Eka Annash ‘The Brandals’: Musisi, Salah Satu Profesi Terberat untuk Dijalani

  • By: Eka Annash
  • Minggu, 27 May 2018
  • 2192 Views
  • 1 Likes
  • 2 Shares

Belakangan ini saya sangat kagum dengan kualitas album band/musisi lokal yang produktivitasnya bak banjir di musim hujan. Setiap minggu dihajar rilisan demi rilisan dari berbagai genre dengan kualitas standar internasional, yang pada saat awal mendengar akan membuat bertanya ke diri sendiri, “Ini band luar atau dari dalam negeri?” Hampir semuanya memberi kesan impresif karena kualitas output sound dan musik yang terdengar sudah hampir sama dengan band internasional.

Jelas ini fenomena bagus. Terbukti kisah sukses band independen dari dekade sebelumnya berhasil menanamkan inspirasi dan inisiasi untuk generasi berikutnya, untuk ikut terjun dan berkontribusi karya. Tidak cuma merilis album, tapi juga seolah terlibat dalam persaingan positif dalam representasi output musik yang ditawarkan. Belum lagi dengan elemen tata artistik yang dieksekusi dengan apik. Mulai dari sampul album, merchandise, video klip, promotional items dan lainnya. Poin produksi dari A ke Z benar-benar dipikirkan secara matang.

Selain mengangkat batas kualitas lebih tinggi, geliat para musisi lokal juga berusaha membuka jalur operasional dan distribusi ke luar Indonesia. Baik untuk urusan tur/ manggung, rekaman atau lisensi perilisan album. Fakta-fakta di atas menjadi bukti kalo ekosistem industri musik (independen) lokal sudah ter-upgrade dengan drastis dari tahun ke tahun. Setiap komponen dalam industrinya—mulai dari produksi, supply peralatan/instrumen, teknis, artistik, sumber daya, tur, konser dll—membuka kesempatan kerja buat para pelaku di bidangnya masing-masing.

Belum lagi dengan kemajuan teknologi dan internet yang mempermudah koneksi antara musisi dengan pendengarnya. Seolah menempatkan semua band/musisi dalam platform demokratis bersama musisi di belahan dunia manapun supaya punya kesempatan sama untuk didengar, atau untuk bekerja sama.

Di lini produksi juga terjadi kemudahan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, di mana yang tadinya produksi musik hanya bisa dilakukan di dalam studio, sekarang bisa dieksekusi mandiri di kamar tidur sendiri.

Semuanya tampak menjadi perkembangan ideal dari sebuah sektor industri. Tapi yang jadi pertanyaan adalah: apakah menjadikan profesi musisi menjadi lebih mudah untuk digeluti? Ternyata di era milenial ini malah makin sulit.

Ada banyak faktornya:

1. Produksi musik jadi lebih mudah dan murah

Seperti yang disinggung di atas, proses memproduksi musik memang jadi jauh lebih mudah. 10 tahun belakangan ini, akses untuk membuat album dengan kualitas proper tidak lagi terkunci di balik pintu studio mahal. Proses rekaman bisa dilakukan di kamar sendiri dengan perangkat minimalis, dan dirilis dalam waktu lebih singkat.

Fakta ini berarti lebih banyak musisi/band bisa merilis materinya, yang berarti berhubungan dengan poin berikut:

2. Persaingan lebih ketat

Ruang dalam pasar semakin sempit. Kesempatan untuk mencuri perhatian jadi lebih kecil dan lebih susah, di mana di saat yang bersamaan ada ratusan band lain yang merilis materi yang sama bagusnya (atau malah lebih bagus) dari materi kita sendiri. Sehingga potongan kue yang tersedia menjadi semakin sedikit.

3. Pendapatan dari penjualan musik belum membaik

Bakalan sulit rasanya mendengar lagi kisah sukses 2-3 dekade yang lalu dimana satu album bisa terjual sampai puluhan/ratusan ribu kopi. Walaupun penjualan CD/ kaset/vinyl mendapat respons positif beberapa tahun belakangan ini, tapi hampir mustahil profitnya bisa menutupi kebutuhan primer sehari-hari.

Imbasnya sekarang makin banyak musisi yang juga jadi pegawai kantoran (seperti saya) supaya bisa menghasilkan penghasilan tetap untuk kegiatan bermusiknya.

4. Prospek karier bermusik tidak bertahan lama

Minimnya profit finansial dari musik membuat profesi sebagai musisi bukan pilihan karir valid. Dalam kultur masyarakat Indonesia, profesi musisi juga masih dipandang sebelah mata karena dianggap tidak mempunyai nilai sumber finansial kuat dan sustain dibanding profesi lain.

Kebanyakan musisi ‘menyerah’ setelah hanya menjalani siklus maksimal 5-6 tahun karena berbagai faktor tekanan hidup (menikah, berkeluarga, tuntutan pekerjaan harian, ekonomi, dll) mulai memuncak dan tidak berbanding dengan profit yang dihasilkan dari bermusik.

5. Mahalnya peralatan & perangkat musik

Terlepas dari mudahnya akses produksi musik, instrumen utama (gitar, bass, drum, amplifier, mixer, dll) jadi elemen utama yang harus dimiliki. Paralel dengan pergerakan mata uang dunia, harga instrumen ini juga terpengaruh mengalami kenaikan harga karena mayoritas merupakan barang impor (rate harga ini juga memengaruhi harga barang lokal). Pergerakan harga instrumen ini sudah jelas dari tahun ke tahun menanjak tajam dan jadi salah satu faktor pertimbangan besar untuk musisi junior untuk memulai.

Membaca fakta diatas jadi bikin nge-drop dan batal untuk memilih musik sebagai profesi? Bisa jadi.

Tapi justru dengan kondisi ini, hanya segelintir orang dengan tekad kuat yang akhirnya benar-benar bisa bertahan. It’s the survival of the fittest. Karena di balik semua kesulitan di atas, ada juga jendela kesempatan yang bisa dilakukan untuk punya rentang karier panjang dalam musik. Di antaranya:

1. Niat dan semangat

Modal paling utama. Terdengar sepele dan sederhana. Tapi kesalahan terbesar banyak orang ketika mulai karier bermusik adalah menganggapnya sebagai kegiatan sampingan atau pengisi waktu luang. Lalu berharap di tengah jalan dewi fortuna akan menghampiri dan bisa menghasilkan uang sekalian dijadikan karier kalau beruntung. Ini persepsi fatal.

Seperti halnya pilihan karir yang lain, menjadi musisi tidak bisa dijalani setengah- setengah. Harus nyemplung dan basah sekalian dari awal. Kegiatan bermusik harus dijadikan prioritas (walaupun kamu menyambi sebagai pegawai harian). Akan ada momen kegagalan berulang-ulang, tapi yang menentukan berhasil atau tidak, cuma bisa tahu kalo bisa bangkit dan mencoba lagi dan lagi. Akan keliatan nanti mana yang musisi karbitan sama yang masih punya niat.

2. Merchandise

Ini sih faktor no brainer. Banyak opini mengatakan penghasilan utama band sekarang bergantung dari tur dan panggung. Pernyataan ini mungkin berlaku untuk band besar atau yang sudah merangkak naik dan sudah sibuk manggung. Tapi untuk band yang baru terjun tempur, jualan merchandise bisa jadi penyambung napas finansial yang bisa membantu operasional band. Bikin desain visual keren terus diproduksi di stiker, kaos, topi, patch, dll. Minta teman-teman kamu untuk beli, titip di distro, jual di instagram atau online market.

3. Sponsor korporat

Banyak perusahaan raksasa, terutama yang bergerak di produk dewasa, punya bujet besar untuk promosi, tapi media untuk promosinya minim karena terbentur regulasi pemerintah. Sehingga banyak perusahaan tersebut mengucuri dana dalam jumlah besar untuk industri kreatif di segala bidang. Ada banyak kompetisi band digelar, banyak tur panggung musik digelar dari kota ke kota.

Belum lagi program promo bertebaran dari perusahaan telekomunikasi seluler, brand fashion sampai makanan/minuman. Semuanya membuka banyak pintu kesempatan buat bibit bakat baru yang ingin mencari batu lompatan untuk memulai karier bermusik.

Istilah sold out jadi jargon basi. Sekarang yang harus dipikirkan adalah bagaimana band bisa memanfaatkan korporat besar untuk mendukung kegiatan bermusik mereka tanpa harus menggadaikan idealisme. Bikin proposal program yang unik dan kreatif sehingga para korporasi besar ini tertarik untuk berinvestasi di program kamu.

4. Coba semua pintu

Berkaitan dengan poin di atas di mana banyak tersedia program sponsor oleh brand korporat di bidang kreatif, pintu oportuniti terbuka untuk melebarkan bakat kamu yang berkaitan dengan musik. Baik dari sisi visual (desain, lukis, fotografi, fashion), jurnalisme (blog, portal berita, fanzine), produksi (sound engineering, stage production, studio recording), sampai manajerial (band managing, publishing, administrasi sosial media).

Cari bidang mana yang paling cocok dengan bakat kamu lalu nyemplung juga disitu. Berusaha mendalami operasional dan mekanismenya, karena nantinya akan membantu kinerja kamu mendorong karier bermusik.

5. Kesempatan di lansekap digital

Memasuki era milenial, sektor industri musik mengalami perubahan cukup signifikan, di mana bisnis model monopoli oleh perusahaan rekaman sudah dirombak dengan pertolongan internet dan teknologi. Otonomi musisi/band diterapkan lebih efektif dan efisien dengan bantuan media sosial serta portal penyedia musik (Joox, Spotify, Deezer, dll) Semakin aktif band di ranah sosial media, makin lebar kesempatan untuk terekspos ke segala penjuru dunia maya. Koneksi resiprokal antara band dan pendengar terjalin lebih intim sehingga terjadi interaksi langsung, baik untuk komunikasi atau jual beli produk. Pada akhirnya lingkaran ini jadi ekosistem pasar yang membuat band bisa membentuk komunitas dan bergerak leluasa.

Jadi sudah jelas walaupun fakta kalau profesi musisi itu masih sulit untuk dijalani, tapi masih ada kesempatan-kesempatan emas yang kamu bisa raih kalo memang niat. Satu hal yang harus diingat, untuk berhasil menanjak jalan terjal menuju karier jadi musisi, kata ‘menyerah’ tidak boleh ada di kamus kamu. Seperti kata Bon Scott: It’s a long way to the top if you wanna Rock n Roll! Selamat mencoba!

0 COMMENTS