Frustasi Ngeband, Musik Ga Bisa Buat Hidup

Frustasi Ngeband, Musik Ga Bisa Buat Hidup

Hallo, apa kabar Superfriends?

Seperti biasa kalau kalian baca tulisan gw pasti berbeda dengan teman-teman yang lain, dimana gw selalu menulis secara gamblang dan blak-blakan, juga dengan kosa kata yang pas-pasan soalnya gw bukan penulis hahaha.

Gw hanya berbagi cerita dari sudut pandang dan pengalaman hidup dalam bermusik yang gw alamin cuy. Kali ini gw akan menulis berbeda dengan sebelum-sebelumnya,kalau kemarin-kemarin gw nulis tentang teori gembel, sekarang gw akan sedikit berbagi pengalaman yang gw alami selama pandemi ini. Semoga bisa saling berbagi, ya, guys.

Mungkin saat ini banyak dari teman-teman yang mengalami masa sulit dalam bermusik,apalagi era pandemi kaya gini kita bingung harus ngapain,terutama untuk pelaku musik bingung mau rilis album juga butuh dana yang tidak sedikit. Apalagi teman-teman musisi yang masih berjuang supaya karyanya bisa didengar hingga dinikmati kalangan luas, tapi sebenarnya ini kesempatan kalian guys dimana semua pelaku musik memanfaatkan sosial media untuk berlomba mempromosikan karya mereka.

Banyak banget cara kita untuk bertahan, gw kasih contoh saat band gw Superglad merilis mini album (EP) persis seminggu sebelum COVID-19 melanda Indonesia bertepatan kita lagi promo tour untuk Jawa dan Bali, saat kota kedua kita datangi pemerintah sudah kasih peraturan tentang PSBB dll.

Awalnya gw dan anak-anak Superglad sempat down dan kesal banget karena situasi yang terjadi saat itu, bahkan merchandise yang sudah kita siapkan untuk tour juga baru terjual 9 pcs dari 5 lusin yang kita cetak. Begitu juga cd yang sudah kita cetak 500 keping baru terjual 15 keping doang hahaha. 

Semua acara dibatalkan tour ditunda dalam jangka waktu yang tak terbatas oleh pihak panitia dan sponsor. Akhirnya apa yang terjadi? FRUSTASI Yup, gw terutama yang baru saja bangkit lagi dan terjun lagi ke dunia permusikan dari hiatus gw selama 2 tahun terasa sia-sia. Bahkan band gw yang satunya lagi KAUSA juga mengalami hal yang sama bahkan dana gw yang hanya segitu-gitunya, coba gw putar untuk merilis merchandise dari Kausa juga pada saat itu,dan sama sekali belum ada yang laku karena memang Kausa masih seumur jagung.

Stres bercampur pasrah yang gw hadapi. Gimana nggak, mau ketemu anak-anak gak bisa, kita hanya bisa video call bahkan mau workshop untuk bikin materi pun gak bisa karena social distancing kala itu. Akhirnya sebulan pandemi berjalan gw harus main “janda” wkwkwkwk… janda bolong maksud gw cuy hehehe. 

Yup, gw beralih profesi berjualan tanaman sampai bikin jasa pengerjaan aquascape karena itu salah satu keahlian gw di luar musik. Saat itu pemikiran gw adalah gw harus bertahan hidup, tapi musik tetap gak bisa lari dari hidup gw. Sambil ngerjain pesanan aquascape orang yang sebenarnya juga klien itu adalah kakak gw sendiri haha.

Gw dengerin lagu-lagu sambil mendesain tank aquarium yang gw kerjain, dari mulai Gojira bahkan sampai ke Betharia Sonata. Tapi apa yang terjadi? Sambil bersenandung menyanyikan lagu-lagu yang gw play random dari laptop gw, tanpa sengaja gw malah terinsipari untuk buat lagu jadinya, yang tadinya gw sudah gak tau musti ngapain lagi di musik akhirnya gw kepikiran untuk merekam nada-nada yang ada di kepala gw ke voicenote handphone cuy.

Karena harap maklum gw gak punya piranti rekam layaknya teman-teman musisi yang lain, jadi bunyi drum bunyi bass bahkan gitar gw bikin pake mulut dulu. Lo bisa ngebayangin ‘kan gembelnya, senandung nyanyian juga gw rekam di hp untuk patokan gw buat lirik nantinya. Bahkan ada beat drum yang gw buat pake tangan dengan cara mukul ke meja makan gw, kick pake telapak bawah, snare pake sendok ngetok ke meja.

Hal itu gw lakukan untuk guide gw bikin pattern gitarnya, alhasil dari perjuangan mulut gw itu berhasil membuat separuh album dari KAUSA “Una In Perpetuum”. Kalau kalian lihat di YouTube, coba lihat KAUSA. “Jangan Diam Hantam” itu salah satu lagu yang berawal dari mulut gw yang dijadikan single pertama di album itu.

Coba kalian perhatikan nada gitarnya pas bagian nyanyi itu terinspirasi dari Megadeth “Peace Sell but Who's Buying”, tapi coba denger pas bagian lead ditengahnya, tahu nggak dari mana? Nada dasar leadnya diambil dari lagu Marc Anthony dan Tina Arena dari film Zorro “I Spend My Lifetime Loving You”.

Nah, ini yang mau gw bagi juga cuy, bahwa semua jenis musik bisa menjadi inspirasi kita. Contoh, ya, seperti yang gw cerita tadi, bahwa dari sebuah playlist yang random genrenya malah bisa bikin gw berkarya di saat pandemi, di saat gw merasa frustasi buat ngeband dan berpikir kalau musik nggak bisa menghidupi gw. Cuma keyakinan dan semangat tak pernah padam yang gw pegang sampai saat ini, kita harus berani untuk menjalni ini semua dan yakin kalau suatu saat karya yang kita buat bisa diterima di kalangan luas atau bahkan hanya dikalangan skena doang. 

Enggak masalah cuy, satu orang bisa hafal reff lagu kita saja itu sudah berharga sekali dalam sebuah karya. Semangat kawan-kawan, yakin kalau kita bisa, jangan pernah menyerah dalam bermusik, yakin kalau musik bisa menghidupkan lo, maka lo akan hidup dari musik.


Sekian dulu, ya, Superfriends cerita singkat pengalaman gw ini. Semoga bisa berbagi pengalaman untuk informasi sampai saat ini juga gw masih berjuang untuk survive dengan dagang ikan cupang hahahaha. See ya at the wild real gigs!

0 COMMENTS