Hari Musik Nasional

Eka Annash: Hari Musik Nasional, Sebuah Catatan

  • By: Eka Annash
  • Senin, 9 March 2020
  • 949 Views
  • 4 Likes
  • 2 Shares

Selamat Hari Musik Nasional, musisi Indonesia! Sudah sejahterakah hidupmu?

Minggu lalu saya sempat bertemu dengan seorang eks-musisi sahabat lama yang bekerja sebagai editor-in-chief sebuah portal berita musik. Saya berniat untuk meminta bantuan-nya menjadi manajer bisnis The Brandals. Sudah hampir 6 tahun The Brandals kesusahan bergerak karena kita tidak punya manajer yang memegang posisi krusial untuk membawa sebuah band maju dan berkembang di lini strategi dan pengembangan bisnisnya.

Setelah berbincang dan diskusi agak lama, saya pun melempar pertanyaan kunci : Apakah siap untuk fokus dan konsentrasi bergelut di musik juga mengurus band? Lalu tanpa ragu-ragu, sahabat ini langsung menjawab : “Siap lah. Gue sudah menghabiskan hampir setengah umur hidup gue untuk musik (umurnya sudah kepala 4), sudah saatnya musik membayar balik ke gue.”

Jawabannya langsung menghujam ke kepala saya dan membuat saya tertegun sejenak. Sahabat ini mengawali langkahnya ke dunia musik sejak SMA. Terjun ke arena musik independen hampir bersamaan dengan saya di awal dekade 90-an. Sudah jungkir balik merasakan pahit getirnya naik turun gelombang perubahan lansekap industri musik lokal. Tidak terhitung pengorbanan yang sudah kita berikan untuk kegiatan bermusik. Tidak hanya materi tapi juga tenaga, pikiran, waktu bahkan kerusakan organ atau bagian tubuh permanen yang tidak mungkin diperbaiki lagi.

Bukannya ingin berhitung, tapi hampir mustahil rasanya untuk menjumlah total apa saja yang kita korbankan sampai titik ini. Mungkin pengorbanan kami tidak sebesar musisi-musisi generasi sebelumnya, tapi pernyataan sahabat ini mempertanyakan eksistensi dan tujuan saya untuk bermusik. Apakah benar saya mempunyai hak untuk menagih balik buat apa saja yang sudah dikorbankan? Apakah melakukannya murni karena kecintaan untuk musik saja tidak cukup? Lalu apakah yang sudah saya korbankan sepadan dengan apa yang didapat sampai titik ini?

Pertanyaan-pertanyaan ini mengendap di belakang kepala saya berhari-hari. Saya mulai meneropong retrospektif perjalanan karier musik saya. Memulai langkah pertama awal SMA di paruh awal dekade 90-an. Terminologi "musik independen" hampir non-eksisten saat itu. Ada letupan-letupan kecil pergerakan band indie di sejumlah kecil kota besar pulau Jawa.

Tapi belum ada yang mencuat dan menembus ke permukaan industri musik nasional. Menjadi musisi profesional, bukan pilihan karier yang valid, karena tidak menawarkan profit finansial jangka panjang.

Kondisi ini tentu saja tercermin dari contoh kasus figur musisi generasi sebelumnya. Hanya segelintir nama musisi dan band yang punya longevity dan sustenance bisa bertahan panjang. Band rock legendaris dari dekade sebelumnya yang bisa survive bisa dihitung jari. Hanya God Bless dan Iwan Fals yang masih bergaung dan aktif. Beberapa nama seperti SAS, Elpamas, Gito Rollies, Dedi Stanzah, serta deretan lady rockers (Mel Shandy, Nicky Astria, Anggun C Sasmi, dll) masih merilis album walaupun hanya sporadis.

God Bless (Foto: istimewa)

Hanya segelintir yang bisa berhasil hidup di atas garis standar ekonomi. Mayoritas terperangkap dalam gaya hidup selebritis dan akhirnya harus mengunyah kenyataan pahit terlempar kembali ke obskuritas.

Yang paling menyedihkan tentu saja figur musisi yang pernah berjaya di dekade 70/80-an tapi jatuh bangkrut hanya setelah beberapa tahun karena tidak mempunya skill-set lain selain musik. Struktur industri musik di Indonesia saat itu (sampai akhir dekade 90-an) memang didesain dengan skema profit finansial yang tidak menguntungkan buat musisinya. Potongan terbesar dicaplok oleh pelaku di balik mesin bisnis : perusahaan rekaman, manajemen, publisher dan elemen lain yang paling minim andilnya dalam proses pembuatan komoditi dagangan (baca: musik). Justru praktisi dan pekerja yang terlibat langsung dalam produksi komoditi (musisi, penulis lagu, penulis lirik, komposer) hanya mendapat sisa margin profit minim setelah dipotong sebagian besar oleh partikel bisnis. Jauh dari gambaran ideal sebuah operasional ekonomi. Ironisnya, fakta ini jadi sebuah cerminan sistem kapitalis terbaik.

Saya coba manuver sekarang ke teritori klise : komparasi dengan skema industri musik luar negeri. Khususnya dua negara dengan sistem ekonomi kapitalis terbesar : Amerika dan Inggris. Juga sebagai kiblat utama industri musik dunia. Sampai saya remaja, masih banyak nama-nama band rock dari generasi orang tua saya yang masih aktif tur dan produktif merilis album (Your usual suspect: The Rolling Stones, Pink Floyd, Kiss, Aerosmith, Rod Stewart, Tina Turner, Genesis, Rush.. the list is endless!). Nama-nama ini terus berkarya sampai sekarang dan menjadi inspirasi berbagai generasi dan yang terpenting: kehidupan ekonominya amat sangat sejahtera. Ada sistem resiprokal sehat dalam struktur industrinya di mana hubungan pelaku bisnis dan praktisi musik saling menguntungkan. Walaupun masih banyak praktek kecurangan di dalamnya, tapi ada skema royalti jelas, porsi pembagian profit ideal, ada opsi jalur pengembangan karir dan berbagai elemen pendukung lain sebagai penopang karier mereka hingga bisa bertahan sampai sekarang.

Di atas gambaran ideal industri musik ini, tentu saja ada partikel krusial yang memainkan peran otoritas: pemerintahan. Saya tidak paham dengan bagaimana hubungan industri musik di Amerika dan Inggris dengan pemerintahannya. Tapi dari kisah sukses musisi legendaris di atas, jelas banyak regulasi, kebijakan dan fasilitas yang diberikan ke sektor industri musik dengan tujuan mengangkat pemasukan dan investasi. Ini adalah gambaran ideal otoritas yang sadar potensi sumber daya kreatif lokalnya sebagai faktor pendorong pendapatan negara.

Di negara seperti Amerika, Inggris, Jepang dan Australia ada wadah seperti American Federation of Musician, UK Musician Union, Musician’s Union of Australia dan Musician’s Unon of Japan. Lembaga negara ini didirikan sejak akhir abad 19 untuk melindungi hak-hak musisi dan penampil serta sebagai badan pendukung kesejahteraan berbagai praktisi yang bekerja di industri musik.

Di negara-negara tadi juga ada berbagai program beasiswa dan pendanaan – baik dari lembaga pendidikan/ pemerintahan atau swasta-yang bisa diraih berbagai elemen masyarakat yang belajar/bekerja di bidang musik. Semuanya tergantung pada sejauh apa pelakunya ingin aktif bergerak dan mempenetrasi program-program ini. Di level dasar pendidikan juga, musik merupakan pilihan fakultas favorit generasi mudanya. Dimana ada banyak jurusan cabang kurikulum yang menawarkan pendidikan musik dari berbagai aspek. Mulai dari performa, teknis, manajemen, hukum dan bisnisnya.

Tentu saja sekarang adalah titik di mana saya membandingkannya dengan kondisi industri musik tanah air tercinta kita. Mari kita lihat dari konteks Perayaan Hari Musik Nasional hari ini. Hari Musik Nasional adalah peringatan hari musik di Indonesia yang jatuh pada setiap tanggal 9 Maret, disamakan dengan hari lahir pahlawan nasional Wage Rudolf Soepratman. Peringatan ini, kali pertama dilakukan pada 9 Maret 2013 melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 10 Tahun 2013. Konon wacana ini sudah ada sejak tahun 1998 atas usulan Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta dan Rekaman Musik Indonesia (PAPPRI) sejak pemerintahan presiden Megawati Soekarnoputri tapi baru terwujud satu dekade kemudian. Makna dan tujuan penetapan Hari Musik Nasional adalah untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap musik nasional, meningkatkan kesejahteraan, kepercayaan diri dan motivasi pegiat musik Indonesia, serta meningkatkan prestasi pada tingkat nasional, regional, dan internasional.

Begitu mulia tujuan dari hari perayaan ini. Tapi yang terjadi di praktek lapangan dan kehidupan nyata, ternyata tidak semulia tujuan-nya. Sudah tidak terhitung musisi Indonesia yang kareir dan hidupnya berakhir tragis jauh sebelum hari Musik Indonesia dicanangkan. Belum lagi yang terjeblos kasus kriminal mulai dari penyalahgunaan narkoba, penipuan, korupsi, dll. Badan pemerintahan atau lembaga seperti PAPPRI yang seharusnya melindungi kesejahteraan musisi justru duduk nyaman di kursi paling belakang jadi penonton tanpa ada aksi signifikan. Poin paling mengenaskan justru malah hampir diterbitkannya RUU Permusikan dengan pasal karet yang merugikan gerak musisi dan praktisi seni awal tahun 2019 lalu.

Skema royalti dan hak cipta juga merupakan lembaran buta yang hampir sama seperti teori menerbangkan roket ke bulan. Tidak ada satu-pun dari kita yang mengerti di awal karir. Atau kalaupun kita ingin mengerti, kita tidak tahu harus menghubungi siapa (PAPPRI tidak mempunyai website). Lalu ada ASIRI (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia) yang mengurus distribusi penjualan dan royalti rekaman. Kita membayar pajak pendapatan untuk setuap album yang kita jual. Tapi rute pengurusannya hampir sama ribetnya seperti proses pertemuan dengan pejabat negara.

The Brandals pernah melakukan tur ke negara tetangga Singapura dan Malaysia di tahun 2007. Kami melakukan prosedur pengurusan birokrasi dan permintaan izin ke lembaga pemerintahan terkait (Depdikbud, Pariwisata & imigrasi). Tapi yang terjadi adalah proses saling lempar ke berbagai tempat tanpa ada instruksi jelas dengan catutan permintaan dana di setiap titik.

Jadi kita menjalani karier tanpa map petunjuk. Buat band independen seperti The Brandals, menjalani karier seperti membelah hutan terjalnya belantara industri musik yang liar, berakibat berbagai cidera fisik dan mental di sepanjang jalan. Saya yakin ada jutaan band dan musisi di Indonesia mengalami nasib yang sama. Bahkan tidak sedikit yang tidak seberuntung The Brandals. Rontok di tengah jalan dengan kerugian kolateral berjangka panjang.

The Brandals (Foto: dokumentasi The Brandals)

Mungkin nasib naas mayoritas musisi Indonesia juga disebabkan karena minimnya set skill, terkait kepada terbatasnya fasilitas pendidikan yang tersedia. Sampai dekade 90-an, sepengetahuan saya hanya ada dua Institut Seni di Indonesia yang menawarkan program pendidikan musik : Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Institut Seni Jogja (ISI), itupun dengan segala keterbatasannya. Pendidikan musik hanya bisa dijalani lewat kursus-kursus musik kecil di kota-kota besar yang hanya bisa diakses oleh kalangan masyarakat kelas menegah ke atas. Sisanya (seperti saya, personel The Brandals dan jutaan musisi muda lainnya) melalui satu-satunya jalan: otodidak. Ini mungkin yang menjadi faktor penyebab terputusnya opsi karier banyak musisi generasi sebelumnya yang hanya bermodalkan tekad dan nekad.

Badan pemerintah yang memberi dukungan baik fasilitas atau dana bisa dibilang hampir non-eksisten. Atau kalaupun ada hanya bisa diakses segelintir musisi mapan atau yang mempunyai akses ke pemerintahan. Belakangan ada angin segar dengan terciptanya lembaga seperti FSMI (Federasi Serikat Musisi Indonesia) dibawah pimpinan musisi Chandra Darusman. Tapi masih prematur rasanya untuk menilai kinerja karena baru terbentuk Desember 2019 lalu.

Satu-satunya jalan paling memungkinkan untuk bantuan pendanaan hanya kepada program sponsorship ke brand produk, badan korporat swasta atau yayasan. Opsi pertama yang paling sering dijalani band/ musisi lokal. Belum ada langkah kongkrit yang bisa mewadahi bakat-bakat musik baru untuk berkembang dan  maju. Atau brand produk yang berani berinvestasi untuk projek inkubator bakat baru.

Ternyata, setelah menelusuri kronologis karier musik saya, hampir sama seperti menelusuri pergerakan sejarah industri musik di Indonesia sendiri: liar, random, kusut, dan tanpa arah. Saya kembali teringat dengan pernyataan sahabat saya tadi di Hari Musik Nasional ini : Sudah saatnya musik membayar balik kepada saya.

Di balik pernyataan tegas penuh keberanian ini, ada satu ganjalan pertanyaan besar di kepala saya : Siapa yang membayar? Karena setelah sekian lama berjuang penuh darah (secara harafiah), yang membayar adalah saya sendiri. Bukan ibu pertiwi atau pemerintah yang menetapkan Hari Musik Nasional. Dan sepertinya, kondisinya tidak akan berubah. Setidaknya tidak dalam waktu dekat ini. Jadi untuk para musisi, mari kita tanyakan ke diri kita : Di hari monumental ini, sudah kah kita sejahtera?

0 COMMENTS

Info Terkait

supernoize
2199 views

Bakatmu Adalah Komoditas!

superbuzz
2408 views
supernoize
1717 views
superbuzz
2545 views
superbuzz
1873 views
superbuzz
2121 views