Coki ‘KPR’: Mengenang Benny Panjaitan ‘Panbers’

  • By: Coki
  • Rabu, 1 November 2017
  • 3876 Views
  • 3 Likes
  • 0 Shares

Awalnya karena enggak sengaja surfing di YouTube, dan memang itu yang biasa gua suka; lompat-lompat dari video musik ke video musik lainnya, atau hanya audio aja udah bikin senang. Hingga kemudian gak sengaja nemu audio lagu berjudul “Rock and the Sea” milik grup Panbers (Pandjaitan Bersaudara). Sangat catchy dan beda. Di situ gue menangkap band ini adalah band psychedelic melayu. Kenapa gue menyebut melayu? Karena itu kata yang tepat untuk menyimpulkan nada-nada dan groove-nya.

Gue suka, tapi gue loncat lagi ke video random lainnya, penasaran dengan nama-nama band dan judul lagu yang asing di kuping saat itu. Setelah akhirnya tahu yang namanya album Those Shocking Shaking Days, di dalamnya ada lagu berjudul “HAAI”, dan ternyata itu lagu dari Panbers lagi, gue jadi penasaran sama band itu, dan ingin mengulik lebih dalam.

Itulah sedikit cerita bagaimana bisa tahu Panbers dan jadi suka sama mereka.

[bacajuga]

Om Benny Panjaitan baru saja berpulang ke Yang Maha Kuasa. Gue shock mendengar kabar itu. Sedih pasti, dan tak menyangka, karena akan ada acara Panbers dekat-dekat ini. Namun takdir berkata lain.

Gue merasa bersyukur bisa tahu dan akhirnya kenal Panbers. Gak pernah nyangka akan bisa ketemu mereka.

***

Semua itu berawal dari kemenangan Kelompok Penerbang Roket di kompetisi band yang diusung oleh merek wiski ternama pada tahun 2014 lalu. Kami menang dan mendapat hadiah dibuatkan satu album oleh record label Sinjitos.

Ketika mendengar hadiahnya rekaman album, gue bingung. Karena di saat itu album Kelompok Penerbang Roket sudah mau selesai dicetak dan di-copy. Kami ngobrol deh. Sampai akhirnya kami ingat akan rencana pengen bikin album cover atau tribute. Dan keputusan sudah bulat, itu yang akan digarap Kelompok Penerbang Roket.

Kami mencari band yang tepat untuk di-cover, band yang asyik dan khas. Band yang punya warna agak berbeda dengan Kelompok Penerbang Roket, karena kalau sama, gak ada kontrasnya. Dan pilihan kami jatuh ke Panbers.

Rekaman dimulai di pertengahan tahun 2015 (gue lupa tepatnya). Ada delapan lagu Panbers yang kami pilih, yaitu “Bimbang dan Ragu”, “Mr. Bloon”, “Rock and the Sea”, “Bye Bye”, “Djakarta City Sound”, “Let Us Dance Together”, “Hujan Badai”, dan pastinya “Haai”. Lagu-lagu itu adalah lagu yang menurut kami pas, sangat catchy, nyentrik,dan liar.

Waktu rekamanya kira-kira memakan waktu dua bulan. Penggarapan lagu-lagunya dilakukan sebelum lagunya direkam, biar fresh haha. Di rekaman album ini kami dibantu oleh Danny sebagai gitaris pengganti Rey, karena Rey kebetulan lagi sekolah di puncak gunung.

Kami merekam dua lagu dulu sebagai contoh/dummy yang akan di-present ke Om Asido (drummer Panbers). Ketika Om Asido datang untuk bertemu dan mengecek hasil cover lagunya. Gue dan Viki deg-degan banget, pas dia datang, datangnya bersama beberapa orang yang di antaranya ada Om Ruslan sebagai manajer Panbers.

Om Asido datang dengan penampilan yang masih menempel banget di memori gue. Nyentrik! Semua serba warna hitam dengan aksen besi-besi mengkilat, celana hitam dan jaket kulit hitam yang ada rumbai-rumbainya di lengannya ala koboi gitu.

Ada juga cincin gelang dan kalung bikin sempurna penampilannya waktu itu, tapi ada satu yang menjadi perhatian banget ketika melihat beliau di saat itu. Om Asido memakai sabuk dengan buckle LED yang jalan tulisannya, dari kiri ke kanan tertulis ASIDO. Gue dan Viki gak bisa menahan ekspresi, gue langsung nanya aja,"Sabuknya keren om, beli di mana?" Om Asido menjawab katanya di Singapura atau mana gitu gue lupa. Haha gak pernah kepikiran memakai sabuk LED.

Om Asido duduk di sofa tepat di tengah speaker, dan lagu cover-nya pun dimainkan. Kakinya gerak-gerak mengikuti beat drum. Kepala mengangguk mengikuti groove. Gue dan Viki saling melihat. Muka Om Asido terlihat serius.

Bersambung ke halaman kedua...

[pagebreak]

Setelah lagu selesai, Om Asido bangun dari sofa dan dia memberi tangan ke Viki untuk mengajak salaman. Viki kaget dan salaman, dan Om Asido bilang, "Oke sekali. Everything is ok," katanya. Suasana pun pecah dan terasa lega banget, dan semua ngobrol soal lagunya. Senang banget mendengar tanggapannya.

Dan setelah itu, gue ngejam bareng sama Om Asido mainin sepenggal lagu “HAAI”. Sangat menyenangkan hari itu.

Recording berjalan lancar, dan album dirilis dengan bangga. Album sudah menyebar, dan kita pun mulai membawakan lagu-lagu Panbers di setiap panggung.

Beberapa bulan setelahnya, kami mendapat undangan dari Om Ruslan (manajer Panbers) untuk tampil dan meramaikan acara yang Panbers buat untuk Om Benny. Di saat itu, Om Benny telah pulih dari kondisi kritis, dan makin membaik.

Mendapat tawaran itu, gua merasa senang banget, bisa dapat kesempatan men-support Om Benny. Dan ini akan menjadi pertama kalinya gue bertemu langsung dengan Om Benny.

Sebelum acara dimulai, Kelompok Penerbang Roket diajak untuk hadir di acara press conference, dan duduk sebaris bersama Om Benny dan pengisi acara lainnya.

Gua, Rey, dan Viki mendapat pertanyaan dari media-media. Ada yang menanyakan soal apakah dengan KPR membawakan ulang lagu-lagu Panbers, ada maksud agar anak-anak zaman sekarang mengulik lagi lagu-lagu lama Indonesia?

Gua menjawab pertanyaan itu, "Tentu, kami ingin semua orang tahu kerennya band-band lama Indonesia, dan mereka harus tahu legenda-legenda musik Indonesia.”

Di saat gue menjawab itu, gue menengok ke kanan, dan terlihat Om Benny sedang melihat ke arah gue, dan beliau memberi jempol. Itu adalah momen yang tak akan terlupakan.

Setelah presscon usai, kamipun bersalaman dengan Om Benny dan berfoto bareng. Malamnya kami main dua lagu, dan kami menjadi band yang paling keras sendiri di malam itu haha. Main di hadapan ibu-ibu dan bapak-bapak. Pengalaman yang baru dan seru.

Itulah pertemuan pertama dan terakhir dengan Om Benny.

Walau hanya sekali bertemu, momen itu sangat spesial buat gue, Rey, dan Viki. Kini Om Benny sang legenda musik Indonesia sudah kembali kepadaNya. Walau Om Benny sudah tiada, karya-karyanya akan selalu terdengar dan mewarnai permusikan Indonesia.

*Foto: Dokumen SuperMusic.ID, Provoke!, koleksi pribadi penulis

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
12458 views
Supporting Stage
2525 views
supershow
3474 views