Daniel Mardhany: Pengembaraan DeadSquad di Eropa

Ini kali pertama unit death metal asal Jakarta yang telah eksis sejak tahun 2006 ini menginvasi Eropa. Dari semua personel DeadSquad, hanya Alvin (drum) yang pernah merasakan pengalaman manggung dan tur di Eropa. Belasan tahun yang lalu, saya hanya berangan-angan datang ke Eropa sebagai turis untuk menonton festival-festival musik di sana, mengunjungi tempat-tempat bersejarah, dan menyublim dengan keindahan alam dan arsitektur Eropa yang masih kental dengan nuansa peradaban masa lampau. Namun takdir malah berkehendak lain, melalui seni tepatnya musik death metal yang notabenenya bukan musik easy listening, saya dapat berkeliling ke beberapa negara di Eropa. 

Rombongan DeadSquad kali ini sama persis dengan ‘Snakegoating South East Tour beberapa bulan lalu. Namun kali ini tim dari SUPERMUSIC juga ikut dalam tur sebagai bagian dari pengerjaan video dokumenter dan urusan media sosial. Jadi total rombongan ada 11 orang. Kami berangkat dari bandara Soekarno Hatta tanggal 17 Oktober malam hari.

Sempat transit di Turki, akhirnya mendarat di Ceko setalah 18 jam perjalanan udara. Kenapa kami memulai semua petualang Eropa dari Ceko, karena menyewa van, backline (alat musik seperti ampli, drum dll) dan jasa tour manager dari Fluff Wheels yang berbasis di Ceko. Tak berapa lama setelah kami menginjakkan kaki di Ceko untuk pertama kali, kami disambut oleh Lucas yang notabene adalah driver merangkap tour manager DeadSquad selama tur Eropa perdana kami.

Tur memang tampak menyenangkan, tapi tidak semua yang kalian temui dan rasakan di jalan menyenangkan, apalagi di tempat jauh yang belum kami datangi sebelumnya. Dengan segala macam perbedaan kultur, nilai tukar mata uang yang tinggi, juga makanan yang belum tentu cocok dengan lidah orang Asia yang terbiasa dengan makanan penuh cita rasa pedas dan gurih.

Musuh pribadi saya selama tur ini adalah iklim dan suhu udara yang bagi saya sangat dingin, karena sedang memasuki musim transisi (fall/autumn). Kadang suhu bisa mencapai -2 derajat dan itu merupakan masalah bagi orang yang biasa hidup di daerah tropikal. Perbedaan waktu 6 jam bukan masalah besar buat saya, karena standar jam tidur saya sekitar pukul 4-7 pagi di Indonesia, dan di Eropa saya tidak merasakan jetlag dan merasa ini jam tidur yang pas buat makhluk nocturnal seperti saya dan juga Stevi. Jetlag baru saya rasakan setelah saya balik ke negeri pertiwi. Sampai tulisan ini dibuat, pola tidur saya masih terbawa pola tidur selama di Eropa, saya tidur pukul 7-9 pagi dan bangun pukul 2 siang (di Eropa itu normal karena perbedaan waktu 6 jam). 

Hari pertama dihabiskan dengan menikmati eksotisme kota Praha yang dipenuhi bangunan-bangunan tua yang terawat dan tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Sayang kami hanya bisa melihat Saint Vitus Cathedral dari kejauhan karena keterbatasan waktu.

Keesokan harinya invasi dimulai. Pagi hari kami berangkat ke Austria untuk panggung pertama dari rangkaian tur ini. Graz adalah kota di Austria yang menjadi titik panggung pertama DeadSquad di Eropa. Waktu tempuh dari Praha ke Graz sekitar 6 jam. Nama venue yang berada di basement—yang sekilas seperti bekas bunker peninggalan perang dunia kedua, adalah Club Q.

Ternyata setelah saya ngobrol dengan owner Club Q, tempat ini sudah ada sejak zaman orang tua mereka muda. Di sini DeadSquad berbagi panggung dengan band-band asal Austria. Salah satu nama band yang saya ingat adalah Pray For Pain yang bermain sebelum kami.

Saatnya DeadSquad menghajar panggung dengan 10 lagu death metal! Jam saya yang masih waktu Indonesia menunjukan pukul 5 pagi haha. Respons dari audiens di Graz cukup meriah, dan kami mendapatkan koneksi baru dan respons itu disusul dengan antrean di booth merch kami. Penjualan merch & CD di titik pertama bisa dibilang bagus untuk band “superunknown” di Eropa. 

Setelah Austria, destinasi berikutnya adalah Sebnitz, Jerman. Sebnitz merupakan kota kecil di perbatasan Ceko dan Jerman. Di samping tempat kami manggung sudah merupakan teritori Ceko. Rupanya venue ini sebelumnya merupakan pos perbatasan antara Jerman dan Ceko. Dan sebelum dikelola oleh belasan metalheads Jerman dari berbagai generasi, tempat ini juga sempat berfungsi sebagai tempat ibadah.

Nama venue yang menyerupai rumah ini adalah Klangmanufaktur. Vibe-nya seperti bermain di studio gigs. Tapi nilai plus dari panggung ini adalah band dan scenester metal setempat menjadi lebih intim. DeadSquad berbagi panggung dengan band asal Jerman, Oblivion. Selain musik kraut rock/industrial, musik terbesar di Jerman adalah metal. Terbukti dengan banyaknya band dan festival metal di negara ini.

Penonton yang datang juga beragam usia. Yang paling tua mungkin adalah seorang nenek berumur 73 tahun yang membeli kaus tur kami. Saya dan Welby (bassis) kaget saat tahu usia nenek itu, hehe.

Saya sempat mempunyai stigma bahwa orang Jerman kurang ramah dengan orang Asia, tapi setelah saya merasakan sendiri bersosialisasi dengan para metalheads di sana, mayoritas dari mereka menyambut kami dengan sangat ramah. Mungkin sedikit problem dalam berkomunikasi adalah sebagian dari mereka tidak bisa bercakap dengan bahasa Inggris.

Saya sempat bertemu seorang jurnalis yang ingin melakukan wawancara, tapi dia hanya bisa bahasa Jerman, dan bahasa Jerman saya jauh lebih buruk dari bahasa Inggris saya. Akhirnya beliau memanggil temannya sebagai translator komunikasi antara saya dan dia. Metalhead di sini sangat loyal, dan kalau dilihat dari outfit-nya, mereka sangat “total”. Penjualan merch dan CD pun bagus di titik kedua.

Setelah panggung selesai, kami segera bergegas menuju penginapan. Sebelum kami cabut ada seorang metalhead paruh baya yang menawarkan untuk menginap di rumahnya yang katanya besar, tapi kami telah memesan penginapan jauh hari sebelum tur ini dimulai. Mungkin di kesempatan selanjutnya tawaran beliau boleh kami terima

Ya, orang-orang Jerman yang saya temui disini sangat friendly dan stigma yang ada di benak saya langsung luntur setalah merasakan keramahtamahan mereka. Musik memang bahasa universal. Penyakit fasis dan rasis dari masa lampau tampaknya telah sembuh dan membentuk suatu ekosistem baru yang sehat dan hangat.

Titik selanjutnya adalah Swiss. Kami memulai perjalanan ke Swiss dari Bayern, Jerman. Berangkat pukul 7 pagi dan sampai di venue tempat kami bermain pada sore hari. Swiss dikenal sebagai negara yang mahal dibandingkan negara Eropa lainya. Untuk 1 paket burger di restoran cepat saji saja sekitar Rp 300 ribu rupiah, padahal di Jakarta paket makanan serupa sekitar Rp 60 ribu. Ternyata, minimum gaji pekerja di Swiss jika dikonversi ke rupiah yakni Rp 300 ribu per jam. Tapi dengan Rp 300 ribu di sana hanya bisa beli burger, hehe.

Venue kali ini cukup luas dan sangat bonafide. Namanya Kulturfabrik Kofmehl. Ada dua tempat showcase: satu berukuran medium dan hall, satu lagi berukuran besar. Melihat poster-poster di sana kami takjub, dari solois seperti Shaggy, band mainstream Crazytown sampai aksi cadas macam Hatebreed, Napalm Death, Agnostic Front, dan Millencolin pernah bermain di tempat ini.

Opening kami kali ini adalah band hardcore One Hour Left yang baru saja meluncurkan EP perdana mereka sebulan yang lalu. Di panggung saya tidak lupa mengucapkan selamat untuk EP perdana mereka. Seperti panggung sebelumnya, kami menyiapkan 10 lagu dan diakhiri dengan sesi foto di panggung dengan latar penonton. Setelah sesi foto, ternyata penonton meminta encore dan akhirnya kami membawakan “Tyranation” sebagai encore. Penonton di Swiss lebih didominasi dengan usia 30-40 tahun ke atas.

Tiap negara memang mempunyai karakteristik penonton yang berbeda-beda. Sewaktu saya menjaga booth merch bersama Welby, banyak pembeli yang tidak meminta kembalian dan saya menawarkan handband sebagai bonus, tapi ditolak karena mereka tidak membutuhkan itu untuk mengelap keringat, masuk akal sih. 5 menit sehabis manggung, kaus yang saya kenakan langsung kering dan hawa dingin mulai merasuki raga Asia saya.

Setelah menginap di semacam hostel biasa saja dengan harga sewa Rp 4 juta sehari, jam 6 pagi kami sudah harus packing dan menghajar jalan kembali menuju Prancis. Kami sampai kota Paris sore hari dan menyempatkan mengunjungi ikon kota menara Eiffel. Ternyata tidak sebagus yang saya lihat di film, hehe. Paris kota multirasial, sama seperti Jakarta, bahkan tingkat kemacetan dan keruwetan kota ini hampir sama dengan Jakarta.

Selain artsy, kota ini cukup kotor dibanding kota-kota sebelumnya, dan yang saya suka dari Paris adalah ke-”chaos”-an , vandalisme, dan grafiti yang hampir ada di setiap sudut kota.

Tempat kami manggung kali ini merupakan tempat terunik sepanjang sejarah panggung DeadSquad. Kami bermain di semacam “dungeon”/ruang bawah tanah/gorong-gorong di bawah restoran besar yang cukup fancy. Pamflet acara juga masih berupa fotokopi, mengingatkan saya ke satu dekade yang lalu di mana saya pernah menjadi kontributor fanzine kolektif dengan format fotokopi dan menyebarkan dengan cara bergerilya. Xeroxed still cool for me to this day.

Kami bermain dengan dua band Prancis lainya yang memainkan musik death metal ala Incantation, Immolation, dan Morbid Angel era 90-an. Respons audiens di paris cukup liar, tapi ternyata daya beli di sana tidak sebagus di kota sebelumnya, mungkin karena Prancis juga sedang dilanda masalah ekonomi sehingga mereka harus memilih untuk membeli kebutuhan primer dan tersier. Saya lihat booth kedua band lainya juga tidak terlalu laku.

Setelah Paris, panggung selanjutnya adalah Nantes. Waktu tempuhnya sekitar hampir 5 jam dari Paris. Nantes berbanding terbalik dengan Paris. Kota pelajar ini lebih bersih, tenang, segar dan tidak se-crowded Paris. Nama venuenya La Scene Michelet. Luas hall pertunjukan di Nantes mungkin 8 kali lebih luas dibanding di Paris (mungkin tanah di sini lebih murah, hehe). Sound system, lighting-nya juga lebih proper.

Namun, hampir di semua panggung tempat kami tampil hanya tersedia speaker PA dan monitor, jadi kami harus “membangun candi” sendiri dengan cara bergotong royong, dari mulai mengeluarkan semua piranti musik dari van kami, mengeset sendiri drum beserta amplifier dll. Itu yang membedakan tur kali ini dengan tur kami di negara-negara lain di Asia dan juga Indonesia.

Sehabis manggung juga, kami mengemas kembali piranti musik kami yang cukup banyak ke dalam van yang kadang menjadi “rumah” kami selama tour Eropa. Jelas lebih capek di jalan dan bongkar pasang alat dibandingkan dengan membawakan 10-11 lagu ekstra cadas hampir setiap hari. Tapi ini pengalaman yang sangat berarti untuk DeadSquad, dan banyak memberi pelajaran untuk tur-tur Eropa kedua kami tahun depan, atau mungkin worldwide tour di masa yang akan datang. Pengalaman baru, kemandirian, gotong royong, disiplin waktu adalah hal yang harus dibiasakan untuk tur semacam ini.

Malamnya kami menginap di sebuah “kastil” di Nantes. Tempat kami bermalam kali ini menyerupai kastil/biara di film The Nun lengkap dengan nuansa angker nan indah bangunan yang tampaknya sudah berdiri lebih dari 100 tahun tersebut. Di benak saya dan teman-teman lain mungkin saja tempat ini dulunya adalah sebuah rumah sakit, dilihat dari banyaknya kamar yang menyerupai bangsal, juga bentuk dari kamar mandi yang menyerupai kamar mandi ala rumah sakit zaman pasca perang dunia pertama.

Setelah waktu menunjukan pukul 6 pagi lewat, saatnya berkemas dan memulai perjalanan terpanjang kami ke Belanda. Estimasi perjalanan adalah hampir 11 jam, tapi karena kemacetan yang mutlak saat melintasi perbatasan Belgia dan Belanda, total waktu tempuh kami adalah 13 jam di perjalanan dengan hanya 4-5 kali pemberhentian di pom bensin untuk mengisi bahan bakar van kami dan juga raga kami. Setiap pemberhentian maksimal hanya 15 menit, haha.

Setelah perjalanan panjang yang cukup melelahkan, akhirnya kami sampai di Groningen, sebuah kota pelajar di Belanda. Nama venue-nya adalah Simplon, dan kami sampai nyaris telat. Saat kami sampai, Insanity sudah di akhir penampilan mereka dengan menggeber nomor-nomor grindcore, salah satunya cover “Fear of Napalm” milik Terrorizer. Drummer Insanity pada tur ini adalah Gebeg yang juga merupakan drummer dari unit hardcore ganas asal Bandung, Taring.

Tidak sampai 10 menit sejak kami turun mobil, kami sudah berada di panggung untuk checkline singkat dan dilanjutkan dengan penampilan kami. Rasa lelah dan kedinginan langsung hilang sesaat setelah lagu pertama “Lahir Mata Satir“ kami bawakan. Total lagu yang kami bawakan adalah 10 lagu setelah 13 jam perjalanan, sekitar 40-45 menit show dengan waktu tempuh perjalanan lebih dari setengah hari. Sehabis DeadSquad, sesama band asal Indonesia, Burgerkill menghajar panggung. Senang rasanya bisa bertemu teman-teman kami di panggung kali ini.

Tanggal 27 Oktober seharusnya DeadSquad manggung di Belgia, tapi karena satu dan lain hal acara itu dibatalkan. Berkah dari batalnya acara itu kami mendapatkan hari libur dua hari di Belanda. Kami menginap di Purmerend, sebuah distrik suburban yang  letaknya tidak terlalu jauh dari Amsterdam. Kami memanfaatkan libur kami untuk berjalan-jalan memutari Amsterdam.

Pada hari pertama day off, kami juga berkunjung ke dua restoran Indonesia milik sanak saudara Welby (bassis yang sudah cukup sering mengemban peran sebagai penjaga frekuensi rendah di panggung-panggung DeadSquad dari tahun lalu. Dimulai dari tur Korea Selatan 2017). Akhirnya di restoran tersebut, rasa kangen akan masakan Indonesia yang kaya akan rasa terobati. Senang sekali rasanya melihat dan menyantap tempe orek, rendang, balado kentang, udang, telur dan berbagai masakan Indonesia lainya di dua tempat tersebut. Kami pun makan lebih brutal dari aksi panggung kami, haha.

28 Oktober dari Amsterdam kami menuju Rotterdam untuk titik terakhir Europe Oddysey 2018. Nama tempatnya adalah Baroeg. Ternyata tempat ini merupakan tempat gigs ikonis di Rotterdam. Selang beberapa hari dari panggung, Entombed A.D dan Vader manggung di tempat yang legendaris ini. Sama seperti di Groningen, kami bermain bersama Insanity dan Burgerkill plus satu band grindcore asal Belanda. Di panggung terakhir ini kami lebih banyak bertemu orang-orang Indonesia yang menetap di Belanda.

Seperti biasa kami menghajar 10 lagu dengan lirik bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, sambutan dari audiens sangat baik. Titik terakhir tur kami ditutup penampilan dari Burgerkill, dan sebelum lagu terakhir, band yang sedang melakukan tur promo album Adamantine ini berkolaborasi dengan vokalis dari semua band yang bermain hari itu membawakan “Mouth for War” dari Pantera. Semua show kami dalam tur bisa dikatakan berjalan cukup lancer, walaupun kadang ada sedikit kendala teknis yang merupakan hal yang lumrah dalam suatu tur/panggung.

Keesokan harinya, tepatnya tanggal 29 Oktober waktunya untuk kembali ke tanah air. Kami sampai di bandara internasional Schipol, Amsterdam siang hari dan bersiap untuk “the long and winding road “ kedua kami. 18 jam perjalanan udara dengan transit sebentar di Turki lalu lanjut ke Jakarta. Yay akhirnya keesokan harinya pada sekitar pukul 7 malam, kami kembali menginjakkan kaki di tanah air, dan bersyukur kami bisa mendapatkan pengalaman penjelajahan musikal perdana yang sangat berharga di benua Eropa dan kembali dengan selamat.

Sejauh ini tur Eropa merupakan panggung terjauh kami. Tapi saya percaya akan menempuh perjalanan musikal lebih jauh dari ini di masa yang akan datang. Terbukti tahun depan (2019) pada bulan Agustus kami sudah dipastikan bermain di Death Feast Open Air di Jerman, dan panggung-panggung lainya akan menyusul semacam efek domino dari tur perdana kami. Karena dari berbagai panggung kecil dan sedang yang kami hajar, sebagian besar diorganisir oleh mereka yang juga mengadakan festival-festival metal tahunan di negara mereka. See you next year Europe, we will do better and more killer than our first tour!

0 COMMENTS

Info Terkait

supernoize
220 views
supernoize
511 views
superbuzz
1170 views

5 Negara Eropa Tercadas

superbuzz
1448 views
superbuzz
1788 views