Che Cupumanik: GAK PUNYA DUIT DAN GAK PUNYA WAKTU, ALASAN PALING BURUK DAN MEMALUKAN

  • By: Che Cupumanik
  • Senin, 26 October 2015
  • 10339 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Gue heran dan bertanya-tanya, kenapa yah lagu “Bento” dan “Bongkar” milik band Swami kok bisa sangat populer, jadi hits dan mewabah?, lebih canggih lagi dua lagu ini menjadi mass appeal. Dua lagu itu juga gak dibikin video clip-nya sebagai peluru promosi yang paling gagah dan diandalkan. Di era lahirnya lagu ini tahun 1989, televisi saat itu hanya ada  TVRI, dan udah pasti kalau dua lagu ini dibikin clipnya, dijamin lagu protes ‘Bento’ dan ‘Bongkar’ gak bakal bisa lolos diputer di TV BUMN itu. Yang hidup di era 1989, kita semua tau pemerintah Orde Baru (orba) sangat represif, siapapun yang mengkritik kebijakan pemerintah akan dituduh subversif, dianggap menentang negara. Lalu muncul tanya, lagu protes itu kok bisa menjadi hits? lagu yang gak punya video clip-nya itu kok bisa mewabah?, lagu itu kok bisa dinyanyikan semua kalangan?, lagu itu kok bisa menjadi penanda jaman dan disukai banyak orang?, padahal belum ada sosial media, padahal belum ada Youtube, bahkan jaringan internet di Indonesia digunakan baru pada akhir 1990.

Dengan mudah orang akan bilang: “Tapi kita harus ingat, ada nama besar Iwan Fals di sana, ada Sawung Jabo, dan album itu diproduseri Setiawan Djodi”. Iya betul, itu salah satu sebab lagu itu masih tetap diburu penggemar dan mewabah, tapi apakah nama besar itu selalu bisa diandalkan sekarang?, apakah nama-nama besar musisi Indonesia itu masih bisa bikin lagu yang nge hits, populer dan mewabah meski saat ini serba tersedia fasilitas memamerkan karya?. Semua balik ke kualitas karya, lagu ‘Bento’ dan ‘Bongkar’ bukan cuma karena ada nama besar, itu jenis lagu yang membuat banyak orang merasa dibela, dan lagu itu menjadi sountrack hidup perlawanan pada kehidupan politik negara yang otoriter. Dengan kekuatan liriknya, dua lagu itu seperti punya sayap dan bisa mendatangi kuping-kuping jutaan orang, meski tanpa dukungan video clip, tanpa didukung kekuatan visual.

Sebentar, jangan buru-buru ambil kesimpulan bahwa tulisan ini gerutuan ocehan politik, bukan tentang itu. Tulisan ini ingin membahas betapa mudahnya, betapa enak-nya, saat ini tersedia tumpah ruah fasilitas untuk musisi mempromosikan karyanya di internet. Salah satu yang luar biasa membantu adalah dengan adanya Youtube, upload video dengan biaya nol rupiah alias gratis bin cuma-cuma, band mainstream atau sidestream dengan sepuasnya bisa memanfaatkan raksasa  video streaming ini untuk promosi karya. Bahkan Televisi dulu satu-satunya yang sangat gagah sebagai medium pencetak popularitas dan alat pamer audio visual tercanggih, kini tersaingi oleh internet. Dan yang mengejutkan sekaligus mengherankan, di era serba mudah ini, gue banyak menyaksikan sebuah band yang udah punya rilisan album, tapi belum punya video clip, dan ada banyak sekali band yang hanya mengandalkan satu buah video clip untuk full album mereka. Ada yang video clip-nya gak dapet respon besar, view-nya sedikit dan lalu selesai, satu album cukup hanya mengandalkan satu video clip, dengan alasan: “Gak punya duit, bikin video clip kan mahal”.

Kebayang yah, kalau nama kita belum besar, belum punya banyak penggemar fanatik, reputasi karya belum diakui, lirik lagu gak sekuat dan gak semenarik “Bento” atau “Bongkar”, karya kita gak berpotensi menjadi mass appeal, gak sanggup bayar promo ke radio apalagi ke TV, lalu gak bikin video clip sebagai peluru promosi untuk mengenalkan karya secara audio dan visual ke publik, rasanya cita-cita punya lagu yang akan disukai banyak orang menjadi mimpi yang ntah kapan bisa tercapai. Bahkan sebuah band ketika sudah punya video clip saja, itu tidak cukup akan menjamin sebuah lagu akan disukai dan dikenal. Medium visual butuh sederet konsep yang memikat, story yang kuat dan menarik. Setelah video jadi, bahkan masih butuh marketing plan, media plan dan strategi promosi memanfaatkan sosial media secara menarik untuk menopang video clip agar ditonton banyak kalangan.

Gue mau berbagi pengalaman dan cerita, Cupumanik dulu tahun 2004 bergabung dengan Major label Pops Musik/ Aquarius, dapet jatah dibikinin video clip satu yaitu single yaitu “Maha Rencana”, dan mereka gak ngasih fasilitas video clip berikutnya. Sementara kami masih butuh promosi album melalui imaji audio visual berikutnya, dan kamera jaman 2005 gak seperti sekarang, dulu harus mengandalkan kamera video profesional, berbeda dengan sekarang, kamera DSLR sudah punya fitur video dan Full HD. Kemampuan finansial saat itu terbatas, dan gak ingin buru-buru bilang: “gak punya duit”, waktu itu melalui sosial media ‘Friendster’, gue nulis status: “Kami punya band, baru satu album, dan baru bikin satu video clip, akan merekam video clip berikutnya, sangat terbuka untuk melakukan kerja sama, yang berminat bisa hubungi kami”. Gue sadar, ada banyak anak mahasiswa DKV (Desain Komunikasi Visual) yang butuh objek visual buat tugas kampusnya, gue saat itu yakin gayung akan bersambut dan hubungan mutualisme akan terjadi. Dan terbukti, anak DKV STIEB ( Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bandung), tertarik untuk menggarap video clip ke-dua Cupumanik, dan lagu berjudul “Bukan Saat Ini” berhasil dibuat video clip-nya di kampus mereka. Dan video clip ke-tiga, dengan memanfaatkan sosial media juga jaringan pertemanan, lagu berjudul “Ibu” milik Cupumanik, video clip-nya digarap mahasiswa DKV UNIKOM Bandung.

Jaman kini berubah, banyak televisi lokal yang sering kali menyuguhkan suguhan tayangan sampah, sehingga jutaan orang tak lagi nyaman menonton TV, sangat sedikit sekali televisi lokal yang keren dan kualitas, yang relevan dengan selera kita. Jutaan orang kini sudah bisa mencari sendiri tayangan mutu melalui internet.  Artinya TV bukan lagi satu-satunya medium hebat untuk memamerkan karya audio visual, Jutaan pasang mata hari ini sudah menjadi penghuni dunia internet. Dan kini sudah banyak band di dunia dan lokal yang ber-experimen membuat video clip dengan menggunakan kamera handphone, kamera DSLR kini banyak disewakan dengan harga kisaran 200.000 – 500.000 per satu hari, banyak studio latihan band yang bisa disewa untuk syuting video clip, tutorial atau cara mengedit video udah berantakan ilmunya bisa ditemui melalui Google atau Youtube. Bahkan dengan segala kemudahan ini, dengan fasilitas yang serba ada, bahkan dengan kehadiran sosial media seperti Facebook, Twitter, Path dan Instagram untuk share link video clip, itupun belum tentu sebuah hits tercipta, apalagi kalau masih ada band yang belum sadar pentingnya bikin video clip, itu akan makin tertinggal sangat jauh. Bahkan kalau bener-bener lo gak punya duit cukup, banyak teman yang punya kamera DSLR dengan fitur videography yang bisa lo pinjem, atau contoh ide yang pernah gue kerjain dengan melakukan kerjasama dengan mahasiswa DKV (Desain Komunikasi Visual).

Banyak cara untuk kerjasama, banyak cara untuk memiliki video clip dengan jumlah yang banyak, tersedia referensi, tumpah ruah inspirasi bagaimana membuat video clip yang bagus dengan konsep keren tapi murah di Youtube atau Vimeo. Hari ini band bukan lagi sekedar punya video clip saja, mereka meng-upload penampilan live show mereka, mereka memamerkan video saat mereka interview, saat mereka dalam perjalanan tour. Bahkan hari ini kita sudah bisa menyaksikan para personil band punya video diary sendiri di Youtube, mereka membuat sebuah jurnal video berkala yang melaporkan kegiatan mereka sehari-hari, itu cara cerdas untuk mengikat penggemar mereka agar selalu dekat. Band yang paceklik manggung, hari ini mereka sudah menciptakan gig sendiri dengan merekam video studio show, mereka tak berhenti melakukan berbagai cara agar daya pamer terus bisa dilakukan. Setiap hari sebuah band jadi punya content atau punya bahan untuk di-posting dan di-share ke publik. Jadi kalau band lo masih jalan ditempat, atau merasakan kemajuan yang berjalan bagai siput, boleh jadi dalam satu hari mungkin lo mikirin nasib band lo cuma satu jam, jangan iri hati bin dengki sama band lain yang melesat maju, karena mereka setiap jam mikirin nasib band mereka biar gemilang.

Beberapa hari lalu bahkan sebelum tulisan ini dibuat, Supermusic ID meminta gue jadi host Kontributor melakukan reportase konser Helloween sekaligus mewawancarai mereka. Sejujurnya padahal gue punya tugas musikal ngeberesin bikin lirik untuk album solo dan untuk dua band gue, tentu gue punya kesibukan, tapi ajakan Supermusic ID dan ajakan menulis artikel gak ingin gue tolak, gue yakin ini besar manfaatnya dikemudian hari, makin banyak kenal orang baru di industri musik, banyak belajar dapet pengalaman baru, orang akan makin tau band gue, dan bahkan gue dapet duit. Gak punya waktu sebenarnya alasan klise, karena itu sebenarnya cuma masalah skala prioritas. Jadi alasan gak punya duit dan gak punya waktu, adalah alasan paling buruk bahkan memalukan. Boleh jadi alasan itu sering kita lontarkan untuk menutupi, kebodohan, ketidakmampuan dan betapa tak kreatifnya kita.

Foto: financesonline.com, jeejuh.com, dhustlerz.com, ppmag.com

1 COMMENTS
  • permana555

    ide baru nih segalanya serba ada itu dia!

Info Terkait

superbuzz
188 views
superbuzz
163 views
superbuzz
237 views
superbuzz
829 views