DANIEL MARDHANY ‘DEADSQUAD’: Indies Heart, Death Metal Blood

Pulang sekolah, duduk tidak manis, dan terkesima menatap layar kaca—bukan layar datar—melihat audio visual yang disajikan MTV Alternative Nation, yang ditayangkan salah satu TV swasta adalah kegiatan yang rutin saya lakukan pada saat saya SD-SMP. Video klip dari band-band yang saya dengarkan dan buru rilisan fisiknya sampai saat ini seperti My Vitriol, Smashing Pumpkins, The Cure, Ride, Suede, dan Weezer sering bertebaran di salah satu program MTV yang berperan besar dalam musikalitas saya di kemudian hari.

Era Youtube belum dimulai, jadi satu-satunya akses menonton video klip adalah yang ditayangkan di televisi. Pada saat saya berseragam putih merah, musik alternative dan anak haram musik pop, kita sebut saja indie pop, memang sedang booming. Majalah dan koran nasional banyak mengulas tentang band-band britpop seperti Blur dan Oasis, dua band yang sangat populer pada masa itu.  Sedangkan akses audio visual untuk musik metal sangat minim pada saat itu. Acara Headbangers Ball yang menayangkan video band metal hanya bisa dikonsumsi oleh sekaum berparabola di rumah mereka.

[bacajuga]

Kaset perdana yang membuat saya jatuh cinta dengan musik indie pop/britpop/alternative adalah sebuah kaset pita kompilasi berjudul Fresh yang bergambar jeruk. Kaset itu dijejali band-band seperti Blur, Oasis, Radiohead, Mansun, The Verve, Suede sampai Green Day. Sebelumnya album Dookie dari Green Day pernah saya dengar dari kaset pinjaman tetangga, dan jadi salah satu album punk favorit saya.

Setelah mendengarkan kaset kompilasi Fresh yang saya putar berulang-ulang hingga kusut, kemudian bermuara pada pembelian kaset yang sama, dan akhirnya saya membeli album-album dari band yang saya sukai dalam kompilasi tersebut, dengan uang jajan yang saya kumpulkan juga dengan cara ‘memalak’ orang tua untuk dibelikan kasetnya. Dimulai dari Oasis album Be Here Now dan What’s The Story, album-album Blur, serta Coming Up dari Suede yang jadi salah satu album favorit saya sampai saat ini. Selanjutnya saya mengumpulkan album-album dari The Cure dan sosok Robert Smith merupakan salah satu frontman idola saya. Berlanjut mendalami skena Mancunian (Manchester) dengan band-band khususnya The Stone Roses yang sangat saya idolakan, sampai-sampai pada saat mereka manggung di sini, saya menyepelekan saran dokter untuk bed rest karena saya sedang mengalami vertigo parah.

Saat itu saya tetap nekat menonton konser ‘tuhan’ musik Manchester yang sedang melakukan tur reunian setelah hibernasi panjang. Sebelumnya vokalis mereka, Ian Brown, yang bersolo karier sempat manggung juga di Indonesia, dan saya sempat bertemu dan meminta legalisir kaos Stone Roses saya cetakan tahun 1991 sampai dia lumayan kaget melihat di negara dunia ketiga masih ada yang punya kaos cukup langka dan sudah berumur tersebut. Begitu juga pada saat kedatangan Blur, saya sampai bela-belain nothing to lose ke bandara demi bertemu dengan bassis idola saya, Alex James, dan musisi superjenius idola saya, Damon Albarn, dan perjalanan itu menghasilkan pertemuan antara saya dan Alex James yang saya abadikan dan unggah di akun Instagram saya. Kalau sama Damon enggak sempat foto karena dia kebelet ngerokok dan tampak terburu-buru, cuma say hi dan salaman aja.

Band lain asal Manchester yang sangat memengaruhi lirik-lirik saya adalah Joy Division, yang akhirnya setelah kematian Ian Curtis menjadi New Order dengan aura yang lebih terang. Almarhum Ian Curtis dengan lirik satir nan depresif cukup banyak memengaruhi penulisan lirik saya, bahkan pattern vokalnya ada yang saya colong dan saya aplikasikan ke musik Deadsquad yang notabene death metal. Soal lirik, mantan vokalis The Smiths yang flamboyan, Morrissey juga memengaruhi lirik-lirik saya. Mungkin pondasinya sama Jean-Paul Sartre, sastrawan asal Prancis. Mengharapkan The Smiths reuni merupakan suatu yang cukup utopis, tapi saya berharap Marr dan Moz bersatu kembali dengan nama The Smiths, salah satu legenda Mancunian. Kadang saya manggung/sesi foto dengan Deadsquad juga pake kaos band indie pop/shoegaze/post-punk seperti The Smiths, Stone Roses, Placebo, dan Joy Division. Itu mungkin suatu bentuk kejujuran dan diferensiasi saya dengan vokalis musik ekstra cadas lainnya, dan itu karakter saya: 50% death metal 50% indies, atau suka saya pelesetin judul lagu Morrissey, "Irish Blood, English Heart" dengan "indies heart, death metal blood."

[pagebreak]

Untuk band lokal, saya pertama kali tau indie pop lewat lagu “Kosong” dari Pure Saturday yang video klipnya minimalis tapi berkesan sering lalu lalang di televisi pada saat itu. Lalu Kubik dengan lagu “M.A.T.E.L.” yang sangat catchy dan memorable, juga “Mati Suri” dari Rumahsakit yang video klipnya langsung menyita perhatian saya. Bagi saya video klip band indie pop asal Jakarta itu sudah melampaui video klip lokal pada saat itu. Tak lupa lagu ringan “Langkah Peri” dari Cherry Bombshell juga menyita perhatian saya—era vokalis Alexandra yang setelah itu hijrah ke Sieve—walaupun lagu Cherbomb favorit saya tetap "Super Ego" yang termuat di kompilasi berformat CD pertama di skena lokal, Masaindahbangetsekalipisan, yang dirilis via label 40.1.24 milik Richard Mutter (eks drummer PAS Band). Liner notes album Let Me Begin dari Themilo juga mengenalkan saya akan band shoegaze mancanegara seperti My Bloody Valentine, Cocteau Twins, dan Slowdive.

Balik lagi ke era 90-an, dulu saya langganan majalah Hai dan ada satu edisi yang membedah musik britpop. Di situ tertulis statement dari Damon Albarn kalau dia enggak pernah nyisir rambut dan pake parfum karena sering diolok sebagai gay. Karena artikel tersebut, sampai saat ini juga saya minim sekali menyisir rambut haha.

Rambut gondrong saat ini pun bukan karena mau kayak musisi metal yang identik dengan rambut gondrong, tapi karena Kevin Shields, pahlawan gitar nomor wahid saya dan alasan utama saya beli gitar dan kenapa hanya jaguar dan jazzmaster yang saya pakai, dengan kombinasi rangkaian belasan belasan efek. Karena saya adalah poser dari sosok virtuoso sound dan pelopor teknik glider asal Irlandia tersebut.

Kalau saya enggak dengerin album esensial Loveless milik My Bloody Valentine, mungkin saya tak akan beli gitar listrik haha. Karena saya sebagai gitaris berkutat pada chord standar nan minimalis dengan eksperimentasi melalui stompbox dan ampli menghasilkan sound yang enggak standar. Bukan ke teknik shredding karena saya sadar akan kemampuan motorik saya haha. Alasan kedua jadi gitaris enggak jelas adalah Thurston Moore dan Lee Ranaldo dari Sonic Youth yang mengenalkan saya dengan kebisingan yang indah, setidaknya bagi indera pendengaran saya.

Jadi sebelum mengenal death metal, terlebih dulu saya mengenal indie pop dan musik alternative karena akses untuk musik itu relatif lebih gampang untuk takaran anak SD seperti saya pada saat itu. Saya berkenalan dengan death metal dan musik extreme metal lainya baru pada saat saya pertengahan SMP. Awalnya saya ngumpulin mainan (sekarang disebut dengan istilah action figure) seperti Spawn dan tokoh-tokoh Marvel, jadi pas ke toko kaset saya beli kaset yang cover-nya menyeramkan dengan analogi mainan seperti Spawn haha.

Kaset death metal pertama yang saya beli adalah Back From The Death dari Obituary, dan pada saat itu saya susah sekali mencerna musik mereka. Sedangkan kaset grindcore pertama yang saya dengar adalah Harmony Corruption milik Napalm Death. Kali ini lebih gampang saya cerna karena saya sebelumnya telah mendengarkan Slipknot yang banyak mengombinasikan musik extreme metal dengan modern metal. Sedangkan untuk black metal adalah Midian dari Cradle of Filth, sekali putar saya langsung suka karena horor dan catchy.

Sebelum saya bermain musik death metal, saya telah mencoba bermain berbagai musik lain tapi saya enggak bisa bermain instrumen dengan benar dan nyanyi pun saya fals total. Pada akhirnya yang saya bisa hanya growl/scream saja dan itu saya dalami bertahun-tahun hingga akhirnya membentuk karakter suara saya saat ini. Dan saya sadar akan ke-fals-an suara saya, tapi hasrat bermain musik shoegaze/noise rock/indie pop sangat menggebu dalam diri saya, dan itu harus saya salurkan.

Dari situ saya membeli gitar jaguar pertama sekitar taun 2014 setelah Deadsquad manggung di salah satu pentas seni di bilangan BSD, satu jam setelah manggung akhirnya saya sudah punya gitar listrik pertama. Padahal saya enggak bisa main gitar, haha, tapi passion mengalahkan segalanya. Bagi saya yang penting punya dulu, kalau udah punya pasti dipaksa harus bisa daripada mubazir. Dan sadar diri untuk keselian kalinya tak mungkin juga saya nyanyi jika saya membentuk band shoegaze, maka dengan dawai elektrik dengan vibra tremolo saya yakin ide dan hasrat saya dapat diimplementasikan dan dituangkan, serta diabadikan dalam proyek solo saya, BISINGGAMA, yang berpondasi pada musik shoegaze ala My Bloody Valentine, Slowdive, Cocteau Twins, dan Ride dikawinsilangkan dengan Sonic Youth dan Earth. Selain Bisinggama, saya juga aktif menyiksa gitar di DIE ROBOTER, sebuah kolektif absurd penuh spontanitas dengan pondasi musik krautrock (musik khas Jerman yang terbentuk pasca perang dunia kedua).

Foto: Akmal Nasution (flickr.com/photos/akmlnst), koleksi pribadi Daniel.

0 COMMENTS