Dewo Iskandar 'The GRGTZ': This Is It! Bentuk Lain dari Dangdut!

  • By: Dewo Iskandar
  • Minggu, 3 June 2018
  • 863 Views
  • 1 Likes
  • 5 Shares

Sejak dua tahun lalu, saya membuat sebuah proyek musik lain di luar THE GRGTZ, yakni Saptarasa, proyek eksperimental yang menggabungkan antara musik dangdut orkes, folk, psychedelic, blues dan rock dengan tujuan untuk mengejawantahkan bentuk lain dari dangdut. Terdiri dalam format band dan dipresentasikan dengan sebaik mungkin. Dibentuk saat THE GRGTZ sedang masa tenang sebelum event SuperMusic Rockin’ Battle. Saya mengajak beberapa rekan musisi seperti Alexander Bramono dari Tokyolite, Erick Tegar Setianto, Ayu Novianti, dan Gemawan ‘Ajo’ Deyadi.

Saya teringat, ide mula terbentuknya Saptarasa adalah saat mendengarkan “Within You, Without You” dari The Beatles. Lagu tersebut dibawakan dengan nuansa “raga”, yang mana raga adalah satu di antara beberapa akar dari musik dangdut yang berasal dari India (selain Melayu dan beberapa genre lainnya). Di sanalah saya teringat kembali dengan pemikiran jenius Back to the roots-nya Bob Marley. Seperti diserang banjir ide, saya mulai menggali lagi beberapa akar dari musik dangdut serta ingin mengulang apa yang orang-orang dangdut lakukan sebelumnya.

Memulai garis start, saya berkonsultasi dengan kakek saya, Ruston Nawawi, yang pada masanya sempat mengguncang seantero Sumatra Selatan lewat grup orkes melayunya bernama OM OMEGA. Beliau bercerita bahwa musik dangdut saat itu mengadaptasi dari musik Melayu dan India dengan cukup kental. Tapi kemudian muncul Rhoma Irama dan Soneta Group-nya, yang menginovasi dangdut dengan memasukan unsur-unsur musik seperti Deep Purple, Led Zeppelin, dan Rolling Stones.

Ditemukan benang merahnya bahwa dangdut pada dasarnya bisa dibentuk menjadi apapun, asalkan akarnya tidak hilang. Saya juga menyimpulkan, dimulai dari kemunculan Inul Daratista di ranah publik membuat dangdut saat ini berotasi cukup jauh dari akarnya. Agak membuat gatal kuping saat ada yang bilang Electronic Dance Music (EDM) dibalut irama koplo adalah musik dangdut. Memang sah-sah saja berinovasi, tapi saat esensi dari makna musik itu sendiri malah hilang dan jauh dari akarnya, saya rasa itu sudah keluar jalur. Mental “yang penting goyang” adalah hal yang kurang bisa saya terima secara pribadi.

Walau saya lahir dari pasangan penyanyi dangdut (Joni Iskandar dan Mega Mustika), saya justru berangkat bermusik dari genre rock. Semasa SMP, saya justru gak nengok ke dangdut karena saat itu saya merasa esensi musiknya kurang mengena. Acapkali saya dapati dangdut dengan lirik bernuansa sedih tapi irama dan musiknya kurang mampu mengantarkan maknanya. Bahkan setelahnya, saya juga sangat tersentil dengan lagu-lagu dangdut berlirik eksplisit yang ironisnya sering dinyanyikan anak-anak kecil. Sekali lagi, fenomena tersebut cukup mengingatkan saya bahwa dangdut saat ini memang berotasi cukup jauh dari akarnya.

Berniat mengikuti intuisi, akhirnya saya mulai membuat proyek dangdut orkes eksperimental bernama Saptarasa dengan mengambil unsur akar dari dangdut itu sendiri seperti mengulang apa yang dilakukan orang-orang terdahulu. Tidak bermaksud asal british, lagu-lagu Saptarasa pun dibuat dengan berbahasa Inggris agar mampu mendunia di era globalisasi saat ini. Dibantu Amplop Records dan Pavilun Records, Saptarasa merilis EP pada April tahun lalu bertajuk Anti-Sceptist dengan interpretasi bahwa apapun bisa diperbaharui asal mampu berpikiran terbuka. Juga berpesan bahwa janganlah skeptis terhadap mimpi dan keinginan sendiri.

Saptarasa langsung mengutamakan rilis EP agar mampu go-public lebih cepat, karena saya percaya bahwa ide memiliki momennya masing-masing.

Namun kekurangan dari proyek ini adalah pengerjaannya yang terburu-buru karena berniat “colong start”. Oleh karenanya, ada beberapa elemen yang kurang memenuhi target standar saya untuk proses start up-nya. Tapi apapun output yang sudah tersaji, saya yakin bahwa ini akan menjadi rezeki yang baik untuk kami maupun untuk mereka yang mendengarkan Saptarasa dengan pikiran terbuka.

Saptarasa - Pathetic Fairytale (live session):

0 COMMENTS