Daniel Mardhany

Daniel Mardhany Deadsquad - Kekurangan Adrenalin

Kekurangan adrenalin dapat menyebabkan.....

No mosh for today (maybe tomorrow)


Konser digital, streaming ataupun taping adalah alternatif "panggung" selama pandemi di tahun tergelap yang pernah saya, anda dan mereka lewati. Saya bukan seorang puritan yang "harus" main sesuai dengan apa yang saya mau, saya harus bisa adaptasi dengan keadaan atau punah seperti dinosaurus. Kompromi dengan pergeseran seni pertunjukan selama pandemi cukup penting bagi saya selama musik yang dimainkan tidak berubah. intinya saya dan band tetap bisa menghibur sambil mengobati rasa kangen fans atau siapapun itu lewat "panggung" via dunia maya. Saya tidak kontra dengan "panggung" sementara imbas dari pandemi ini. Di sini saya hanya bercerita mengenai perspektif subjektif sebagai komparasi dari perasaan manggung virtual dan kerinduan saya akan panggung beneran.

Mungkin banyak band yang nyaman dengan alternatif itu tapi bagi band rock, metal, hardcore-punk banyak esensi dasar dari pengalaman live yang hilang atau setidaknya berkurang yaitu adrenalin.


Musik ekstra cadas sangat identik dengan mosh pit, headbang massal, circle pit dan sentuhan atau mungkin benturan fisik tidak terelakan. Mungkin Itu bisa menjadi sarana pelepas penat atas segala macam problematika kehidupan fana dan hiburan pelepasan energi / adrenalin yang memang harus disalurkan lewat media musik bagi mereka yang mengimani gelegar distorsi yang dibalut hentakan drum mengiringi teriakan-teriakan parau . Di moshpit penonton bisa melepaskan energi positif mereka dengan tertib tanpa hukum tertulis.
Mereka yang menikmati dan mengerti seni pertunjukan musik cadas pasti saling menjaga dan tak terpancing emosi untuk berantem jika terkena kontak fisik tanpa disengaja, intinya mereka paham cara menjaga "taman bermain" yang telah disediakan. Stigma musik keras identik dengan kekerasan adalah sesuatu yang sudah tidak relevan di era sekarang.

Dari sudut pandang saya sebagai frontman band metal saya mendapatkan energi balik dari keliaran crowd di moshpit. Saya rasa itu yang dirasakan hampir semua personil band cadas saat bermain live. Sebagai contoh saya sering sekali manggung tanpa tidur dan istirahat yang cukup, khususnya untuk panggung luar kota. Flight pagi (biasanya ga tidur), sampai kota tersebut langsung check sound kadang dengan cuaca yang tidak bersahabat , sampai hotel biasanya tidak sempat tidur atau saya lebih memilih bertemu dengan teman-teman disana. Lelah? Pasti , tapi rasa lelah itu bisa mendadak hilang dan berkonversi jadi energi saat melihat dan mendapatkan respon energi balik dari penonton yang liar tapi tertib. Melihat gelora yang gila dari crowd di moshpit semacam efek placebo suntik vitamin dan membuat lelah fisik hilang. Bahkan sampai kelar manggung pun rasa kantuk karena kurang tidur.

Asupan adrenalin dari penonton ke band adalah hal yg sangat esensial saat manggung, dimanapun dan kapanpun. Semacam ada simbiosis mutualisme antara band dan penonton yang hanya bisa dirasakan dalam suatu konser "nyata”. Interaksi dengan fans dan kerabat juga merupakan hal yang penting yang harus dijaga,layaknya suatu silaturahmi . Hal tersebut hilang sementara pasca pandemi menyerbu bumi dan segala lini ekonomi , industri hiburan / panggung salah satu lini yang seakan mati suri, ini bukan istilah "hidup segan mati tak mau" tetapi "mau berjuang hidup tapi dipaksa sekarat ".

Dari pengalaman saya konser virtual yang sudah saya lakukan bersama beberapa band saya perbedaan paling signifikan adalah energi yang terkuras dan pelepasan adrenalin yang tidak maksimal. Rasanya hampir sama dengan taping untuk acara TV,kanal youtube atau membuat video clip. Tenaga yang di keluarkan terasa lebih ekstra karena saya tidak mendapatkan energi balik dari penonton. Atmosfer pun berbeda, tidak ada keriuhan dari keramaian penonton yang memacu rasa seperti deg-degan demam panggung, euphoria dan berbagai macam perasaan lainnya seperti sebelum manggung konvensional. Tidak ada teriakan-teriakan crowd sebelum pentas dan di jeda lagu, tidak ada pose foto membelakangi lautan penonton setelah lagu terakhir dengan senyum muka puas dan senang. Tapi begitulah keadaan saat ini, saya harap kondisi dunia perpanggungan akan kembali normal kembali dengan segala regulasi barunya yang masih menjadi tanda tanya hingga saat ini. Tidak sedikit orang yang melihat manggung virtual terlihat lebih mudah tapi pada kenyataanya untuk musik extreme metal butuh effort extra di banding yang publik bayangkan. Harus membangun mood seakan-akan di depan kita ada mosh pit seperti layaknya pemandangan yang saya nikmati di panggung off air ketika dunia masih "normal". Rasa lelah yang saya rasakan setelah event virtual berlipat ganda di banding panggung biasanya. Tapi itu lah alternatif temporer untuk saat ini, jika tidak dicoba saya dan teman-teman band saya tidak akan tau gimana rasanya. Setidaknya saya jadi tau perbandingannya serta menambah pengalaman saya di dunia musik.

Dari sisi produksi, cost yang dikeluarkan untuk jasa tim produksi pertunjukan virtual juga sama saja dengan panggung biasanya karena job desk teknisi,soundman juga hampir sama dengan panggung "beneran".

Pada konser secara "harfiah", experience yang ingin dinikmati penonton adalah audio visual . Dengan sound yang bagus nan menggelegar ditambah visual yang senada adrenalin penonton akan terpompa untuk menggila meluapkan emosi dengan cara mereka. Di konser virtual output sound pasti berbeda-beda tergantung console,headphone atau piranti sound system yang mereka punya. kasarnya yang diterima kuping tidak "sejujur" output sound yang keluar jika kita menonton gigs secara langsung. Tapi ya mau bagaimana lagi selama regulasi untuk pertunjukan musik dan ijin keramaian masih bias ,demi hasrat bermusik ini opsi yang setidaknya pernah dan akan saya lakukan daripada tidak ada penyaluran sama sekali, setidaknya itu bagi saya pribadi.

Secanggih-canggihnya visual konser virtual. Visual yg ditangkap penonton kadang juga tidak sesuai dengan apa yang ingin mereka lihat. Pada saat live beneran penonton bebas memfokuskan matanya pada aksi personil band yang ingin mereka lihat pada bagian lagu tertentu. Tidak terbatas dari apa yang di terekam kamera seperti menonton DVD, tapi disisi lain jika eksekusi tim produksi visual bagus ini akan menjadi sesuatu yang menarik bagi yang menontonnya . Walaupun tidak mungkin mereka moshing di rumah mereka masing-masing . Setidaknya mereka bisa ber-headbanging dan bisa mengobati kerinduan mereka akan band cadas yang mereka sukai.

Saya harap titik terang akan segera hadir untuk pengusung musik bernuansa “kegelapan “. Karna seyogyanya cara menikmati musik cadas adalah dengan menonton langsung dan disitulah adrenalin dari band dan penonton saling berpacu melebur menjadi satu pengalaman,momen yang hanya bisa dirasakan di tempat. Analogi kuliner mungkin seperti makan di tempat lebih nikmat dan lezat di banding jika makanan itu dibungkus”.

0 COMMENTS