Daniel Mardhany ‘Deadsquad’: (Kancah Musik Indie) Indonesia Juara Asia

Sebuah komparasi skena musik independen Indonesia dengan negara-negara Asia.

Setelah merasakan tur di beberapa negara Asia, saya merasa beruntung menjadi bagian dari skena independen Indonesia, karena memang jauh lebih besar, solid dengan genre yang beraneka ragam. Antusiasme dari pelaku,industri dan penikmat di skena indie Indonesia juga sangat besar jika dibandingkan dengan beberapa negara yang telah saya datangi dan bermain, seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura, Malaysia, Hong Kong dan Taiwan.

Hal ini juga dirasakan beberapa band teman yang telah melanglangbuana tur/bermain di negara-negara Asia lainnya, sebut saja band-band seperti Jasad, Burgerkill, Warmouth, Sore, The Sigit, Sigmun, Zoo, Kelelawar Malam, Senyawa, Bottlesmoker, Noxa, Mocca, Taring dll.

Deadsquad dan Noxa pernah bermain di acara extreme metal bergengsi—bisa dibilang terbesar—di Jepang untuk saat ini, Asakusa Deathfest dengan headliner band-band internasional seperti Skeletal Remains, Rude dll. Mungkin acara ini kalau di Jakarta seperti Jakarta Death Fest. Penonton Jakarta Death Fest bisa mencapai 2000-3500 orang, sedangkan Asakusa Deathfest yang diadakan 2-3 hari satu harinya maksimal adalah 300 orang.

Tapi begitulah adanya, karena keterbatasan tempat dan penikmat musik extreme metal seperti death metal/grindcore di sana memang tidak sebanyak di Indonesia. untuk event seperti itu sangat sulit untuk diadakan di tempat terbuka (open air) karena harga sewa tempat yang sangat mahal dan penikmat musik extreme di sana tidak sebanyak di skena lokal, tapi mereka loyal. Jokes orang sana, tidak mungkin kecuali kalian Hi-Standard (band punk Jepang) yang sudah berapa kali bermain di Budokan. 

Yang membedakan mungkin band-band Jepang memiliki akses yang lebih mudah untuk tur AS/Eropa dibanding band-band Indonesia yang sering sulit mendapatkan visa untuk tur AS/Eropa. Namun beberapa band Indonesia sudah merasakan tur Eropa, contohnya seperti Burgerkill, Jeruji dan kerennya album mereka tetap dirilis oleh label Indonesia. Biasanya band-band luar Asia yang melakukan tur dunia, albumnya dirilis label luar negaranya, contohnya seperti band-band Singapura, Wormrot yang telah merilis beberapa album via Earcache, dan Impiety yang hampir semua albumnya dirilis label luar Singapura, dan mereka mendapatkan akses yang lebih mudah untuk tur dunia, selain karena kualitas musik mereka memang layak juga mereka lebih mudah mendapatkan visa.

Satu-satunya band Indonesia yang sudah bermain di lima benua adalah White Shoes & the Couples Company. Saya selalu takjub dengan pergerakan band jebolan skena IKJ yang hanya mengeluarkan 2 album dan 2 EP tersebut. Mereka berhasil menginvasi dengan musik Indonesia retro di mancanegara. Begitupun dengan Zoo dan Senyawa yang telah sukses tur di Asia, Eropa dan Australia.

Untuk tiket acara Indonesia termasuk murah. Tiket acara indie di Indonesia rata-rata berkisar dari Rp 20 ribu-Rp 100 ribu jika dibandingkan dengan standar gigs kecil di Jepang sangat jauh. Tiket di sana untuk gigs lokal sekitar 1500-3000 yen (sekitar Rp 200 ribu sampai Rp 400 ribu). Kapasitas tempatnya sendiri antara 50-300 orang, tapi yang membedakan equipment musik di sana dirawat dengan baik, sehingga output sound yang dihasilkan juga bagus dan acara hampir tidak pernah ngaret. Soundchek pun begitu, kalau jatah soundcheck 30 menit ya pas 30 menit, kalau kita belum kelar soundcheck ya mau gak mau kita harus mengemas alat, dan band selanjutnya melakukan soundcheck dengan waktu yang sama. Disiplin waktu di sana sangat tinggi, asas time is money benar-benar berlaku di sana. Mungkin karena biaya sewa tempat yang mahal juga dan acara harus dimulai on time.

Kadang Deadsquad bermain di tempat yang sangat sempit dan terkesan kumuh, tapi kualitas alat dan output sound berbanding terbalik dengan penampakan tempat gigs tersebut. Contohnya seperti di El Puente Yokohama, band fastcore legendaris asal US, Infest pernah bermain di sana dan tiketnya sold out. Saat itu mereka bermain dua sesi siang dan malam, ternyata kapasitas tempat tersebut hanya cukup untuk 75 orang, haha.

Begitu juga di Hokage Osaka, band-band cadas AS masa kini seperti Nails dan Black Breath pernah bermain di tempat yang dikelola oleh personel band PALM (artwork abum mereka digarap oleh Jacob Banon dari Converge) dan Birushanah (pecahan Corrupted). Kapasitas tempat itu mungkin hanya 100 orang, tapi banyak mendatangkan band internasional. Kalau di Indonesia, band internasional mungkin bermain di tempat dengan kapasitas minimal 250 orang.

Industri merchandise (kaus dll ) di indonesia memang lebih maju dilihat dari segi kuantitas, tapi untuk apresiasi rilisan fisik, Jepang lebih edan. Dilihat dari banyaknya gerai Disk Union dan toko-toko rilisan fisik yang selalu ramai didatangi pengunjung, dan mereka tetep membeli rilisan fisik. Malah saya sempat masuk satu tempat di mana ada rental audio CD dengan katalog yang masif (Jika di indonesia ada tempat seperti ini mungkin orang-orang seperti saya bisa mendapatkan pemasukan lebih, haha).

Untuk masalah solid, skena Indonesia bisa dibilang cukup solid. Band yang berbeda provinsi/pulau pun bisa saling kenal. Di Jepang, band asal Tokyo belum tentu kenal dengan band asal Osaka dan Kobe. Komunikasi antar pelaku skena di Indonesia adalah salah satu kunci besarnya skena Indonesia.

Pelaku skena di Indonesia biasanya mendengarkan beranekaragam genre musik. Di Jepang, saya ngobrol soal band post-rock seperti MONO dan toe dengan anak death metal, mereka tidak tahu sama sekali tentang band tersebut, padahal nama mereka sudah cukup besar di skala internasional. Sama seperti di Korea, mereka jarang kenal antara pelaku skena. Berbeda dengan pelaku skena lokal yang saling mengenal pelaku skena dengan genre yang berbeda. Pelaku skena metal bahkan kenal dengan pelaku skena indie pop, pelaku skena punk kenal dengan pelaku skena musik elektronik. 

Itu tadi sekilas mengenai skena di Jepang. Saya mungkin cukup bisa bicara banyak mengenai skena di sana karena sudah sempat tur Jepang dua kali bersama Deadsquad. Kalau skena negara Asia lainya, seperti Korea Selatan, musik bawah tanah merupakan sesuatu yang bisa dikatakan masih minoritas.

EO yang mengundang Deadsquad bercerita tentang konser band street punk legendaris The Exploited di Korea Selatan, dan untuk sekelas band dengan album esensial macam Beat The Bastards tersebut, katanya yang nonton hanya belasan orang. Beberapa band Indonesia yang sudah pernah manggung di Korea Selatan di antaranya Kelelawar Malam dan Death Vomit, tapi EO yang mengundang Kelelawar Malam dan Deadsquad/Death Vomit tidak saling kenal.

Seorang tokoh skena Korsel, Kevin pemilik label Dope Records dan sebuah records store yang merupakan satu-satunya records store di Seoul yang tersisa untuk saat ini, mengatakan bahwa skena di Korea Selatan tidak sebesar saat dia remaja (umur Kevin hampir 40), karena faktor regenerasi. Generasi milenial Korsel lebih tertarik dengan K-pop dan music elektronik dibanding musik punk/HC dan metal.

Malaysia dan Singapura mempunyai skena yang lebih besar dan solid dibanding Korea Selatan. Cukup banyak band-band Indonesia yang sudah manggung di negara tetangga ini lebih dari dua kali. Skena Malaysia regenerasinya cukup tampak waktu saya merasakan bermain di KL Metal Camp dan para senior di skena tetap aktif. Waktu itu Deadsquad bermain dengan Punisher (band thrash Malaysia yang sudah berusia lebih dari 3 dekade), dan Sil Khannaz band dari era 90-an. Headliner acara ini adalah IMPIETY (band black metal dari Singapura) yang namanya sudah dikenal di kancah internasional dan mendapatkan status KVLT di genrenya.

Antusias penonton juga edan, mungkin sekitar 800 orang memenuhi venue berupa hall yang adem, nyaman, cukup luas, dan berada di tengah pusat perbelanjaan. Banyak lapak yang menjual merch dan rilisan fisik lokal dan import.  Transaksi yang saya lihat juga berjalan cukup masif, katalog barang di lapak-lapak tersebut juga beragam walaupun lebih dominan dengan musik black metal dan oldskool death metal. Mungkin memang selera musik yang sedang tren untuk saat ini di sana adalah dua genre tersebut.

Singapura bukan merupakan negara yang besar, penduduk mereka tidak sepadat Jakarta, tapi Singapura mempunyai skena yang solid yang dijalankan secara kolektif. Orang-orang dalam skena tidak semasif di Indonesia tapi mayoritas dari mereka mempunyai peran yang vital dalam skena, seperti mengadakan show regular dan menangani tur band dari luar Singapura.

*Foto: Dokumentasi pribadi penulis

0 COMMENTS

Info Terkait