Festival Musik

Festival Musik: Kekuatan Ekonomi Baru

  • By: Che Cupumanik
  • Rabu, 28 August 2019
  • 481 Views
  • 3 Likes
  • 1 Shares

Suatu hari, muncul artikel “Bekraf: Penyerapan Tenaga Kerja Kreatif pada 2019 Akan Lampaui Target.” Menurut artikel tersebut, di tahun 2018 saja diproyeksikan tenaga kerja industri kreatif dapat mencapai 18,1 juta orang. Dalam hati saya bilang, “Ah, penyerapan tenaga kerja itu pasti bukan dari subsektor musik”, dan benar adanya.

Menurut data Badan Pusat Statistik yang dipublikasikan Bekraf per 2016, jumlah penduduk yang bekerja di bidang ekonomi kreatif subsektor fesyen sekitar 4,13 juta orang, kriya berkisar 3,72 juta orang, dan kuliner mencapai 7,98 juta. Tak tertulis, bahkan tak dibahas sama sekali, berapa jumlah penduduk yang bekerja di bidang subsektor musik di Indonesia.

Mari kita tengok fenomena musik yang sedang bergulir. Saya masih optimis pada musik sebagai sektor yang dapat berkontribusi besar pada pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional. Industri ini juga berpotensi menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Di artikel Entertaining Business: The Impact Of Music Festivals, karya Rian Bosse dibuka dengan pernyataan bahwa banyak penggemar musik, terutama generasi millenial, rela mengeluarkan banyak uang untuk berkemah, berpesta, dan menonton konser selama beberapa hari. Permintaan ini berperan membangun festival besar di berbagai negara.

Contohnya adalah Coachella di California Amerika Serikat, festival paling menguntungkan di industri pertunjukan. Festival ini tidak hanya menguntungkan penyelenggara, tapi terbukti menguntungkan bagi seluruh kota.

Pada 2013, festival California ini berhasil menjual 158.000 tiket dalam 20 menit. Menurut Billboard Boxscore, pendapatan total Coachella mencapai $ 47,3 juta. Faktor ini membuat penyelenggara memperluas festival menjadi dua akhir pekan.

Namun, Coachella tidak sendirian. The Bonnaroo Music & Arts Festival di Tennessee, AS, tiket seharga $ 269 dan paket VIP seharga $ 1449,50 begitu cepatnya ludes. Festival ini telah menghasilkan sekitar $ 25 juta, hanya dari penjualan tiket tahun 2014.

Bahkan Stagecoach, festival musik country sanggup menyerap 3.000 orang tenaga kerja dan menghasilkan pendapatan sebesar $ 254 juta ke ekonomi setempat pada 2012. Kesuksesan ini menyebabkan berbagai bisnis lokal mempersiapkan festival beberapa minggu sebelumnya, karena lebih dari 80.000 orang datang ke acara tersebut setiap hari.

Tengok juga South by Southwest (SXSW) di Austin, Texas, yang menggabungkan film dan teknologi. Acara ini membawa kerumunan penggemar, eksekutif, produser dan pendiri startup teknologi selama hampir dua minggu setiap bulan Maret. Dampaknya, ekonomi lokal menghasilkan sekitar $ 218 juta selama festival di 2013.

Seorang promotor, Charlie Jones mengatakan kepada Crain's Chicago Business di tahun 2013, ia merasa politisi dan bagi penduduk di sekitarnya, dampak ekonominya benar-benar terasa. Contohnya, Lollapolooza membayar pajak dari hasil pendapatannya sebesar 20 juta USD, dan membayar pajak miras pada pemerintah kota.

Para promotor besar mengharapkan tiga festival musik itu ditargetkan memompa lebih dari $ 100 juta ke ekonomi setempat. Ini bukti bahwa festival musik kerap menjadi acara populer utama di musim panas dan menawarkan peluang besar untuk menghasilkan keuntungan. Biasanya, walau diadakan di kota kecil atau tertutup, festival yang sukses dapat mendatangkan 10.000 hingga 90.000 penonton di satu gelaran akhir pekan.

Baik festival musik Coachella dan Stagecoach diperkirakan telah menciptakan 3.000 lapangan kerja dan membawa $ 254 juta ke wilayah ekonomi California pada 2012. Restoran, manajer hotel, dan toserba mempersiapkan sejak seminggu sebelumnya, mempekerjakan karyawan paruh waktu, memperpanjang jam kerja dan meningkatkan harga. Menurut saluran berita Coachella Valley, KMIR, bisnis lokal dan hotel menuai sebagian besar keuntungan, rata-rata meningkat 20% hingga 30% selama tiga minggu.

Ada kabar gembira di kancah festival musik nasional, digelarnya Balkonjazz Festival pada 14 September 2019 mendatang. Visi-misi gelaran ini sungguh menarik; tak hanya menonjolkan musik, tapi juga budaya, wisata, dan bahkan meningkatkan ekonomi lokal. Penampil tak hanya menampilkan karya terbaik, tapi sekaligus memperkenalkan keunggulan daerah di kawasan Borobudur.

Upaya ini mengharapkan pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat lokal, khususnya di sekitar penyelenggaraan Balkonjazz. Festival ini akan mempromosikan desa wisata di sekitar Borobudur sebagai destinasi baru dengan berbagai atraksi dan potensi sumber daya alam yang sangat menarik.

Sepertinya kita memang sudah perlu melakukan studi serius untuk membahas dampak ekonomi dari gelaran festival musik yang berdampak besar untuk ekonomi lokal. Industri musik, mulai dari streaming sampai ke live music, tumbuh dua kali lipat tingkat ekonomi global saat ini. Di tahun 2017, kedatangan wisatawan internasional di seluruh dunia tumbuh sebesar 7%.

Cermati laporan/white paper yang ditulis UNWTO (Organisasi Pariwisata Dunia) yang khusus melihat musik sebagai pendorong utama pariwisata. Zurab Pololikashvili, Sekjen UNWTO mengatakan, “Kami melihat pengalaman dari seluruh dunia, hal itu mengajarkan kita bagaimana musik adalah alat untuk meningkatkan tujuan pariwisata dan alat yang lebih baik menceritakan kisah”.

Pernyataan Zurab, senada dengan Julian Guerrero, Wakil Presiden Pariwisata, ProColombia, ia katakan, “Musik adalah salah satu motivasi terbesar untuk pariwisata. Baik dalam bentuk musik pertunjukan atau produksi rekaman album. Musik dunia sedang merayakan keragaman dan bakatnya yang kaya. Melalui musik, kita bisa mempromosikan dialog antarbudaya dan mendorong pertukaran”.

Namun, sektor-sektor tersebut harus bermitra untuk meningkatkan nilai ekonomi masing-masing dan secara total. Selain itu, festival musik berperan besar dalam pengembangan destinasi wisata. Kita bisa mempromosikan berbagai budaya lokal dan mengembangkan produk pariwisata sekaligus meningkatkan branding pariwisata.

Kabarnya, belakangan ini Pemprov DKI sedang gencar menggelar festival musik dan budaya untuk menarik wisatawan ke Kepulauan Seribu. Setelah sukses menggelar festival reggae di awal 2019 dan konser Payung Teduh pada April 2019, kali ini pemerintah setempat menggelar konser musik band Wali di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu pada 17 Agustus lalu.

Target pengunjung lebih dari 2.000 wisatawan, diungkapkan Dahyar, Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Kepulauan Seribu. Mereka optimistis target itu tercapai, mengingat dua event sebelumnya sukses menggaet ribuan pengunjung. Menurutnya, festival musik efektif mendongkrak ekonomi masyarakat. Tingkat okupansi homestay meningkat, begitupun omzet pelaku usaha kuliner.

Simak juga rangkaian Banyuwangi Festival yang digelar sejak 2012, dan menjadi salah satu pemicu kemajuan daerah. Dias Satria, ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Malang, mengkaji dampak ekonomi festival berisi 70 atraksi wisata budaya, wisata alam, dan wisata olahraga. Banyuwangi Festival, berhasil mengembangkan ekonomi kreatif dalam kemasan festival.

Mereka mengombinasikan ilmu manajemen event, destination branding dan teori pariwisata berkelanjutan. Dias mengusulkan, bahwa kajian Ekonomi Festival layak dipertimbangkan menjadi kajian serius. Mengingat saat ini banyak daerah menggarap festival, dan ini terbukti menjadi pengungkit paling efektif untuk meningkatkan promosi destinasi.

Banyuwangi Festival sanggup mendorong investasi di sektor seperti perhotelan, industri, pertanian, dan perdagangan. Bahkan aksesibilitas juga menjadi sangat mudah. “Dari dulu tidak ada penerbangan, sekarang sehari ada delapan penerbangan ke Banyuwangi dari Jakarta dan Surabaya," ungkap Dias.

Timothy Mangan, kritikus musik klasik dari Orange County Register, mengatakan: “Jika Anda memperlihatkan hasil riset studi ekonomi festival ini dan menunjukkan kepada pejabat pemerintah, mereka mungkin bersedia untuk berinvestasi. Festival musik di Orange County telah menunjukkan bagaimana mereka menciptakan lapangan kerja, menghasilkan pendapatan pajak, menguntungkan hotel dan menyebabkan efek riak pada bisnis wisata.

Kelompok-kelompok seni di wilayah Berkshire di Massachusetts melakukan penelitian, dan mengungkapkan fakta bahwa festival menyerap 6.000 orang tenaga kerja ke wilayah tersebut, dan membantu mempertahankan restoran dan hotel setempat”.

Sebagai menu penutup, mari kita tengok barisan festival musik nusantara. Festival musik terbesar di Indonesia yakni Java Jazz, sanggup menampilkan 1.300 orang musisi, 21 panggung, dan menjual tiket sekitar 120 ribu lembar. Kemudian diantaranya Hellprint (Bandung), Rock In Solo, Ngayogjazz, Kickfest (Bandung), We The Fest, Synchronize Fest, hingga yang terbaru: Hodgepodge Superfest.

Coba kalian bayangkan, berapa banyak tenaga kerja yang terserap dari puluhan festival besar yang rutin digelar itu? Sementara satu festival saja, itu sudah melibatkan puluhan profesi dan jasa.

Sebut saja, yang pertama adalah para penampil, berikutnya jasa Impresariat yang mencakup kegiatan pengurusan dan penyelenggaraan pertunjukan hiburan, berupa mendatangkan, mengirim, maupun mengembalikan serta menentukan tempat, waktu, dan jenis hiburan.

Lalu festival ini melibatkan jasa juru kamera, juru lampu, juru rias, penata musik, jasa sound system, termasuk juga agen penjualan karcis pertunjukan. Belum lagi koreografer dan penata tari serta stylist. Manajer artis/seniman, yang berprofesi melakukan aktivitas pengaturan dan negosiasi ke pihak lain atas nama artis/seniman. Hadir juga pihak keamanan, dan boleh jadi ada penampil yang melibatkan tim orkestra, dari seperti alat musik gesek (strings), alat musik tiup (woodwind & brass), dan alat perkusi juga paduan suara.

Berikutnya, muncul pertanyaan lain, “Berapa jumlah perolehan iklan dari festival-festival bergengsi ini?” Kita tahu, festival musik yang sukses tentu diminati pemasar iklan, semuanya berlomba-lomba untuk menggigit. Sebuah merek pasti melihat nilai besar festival musik sebagai sarana promosi berpotensi tinggi.

Menurut laporan IEG, sekitar $ 1,34 miliar dihabiskan untuk mensponsori festival musik tahun 2014 di seluruh dunia. FRUKT, agensi yang didedikasikan untuk menemukan peluang branding di ranah budaya pop, melaporkan bahwa sekitar 447 merek memainkan peran dalam 300 festival musik di seluruh dunia pada tahun 2013.

Merek minuman sponsor paling aktif dengan 27 persen properti festival melaporkan kemitraan dengan mereka. Beberapa merek bahkan memproduksi festival musik sendiri, mereka berharap penonton akan mengaitkan perusahaan mereka dengan kenangan positif.

Misi utama economic development adalah meningkatkan pendapatan perkapita secara aktif. Penggagas festival musik dan semua pihak yang terlibat telah mempraktekkan kegiatan ini. Mereka saling berpartisipasi melakukan peningkatan ekonomi. Diakui atau tidak, upaya ini memberi kontribusi menciptakan kesejahteraan bersama. Saya meyakini, festival musik merupakan kekuatan ekonomi baru.

Artikel ini saya tutup dengan pernyataan dari Kelsey Clark, seorang jurnalis musik.

“Festival musik adalah salah satu hiburan favorit anak muda Amerika. Dibandingkan dengan festival Woodstock tahun 1969, tiket hari ini kira-kira 60 kali lebih mahal, dan band-band sekarang dibayar 20 kali lebih banyak. Menghadiri festival bergantung pada situasi keuangan Anda.”

Nah, sebaiknya nabung deh dari sekarang.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
237 views
superbuzz
133 views
superbuzz
188 views
superbuzz
199 views
superbuzz
390 views
superbuzz
277 views