Dewo Iskandar ‘The GRGTZ’: Fenomena Pemikiran Instan ‘Anak Artis’

  • By: Dewo Iskandar
  • Senin, 4 September 2017
  • 4500 Views
  • 2 Likes
  • 1 Shares

“Pohon duren, pasti buahnya duren,” tutur ayah saya, Joni Iskandar (vokalis OM Pengantar Minum Racun). Saat beliau bilang begitu, saya cuma bisa mengamininya sebagai sebuah doa orang tua kepada anaknya. Saya paham betul, untuk menjadi sebesar beliau dibutuhkan konsistensi kinerja dan racikan mindset yang tepat, sehingga beliau bisa menjadi apa yang teman-teman bilang “legend” seperti sekarang ini.

Sebagian orang mengenal saya sebagai vokalis dari Saptarasa dan THE GRGTZ (band finalis The Mighty 8 SuperMusic.ID Rockin’ Battle 2016), tapi sebagian lagi mengenal saya sebagai orang yang cuma ‘anaknya artis’. Ada pandangan umum yang salah kaprah atas fenomena ‘anak artis’ ini. Orang awam cenderung berpikir instan bahwa apabila orang tuanya musisi besar, maka anaknya juga akan DENGAN MUDAH menjadi besar seperti orang tuanya. Pemikiran itu tidak sepenuhnya salah namun perlu diketahui, Roma tidak dibangun hanya dalam semalam.

Selama berkecimpung di dunia musik, cukup sering saya temui beberapa kerabat musisi yang ‘ngetek’ kepada orang tua musisi mereka, namun tak begitu berhasil. Bahkan ada pula yang belum tenar sudah kandas. Tapi Alhamdulillah, beberapa dari mereka juga ada yang masih produktif, baik dalam bidang musik maupun non-musik.

Kembali lagi, konsistensi kinerja dan racikan mindset yang tepat sangatlah berperan. Masih bisa dipercayai bahwa beda orangnya, maka berbeda pula pemikirannya. Karena pada dasarnya, universa tiap orang berbeda-beda. Albert Einstein pun tidak mampu melahirkan regenerasi kejeniusan yang sama sefenomenal dengan dirinya.

Permasalahan yang terjadi, para musisi ‘anak artis’ ini hidup di bawah bayang-bayang orang tua mereka. Mereka berpikir bahwa ada yang namanya ‘bakat alam’, ‘bakat darah, ‘bakat keturunan’. Apapun namanya, semua itu adalah mitos. Lucunya, ada pula dari mereka yang menjadi copycat orang tuanya sehingga terkesan sangat template-an.

Kenapa tadi saya bilang bakat darah dan keturunan adalah mitos? Karena sampai hari ini saya masih percaya, untuk bermusik dibutuhkan mindset, teori fundamental dan teknik yang harus dipelajari bertahun-tahun terlebih dahulu. Tidak ada bayi musisi manapun yang baru lahir langsung nangis bernada ‘Do re mi fa sol la si’. Tidak ada bakat darah keturunan, yang ada adalah bakat hasil tanaman mindset sejak kecil, itupun bertahap.

[bacajuga]

Ngomong-ngomong soal mindset, saya punya teman yang semasa remajanya sudah bisa main piano berkat kursus musik, orangtuanya bilang itu bakat darah dari kakeknya yang juga seorang pianis non-profesional. Karena sering dipuji, mindset kepercayaan bakat darah tersebut melekat pada dirinya. Akibatnya ia menjadi leha-leha dan tidak mengasah diri lagi. Saat beranjak dewasa, banyak teori-teori fundamental yang terlupakan sehingga teknik dan mindset bermusiknya menjadi tumpul. Karena tuntutan kehidupan, kini ia tidak lagi bermusik. Sayang sekali mindset yang buruk menimpa dirinya lebih awal.

Tidak memungkiri, sayapun pernah dipaksa menjadi copycat orang tua saya. Dahulu sering saya jumpai para produser musik yang meminta saya menjadi ‘the next Joni Iskandar’. Saya harus meniru template-template beliau sebagai self-branding saya tentunya. Tidak hanya itu, bahkan THE GRGTZ pernah dipaksa menjadi PMR versi band rock. Saya memilih mundur sebaik mungkin. Bukan karena tidak bisa, tapi menjadi apa yang bukan diri kita sendiri sangatlah tidak enak. Saya selalu yakin, Tuhan tidak menciptakan saya untuk menjadi seorang Joni Iskandar. Tapi Tuhan sedang mempersiapkan seorang Dewo beserta universa-universa-nya. 

Mindset bermusik saya tidak begitu saja dibentuk karena faktor keluarga, banyak juga faktor eksternalnya. Bahkan dulu saya mulai menyukai musik bukan karena orang tua saya yang musisi, justru semua dimulai dari tante saya yang saat itu masih mahasiswi dan hobi mendengarkan kaset tape lagu-lagu 90-an lokal maupun mancanegara. Dari sanalah saya mulai menyukai menyanyi dan menulis lagu, yang kemudian mengantarkan saya ke faktor-faktor eksternal lainnya.

Hidup di bawah bayang-bayang bukanlah hal yang jujur, sedangkan dalam berkesenian dibutuhkan kejujuran. Milikilah konsistensi, teori fundamental, dan teknik bermusik yang baik, mindset yang kuat, path bermusik yang tepat, serta etika bersosialisasi yang baik. Teruslah berkarya dan berkarya. Sampai hari ini pun saya masih berusaha mengekspansi karier musik saya dan terus berkarya. Menilik dari nasihat ayah saya: “Adakanlah yang gak ada, karena yang gak ada itu ada.”

Foto: Satria Khindi, Instagram PMR, Megapro

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
242 views
superbuzz
302 views
supernoize
1035 views