5 Album Pop Underrated Terbaik

Daniel Mardhany: 5 Album Pop Lokal Underrated Keren

  • By: Daniel Mardhany
  • Selasa, 19 November 2019
  • 1283 Views
  • 12 Likes
  • 1394 Shares

Banyak album yang terlambat diterima pasar dan diapresiasi khalayak. Contohnya seperti debut album Velvet Underground & Nico. Saat album itu dirilis, penjualannya bisa dikatakan menyedihkan dan direspon dengan kurang baik oleh media massa. Album yang dirilis pada 12 Maret 1967 dengan cover pisang ikonis karya Andy Warhol itu baru mendapat status kultus selang berapa tahun atau mungkin dekade setelah dirilis.

Konon mayoritas yang membeli Velvet Underground & Nico saat dirilis, akhirnya menjadi musisi sukses. Album itu hanya terjual 30 ribu keping (terbilang sedikit pada masa kejayaan penjualan rilisan fisik, khususnya dalam format utama, yaitu piringan hitam).

Mereka yang membeli dan mendengarkannya akhirnya terpengaruh, dan membuat band. Mungkin budaya populer pada saat belum siap menerima atau kreativitas mereka terlalu maju untuk zamannya. Di indonesia fenomena seperti itu juga sering banget terjadi entah itu dalam kultur budaya populer atau budaya arus bawah seperti musik rock, hardcore, punk, metal dan genre lainya.

Inilah 5 album pop rock lokal yang "sedikit" terlupakan generasi milenial. Mungkin, karena saat dirilis menurut saya tidak sinkron dengan eranya, sehingga tidak terlalu banyak yang mendengarkan kedahsyatan materi album tersebut. Atau, mereka memang terlalu maju untuk zamannya dan mencuri masa depan. 

Sampai saat ini album-album di bawah masih sering saya putar, dan bagi saya, masih sangat relevan jika dirilis saat ini; dari segi tata suara, aransemen dan materi albumnya.

1. Last Few Minutes - Waktu (Granada Recs, 1996)

Ah ini salah satu album lokal favorit saya. Kasetnya masik sangat sering saya putar di rumah dan di mobil. Musiknya ada berbau Alice in Chains dan Seattle Sound, yang memang booming di pertengahan 90-an. Sound itu bercampur dengan ciri khas mereka dan dibalut dengan lirik yangg puitis.

Sineas kenamaan Mira Lesmana banyak menyumbang lirik band vokalis alm. Ari Malibu (personil duo Ari Reda) yang penuh penghayatan. Beliau juga memainkan mandolin dan harmonika di album ini. Disinilah saya pertama kali mendengar sayatan gitar Ridho Hafiedz sebelum dia bergabung dengan Slank. Banyak Slankers yang ternyata tidak tahu band doi sebelum Slank adalah LFM. Ridho berbagi porsi gitar dengan FX Adam J, yang lebih dikenal sebagai gitaris Kubik, dan dua dekade setelahnya bergabung dengan Koil menjadi bassist. Banyak musisi lain yang terlibat di album Waktu, seperti Billy J. Budiharjo, dan Aminoto Kosin adalah beberapa nama yangg terlibat di album (yang saya harapkan dirilis ulang dalam format CD) ini.

2. Vessel - Hyper (Warner Music, 2002)


Saya pertama kali tahu nama band post-rock fenonemal Sigur Ros saat membaca thanks list album ini. Walaupun musik yang mereka mainkan bukan post-rock, tapi di tahun 2002 post-rock sesuatu yang sangat obscure. Banyak Pasukan Mati yang tidak tahu kalau Bonny Sidharta pernah menjadi personil band pop-rock yang hanya mengeluarkan satu album ini.

Saat saya bersekolah SMP, beberapa video klip Vessel digarap dengan budget lumayan pada zamannya dan cukup proper, banyak berseliweran di masa jaya televisi. Terima kasih YouTube, karena saya dapat bernostalgia menonton "Berjalan di Bulan","Masih" dan "Tak Akan Diam".

Leonardo Ringo, yang sekarang menjadi solois, dan personil Zeke and The Popo adalah vokalis band yang kandas tidak lama setelah merilis debut dalam format CD dan kaset. Drummer gaek, eks-Pas Band, Richard Mutter juga mengisi drum untuk beberapa lagu di Hyper.  Lagu favorit saya dalam album ini adalah "Kali Ini", sebuah nomor syahdu dengan lirik gelap tapi terang, mengingatkan saya dengan Radiohead era The Bends.

3. Fable - Setengah (Spills Recs, 2002)


"Band manggung setahun sekali " ini sempat masuk kompilasi Indie Ten rilisan Sony Music. Beberapa band yang masuk kompilasi ini akhirnya menjadi band besar, contohnya Padi dan Coklat. Ada juga band satu almamaternya yang hanya menjadi one hit wonder seperti Wong dan Caffein.

EP ini hanya berisi empat lagu, tapi tak ada lagu yang jelek. Setengah juga dirilis oleh label rumah EP Bad Bad Bad karya Superman Is Dead, ini menjadi jembatan mereka bergabung dengan major label. Tiga dari empat lagu album ini dibuatkan video klip dengan visual, seperti "Ceria Cuma Cerita", "Benih Esok Hari", dan lagu favorit saya, "Tak Ada Yang Gelap".

Musik pop rock renyah dengan vokal tinggi ala Jane’s Addiction dari kerongkongan Adi ‘Cumi’ berhasil menguasai memori saya hingga saat ini. Walaupun EP ini tidak menyertakan lembaran lirik, tapi liriknya gampang menempel ke kuping dan diresapi hati. "Tak Ada Yang Gelap" berhasil menjadi salah satu soundtrack penghibur keresahan saya saat tengah dirajam berbagai problema kehidupan. Semoga Fable merilis album diskografi dalam format CD, karena di luar EP ini banyak karya mereka yang berceceran di berbagai kompilasi.

4. Lain - Jakarta Goodbye (Our Coffee Recs, 2001)

Beberapa teman yang saya perdengarkan album ini dalam beberapa tahun terkahir mengira mereka adalah band baru, atau band luar negeri. Mungkin karena musik, sound dan materi mereka memang masih relevan di dengar hingga hari ini.

Yah, memang album ini direkam di Amerika Serikat saat semua personilnya sedang menjalankan pendidikan di sana, tepatnya di Seattle. Jakarta Goodbye juga pertama kali dirilis dan dicetak label Paman Sam via label Our Coffee Records. Dua tahun setelahnya, album ini dilisensi ke Surgery Recs dalam format kaset, dengan artwork baru. 

Di tahun 2003, video klip “Veteran Traveler” dan “Train Song” garapan The Jadugar berotasi tinggi di program MTV Wow. Semua lirik Bahasa Inggris ditulis oleh Khaseli Gumelar alias Zeke. Isian drum Bembi Gusti di sini berbeda dengan permainannya bersama Sore. Iman Fattah bermain bass, mengikuti jejak ayahnya Donny Fatah (God Bless). Saya sangat berharap band ini bisa tampil kembali setelah penampilan terakhir mereka di Jakarta Rock Parade beberapa tahun yang lalu, atau reunian album baru, mungkin?

5. Evo - Evolution (Sony Music, 2008)

Band besutan Elda yg sekarang lebih dikenal sebagai vokalis Stars and Rabbit ini semacam one hit wonder dengan single "Agresif". Band yang merekrut vokalis dari program ajang pencarian bakat salah satu televisi swasta ini diisi oleh nama-nama yang sudah lama melintang di belantika musik populer indonesia.

Contohnya Erwin pada bass (eks-Dewa 19), Didit Saad (eks-Plastik) dan Adnil di gitar (eks-Base Jam) dan Ronal pada drum (eks-dr.pm dan Gigi). Nama-nama mereka ternyata bukan jaminan produktif dan meledaknya band ini di pasaran. Ironisnya, sekarang Stars and Rabbit justru jauh lebih besar ketimbang Evo.

Mungkin, fans Stars and Rabbit baru-baru ini mencari tahu band terdahulu Elda band barunya meledak. Musik pop rock Evo sendiri cukup unik dengan balutan synthesizer yg "wah" pada zamannya. Sound mereka juga mantap, mungkin karena mereka kurang produktif dan menghilang perlahan, nama mereka menjadi terlupakan.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
208 views
supernoize
432 views
superbuzz
215 views
superbuzz
192 views
superbuzz
182 views