Che 'Cupumanik': RUU Permusikan, Meninabobokan Hati Nurani

Che 'Cupumanik': RUU Permusikan, Meninabobokan Hati Nurani

  • By: Che Cupumanik
  • Jumat, 1 February 2019
  • 2535 Views
  • 0 Likes
  • 10 Shares

Beberapa hari kemarin, tiba-tiba beredar “Draft RUU Permusikan” via Whatsapp group, dan akhirnya reaksi publik tumpah. Langsung aja ya, saya nggak usah bertele-tele nulisnya. “RUU Permusikan” itu adalah pasal yang berwatak karet, pasal “sapu jagad” yang berpotensi mengkriminalisasi musisi, bukan hanya berpotensi menghambat dan membatasi kebebasan berekspresi, tapi ada jerat hukum yang bisa memidanakan musisi.

Dalam pasal itu lebih dominan menjelaskan pelarangan, lebih menekankan bentuk-bentuk ekspresi yang harus dilarang dan ditindak. Tapi penjelasan dengan terang mengenai mana bentuk-bentuk ekspresi yang harus tetap dijamin dan dilindungi tak dijelaskan.

Kerangka aturan yang dirancang masih harus direvisi, bahkan kalau perlu dibuang dan dihilangkan. Terutama pasal-pasal yang bersifat represif, pasal-pasal yang cenderung menjadi instrumen kontrol penguasa dan kekuatan-kekuatan elit. Revisi yang nanti dilakukan harus responsif dan akomodatif terhadap perkembangan norma hak asasi manusia, sebagai dasar pijakan di dalam pengaturannya. Pasal-pasal yang diberlakukan harus ditujukan untuk menjamin dan melindungi kebebasan musisi dalam berkarya, bukan malah pembatasan. Definisi-definisi juga harus dirumuskan dengan tafsir yang jelas.

Contoh Rancangan Undang-Undang Permusikan

Saya langsung mengamati, dan banyak sekali pasal yang bisa dengan mudah menjerat saya dan begitu banyak musisi lain. Coba tengok pasal 5 (b). Dalam melakukan proses kreasi, setiap orang dilarang memuat konten pornografi.” Saya pernah bikin lagu “Libidinal” dengan band saya KONSPIRASI. itu lagu yang mengisahkan pengalaman pribadi kami, para personel seorang suami yang telah punya istri, dengan kebutuhan dasar seksual, ingin bersyukur karena bisa menikmati kenikmatan surga dunia dan menceritakan naluri alami laki-laki. Dengan itu peradaban tetap berlangsung, karena manusia generasi baru lahir mengisi kehidupan.

Simak penggalan liriknya: "Hasrat menyengat panas membakar otak, secepat kilat nafsu bergerak. Penuh fantasi menyalurkan energi, ikuti naluri raga beraksi. Insting gairah, menjalar dalam darah, biarkan pecah. Sensasi surga dunia." Kebayang, setelah turun panggung saya akan digiring ke kantor polisi. 

Tengok pasal 5 (c): “Setiap orang dilarang memprovokasi terjadinya pertentangan antarkelompok, antarsuku, antarras, dan/atau antargolongan.” Ini yang paling pelik. Penulis lirik lagu tuh salah satu tugasnya memilih kata yang tepat, terutama kata yang punya makna. Sementara makna kata itu terdiri dari dua, yakni makna denotatif dan konotatif. Makna denotatif biasanya agak malas dipakai penulis syair, karena itu makna kata yang biasa. Pembuat lagu lebih menyukai makna konotatif, lebih sering dipakai karena memiliki perasaan dan nilai tambahan. Bayangkan jika musisi tak boleh memakai makna konotatif, betapa pasal ini adalah penjara bagi imajinasi penulis lirik.

Saya bikin lagu berjudul “Omong Kosong Darah Biru” dengan CUPUMANIK. Lagu itu dibuat biar kita bisa memerangi rasa minder, kita nggak punya keturunan ningrat tapi bisa punya hak untuk jadi luar biasa. Simak liriknya: "Darahku berwarna merah bukan biru, gairah kekuatanku, moyangku bukan bangsawan atau ningrat, dia hebat karena keringat." Lagu ini juga pasti kena pasal, yang dengan sengaja dianggap menyulut provokasi antarsuku yang masih menganut hirarki ningrat. Sekali lagi, saya pasti digiring ke pengadilan.

Tengok pasal 5 (d), “Setiap orang dilarang menistakan, melecehkan, dan/atau menodai nilai agama.Saya pernah bikin lagu “Melacak Jejak Purba” dengan KONSPIRASI, lagu ini dibikin agar kita jangan hanya ngejar kesalehan individual dan jangan sampai kita melupakan pentingnya kesalehan sosial. Simak penggalan lirik ini: "Banyak berdoa, tapi lupa sesama. Agama kau perlakukan sebagai mata uang buat beli kavling surga saja. Cara mereka merusak nilai. Memerintah pada Tuhan, mendesak kekayaan, padahal seharusnya agama adalah inspirasi peradaban." Dengan pasal ini boleh jadi KONSPIRASI kena pasal melecehkan dan menodai nilai agama.

Tengok juga pasal 5 (f). “Setiap orang dilarang membawa pengaruh negatif budaya asing.” Ini juga gawat, bertahun-tahun saya menghuni musik grunge adopsi dari budaya barat. Para hero-hero-nya sebagian kini sudah mati. Kurt Cobain dan Chris Cornell bunuh diri, Layne Staley dan Scott Weiland mati karena episode narkoba. Padahal tak akan pernah ditemukan dalam lirik lagu CUPUMANIK atau KONSPIRASI yang menggiring orang untuk pakai narkoba dan ngajak bunuh diri. Kebayang, orang yang mengapresiasi karya kami, saat membeli album baru, akan terjadi sembunyi-sembunyi, bagaikan beli narkoba karena takut dianggap menyebarkan budaya barat yang negatif.

Musisi yang selama ini punya peran mencatat kehidupan dalam karya lagunya, sebenarnya mereka sedang mengekspresikan pengamatannya. Karena dalam proses menulis lirik, penyair sambil mengamati dan mempelajari perilaku manusia, untuk memahami kenyataan di sekitarnya.

Ini kan sebenarnya sebuah ekspresi “psikologi eksistensial”, saat sebuah lagu secara otomatis adalah hasil dari penghayatan makna kehidupan oleh penulisnya. Itu semua dibutuhkan kebebasan imajinasi, kemerdekaan pikiran, kebebasan memilih kata dan merangkai kalimat. Memenjarakan kebebasan itu artinya musisi disuruh meninabobokan hati nuraninya.

Meskipun memang ada, musisi yang merasa tahu kondisi di sekitarnya dan memilih tutup telinga, mereka merasa cukup menuliskan romantisme kehidupan asmaranya semata. Atau ada juga musisi yang dalam hati tahu bahwa ada banyak kenyataan yang tak baik-baik, tapi memilih untuk tak menuliskannya dalam lagu, yang penting buat mereka adalah menikmati keterkenalan, karena itu tujuannya.

Tapi ada banyak musisi yang tak mau hanya berempati, tapi menyuarakan keresahan dan kemarahan dalam lagu mereka, demi perubahan sosial. Karena mereka tak bisa cuek dan abai. Dan jangan heran jika mereka memilih kata dan melakukan akrobat kalimat dengan gaya memprovokasi, karena ekspresi seperti itu bisa membangkitkan kesadaran, membangunkan jiwa pendengarnya biar segera bangun.

Saya nggak ngerti-ngerti amat persoalan hukum, tapi bukankah undang-undang pornografi sudah ada? UU RI nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi. Dan bukankah undang-undang Penodaan agama juga sudah ada? Bahkan ada duplikasi UU ITE dalam pasal Penistaan agama di RUU KUHP? Apakah pasal-pasal ini harus juga ada di RUU PERMUSIKAN?

Bukankah tidak sebaiknya RUU itu lebih baik fokus mengatur tata kelola dan tata niaga atau ngatur hubungan mutualisme antar pelaku industri musik dalam ekosistem yang sehat? Biar hak para pihak terlindungi. Kalau banyak pasal yang sama, bukankah ini bikin overlapping dengan UU yang udah ada? Tak usahlah RUU musik ini ikut masuk ke wilayah kreatif dan ekspresi, karena kami sudah mengerti bahwa meskipun kami bebas berekspresi, kami tahu tak pernah bisa bebas bablas tanpa tanggung jawab. Saya ngerti kok, sebagai warga negara kita dibatasi oleh hak orang lain, dibatasi kebebasan orang lain dan dipagari norma-norma. 

RUU Permusikan pasal 32, 33, 34 dan 35 juga perlu dicermati lagi, mengenai uji kompetensi dan pemberian sertifikat profesi musisi. Kompetensi penting agar seseorang memiliki wewenang, contoh seseorang yang memiliki wewenang untuk mengajar musik, dia butuh uji kompetensi agar memenuhi standar tertentu yang memberinya hak untuk mengajar mata pelajaran musik. Atau saya pernah dengar, ada musisi luar tampil di Indonesia, mereka butuh bakat-bakat lokal untuk tampil kolaborasi, dan mereka mensyaratkan musisi lokal harus punya sertifikat tanda bukti kompetensi. Mungkin dalam hal itu diperlukan. Tapi bagi musisi yang kini sudah melahirkan penggemar, dalam jumlah kecil atau besar, mahkota kompetensi ini tak lagi dibutuhkan, kompetensi mereka sudah teruji melalui lirik lagu yang sudah tinggal dalam hati dan perasaan penggemar.

Dalam pasal yang mengatur uji kompetensi untuk musisi, dari sudut pandang yang lain, globalisasi dan perdagangan bebas memang menuntut catatan formal sertifikasi profesi. Tapi sekali lagi harus ditimbang, itu semua dibutuhkan dalam hal apa? Pasal uji kompetensi ini kebayang, akan jadi urusan jelimet, karena musisi dan akademisi harus senantiasa kritis dan memantau proses konstitusi kebijakan pemerintah. Kalau pasal uji kompetensi ini bisa menjelaskan peruntukan yang tepat, kita baru bisa menilai, apakah pasal ini relevan mengatur profesi musisi secara keseluruhan.

Saya rasa Anang Hermansyah perlu kita awasi, semoga dia bisa mewakili suara musisi di komisi X DPR. Saya juga masih menaruh kepercayaan pada para musisi yang sekarang lagi nyaleg, bukankah ini panggung politik kalian untuk bisa menyuarakan aspirasi musisi? Ada Ifan Seventeen, Sundari Soekotjo, Giring Nidji, Krisdayanti, Ian Kasela, Jeffry Waworuntu, Harvey Malaiholo, Lita Zein, Chicha Koeswoyo, Iis Sugianto, Andre Hehanusa, Edo Kondologit, Katon Bagaskara, Reza Artamevia, Charly Van Houten, Syahrul Gunawan, Conny Dio, dan Vicky Shu.

Saya percaya kalian mengerti filsafat kebebasan seniman. Semoga kalian bisa mengumandangkan praktik Libertarianisme, teori politik yang mendukung kehidupan, yang bertujuan membantu mengembangkan kehidupan dan bukan kematian. Ide-ide progresif RUU PERMUSIKAN seharusnya pasal progresif pada kemajuan, bukan kemunduran, dan butuh langkah bertahap ke arah lebih baik untuk memperbaiki kehidupan.

Sejumlah musisi tanah air mengunjungi DPR, Selasa (29/1), guna mengawal RUU Permusikan (Foto: Okezone)

Sebentar, semua tulisan ini diketik sambil senyum dan otot yang lentur tanpa marah-marah. Karena kita masih butuh membaca semua pasal dengan tenang. Dan saya masih menyisakan prasangka baik, pada para pihak yang sedang berjuang mengubah nasib musisi agar naik harkatnya, karena RUU ini masih dalam proses rancangan.

Ya semoga saja pasal-pasal yang berpotensi akan jadi masalah itu segera dihilangkan. Kalau mereka yakin akan diberlakukan, percayalah itu akan melahirkan sikap boikot dari banyak musisi, dan saya yakin, saya tak sendirian. Dengan reaksi publik yang besar, kini RUU Permusikan tentu mendapatkan pergunjingan. Dan waspada, di tahun politik ini, mungkin saja ada yang butuh panggung lalu mengambil peran sebagai pahlawan dan akhirnya kehebohan ini diselesaikan dengan membatalkan pasal-pasal bermasalah, itu pun gaya lama yang terbaca.

Tulisan ini saya tutup dengan penggalan lagu “kebebasan” yang tak termakan zaman: “Hari merdeka, nusa dan bangsa, hari lahirnya bangsa Indonesia, merdeka. Sekali merdeka tetap merdeka, selama hayat masih di kandung badan.”

0 COMMENTS