Daniel Mardhany 'Deadsquad': Pentingnya Pengarsipan Musik

Di negara-negara maju, pengarsipan adalah hal yang sangat penting, dalam hal dan bentuk apapun. Misalnya seperti dokumen-dokumen yang krusial, uang seperti yang bisa kita lihat di Museum Bank Indonesia, benda-benda bersejarah di Museum Nasional Indonesia, dan berbagai museum sejenis lainnya.

Karya seni seperti lukisan, seni rupa, instrumen/perkakas musik tradisional juga mempunyai tempat dalam sudut-sudut suatu museum. Misalnya seperti beberapa museum yang pernah saya kunjungi di luar pulau Jawa, seperti di Kutai atau Makassar yang juga menyimpan banyak karya seni dari masa lampau. Musik salah satu bentuk dari seni, dan bagi saya atau mungkin individu-individu lainnya, hidup tanpa musik adalah hampa.

Musik sudah ada sejak awal peradaban, dengan instrumen dan “bentuk” sesuai era dan zamannya. Misalnya sebagai puji-pujian untuk Sang Pencipta dari era dinamisme-animisme, sampai pada saat ini dalam berbagai agama-agama konvensional dan juga kepercayaan. Musik mempunyai peran yang cukup vital dalam peradaban manusia di bumi. Kita hidup berdampingan dengan musik, bahkan—atau lebih tepatnya, mungkin—pada saat manusia meninggalkan dunia fana selamanya, musik tetap mengiringi transformasi kita ke dimensi lainya.

Di era milenial sekarang ini, sangat mudah mengakses musik, baik musik dari masa lampau sampai musik-musik hari ini, walaupun tak semuanya ada dalam dunia maya. Beberapa kolektif dan perorangan di indonesia saat ini sudah cukup peka akan pentingnya pengarsipan musik, baik secara digital maupun fisik. Contohnya seperti yayasan Irama Nusantara yang terbentuk dari tahun 2012 dan sudah mengarsip lebih dari 2000-an file musik Indonesia, dari tahun 1915 sampai era 80-an. Di Solo ada Lokananta yang mengarsip rilisan-rilisan mereka yang dominan berformat piringan hitam, dan bisa kita lihat langsung di kantor mereka yang berada di tengah Kota Solo.

Di Jawa Timur, tepatnya di Kota Malang ada Museum Musik Nasional dengan ribuan rilisan fisik musik nasional dalam berbagai macam format, dalam total koleksi belasan ribu, mulai dari piringan hitam, kaset dan CD. Tempat ini berlokasi di Gedung Kesenian Gajayana di Jalan Nusakambangan No. 19, Malang. Tidak dipungut bayaran untuk memasuki gerbang sejarah musik Indonesia. Saat ini, museum ini adalah satu-satunya museum musik di Indonesia yang didirikan oleh segelintir orang yang mempunyai antusias dan kepedulian yang sama akan pentingnya pengarsipan rilisan-rilisan pertiwi dan sebagian rilisan mancanegara. Saya berharap di masa yang akan datang ada museum-museum semacam ini di kota lainya.

Foto: ilovemalang.net

Saya sendiri sebagai individu secara tidak langsung mulai mengumpulkan rekaman-rekaman lokal dari era pertengahan 90-an (era di mana saya tumbuh dan mulai menjadi penikmat musik), sampai era saat ini dan masa yang akan datang. Karena saya sadar banyak band/rilisan bagus, tapi tak banyak diketahui banyak penikmat musik Indonesia.

Sebagai contoh, album dari Last Few Minutes dengan judul Waktu yang dirilis di pertengahan era 90-an via Granada Records. Dua personel band alternative yang hanya mengeluarkan satu album itu adalah Adam Joswara AKA Vladvamp (Kubik, Koil) dan Ridho Hafiedz (Slank). Namun tak banyak Slankers dan fans Koil yang tahu bahwa keduanya pernah tergabung dalam band yang dikenal dengan nama singkatan L.F.M. Musik mereka cukup maju untuk zamannya, dibalut dengan lirik puitis nan apik. Beberapa lirik ditulis oleh sineas lokal kenamaan, Mira Lesmana.   

Saudara sedarah Mira Lesmana, yaitu Indra Lesmana juga pernah mempunyai proyek bernama PIG dengan Gilang Ramadhan dan Pra B Dharma. PIG mengeluarkan album di tahun 1996 dengan judul Lost Forest. Sampul album project avantgarde jazz dengan nuansa gelap ini digarap oleh Indra Lesmana bersama Sophia Latjuba. Judul lagu di album bertotal 12 lagu ini juga tidak lazim, yaitu “Part 1” sampai “Part 12”. Sampai saat ini banyak teman saya yang terkejut bila saya memutar CD ini.

Begitu juga dengan respons saya ketika mendengar piringan hitam nostalgia Indra Lesmana Volume 1. Musik berpondasi elektronik/synth yang pertama saya suka adalah “Semu” dari Homogenic, saat saya mendengar single mereka yang saya dapatkan sebagai bonus majalah Ripple medio saya SMP. Namun begitu saya mendengarkan lagu syahdu berjudul “Oide” milik Indra Lesmana, yang dirilis di tahun 1984 oleh Jackson Records, saya langsung terkejut dan terkagum dengan beat ala triphop, yang berbalut atmosfer etnik Indonesia yang indah dan kental. Kesan saya akan lagu ini, Indra Lesmana seperti mencolong masa depan pada saat karya ini diciptakan dan dirilis.

Banyak sekali artefak musik Indonesia yang sangat bagus dan berkualitas di masa lalu, dan sayangnya hanya segelintir orang yang tahu dan mengapresiasi karya-karya tersebut. Beruntung saya mempunyai teman seperti Alvin Yunata dan David Tarigan di bawah bendera Irama Nusantara, yang secara intens mengarsip artefak musik Indonesia masa lampau yang tetap revelan didengarkan pada saat ini, malah banyak yang lebih berkualitas dibanding musik saat ini. 

Irama Nusantara telah mendigitalisasi rekaman-rekaman berformat analog hingga mempunyai stok sekitar 3000-an lagu, mempermudah saya menggali musik-musik Indonesia tanpa harus berburu vinyl-vinyl yang cukup sulit dicari sekarang ini. Saya dapat mendengarkan dengan cara streaming gratis di web/situs Irama Nusantara, dan banyak kejutan-kejutan yang saya dapat ketika mendengarkan beberapa rilisan ‘antah berantah’ yang tidak populer pada saat album itu dirilis.

Contohnya seperti album solo Delly Rollies (drummer The Rollies), ada satu lagu dengan durasi 9 menit dengan vokal menggunakan vocoder. Komentar saya saat pertama mendengarkan lagu itu adalah “Beyond!” Cukup berbeda dengan musik The Rollies. Lagu berjudul “Licik” berdurasi 9 menit sangat tidak radio friendly. A&R radio pada masa itu juga sangat terbatas, minim sekali kemungkinan lagu yang sangat bagus itu diputar di radio.

Oh iya, coba cek cover song The Doors versi Trio Bimbo, mungkin kalian akan merasakan sensasi yang sama dengan saya. Juga ada lagu dari Arie Koesmiran, -“Langit ke Toedjoeh” dengan lirik yang cukup kontroversial dan lagu itu direkam pada saat dia masih berusia belia.

Pengarsipan bukan hanya soal nostalgia, tapi menambah wawasan, khazanah pengetahuan akan musik tanah air kita, dan pada akhirnya menginspirasi generasi sekarang dan generasi yang akan dating, baik itu dalam bentuk digital (untuk musik masa lampau yang sulit untuk didapatkan format fisiknya), maupun dalam format fisik. Karena kita dapat menyentuh, melihat langsung estetika cover, menyimak credit album beserta lirik, dan pastinya menikmati secara langsung.

Pengarsipan dari sudut pandang subjektif saya bisa dilakukan secara kolektif maupun perorangan, seperti yang saya lakukan pada saat ini. Mungkin pada nantinya saya akan bergabung dengan kolektif yang mempunyai antusiasme, visi, misi yang sama dengan saya. Hmmm saya sedang berusaha mengejar momen itu pada saat ini, terutama untuk musik era 90-an dan 2000-an.

Pengarsipan musik bukan sekadar nostalgia, tapi untuk hari ini dan masa depan.

*Foto cover: situs Irama Nusantara

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
103 views
superbuzz
355 views
supernoize
1565 views
superbuzz
641 views
superbuzz
1107 views

5 Negara Eropa Tercadas