minimal biarkan pintu terbuka, biar minder cepat minggat. Jadi jangan tutup pintu.

Saya dengan personil Cupumanik, membuat Whatsapp group untuk mengumpulkan para Cupumaniak dalam ruang digital, yang sudah dihuni hampir 200 anggota. Obrolan tentang rasa minder ini dikupas dan sudah bisa saya tebak, akhirnya muncul pertanyaan: “Che, apakah masih menderita gak pede? Dalam hal apa?” Saya jawab di forum dengan jujur: “Kalau di musik rasa minder itu jarang muncul, mungkin karena sudah ratusan kali gak terhitung punya pengalaman manggung dihadapan ratusan hingga ribuan orang, jadi rasa minder gak sempet datang. Tapi belakangan saya sedang dihinggapi rasa gak pede, karena saya diminta nulis buku. Itu bidang baru, meski pengalaman menulis udah cukup banyak. Untuk mengobatinya, saya lagi sering baca lagi buku fiksi atau non fiksi karya penulis lokal, mengamati cara mereka membangun cerita, meneliti gaya bertutur dan menutup cerita dengan mengesankan. Itu semua demi memerangi rasa gak pede.” Tapi kita memang tak bisa hanya duduk diam menunggu sampai sang mentor sempurna datang dan membimbing pengembangan diri kita. Karena masa depan penuh ketidakpastian, kalau kita masih gak percaya sama potensi diri, rasa minder akan terus menggerogoti mental kita. Dalam tekanan rasa minder, bersikap proaktif itu bukan lagi sebagai pilihan, itu sudah menjadi tuntutan.

Saya melakukan riset dan perbandingan itu, sebenarnya untuk perlahan mengobati diri biar merasa ajeg untuk segera menulis. Karena saya yakin orang mau bergerak melakukan sesuatu secara mantap selalu diciptakan oleh kemampuan dan sumber daya ahli yang cukup. Modal keinginan saja apakah cukup? Modal punya hasrat dan mimpi apakah cukup? Saya juga sering bertanya dalam hati, kenapa ya, tidak semua anak band sukses? Kenapa ya, ada band yang udah rilis album, job manggungnya mandek? Kenapa ya, ada banyak orang berbakat, punya lagu sendiri yang tersimpan di komputer dan gak berani dirilis? Padahal menjadi anak band adalah jalan keinginannya, padahal menjadi anak band adalah mimpinya, padahal memutuskan menjadi anak band adalah hasratnya. Cukupkah merasa berbakat itu menjadi modal utama? Menjadi anak band adalah panggilan jiwa, tapi cukupkah itu menjadi modal yang bisa diandalkan untuk yakin dan percaya diri?.

Untuk menjawab hal itu, saya ingin berbagi fakta menarik, ada hasil riset dan jawabannya cukup mengejutkan. Cal Newport adalah seorang penulis dan professor di Georgetown University. Dalam bukunya, So Good They Can’t Ignore You, ia berpendapat: “Boleh jadi nasihat yang sering kita dengar bahwa kita harus mengikuti mimpi dan keinginan adalah nasihat yang buruk. Setelah itu orang cenderung lebih nyaman mencari nafkah atau menjadikan profesi sesuai hasratnya yang paling dia impikan. Tetapi mengapa banyak orang tak mencapai kejayaannya?. Ternyata hanya sedikit orang yang menjalani profesinya dengan keinginan besar serta tekad yang besar. Karena jika keinginannya dan tekadnya kecil, itu hanya mengundang kegelisahan dan sering kali berakhir pada kegagalan. Faktor ke dua, butuh lebih dari sekedar ketertarikan yang sudah ada untuk mengubah pekerjaan menjadi sesuatu yang kita sukai dan menggairahkan. Sebagai contoh banyak fotografer kehilangan ketertarikan pada seni fotografi, karena mereka terpaksa terus-menerus mendokumentasikan foto pernikahan. Dan untuk mengusir kebosanan dibutuhkan sesuatu yang melebihi alasan panggilan hati yang tertanam dalam DNA.”

Cal Newport, menjelaskan lebih mendalam, ia mulai dengan megajukan pertanyaan: “Bagaimana orang-orang yang sukses di bidangnya bisa membangun kehidupan pekerjaan yang mereka cintai? Ada 2 alasan penting, yakni otonom (punya kendali besar) pada pekerjaannya dan merasa yakin karyanya akan mempunyai pengaruh besar. Jadi bukanlah menggunakan bakat, melainkan kegigihan usahanya dalam meningkatkan diri dan keahlian. Membangun kemampuan profesional sangat penting untuk mendukung mimpi. Jika menginginkan sesuatu yang langka dan berharga, kita perlu menciptakan karakter dan keunikan yang harus diperjuangkan. Saya cukup kaget membaca pendapat itu, karena itu bukan sekedar teori, itu hasil riset lapangan. Dan saya setuju, mengasah keahlian selalu harus lebih dulu dari sekedar ketertarikan.

Ingin selalu bergairah dalam menjalankan pekerjaan, itu pendapat yang masuk akal. Hanya punya modal mengikuti hasrat menjadi anak band karena menyukai bidangnya, itu semua bisa menjadi strategi yang buruk tanpa meningkatkan keahlian, tanpa memperbarui gudang bakat yang kita miliki. Jika ingin keluar dari wilayah gelap itu, segera pergi dari zona nyaman, kembangkan kemampuan baru, itu titik untuk memulainya. Kejayaan dan keberhasilan tidak datang dengan pendekatan bersandar dan menunggu. Dalam kasus ini, kita perlu mengutip kalimat terkenal yang wajib tinggal di kepala kita, yang ditulis oleh Emile Zola: “Seniman bukanlah siapa-siapa tanpa bakat. Tapi bakat bukan apa-apa tanpa kerja.”

Di tulisan akhir artikel ini, mari kita bicara apa yang paling ditakutkan musisi pemula, yakni kritikan pedas. Menjadi seniman itu sejak awal bukan hanya harus siap dengan hal yang menyenangkan saja, kita harus siaga mendengar respons yang tak terduga, seperti kritik atau hinaan. Karena jika karyamu untuk diperdengarkan pada publik, pro dan kontra adalah dua hal yang pasti terjadi. Ketakutan musisi akan respons kritik ini menjadi penyebab klasik. Padahal berani dikritik akan menjadikan kita anti peluru. Kita akan menganggap kritik sebagai pertolongan dengan tujuan pembelajaran dan peningkatan.

Kritik sering kali bisa menyadarkan kita tentang apa yang salah, membuat kita termotivasi. Biar segalanya mudah, izinkan diri kita sejak awal untuk boleh gagal. Katakan pada diri sendiri bahwa aku bisa saja salah, aku bisa saja membuat kesalahan dan itu tak masalah. Justru saat orang diperbolehkan membuat kesalahan, secara signifikan mereka malah semakin sedikit melakukan kesalahan. Jadi jangan selalu menekankan diri bekerja tanpa cacat, itu jadi menakutkan dalam berkarya.

Sebelum menutup tulisan ini, saya ingin berbagi fakta menarik lagi. Justru tak disangka, pujian-pujian berlebihan malah lebih kejam berbahaya dibandingkan kritik. DR. Heidi Grant Halvorson, Seorang peneliti dan associate director Columbia Business School Science Center, mengungkapkan hasil penelitian yang mengejutkan. Dia menjelaskan: “Anak yang sering dipuji pandai, bahwa kepintarannya adalah bawaan lahir, begitu mendapat kesulitan mereka justru sangat cepat hilang kepercayaan diri dan upaya menyelesaikan pekerjaan  lebih buruk. Orang yang sering dipuji pandai, akan lebih banyak menyalahkan diri, menyalahkan kekurangan diri dan tidak menikmati menyelesaikan sebuah soal yang sulit. Mudah menyerah dan lebih cepat meragukan kemampuan diri. Dan sebaliknya, anak yang sering dipuji karena upayanya, dipuji karena kerja kerasnya justru lebih bertahan dalam mengerjakan soal yang sulit, dan tetap menikmati saat berjuang keluar dari masalah. Hati-hati dengan pujian, itu akan berdampak besar pada keyakinan kita akan kemampuan diri. Pujian bahwa kita pintar dan berbakat secara alami sangat berbahaya. Karena begitu kita mengalami kegagalan, kita akan langsung menyalahkan takdir, menganggap nasib buruk tak bisa diubah.” 

Heidi Grant Halvorson lalu menambahkan, “Justru pujian bahwa kita seorang pekerja keras, bahwa kita orang yang mampu berusaha, pada saat gagal kita akan berpikir bisa berkembang dengan latihan.”

Dengan hasil penelitian di atas, itu sangat mungkin terjadi di kalangan seniman. Kalau kita sering dipuji bahwa kita ini jenius dan berbakat seni dari lahir, risikonya saat karya kita ditolak label rekaman, atau tak berhasil menang dalam ajang festival, langsung menganggap diri tidak kreatif, tidak punya karunia bakat seni. Tetapi seniman yang terbiasa kerja keras, kerja cerdas, saat karya ditolak mereka akan menganggap bahwa itu peringatan agar menggali lebih dalam kemampuan, berusaha lebih keras atau mencoba cara baru.

Sering dipuji bahwa kita hebat, keren, pintar, berbakat, itu ancaman. Begitu dikritik kita merasa rendah diri, bahwa segalanya tak bisa diubah. Sementara bagi para profesional di bidang kreatif, evaluasi adalah hal penting. Kritik adalah bagian tak terhindarkan dalam kehidupan seniman.

Kesimpulannya, sudah saatnya anak band atau seniman sejak awal selalu berpikir dalam konteks ‘kemajuan’ dan bukan ‘kesempurnaan’. Mulai tanamkan di benak kita, kata-kata mantra seperti: Belajar, Meningkat, Kemajuan, Mengembangkan, dan Tumbuh. Musik adalah bagian dari ilmu pengetahuan, jadi kemampuan kita sangat bisa ditempa. Keahlian, pengalaman, usaha, kerja keras, keteguhan akan sangat berpengaruh. Tidak ada kemampuan yang tak bisa dikembangkan.

Jadi ketika kamu suatu saat berpikir: “Aku tak pandai, aku tak berbakat,” ingatlah itu tidak benar. Tanamkan keyakinan bahwa “Aku hanya belum pandai dan berhasil” di atas segalanya. Rasa minder yang akut, itu pembunuhan. Karena tidak ada yang bisa mengganggu kinerja dalam berkarya sekuat rasa minder. Kegelisahan dari rasa minder itu membunuh kreativitas. Tulisan ini saya tutup dengan buah pikiran Thomas Edison: “Jenius itu 1% adalah ilham. Dan 99% adalah kerja keras.” 

Foto: Instagram/checupumanik

0 COMMENTS