Daniel Mardhany 'Deadsquad': Uniknya Orisinalitas Vinyl Rilisan Awal

Banyak band merilis ulang katalog lamanya. Biasanya rilisan ulang itu di-remastered sehingga output audio yang dihasilkan ada perbedaan dengan rilisan aslinya. Contohnya The Beatles, sekitar tahun 2009 mereka merilis ulang hampir semua katalog album mereka dalam format CD dan vinyl dengan digital remastered, dan dibuat dengan dua opsi pilihan: versi mono dan stereo dengan berbagai macam kelebihan, seperti yang dijelaskan di liner notes boxset band legendaris asal Liverpool itu. Jadi pendengar mempunyai dua opsi menikmati output audio hasil reproduksi ulang album-album yang tidak lekang dimakan zaman tersebut. Fans juga dapat menikmati estetika cover replica yang hampir mendekati rilisan awal terlebih di format mono yang terlihat lebih klasik dengan esensi retrospektif.

Di skena lokal, banyak band yg merilis ulang album mereka dengan versi remastered, kadang dengan gambar/artwork cover album yang berbeda dengan rilisan awal album tersebut. Contohnya seperti Horror Vision milik Deadsquad (rilisan awal via label Rottrevore Recs dan di-reissue oleh Armstretch Recs) dengan kemasan digipack CD dan jewel case dengan artwork yang berbeda. Album pertama Burgerkill, Dua Sisi, yang awalnya hanya dirilis dalam format kaset kemudian di-reissue oleh Sony Music Indonesia dalam format CD dan kaset juga dengan artwork yang berbeda. Begitu pula dengan EP pertama Seringai, High Octane Rock.

[bacajuga]

Semua album tadi, harga versi ‘aslinya’ sekarang telah melambung lumayan tinggi  jika dibandingkan dengan harga pada saat album itu diedarkan. Itu terjadi karena album-album itu telah hilang dari peredaran, dan untuk mencari rilisan awal album tersebut konsumen harus ngubek-ngubek pasaran rilisan fisik dunia maya maupun dunia nyata.

Rilisan awal itu telah menjadi collector item para kolektor rilisan fisik sehingga konsumen harus mengeluarkan kocek lebih untuk membeli album tersebut, walaupun kadang masih ada seller yang menjual dengan harga standar atau mungkin dibawah rata-rata, semua itu tergantung keberuntungan dan kejelian konsumen.

Veteran industrial rock asal Bandung, Koil sempat merilis album Megaloblast dalam format kaset dengan dua warna cover yang berbeda dengan artwork yang sama, putih (rilisan awal) yang mereka distribusikan sendiri dan cover warna hitam  (dengan bonus track) yang bekerja sama dengan salah satu label dan distributor kaset pada saat itu. 

Sedikit napak tilas pengalaman pribadi saya, sekitar tahun 2010 awal saya mulai dominan mendengarkan musik melalui piranti turntable, dan di tahun yang sama saya mendapatkan album Pink Floyd Dark Side of the Moon rilisan tahun 1973 dari hasil barter dengan teman dunia maya yang tinggal di Jerman. Saya membarter 1 LP pressing awal ini dengan tiga CD band lokal, saya lupa tiga CD itu apa aja tapi yang saya ingat di antara ketiga CD tersebut ada Edane album Edan.

Sampai sekarang kebiasaan barter/trade dengan teman mancanegara ataupun teman dalam negeri masih cukup sering saya lakukan, walaupun secara frekuensi sudah tidak seintens lima tahun yang lalu atau era tahun 2005-2009. Pada saat itu hampir tiap bulan saya trade dengan berbagai label/band mancanegara dengan compact disc/kaos band Indonesia. Sampai pak pos kenal secara pribadi dengan saya karena, saking intensnya beliau mengirim paket ke rumah saya dari berbagai macam penjuru dunia. Dari yang berupa sandang hingga kepingan-kepingan cakram padat yang sebagian besar masih betah menumpuk berdesakan bersama CD lainya di kamar saya.

Keunggulan dari pressing original Dark Side of the Moon yang di-pressing dalam format 130 gram itu adalah produksi audio yang melampaui zamannya, dengan keterbatasan channel tracking piranti rekaman di masa itu, tapi mereka mempunyai SDM di balik layar penangkap audio/frekuensi yang dapat mencuri masa depan. Dan ide Pink Floyd menciptakan dan mengaransemen lagu sangat cemerlang menurut saya sehingga menghasilkan album yang maha canggih bagi saya dan banyak penikmat musik lainya.

Sampai saat ini, saat jarum turntable saya mencium piringan hitam produksi puluhan tahun yang lalu, indera pendengaran saya selalu mengagumi produk dari masa lampau dengan kualitas yang tidak lekang termakan era milenial itu. Bahkan ribuan band era milenial malah ingin membuat rekaman dengan kualitas audio sebagus mahakarya kuartet asal Inggris itu, dan album tersebut menginspirasi dan menjadi pengaruh banyak band di era setelah album itu dirilis.

Sebagai pelaku dan pencinta musik metal ekstrem, bagi saya Dark Side of the Moon adalah salah satu keajaiban dunia audio abad 20. Album ini dirilis jauh sebelum saya dilahirkan atau saya menghirup oksigen pertama dibumi. Mungkin pada saat album ini diciptakan saya hanyalah partikel angan semesta di angkasa.

Album ini dibalut artwork karya Hipgnosis dan George Hardie. Dominan dengan warna hitam dan segitiga di tengah yang mengkonversi satu sinar menjadi berbagai warna. Sinar itu mencerminkan kekayaan tata suara dalam 10 track yang termuat di album esensial yang semua liriknya ditulis oleh Roger Waters.

Sekitar setahun kemudian saya membeli piringan hitam versi reissue dan remaster dari album yang sama bersama beberapa album Pink Floyd lainnya yang juga versi remaster/reissue seperti The Wall dan Wish You Were Here yang dicetak dalam format vinyl 180 gram. Saya tidak terlalu terkejut seperti saya pertama kali mendengarkan album dengan cover ikonis yang kaosnya mungkin sudah dibajak jutaan di seluruh penjuru bumi.

Ya, sampai sekarang tak jarang saya menemui orang yang mengenakan kaos bergambar eye-catching ini tapi mereka tidak pernah mendengarkan Pink Floyd/album yang desainnya disablon di kaos yang mereka kenakan. Alasannya memang karena estetika yang menarik mereka untuk membeli dan mengenakan kaos tersebut. Ya itu sih hak mereka lah ya mau dengerin atau enggak. Saya melihatnya dari sisi industri. Pink Floyd telah menciptakan suatu ikon yang abadi, dan secara bisnis telah mendatangkan jutaan poundsterling dari artwork dan warisan musik mereka berapa puluh tahun yang lalu.

Bersambung ke halaman kedua...

[pagebreak]

Balik lagi ke pengalaman saya mendengarkan hasil remaster album yang pressing awalnya sudah saya putar puluhan kali. Rasanya saya tidak terlalu seheboh saat pertama kali saya mendengarkan album itu. Karena memang dasar album itu bagi saya sudah super duper bagus jadi kelebihan audio dari digital remaster tidak terlalu gimana-gimana di telinga saya. Memang terdengar lebih ‘kencang’ jika dibandingkan dengan memutar piringan hitam remaster produksi tahun 2000-an dengan yang dicetak di volume yang sama seperti memutar pressing awalnya. Saya lebih heboh ketika melihat berbagai bonus dalam rilisan ulang tersebut seperti poster dan stiker. 

Versi remaster mungkin juga dibuat untuk penyempurnaan dari album yang sama, terutama dari segi tata suara. Contohnya album-album esensial seperti Primal Scream - Screamadelica, My Bloody Valentine - Loveless, yang perbedaannya lumayan signifikan. Bagi saya, salah satu cetakan repress dan remaster dengan output signifikan adalah lima album pertama Metallica 45 RPM series yang di sampul depannya bergaransi "Metallica - like you never heard them before...louder, faster, heavier." Memang benar, begitu saya mendengarkan Kill Em All versi ini dibanding versi standar cukup berbeda. Gitar lebih tebal, lebar, dan lebih heavy. Suara drum lebih menonjok muka. Rasanya seperti bukan rekaman tahun 1983, tapi seperti mendengarkan rekaman band era tahun 2000-an. Seperti direkam ulang tapi dengan nyawa yang sama. Album And Justice For All versi 45 RPM tidak se-treble dan sekering versi aslinya, dan tone-nya menjadi lebih jelas dan pastinya lebih lebar. 

Tapi semua itu balik lagi ke selera kuping masing-masing. Ada beberapa orang yang lebih suka versi remaster karena sudah cukup lama dan sering mendengarkan versi aslinya, dan begitu mendengarkan versi remaster jadi terdengar lebih ‘wah’. Contohnya seperti Otong ‘Koil’ waktu saya berbincang-bincang di backstage pada saat Deadsquad sepanggung dengan Koil beberapa waktu yang lalu. Obrolan kami mengenai vinyl album-album Nine Inch Nails yang belum lama ini di-reissue dan obrolan bermuara membahas selera sound remaster/repress atau original mastering/first press. Otong lebih cenderung suka sound remaster, karena menurut dia biasanya sound hasil olahan ulang lebih bagus dari pada sound rekaman asli. Suatu album yang dia sudah dengarkan berulang kali, contohnya seperti album-album Pink Floyd versi remaster/repressing, karena doi mendapatkan audio experience baru ketika mendengarkan album yang sebelumnya sudah sering dia putar.

Berbeda dengan Eben, gitaris dan satu-satu original member Burgerkill ini lebih menyukai pressing awal, karena menurut dia output-nya cenderung lebih bagus. Contohnya seperti dia mengomentari posting-an saya memutar vinyl cetakan ulang N.W.A di akun Instagram saya. Dia memberi komentar sekaligus saran untuk dengerin pressing awalnya, sound-nya lebih asyik menurut dia.

Eben juga mengatakan, "Gue suka original press karena gue selalu penasaran dengan sound output album tersebut ketika awal rilis, berbeda dengan rilisan ulang yang kebanyakan di-mastering lagi disesuaikan kebutuhan audio sekarang. Koleksi original press itu seperti koleksi banyak kitab musik, gue bisa dapet banyak hal dan ilmu dari situ. Seru aja dengerin rilisan awal, sambil nikmatin artwork cover-nya yang cenderung lebih tajam kualitas gambar dan warnanya, ketimbang rilisan ulang yang kadang sedikit ngeblur hehehe."

Ada juga rilisan versi perayaan 20 tahun album studio terakhir Nirvana, In Utero, yang direkam oleh Steve Albini yang dikenal dengan hasil produksi rekaman yang ‘mentah’, ‘kasar’, dan "jujur dengan minimnya manipulasi suara." Cakram inci sengaja dicetak ganda, CD pertama versi original remastered dan CD satu lagi adalah versi orisinal album 2013 mix yang lebih mendekati versi asli album yang paling ‘treble’ dibandingkan album-album lain band asal Seattle itu. Di sini pendengar bisa membandingkan output sound kedua CD dengan tracklist yang sama tapi dengan bonus track yang berbeda.

Satu lagi kelebihan reissue adalah memudahkan sekaligus meringankan pengeluaran kita untuk mencari rilisan yang sudah langka, contohnya seperti Harry Roesli and Philosophy Gang. Salah satu album bersejarah di industri musik Indonesia itu akhirnya di-reissue dalam format piringan hitam dan CD oleh Lamunai Recs. Sebelumnya album tersebut dirilis hanya dalam format piringan hitam oleh Lion Records pada tahun 1973. Selain versi original sudah langka, harganya sudah cukup mahal. Kalaupun ada uang pun belum tentu bisa mendapatkan rilisan awal salah satu album penting dalam perjalanan sejarah musik Indonesia, dan generasi sekarang lebih mudah menikmati artefak sejarah tersebut.

Bagi saya, mendengarkan rilisan awal dan rilisan ulang adalah pengalaman yang berbeda dan mempunyai kenikmatan yang juga berbeda. Biasanya di rilisan ulang ada liner notes mengenai sejarah dari album itu dan proses pengerjaan album itu yang ditulis oleh pihak band ataupun sosok di luar band tersebut. Pressing awal/rilisan awal bagi saya mempunyai nilai historis dan lebih collectible, selain ‘kejujuran’ dan ‘kemurnian’ dari hasil recording album tersebut. Saya menikmati repress/reissue karena biasanya ada bonus track dan berbagai bonus lainnya seperti poster, stiker dan juga liner notes mengenai album tersebut, selain output sound yang cukup berbeda. Kadang bagi saya, lebih bagus malah gagal. Tapi penilaian terhadap suatu karya seni adalah sesuatu yang subjektif, semua balik lagi ke reaksi penikmat mengapresiasi karya tersebut.

*Foto: allgoodcleanrecords.com (cover), dokumentasi pribadi penulis

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
291 views
superbuzz
158 views
superbuzz
248 views
supernoize
1105 views
supernoize
1315 views