Dari band jadi brand

Dari band jadi brand

Banyak band yang merchnya lebih banyak dari jumlah lagu mereka hasilkan contohnya Misfits (action figure, candle/lilin, lunch box), Beatles (dari keset sampe shopping bag, Kiss (peti mati), Nine Inch Nails (kopi dan condom).

Merch khususnya T-shirt band pada akhirnya adalah bagian fashion, seperti halnya kaos-kaos band metal cetakan awal, contohnya seperti long sleeve cradle of filth yang dipakai kanye west dan kaos vintage slayer yang dipakai Kim Kardashian, terlepas dari mereka benar-benar suka, sekedar tau atau hanya sebatas kebutuhan fashion mereka.

Sebagai fans mau marah/kecewa? Ah tapi itu hak setiap orang untuk memakai produk yang mereka mampu beli dan pakai. Toh konsumen bebas mengkonsumsi apa yang mereka bisa beli. Tidak ada aturan tertulis untuk memakai kaos band hehehe. Pada intinya semua hanyalah fashion. Mungkin mereka ingin terlihat beda atau mungkin mereka suka desainnya saja tanpa harus suka dengan musiknya.

Banyak juga brand yg berkolaborasi dengan band contohnya seperti supreme & diamond dengan slayer, Miskha dengan dinosaur jr. Sampe yang massal di pusat perbelanjaan seperti metallica, NIN di H&M, the beach boys-petsounds produksi Zara.

Transformasi nama band jadi semacam brand banyak terjadi di musik. Contohnya mungkin kaos misfits, rolling stone dengan desain ikonik. Tidak sedikit konsumen yang membeli sebuah kaos karena desain yang menarik atau dipakai sosok yang mereka sukai/idolakan.

Merchandise sebagai perpanjangan dari karya kadang bisa jauh dari hal yang berhubungan dengan musik dari band itu sendiri, tapi tetap mempunyai ikatan dengan image band tersebut. Contohnya seperti deicide yang belum lama ini mengeluarkan produk saos sambal, hal ini mungkin analogi dari lirik mereka yang pedas dan nuansa musik mereka yang panas. Black label society juga mengeluarkan produk kopi hitam dengan nama "valhalla java" odin force blend. Dari namanya sudah mengindikasikan kalo jenis kopi yang mereka pakai berasal dari negeri kita, jawa yang diolah oleh tim mereka dan di branding sesuai image BLS. Nine inch nails juga mengeluarkan kopi dengan kemasan yang menarik dengan tagline "cold and black and infinite". Kata-kata yang cukup untuk menggambarkan sosok trent reznor dan karyanya yang gelap, dingin dan tak terbatas.
Iron maiden juga membuat beer dengan nama mereka.

Di ranah lokal banyak band yang membuat produk di luar musik juga dengan merk dagang nama band mereka contohnya seperti koil dengan jamunya, Death Vomit dengan produk kopi hasil kolaborasi dengan Dark Age's coffee, band black metal dengan tema agraris "bvrtan" dengan bumbu pecelnya, goodnight electric berkolaborasi dengan produk coklat menghasilkan dopamin chocolate. Kalo di luar ada BLS dan NIN di lokal raksasa rock "slank" juga mengeluarkan kopi yang diproduksi massal dengan distribusi nasional sampai mereka pada akhirnya mendirikan "slankaffe".

Produk lain di luar musik sebagai perpanjangan dari musik , karya dan image band bisa sangat diperluas sesuai karakter band itu yang sudah kuat dan punya massa yang cukup loyal.

Band saya sendiri, deadsquad sudah punya ide untuk membuat suatu produk di luar apparel ,lebih tepatnya produk yang dekat dengan kebutuhan "pangan". Mungkin ide - ide yang sudah terkumpul dari berapa tahun ini akan direalisasikan di tahun ini.

Sekarang saya ingin membahas soal kolaborasi DS dengan brand lain yang responnya sangat bagus dan di luar ekspektasi kita. Contohnya kolaborasi DS dengan helm carglos dan JPX yang penjualan dan responnya sangat bagus. Sebelum kita memutuskan membuat produk helm kita sudah survey sebelumnya kalo yang menonton kita manggung di berbagai titik di indonesia mayoritas menggunakan motor dan personil kita juga secara harian sering motoran untuk kebutuhan mobilitas. Saat pertama PO helm dengan carglos dibuat hasilnya sangat memuaskan, banyak demand di atas quota PO. Karena masih banyak demand pasukan mati atau pengguna motor yang tertarik dengan desainnya akhirnya kita mencetak ulang dengan kuantitas yang lebih banyak dari PO. Hasilnya untuk band dengan musik segmented "technical death metal" cukup mencengangkan. Karena hasil penjualan itu kita bisa menambah kas kita untuk tour eropa kita yang kedua.

Di era pandemi saat panggung offline beku, saya dan personil DS juga memutar otak mengeluarkan merch di luar konteks "sandang". Band yang sedang menggarap album ke 4 ini berkolaborasi dengan produk earphone lokal asal Jogja "Eario" membuat earphone yang juga bisa dipakai untuk kebutuhan panggung sebagai earmonitior. Lagi - lagi demand yang ada lebih banyak dari kuota PO hingga akhirnya PO dibagi menjadi 2 sesi. Durasi PO juga terbilang cukup cepat untuk barang yang cukup segmented dengan harga mid-price.

Di penghujung tahun 2020 deadsquad bekerjasama dengan brand sepatu lokal beazt. Responnya cukup gila untuk massa pandemi seperti saat ini,400 ratus pasang sepatu desain pertama terjual dalam waktu 4 menit secara online. Dan tidak lama setelah itu di digital marketplace ada seller yang menjual "deadshoe" dengan harga beberapa kali lipat lebih tinggi dari harga normal . Layaknya barang hobby kadang harganya emang irasional. Lagi-lagi karena pasukan mati dan pecinta sneaker masih banyak yang memburu sepatu tersebut. Dengan jeda yang tidak terlalu lama DS X Beazt mengeluarkan produk deadshoe kolaborasi ke 2 dengan nama "redemption". Dengan model pengembangan dari desain awal , sepatu ini di cetak 666 pasang dan habis dalam waktu singkat. Sebelumnya deadsquad juga pernah kolaborasi sepatu dengan 2 brand lain beberapa tahun silam tapi responnya lebih edan kali ini. Mungkin karna strategi marketing yang lebih bagus dan image band yang jauh lebih kuat sebagai nilai jual. Produk - produk seperti itu tidak akan terjual dengan waktu yang cepat kalo kita tidak mempunyai loyalitas fans yang kuat, yang selalu mensupport kita sebagai band di berbagai macam kondisi, terlebih di massa sulit karena dihajar badai pandemi covid 19 yang mengubah dunia dan berbagai pola hidup sebagai makluk sosial. Hal yang mengejutkan adalah musik death metal yang dalam skala global segmented tapi di skena lokal musik death metal mempunyai fans yang loyal dengan skala yang besar dan apresiasi yang edan, mungkin porsinya hampir sama dengan musik rock.

Pengaplikasian merch band menjadi suatu "brand" adalah hal yang akan selalu berkembang dengan ide-ide liarnya. Sementara panggung musik beku, band dengan kreativitas menciptakan karya musik dan perpanjangan dari karya mereka tidak boleh beku. Apalagi di massa seperti ini, butuh strategi ekstra untuk tetap bertahan dan menyulut api kreativitas agar tidak padam.

0 COMMENTS