DANIEL MARDHANY 'DEADSQUAD': Kompleksitas Menikmati Musik di Era Pragmatis

Saya merasa beruntung hidup dan dilahirkan di akhir 80-an, dan merasakan kejayaan analog serta rilisan fisik di era 90-an, yang pada akhirnya bergeser ke digital di era 2000-an. Menghabiskan waktu berjam-jam di toko kaset/lapak-lapak pada suatu acara musik adalah rutinitas yang saya sempatkan dalam sebulan. Setidaknya sebulan 2-3 kali ada waktu khusus untuk berburu kaset/CD pada era itu dan tetap terbawa sampai saat ini.

Namun sekarang juga bergeser dengan nongkrong di depan komputer, berbelanja/memesan melalui webstore/online shop luar negeri dan lokal untuk rilisan tertentu yang susah didapatkan di toko atau saya malas jalan ke toko tersebut. Tapi esensi komunikasi dua arah secara langsung dan nongkrong sekalian bertukar informasi soal musik di toko nyata memang jauh lebih nikmat dibanding dengan berbelanja via toko dunia maya.

[bacajuga]

Saya memang pecandu rilisan fisik dengan level yang cukup lumayan kronis, tapi masih jauh dibanding teman-teman saya seperti Ebenz Burgerkill dan Arian13 Seringai yang telah memulai mengumpulkan rilisan fisik jauh sebelum saya ngeband mungkin haha. Dan banyak pemadat cakram padat dan rilisan fisik lainya dari beragam generasi dan profesi yang saya kenal secara langsung dan tidak langsung dengan koleksi yang membuat saya migrain dan ereksi melihat isi rak koleksi mereka.

Saya seperti mengalami dan juga menikmati sejenis fetish untuk rilisan fisik. Sampai saya bersumpah untuk tidak akan membeli ‘musik’ dalam format digital karena kecintaan saya akan rilisan fisik. Entah sampai kapan sumpah ini akan tetap saya genapi, atau mungkin suatu saat saya menelan ludah sendiri. Kalau mengunduh secara ilegal ya lumayan sering juga, tapi kalau saya suka albumnya pasti saya beli format fisiknya, baik itu kaset, CD, atau vinyl-nya. Bahkan untuk band saya sendiri yang dulu pernah bikin ringback tone (RBT), saya tidak pernah memasang RBT tersebut sebagai salah satu bentuk counter budaya populer pada saat itu.

Saya tumbuh dengan berbagai macam jenis musik, salah satunya adalah punk. Dan punk mengajarkan saya suatu sikap counter culture untuk kemapananan dalam berbagai macam bentuk dan aplikasinya. Etos punk masih saya jaga dengan berbagai cara. Salah satu cara yang saya lakukan dengan bersikap seperti itu. Bukannya saya anti musik digital garis keras, saya masih sering mengunduh file audio yang sering dibagikan ketika saya membeli vinyl/kaset dan cara itu legal, tapi saya tetap tidak membeli format musik digital. Yang saya beli tetap rilisan fisiknya lalu dapat voucher berisi kode untuk mengunduh format digital, untuk saya dengar di PC/ponsel saya. Jujur saya juga lumayan sering menikmati musik digital via smartphone saya. Berbeda dengan dulu kemana-mana saya harus bawa discman/walkman dengan tas di sesaki CD/kaset. Di sisi ini saya sangat terbantu oleh musik digital untuk menikmati musik yang saya copy via PC saya.



Sampai saat ini sih saya belum pernah membeli musik digital melalui gerai-gerai digital yang semakin berkembang dan memudahkan kita untuk mendengarkan musik. Saya lebih memilih menyulitkan diri saya dengan me-rip CD orisinal saya ke komputer, lalu meng-copy file digitalnya ke HP saya. Ada perasaan tidak ikhlas ketika saya harus mengeluarkan uang, tapi tidak ada wujudnya. Walaupun inti dari musik itu adalah audio, tapi saya sangat mengapresiasi kemasan, desain artwork, estetika sampai tracklist album sebuah band.

Bagi saya pribadi, tracklist dalam suatu album adalah sesuatu yang penting karena membentuk alur dan dinamika album tersebut. Itu merupakan salah satu esensi dari rilisan fisik jika dinikmati secara keseluruhan, terlebih di format kaset/piringan hitam karena butuh ‘usaha’ lebih untuk memaju-mundurkan tracklist-nya. Jadi sering kali jadi lebih fokus menikmati alur album tersebut karena malas meng-forward/rewind. Kalau di CD mungkin lebih gampang dengan hanya memencet tombol. Di musik digital lebih mudah lagi, bisa langsung play lagu yang kita ingin dengarkan tanpa melalui lagu-lagu dalam album yang tidak begitu nyangkut di kuping kita. Tapi saya secara personal menikmati kompleksitas di era simpel untuk mendengarkan sebuah musik.

Contohnya kalau mendengarkan vinyl, mulai dari memilih ampli yang cocok dengan speaker dan ruangan, hingga memilih jarum yang pas untuk turntable dengan genre musik yang saya ingin dengarkan. Contohnya kalo saya memutar vinyl bergenre musik yang ‘soft’ seperti jazz, folk, soul, ska, dan pop, saya lebih suka memutar di turntable Lenco L75 dengan jarum Ortofon dan ampli Rotel 90-an di-mix dengan speaker MB Quart/Jamo yang saya set di ruang keluarga. Untuk musik brangbrengbrong seperti metal, hardcore, punk, noise dan musik ‘kasar’ lainya, saya lebih sering memutar di turntable Technics MK 2 black dengan amply dan speaker produk Jepang yang bagi saya lebih cocok untuk musik seperti itu.

Untuk musik seperti soul, jazz, sludge, drone, dan ambience saya baru bisa menikmati dan mencerna jenis musik seperti itu setelah dengerin dari media piringan hitam. Sebelum itu saya kurang bisa mencerna musik-musik seperti itu di format MP3/CD.

Untuk vinyl saya sampai membeli album yang sama dengan pressing yang berbeda-beda, kadang dobel, kadang triple, demi menghilangkan rasa penasaran dan komparasi kualitas suara antar pressing. Terkadang first press, repress, kadang pressing Eropa atau AS dan Jepang, karena memang ternyata ada perbedaan yang kadang signifikan antar pressing tersebut.

Di format compact disc, tradisi seperti ini juga saya terapkan. Contohnya perbedaan sound yang signifikan adalah album My Bloody Valentine dan Nine Inch Nails cetakan Eropa/AS dengan Jepang. Saya lebih suka cetakan Jepang karena biasanya lebih audiophile, kadang dicetak dalam format blueray disc atau format 5.1, jadi lebih maksimal dinikmati di piranti home theater dengan speaker 5.1 juga.



Ya, sekompleks itu memang, tapi saya sangat menikmati dan cukup puas dengan output sound-nya, dan masih sesuai isi dompet saya. Mungkin kalau nanti saya kaya raya, saya tidak sungkan menghabiskan ratusan juta untuk membeli piranti menikmati rilisan fisik.

Musik digital banyak membantu saya dalam memilih album apa yang akan saya beli rilisan fisiknya, dan membantu memperkarya referensi musik-musik dari masa lalu, yang rilisan fisiknya sudah sangat susah di cari atau mahal. Selain itu juga membantu saya mencari referensi musik yang up to date. Berbeda dengan era 90-an, di mana saya sering ‘ketipu’ kover kaset yang yang beli, ternyata musiknya tidak seperti yang ada di bayangan saya, jauh dari ekspektasi, dan diakhiri dengan keluhan dan penyesalan karena uang yang saya keluarkan tidak sesuai dengan apa yang saya dapatkan. Modern life is (not totally) rubbish.

Foto: Akmal Nasution (flickr.com/photos/akmlnst), koleksi pribadi Daniel.

0 COMMENTS

Info Terkait

supernoize
1369 views
superbuzz
431 views
supernoize
1465 views
supernoize
1586 views
superbuzz
542 views
supernoize
3397 views