Fauzan Lubis

Fauzan Lubis: Motivasi dalam Improvisasi, Kejujuran Ekspresi atau Cari Atensi?

  • By: Fauzan Lubis
  • Selasa, 31 March 2020
  • 490 Views
  • 3 Likes
  • 1 Shares

Menurut gue, topik ini merupakan hal yang seru untuk dibahas. Namanya juga seni, sebuah wadah diskusi yang fleksibel dan membutuhkan sudut pandang dan pendapat banyak orang, baik seniman maupun para penikmatnya. Hal ini menjadi salah satu trending topic di tongkrongan kampus waktu jaman kuliah dulu. Sore hari di bawah pohon jamblang, gue bersama teman-teman dan dosen gue membahas soal perbandingan antara kemahiran skill dengan ketulusan hati seniman pertunjukkan dalam menyajikan karyanya.

Gelas demi gelas, menemani diskusi kita sore itu tak terasa hingga larut malam, padahal dapat SKS juga enggak. Entah mengapa hasil diskusi dari sore kemalam itu, kami semua menyimpulkan bahwa energi dari ketulusan hati sang seniman terbilang lebih magis dibanding dengan kemahiran skill, tapi perlu dicatat, kemahiran eksplorasi dan terus mengasah skill merupakan tanggung jawab seorang seniman. Kalau kata dosen gue, 70% skill dengan 30% feel di dalamnya akan menjadi pertunjukkan yang bagus, mungkin secara teknis dan kepiawaian bermain, namun, karena minimnya feel, pertunjukan tersebut kurang memiliki kesan yang mendalam bagi para penikmatnya. Sedangkan 70% feel dengan 30% skill di dalamnya memungkinkan untuk memberi kesan yang lebih mendalam.

Pada hakekatnya, manusia adalah mahluk hidup yang memiliki hati dan ada titik yang lebih dalam lagi bisa disebut nurani. “Keikhlasan” pelaku seni pertunjukan dalam mempertunjukkan karyanya dapat diterima dengan mudah ke hati tiap-tiap audiens. Karena apapun yang diberikan dengan setulus hati akan diterima dengan setulus hati juga. Misal, ketika lo dikasih sesuatu sama orang, lo bisa tau dari hati terkecil lo kalau orang itu ikhlas atau tidak.

Sekarang kita lanjut ke motivasi, apa sih motivasi? sepenting apasih motivasi dalam seni? tentu hal ini sangat penting karena motivasi adalah niat awal dan tujuan sang seniman dalam berkesenian. Dalam kasus ini, karena gue sendiri vokalis, gue jadikan seni tarik suara sebagai tolok ukur untuk topik yang akan dibahas. Dalam menyanyikan setiap karya di pertunjukkan, baik itu karya orang lain maupun sendiri, menurut gue baiknya, sang pelaku seni turut merasakan maksud dan tujuan karya itu diciptakan seniman nya. Seperti halnya kita merasakan semangat para pejuang kemerdekaan dalam lagu Indonesia Raya karya W.R. Soepratman.

Namun, dalam beberapa kasus yang gue sendiri pernah mengalami, ada keegoisan diri di mana ketika lo bernyanyi lo tidak peduli dengan maksud dan tujuan karya yang lo nyanyikan. Rasa tidak peduli menumpulkan kekuatan hati sehingga lo bernyanyi untuk diri sendiri dan unjuk gigi, mungkin terdengar sangat rapih namun kurang memiliki kesan yang berarti.

Bahas soal improvisasi, improvisasi merupakan buah dari eksplorasi, hasil dari seberapa rajin sang seniman dalam mengasah skill yang telah menjadi tanggung jawab setiap seniman. Dalam hal seni tarik suara, gue sering menemukan kasus di depan mata, di mana, sang pelaku seni bernyanyi menyajikan karya orang lain dengan improvisasi yang berlebih dan tidak sesuai porsi, seperti contoh lagu “To Be With You” dari Mr.Big, “More Than Words” dari Extreme, dan “When I Fall in Love” dari Nat King Cole. Karya-karya tersebut seringkali disajikan oleh para musisi di tiap bar atau pub dengan live music. Dan seringkali pula, sang vokalis terlalu mengimprovisasi  karya tersebut, sehingga karya-karya tersebut seolah kurang memiliki arti.

Foto ilustrasi

Ada momen dimana “More Than Words” yang merupakan lagu karaoke sepanjang masa tidak dinyanyikan oleh para audiens karena sang vokalis terlalu asik sendiri bermain dengan nada sampai “keriting-keriting” sehingga membuat para audiens tidak nyaman untuk menikmati apalagi sing along. Menurut gue, motivasi sang penyanyi dalam menyajikan karya tersebut memang tidak untuk para audiens. Entah mengapa gue yakin beliau bernyanyi untuk diri sendiri, unjuk gigi dan mencari atensi.

Kurang tepat apabila pelaku seni pertunjukan menyajikan sebuah karya dengan motivasi cari atensi. Karena bagi pelaku seni pertunjukan mendapatkan atensi itu sudah pasti, karena didukung oleh panggung (besar atau kecil), sound system, lighting dan hal-hal lainnya yang mendukung berlangsungnya pertunjukan seni. dan lagi-lagi menurut gue, akan sangat jauh lebih baik apabila motivasi dalam bernyanyi adalah untuk dinikmati orang lain, bangun ketulusan hati dan ikhlas seperti hal nya sedang beribadah di mana kita tak mengharap apa-apa, sehingga tanpa disadari improvisasi (buah eksplorasi) akan secara alami tersaji dan sesuai dengan porsi yang mungkin, akan jadi sebuah pertunjukkan seni yang memiliki kesan berarti.

0 COMMENTS

Info Terkait

supernoize
633 views
supernoize
759 views
supergears
503 views
supernoize
387 views
supershow
5820 views
supernoize
1586 views