Garna Raditya 'AK//47': Candradimuka itu Bernama Amerika

  • By: Garna Raditya
  • Sabtu, 17 February 2018
  • 3350 Views
  • 9 Likes
  • 28 Shares

Saya terbangun di dalam mobil Van di tengah perjalanan setelah tampil di Victorville, semalam. Kanan kiri terbentang luas gurun dataran tinggi yang kali pertama saya saksikan, fatamorgana menyolok mata, berhias semak belukar yang kering dan udara yang dingin. Damian Talmadge, gitaris dari Violent Opposition yang sedang menyetir mulai ngantuk, sambil menyeletuk, "Masih enam jam lagi untuk ke kota berikutnya." Agaknya perjalanan masih panjang, ditambah macet karena ada kecelakaan. Sambil bersandar ke jendela yang berdebu, saya mulai menyadari negeri ini begitu luas, padahal ini baru negara bagian California.

Violent Opposition adalah band grindcore yang sedang melakukan tur pendek di empat kota. Saya bergabung dengan band ini sejak September 2017 sebagai pembetot bas dan backing vocal. Sebelumnya telah beberapa kali bergabung dengan berbagai band, tapi tidak ada yang cocok. Lantas, kembali teringat bahwa mencari personel band untuk main musik saja susah betul, belum nanti beda pemikiran, belum lagi cocokkan jadwal.

Berburu Personel

Sekitar dua tahun yang lalu ketika pindah dari Semarang ke Amerika Serikat (AS), saya tidak bisa diam untuk bermain musik lagi. Sebulan sebelum hijrah, menggelar tur 18 kota di pulau Jawa dengan AK//47 untuk promo album Verba Volant Scripta Manent. Bulan-bulan yang sibuk bagi saya sambil mengurus visa dan tetek-bengeknya. Sesampainya di Negeri Paman Sam, harus menghadapi adaptasi hidup penuh liku. Sembari mencari kesempatan untuk bermain musik saya sikat, meskipun hanya jam session sekalipun. Setiap hari mencoba peruntungan di Craigslist (situs besar di AS untuk mencari lowongan) untuk mencari band yang membutuhkan personel. Di saat audisi ada yang malah ajak mabuk, ada pula yang curhat sampai lupa untuk apa saya datang ke audisi mereka.

Beberapa orang bilang, pergi ke konser adalah tempat yang tepat untuk menawarkan diri. Ngobrol sok kenal, sambil siapkan link Bandcamp atau video klip di YouTube. Itu cara yang efektif disini. Karena baru kenal, mereka tidak ingin menghabiskan waktunya untuk mendengar kamu membual, karena band selanjutnya sudah siap main. Perkara cocok apa tidak, nanti dilanjut setelah tukar nomor ponsel.

Seusai mewawancarai band grindcore asal Jepang, S.O.B, saat tampil di California   Death Fest III, 2017. Foto: Nahomi Longstreth

Sembari berburu personel, saya memiliki cara untuk menikmati konser dengan memotret dan video, yang saya unggah di channel YouTube Among Others. Kalau beruntung, bisa mewawancarai band. Setelah beberapa kali pergi ke konser kemudian bertemu dengan Damian, yang pada saat itu Violent Opposition sedang hiatus. Ia sebelumnya adalah personel dari Lack of Interest, Noisear, dan band lainnya yang menjadi salah satu gelombang West Coast Powerviolence. Darinya diperkenalkan dengan insan dari band-band yang sering saya dengar rilisannya. Kemudian bertemu dengan Mark Miller, sang drummer, maka memulailah kami merencanakan sesuatu.

Perkara mendapatkan personel selesai, kini giliran memikirkan tempat untuk latihan. Ini juga tidak mudah, beberapa kali pindah tempat karena latihan di garasi terbatasi oleh waktu, tidak bisa main kencang dan tidak bisa lebih dari jam 8 malam.

Lorong di dalam Oakland Music Complex

Pencarian tempat latihan berakhir di Oakland Music Complex (OMC), sebuah gedung yang berisi 300 ruang. Untuk mendapatkannya juga harus sabar, karena harus mengantri dua bulan. Tempat ini menjadi favorit bagi musisi karena letaknya yang strategis dengan sistem manajemen yang memadai. Sewanya per bulan, yang hanya mendapat ruangan saja. Band membawa instrumennya sendiri, termasuk PA speaker. Tiap ruang terdapat kapasitas 1-2 band dan juga untuk 3-4 band yang ruangannya lebih besar. Jika dengan band saya, per orang membayar US$60 per bulan dan bisa latihan 24 jam kapanpun. Saya bisa latihan 3 kali seminggu di studio, tiap latihan berlangsung 3 jam.

Tetangga ruangan pun kadang membuat “resah”. Suatu ketika Matt Pike (Sleep, High on Fire) meminjam korek api ketika kami sedang istirahat merokok di luar studio, hari sebelumnya papasan dengan Paul Riedl (Spectral Voice, Blood Incantation), besoknya masuk pintu barengan Scott Kelly (Neurosis) sambil mengobrol soal cuaca akhir-akhir ini. Itu merupakan kejadian sehari-hari jika kau latihan di OMC. Personel band-band kesukaan yang lainnya juga kerap berseliweran, kadang saya cuma cengengesan saja. Menahan diri, untuk tidak meminta foto bareng.

Surga Bawah Tanah

Saya beruntung tinggal di Oakland. Sebab, kota ini merupakan bagian dari sejarah kuat musik bawah tanah di Bay Area. Penyelenggaraan festival musik tahunan dengan line up yang tegap seperti California Death Fest, Coachella, Manic Relapse Fest, Burger Boogaloo, dan show-show mingguan yang menggiurkan cukup membuat isi dompet jadi kepepet. Soal tempat, sebut saja Oakland Metro, The Golden Bull, Eli's, Fox Theater, UC Theatre dan beberapa tempat do it yourself (D.I.Y) atau squat-squat anarkis. Tempat-tempat tersebut bisa saya tempuh dengan naik sepeda, termasuk 924 Gilman Street di Berkeley.

Penonton antri memasuki Oakland Metro Operahouse, Oakland

Brujeria saat tampil di California Death Fest II di Oakland Metro Operahouse

Ketika masih memakai seragam putih abu-abu, saya mulai membaca fotokopian majalah dan zine seperti Profane Existance, Touch & Go, Maximum Rock n’ Roll yang kerap menyebut 924 Gilman Street di dalam artikelnya. Setiap konsernya dipenuhi band-band idola. Di saat itulah, saya mulai bermimpi suatu saat bisa mengunjungi dan menonton. Mimpi untuk manggung pada saat itu terlalu muluk.

***

Perut saya mulai keroncongan, sedangkan mobil Van masih melaju kencang membelah gurun yang terbentang. "Setengah jam lagi ada perhentian untuk cari makan," kata Mark setelah melihat Google Map. Soal makanan, kadang saya delusional, membayangkan di jalan ada Warteg atau angkringan. Ini sebab dari sepanjang tur hanya menyantap fast food macam burger, sandwich, kentang goreng, yang harganya terjangkau. Rata-rata sekali makan merogoh kocek US$5-7. Indomie saya simpan sebagai cadangan yang didapat melalui eBay. Maklum, "orang Indonesia". Sesekali membayangkan nasi rames bungkus isinya tahu tempe, oseng kangkung, sambal terasi dan kerupuk yang harganya tak lebih dari US$1. Ah, sedap sekali itu!

Kebosanan di jalan selain sambil berandai-andai juga bisa dimanfaatkan dengan berkontemplasi. Tak terasa menjadi sentimentil saat lagu dari January Christy, “Melayang” berotasi di pemutar MP3. Ah, teringat ketika mulai mengenal subkultur ini saat masih duduk di SMP dan mempunyai band aliran keras pertama beraliran black metal. Pada tahun 1998 ketika SMA, saya pergi ke konser punk sambil bengong. Tidak kenal siapa-siapa, dandan masih norak. Sekali dapat teman, dipalak. Padahal itu sisa uang kembalian dari beli zine di lapakan yang harganya Rp1.500.

Dari romantisme tersebut, saya semakin merasakan bahwa teman-teman berikutnya yang baru saja mengenal subkultur dalam musik adalah teman ngobrol yang autentik. Justru, cerita mereka jauh lebih menarik dibandingkan kawanan yang hanya menghabiskan waktunya untuk nongkrong di luar yang tak peduli band main, ada juga kok di sini. Hanya saja tidak serta merta minta masuk gratis, di antara mereka bawa bir atau ganja sebagai pengganti tiket. Seperti pada show kami berikutnya di The Liquor Lot, Los Angeles. Jangan kira itu bar, tetapi sebuah halaman belakang rumah yang disulap menjadi D.I.Y venue.

Jam menunjukkan pukul 20.00, udara cukup sejuk. Di sekitarnya terdapat rumah tampak tak berpenghuni. Suasananya seperti di gang, tetapi sepi. Dengar-dengar kerap terjadi perang antar gangster. Penonton satu-persatu berdatangan, begitu juga band seraya mengeluarkan instrumen musik dari Van. Sambil menunggu band yang sedang bersiap, saya dihampiri seorang remaja pria bernama Lily Paad. Di tengah obrolan, ia menyodorkan buku catatan. "Tolong dong, tuliskan band rekomendasi dari kamu, nanti mau aku cari tahu."

Saya tulis saja band-band dari Indonesia. Wajahnya cengar-cengir setelah membaca nama-nama band yang menurutnya terdengar asing, seperti Tersanjung 13, Silampukau, Senyawa, atau Nasida Ria. Karena dirasa asing, rasa penasarannya membuat saya harus betah bercerita. Cara ia meminta dituliskan rekomendasi band dengan secara langsung tersebut, adalah hal yang saya kagumi di tengah era internet dan ponsel.

Organisir Konser D.I.Y.

Seusai kami main saya menghampiri Alf, seorang booker lokal. Sambil ngobrol, saya bertanya seperti apa mengorganisir konser D.I.Y. di LA? Apa yang dia jawab kurang lebih sama seperti dimanapun tak terkecuali Indonesia. Hanya saja, mereka cukup menyiapkan venue, kontak ke band, siapkan tanggal dan flyer. Mereka tidak pusing dengan alat, sebab semua band rata-rata membawa instrumennya sendiri. Tidak ada MC di saat jeda untuk band berikutnya, dari itulah kesempatan mengobrol lagi sambil beli bir. Jika sebuah venue ilegal, harus siap diberhentikan oleh polisi. Tetapi jika di sebuah bar/club tak perlu ijin polisi, yang penting acara tak lebih dari pukul 12 malam.

Ia menambahkan, upah sebagai booker mendapatkan bagian 30-50% dari hasil penjualan tiket. Menyelenggarakan konser D.I.Y. kurang lebih seperti ini gambarannya:

Jika tempat kapasitas 150 orang dengan tiket US$10 berarti mendapat US$1500. Untuk 4-5 band yang main masing-masing mendapat US$200 atau lebih terutama untuk band yang sedang tur, sedangkan booker dan venue dapat bagian US$400, sisanya diberikan kepada penjaga tiket, desainer poster acara dan lainnya yang terlibat. Jika sebuah band bisa mendatangkan banyak penonton, misalnya untuk kapasitas 500 orang, tiket bisa mencapai US$15-20, di mana band bisa dibayar sekitar US$5000 seperti sekelas D.R.I atau Infest. Sebagai gambaran, US$2000 itu upah minimum rata-rata per bulan di AS. Band juga terbantu dengan melapak merchandise dan rilisan, terutama di saat tur.

Panggung di 924 Gilman Street, Berkeley

Dari beberapa konser dan tur singkat ini, D.I.Y. yang saya pahami dari mereka adalah bukan lagi soal anti-sponsor semata dan caci-makinya, melainkan pada sikap kemandirian yang diiringi aksi membangun ekosistemnya. 924 Gilman Street di Berkeley salah satunya, ruang alternatif yang bisa bertahan hingga 31 tahun. Diinisiasi oleh Tim Yohannan, yang juga pendiri majalah Maximum Rock n’ Roll. Biaya operasionalnya berasal dari penjualan tiket. Dikelola oleh sukarelawan sesuai kemampuannya masing-masing, mulai dari operator panggung, teknisi suara, manajer media sosial, jaga tiket, kebersihan, desainer grafis, dan lainnya. Mereka memiliki jadwal pertemuan tiap hari Sabtu pada Minggu pertama dan ketiga di tiap bulan, siapapun boleh datang untuk sekadar tahu. Tak heran, peminatnya adalah remaja-remaja yang mulai mengenal subkultur. Partisipasinya adalah bagian dari rasa kolektivitas, mengasah kemampuan passion-nya, mendapat jejaring baru, dan menjadi arena yang tepat menemukan teman dan komunitasnya.

Violent Opposition saat tampil di 924 Gilman Street, Berkeley

Penonton mulai berdatangan memasuki ruang yang dindingnya penuh coretan grafiti, tertoreh banyak sejarah. Pada perayaan ke-30 tahunnya 924 Gilman Street kala itu menjadi momen istimewa, tampak terpampang papan besar tertulis ribuan band yang pernah menjadi bagiannya, mulai dari Operation Ivy, Neurosis, Green Day, Spazz, Jawbreaker, Dystopia, Rancid, hingga langganan tur untuk band seperti Youth of Today, Gauze, Bane, Bikini Kill, Alkaline trio dan lainnya.

Saya gugup ketika seorang perempuan manis berdandan punk mendekat, ia adalah seorang sukarelawan teknisi suara, lantas mempersilahkan kami bersiap untuk tampil. Violent Opposition main pertama, berbagi panggung dengan Active Minds (UK), Godstomper, Verbal Abuse, dan Aninoko. Belasan tahun lalu saya memimpikan untuk mengunjungi tempat legendaris ini. Bisa manggung di sini itu lebih dari cukup, agaknya saya harus menyiapkan impian baru.

Seusai tampil kami keluar mencari udara segar, tapi berakhir di tengah kumpulan orang dengan penuh kepulan asap mariyuana. Sambil cekikikan hingga larut dalam obrolan, seorang teman menyeletuk. “Kamu harus melakukan tur Amerika dengan AK//47,” ujarnya.

0 COMMENTS